Kejutan dari Pembaca Luarbiasa

Tadinya, saya telah berjanji dengan Sandi Firly untuk bangun cepat pagi ini. Ada acara di perpustakaan di Banjarmasin yg menghadirkan seorang pesohor di media nasional. Tapi seperti biasa, saya selalu bisa mengulur-ulur waktu tidur dan akhirnya dengan usaha yg berat bisa bangun lumayan pagi: pukul 09.00.

Saya menghidupkan handphone dan mendengarkan nada mekanisnya dan dengan mood yang baik melihat notif dan pesan-pesan yg masuk. Lalu tercenung lama ketika melihat pesan di whatsapp. Saya agak kurang berani membukanya tapi juga penasaran.

Intinya: saya mendapatkan kejutan dari seorang pembaca Novel Liberty pagi ini. Seorang pembaca yang luar biasa sebenarnya: Pak Dahlan Iskan. Beliau memuji novel itu dan juga memberikan catatan. Juga kritik.

Saya tak tahu mau menjawab apa. Tik tok tik tok. Waktu berjalan. Saya sudah terlambat tapi terus berdiri di sana ragu.18527631_10208533321445078_4222897469955560168_n

Tentu saja, saya tahu Pak Dahlan memang seorang penggemar sastra. Dia membaca cerpen dan novel dari penulis Indonesia dan luar negeri. Saat beliau memenangi telak konvensi Partai Demokrat beberapa waktu lalu, saya mendapat firasat untuk pertamakalinya sejak Pak Karno, Indonesia akan mendapatkan presiden seorang pecinta buku dan sastra. Benar-benar seorang pembaca dan bukan hanya seorang yg berpose dengan buku di gramedia lalu menulis: ayo biasakan gemar membaca!

Saya membayangkan Pak Dahlan akan mendiskusikan Dostoyevsky dengan Putin di jeda minum teh kenegaraan atau mendiskusikan sajak-sajak Pablo Neruda bersama Presiden Chile, Bachelet dalam perbincangan beranda. Seorang presiden, harusnya memang bisa menulis karena dengan begitu dia bisa terlatih menangkap ide-ide yg liar dan kabur dan menuangkan dengan bahasa yg jernih dan sistematis. Lagi pula dia tak akan membuat repot biro humas istana untuk menuliskan sesuatu untuknya. Adalah sebuah tragedi menurut saya jika sebuah visi salah ditangkap oleh tukang tulis atau lebih parah lagi ide -ide tukang tulis istana dijadikan visi negara. Kenapa gak sekalian kira menyerahkan kepemimpinan negara ke biro humas?

Tapi, itu mimpi yg lampau. Sekarang lain cerita. Kita bukan saja tidak mendapatkan presiden seorang pembaca tapi juga mulai memiliki kecenderungan untuk mempidanakan mereka hanya karena mereka tergoda ingin mewujudkan ide dari apa -apa yg dibacanya.

Iklan

Dahlan dan Cinta yang Berbalas Tangan Hukum

Pak Dahlan Iskan divonis 2 tahun. Dua tahun untuk semua yang dilakukannya bagi negeri ini.

Negara ini tak pernah memberi apa-apa kepada Dahlan Iskan. Dia tidak seperti banyak anak bangsa yg disekolahkan dan mendapat beasiswa ke luar negeri dan pulang-pulang mengantre kemapanan, alih-alih membangun negeri.
Dia terlahir dengan kemiskinan ekstrem. Kondisi yang siapapun bisa memikirkan bahwa pendidikan adalah kemewahan dan bukanlah hak asasi. Tapi, dia bisa bangkit tanpa terjebak melankolia menjadi orang susah, memperjuangkan pendidikan, melihat sesuatu dari sudut yang semata-mata positif, mempelajari apa saja dengan riang gembira.

Dahlan Iskan yg saya suka adalah manusia pembelajar. Dia suka belajar apa saja dan mengekspos dirinya sendiri ke macam-macam tantangan. Manusia tipe A yang tidak setiap saat bisa kamu temui dalam zamanmu. Dia adalah mesin pompa harapan. Mata air inspirasi yang tidak pernah kering. Dia memiliki kualitas yang langka: mengubah besi menjadi emas.

Saat terbaring di sebuah rumah sakit di Tiongkok karena sakit parah yg dideritanya, dia mengubah brankarnya menjadi kursi belajar, yg dari sana dia bisa mendatangkan guru bahasa. Dia mungkin menteri dalam cabinet pemerintahan lalu dan bakal calon presiden yang tamatan Aliyah yang menguasai banyak bahasa dunia: Arab, Inggris, Tiongkok…

Sepulangnya dari negeri itu, dia mendapatkan kehidupan keduanya yang memberinya kekuatan dan pencerahan bahwa hidupharuslah bermanfaat untuk bangsa dan negara. Saat dia diminta untuk mengabdi, dia menyanggupinya dengan kepatuhan dan kekuatan nyaris seperti kuda pacu. Dia bekerja hingga larut malam dan memulai hari lebih pagi dari pejabat manapun di republik ini. Dia mengejar pesawat siang, sore dan malam untuk bisa hadir ke tempat –tempat tugasnya, berjalan kaki menembus hutan-hutan di Papua, berjalan kaki di savana Bima, mendaki gunung-gunung di Sumatera dan Jawa, menginap di mana saja dia bisa diterima, memuji apapun makanan tuan rumah yang dihidangkan untuknya, tidur di tempat manapun dia bisa tertidur.

Dia merintis mobil listrik. Membiayai dari kantongnya sendiri. Menggaji para pembuatnya dari gaji menterinya. Dia melakukan pengujian sendiri, yang membuat nyawanya nyaris melayang, tapa membuatnya kapok untuk melakukanya lagi karena menurutnya inilah teknologi mobil di masa depan yang harus dimiliki Indonesia.18056711_10208337340985689_3428689292125591096_n

Demi Indonesia. Semuanya dilakukannya demi negerinya.

Tapi semua itu sia-sia. Cinta Dahlan Iskan kepada negaranya adalah cinta, yang bukan saja bertepuk sebelah tangan, tetapi berbalas tangan hukum. Dia diperkarakan, para enginer mobil listriknya ditangkap, kelak, bertahun-tahun kemudian apa yang dikatakannya benar. Thailand kini telah menasbihkan diri sebagai pusat pengembangan mobil listrik di Asia Tenggara.

Adapun Dahlan Iskan seperti dijebloskan ke dalam sebuah taman permainan hukum yang tidak pernah ada akhirnya. Selesai mobil, dia dijegal dengan pembangkit listrik, di sana sudah menunggu kasus sawah fiktif, sebelum itu, dia harus melewati terowongan kasus-kasus di kotanya: Pelepasan aset PT PWU perusahaan BUMD Pemprov Jatim, dll. Tak penting apapun kasusnya, asalkan bisa menjeratnya. Asalkan bisa membuat dia tidak aktif hingga Pilpres 2019 mendatang.

Kemarin, dia divonis 2 tahun penjara. Untuk kasus yang setiap orang Indonesia, asalkan balig dan berakal, tahu bahwa itu semata-mata penjegalan.

Melihat Pak Dahlan duduk dengan di kursi pesakitan dan mendengarkan vonis yang dijatuhkan kepadanya membuat saya memikirkan nasib setiap orang yang tulus di negeri ini. Dua tahun vonis. Setelah semua yang dilakukannya bagi negara ini, setelah semua iktikad baik, perjuangan, ketahanan untuk selalu berpihak kepada orang banyak dan kesepian pengorbanannya, setelah semua tetes keringat, harta, curah pikiran dan nyawa, yang sedianya setahu saya bisa diberikannya kapan saja negeri ini memint: negara akhirnya memlasa dengan memberi penderitaan di hari tuanya.