Amat

Namanya Amat. Dia adalah satu-satunya yang saya kenal, yang saat ini masih terus tidur di emperan masjid At-Taqwa, Klandasan, Balikpapan. Orang – orang di pasar Klandasan atau sekitarnya pasti mengenal Amat. Dia tak punya rumah, tak punya pekerjaan tetap, tak punya anak dan istri. Lebih dari itu, sejauh yang saya tahu – dan kadang-kadang saya bayangkan – dia bahkan mungkin tak punya masa muda.

Saya mengenal lelaki ini di tahun 2003. Dengan enteng, seperti sudah biasa melihat anak-anak yang bermasalah, yang bingung dalam pencarian jati diri, atau kabur dari rumah karena persoalan keluarga, dia menawari saya untuk tidur saja di emperan masjid At-Taqwa. Dulu sebelum masjid itu semegah sekarang, ada tujuh tangga sebelum pintu masjid. Di setiap undakan itu, ada setidaknya satu gelandangan yang tidur. Amat menghuni tangga paling atas. Tidur beratap langit luas dan beralas koran yang dia baca atau kardus yang siangnya dipakai untuk markir di pasar klandasan. Kedinginan. Digigit nyamuk.

Saya tidur di sana malam itu, dan selama setidaknya dua tahun kemudian. Selain Amat, saya mengenal beberapa gelandangan, pengemis dan pemulung yang juga tidur di sana. Ada Padang, Daeng, Yudi, Banjar, Palembang (ya, kebanyakan kami saling memanggil dengan nama kampung). Amat memanggil saya Lando, karena lidahnya agak pelo.

Di malam hari, kami berbagi nasi, rokok, prediksi nomor togel, juga pengalaman seharian untuk terus bertahan hidup di jalanan Balikpapan. Saya mengenal lebih jauh sifat dan kecenderungan mereka. Apa yang mereka takuti, apa yang mereka sesali, dan juga, kalau ada, apa yg mereka impikan. Ternyata cuma sekadar bisa makan hari ini dan kena tembakan dua angka togel.

Para gelandangan di tangga masjid sudah terlatih untuk menyederhanakan kebahagiaan. Amat juga begitu. Dia nyaris tak punya keinginan. Dia adalah orang paling pesimis yg pernah saya kenal. Jangan ceramahi dia tentang motivasi dan keajaiban mimpi, blablabla. Waktu itu Mario teguh masih belum tayang. Saya gak tahu, apa yang mengantarkannya sampai di tangga masjid At-Taqwa. Kami tak pernah saling bertanya penyebab. Mungkin memang tak perlu. Mungkin beberapa hal memang tak perlu diketahui.

Cuma di malam-malam yg dingin, saat bintang-bintang menaburi langit di atas masjid Attaqwa, Amat bersama Daeng, salah seorang teman yg lain, suka bertanya apa yang akan saya lakukan dalam hidup ini. Saya katakan mungkin kelak saya akan menulis buku. Amat tahu, saya suka menghabiskan waktu di perpustakaan dan berjalan kaki setiap hari ke gramedia di Plaza Balikpapan. Tapi mengatakan padanya saya ingin menjadi penulis seperti mengatakan seseorang bisa jitu menembak tembakan empat angka togel empat puluh hari berturut-turut.

Amat cuma dengan gaya biasanya. Mendehem. Hmmm..hhmmm..

Malam ini, saya ke masjid Attaqwa dan melihat masjid itu tak seperti 13 tahun lalu. Tak ada lagi tangga. Tak ada lagi gelandangan. Menyusuri jalan di pagar kiri masjid, saya menemui seseorang yg duduk di bawah kegelapan pohon. Saya mengenali Amat, meski dia sudah tidak mengenali saya lagi. Saya mendekatinya.

“Mat!” saya memanggil.

Dia mengamati wajah saya dekat-dekat, meski saya rasa saya lah yg berusaha mengamatinya lagi. Rambutnya telah memutih. Wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya yg baru 47 tahun. “Lando, iya, iya, ingat, ingat,” katanya kemudian.

Bagaimana Amat bisa mengingat saya hampir seperti mukjizat jika mendengar ceritanya tentang sakitnya. Amat lima kali dibawa ke rumah sakit jiwa di Samarinda. Setiap tahun, penyakitnya selalu kambuh. Tapi dia tak pernah lama di rumah sakit jiwa. Sebulan atau dua bulan. “makan tidur dijamin, tapi bosan,” katanya.

“Semoga tidak lagi,” katanya. Saya dengan tulus mengaminkan.Dalam beberapa tahun terakhir, Amat ingin sekali pulang ke Jawa (dia orang Jember) tetapi selalu ditolak keluarganya.

“Ya, aku sadar diri aja, keluargaku takut sakitku kambuh.”

Mendengarnya mengatakan itu dengan nada ringan, membuat saya sedikit tercekat.

Saya dengan congkak, mengajak Amat makan di resto, tapi dia tertawa sinis. Amat masih tetap Amat. Dia menggandeng saya ke warung makan legendaris kami. Warung termurah di Balikpapan. Kami biasa menyebutnya warung rembo. Dulu warung itu disebut begitu karena orang yg makan di sana seperti para prajurit yg telah menanti ransum berhari-hari. Para buruh dan pekerja di pasar bisa saling comot lauk dari rantang di sampingnya seperti serdadu yg saling lempar granat. Saling incar kelemahan di gundukan nasi masing-masing. Menabuk lubang untuk menyembunyikan lauk, dan memutar tutup kerupuk terengah-engah seperti membuka katup tank. Semua disajikan seperti medan puputan: Tahu dan tempe, peyek dan sambal, ikan dan pecel, gangan dan sayur yg langsung disiram di atas gunungan nasi.

Kini warung rembo, sudah menyajikan lalapan. Juga sudah lebih tertata. Tapi harganya tetap paling murah sebalikpapan.

Baru jam 9 malam. Usai makan, saya mengajaknya ke gramedia. Saya mengatakan ingin memperlihatkan sesuatu. Dia manut saja. Di jalan, saya mengatakan telah mengarang novel yg menceritakan semua ttang kehidupan kami di tangga masjid.
Saya mengetik novel saya di computer toko dan ada setidaknya tiga buku yg keluar. Seorang penjaga membawakan buku itu. Beranda Angin. Novel baru saya.

Amat tak pernah berhenti bertanya begitu kami keluar gramedia. Dia menanyakan apakah semuanya saya tulis. ‘Ya,” jawab saya. “Semuanya.” Saya memperlihatkan namanya. Nama teman-temannya. Teman-teman kami. Dia berjanji akan membacanya siang hari. Dia menderita rabun.

Di escalator, untuk pertama kali, saya mendengar optimisme dalam nada suaranya. “Aku merinding, Lando,” katanya.

Kami berpisah malam itu. Saya berjanji akan mendatanginya kembali pagi ini. Mungkin membayar banyak hal tentang tahun-tahun yg pernah kami lewati, sedikit menertawakan hidup dengan gaya khas Amat. Di bawah jembatan penyeberangan ke hotel tempat saya menginap di menara bahtera, dia meneriakkan sesuatu yg tertelan suara bising lalulintas. Sesuatu tentang nasib. Saya tak bisa lagi mendengarnya.

Dari atas jembatan, saya berhenti. melihat ke sosok Amat, berjalan sambil sesekali membuka-buka buku itu. Orang-orang melewatinya dari arah seberang. Amat terus melangkah melawan arus, sebagaimana caranya menjalani hidup. Saya berharap Beranda Angin bisa memberinya sedikit kegembiraan. Sekadar setitik keriangan dalam kesepian hidupnya. Mungkin seperti apa yg dia katakan di saat kami bertemu tadi: terima kasih. Aku bangga betul, Lando.

Sama-sama, Mat.
Sama-sama.14102307_10206553762837350_1791079259883428842_n

5 pemikiran pada “Amat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s