Raudah, Cinta dan Budaya

Di Madinah, senja dihadiri rembulan awal malam. Cahayanya jatuh lembut ke hamparan granit sedingin es, dinding kukuh berwarna gading yang berhiaskan ornamen -ornamen perunggu dan keemasan. Dari atas, dalam jalur cahaya keperakan, burung-burung kecil terbang cepat bersikejaran. Sesekali hinggap ke minaret yang menusuk langit, berpindah ke tiang -tiang kuncup, lalu terbang lagi, entah ke gerbang, entah ke puncak kubah berwarna zaitun. Dalam latarnya, cakrawala seperti lautan tanpa buih. Hawa dingin meruap dalam kilas-kilasan wewangian orang-orang yang berjubah hilir mudik di pelataran Masjid Nabawi. Waktu membeku dalam hembusan udara kering yang memecahkan bibir dan kulit, di akhir Februari yang dingin.

12790957_10205397158802972_3737608320338193800_n

Mungkin dari tempat semacam ini, cinta bisa dipahami. Melihat orang-orang yang keluar dari pintu Raudah, mengusap airmata kerinduan dengan serban yang terlilit di leher. Ada yang meraung, ada yang sekadar menutup mata tertatih-tatih meletakan sandal sambil kembali berbalik, menghadapkan tangan ke pusara orang suci itu. Di dalam, puluhan, ratusan, lebih banyak tangan-tangan mengembang terangkat, entah mengucapkan salam, entah sekadar mengabadikan dengan kamera. Di sepanjang pagar yang memisahkan tempat suci dari gelombang peziarah itu, petugas tanah haram, dengan gamis setinggi mata kaki dan tudung selendang hilir mudik mengusir para peziarah.

Saya suka duduk berlama-lama di sana memandangi para petugas bermata bening garang dengan janggut bergerumbul itu menepuk bahu orang-orang yang menangis. Sesekali mereka memungut wifik yang dilemparkan orang ke dalam pintu makam. Ada petugas yang meneriaki haram! haram!. Tapi ada juga yang menepuk lembut dan menasihati. Bahwa dilarang meminta doa ke kuburan. Bahwa Tuhan itu lebih dekat dari urat leher manusia. “Mintalah kepadaku, akan kukabulkan,” ucap salah satu petugas mengutip ayat suci. Kadang-kadang mereka didebat oleh para jemaah yang membandel, saling membuka dalil, saling bersumpah, wajah-wajah akan memerah karena emosi. Tapi yang lebih sering saya lihat, masing-masing berlalu dengan ucapan damai saling mendoakan.

Saya berusaha memahami, betapa tidak mudahnya bagi pemerintah Arab Saudi. Menjadi pelayan dua tanah suci, Makah dan Madinah, yang dikeramatkan ini mereka harus menghadapi semua aliran Islam yang datang dengan budaya masing-masing. Orang-orang dari negara dengan budaya sinkretisme yang tinggi, sepert India, Iran, Nigeria, dan Indonesia, datang untuk meratap, meletakan botol dan menulis wifik. Mereka memiliki keyakinan yang telah berakar selama ribuan tahun dari sesepuh ke sesepuh, ulama ke ulama.

Ajaran islam dengan doktrin Tauhid digetarkan dari sebuah gua, di sebuah desa kecil di semenanjung arab, lalu mengalir ke negara-negara di tepian laut merah, terus ke teluk persia, menyeberang ke bizantium lalu ke anak benua India, Asia selatan, hingga ke jalur perdagangan di asia tenggara. Ayat suci bukan hanya dimuratalka dari masjid-masjid berarsitektur Arab di Timur Tengah tapi juga bangunan-bangunan lempung di Afrika dan Mesir, pondok-pondok kubus di padang stepa Asia Tengah, hingga gubuk-gubuk para nelayan di negeri kepulauan Indonesia.

Islam bukan hanya datang sebagai jalan keselamatan, tetapi juga sepaket tata nilai, yang meliputi ekonomi, politik, dan budaya. Sebagai keyakinan, Islam barangkali telah luar biasa sukses dengan menguasai hampir separuh dunia, tetapi sebagai budaya, tidak ada penaklukan yang sederhana. Islam masih rumit karena bergumul- kelindan dengan banyak budaya yang telah menjadi tradisi sejak zaman pra islam. Islam menguasai negeri-negeri itu, tetapi mereka, dengan tradisinya yang rumit dan berlapis-lapis, turut memberi warna bagi perkembangan islam.

Anda bisa melihat debu dan darah pergumulannya setiap saat di media sosial. Di ruang yang memungkinkan orang berdebat tanpa bertemu, media sosial telah menjadi ajang yang menyuburkan para penista. Banyak di antaranya yang menuduh Haramain dengan alirannya yang fundamental tak memiliki ruang kreatif bagi imajinasi tentang agama dan keyakinan. Di Arab yang bermazhab Maliki dengan aliran pemerintah yang cenderung ke Wahabi, agama hanya “sesederhana” mengesakan Tuhan, salat, sedekah berpuasa di Ramadan, berzakat dan haji. Tidak ada tempat untuk mitos-mitos kepercayaan dan ritus-ritus para pebidah.

Untunglah.

Saya turut bersyukur untuk ini. Mungkin itulah hikmahnya Tuhan menurunkan agama di Arab dan mengijinkanya dikuasai para penganut Wahabi. Tidak ada yang paling keras, paling fanatik, paling radikal, nyaris tanpa kompromi, seperti orang yang menganut faham Wahabi.

Jika tidak, saya tak bisa membayangkan, betapa kacaunya beribadah di sini, karena Raudah, masjid Nabawi, Kakbah dan Masjidil Haram, penuh dengan bunga, bungkusan rajah, tarian dan jampi-jampi.()

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s