Muhidin Sang Penantang Sejarah

Bahkan berhari-hari jelang puncak pesta demokrasi, hanya malaikat yang punya imajinasi, Muhidin bakal menang di Pilkada Gubernur Kalimantan Selatan. Pasti akan merepotkan, mungkin. Bakal membuat perbedaan? Bisa jadi. Tapi, menang? Melampaui perolehan suara Sahbirin Noor – Rudy Resnawan yang didukung oleh segenap infrastruktur dan kemegahan struktur politik? Kita semua tahu, dukun, orang gila, atau bandar judi paling nekat pun berpikir dua kali. Apalagi Rudy Resnawan masih di sini. Dia masih mencalonkan diri. Dan sebagai seorang yang selalu dicitrakan kompeten dan menawan, sejarah kerap berpihak kepadanya.

Tapi, banyak yang lupa bahwa menantang sejarah adalah nama tengah dari Muhidin. Publik Kalsel mungkin masih ingat saat dia maju menantang sang petahana di Pilkada Kota Banjarmasin 2010. Dalam pemilihan yang banyak dikenang sebagai “Pilkada paling tak mungkin” itu, Muhidin yang maju dengan M Irwan Ansyari menjungkalkan Yudhi Wahyuni dan meraih tahta tertinggi di pemerintahan kota Banjarmasin.

muh1Benarkah mantan guru olahraga itu sesakti itu? Apa rahasinya? Banyak yang mengatakan bahwa Muhidin menggunakan cara-cara curang dalam kampanyenya. Para pengamat di Koran-koran saat itu hampir kehilangan kata-kata sopan untuk menuduh dia “menghamburkan karung” untuk memikat pemilih. Muhidin dituduh melakukan money politic dengan uang yang sangat banyak, yang merubah peta politik grass root dalam satu malam. Sesuatu yang kemudian sepanjang pengetahuan saya, tidak pernah dibantahnya, tidak juga dibenarkannya.

Lima tahun menjabat sebagai walikota, masyarakat Banjarmasin dan bahkan Kalsel punya banyak waktu untuk berkenalan dengan mantan pengusaha batubara itu. Ternyata tak hanya punya uang, Muhidin punya keberanian untuk bertindak dan keyakinan untuk mengonfirmasi kebenaran tindakannya. Dua terakhir ini adalah bekal yang penting untuk memimpin di kota dengan penduduk padat dan ruang yang semrawut seperti Banjarmasin. Lebih dari itu, Muhidin punya sesuatu yang tidak pernah dimiliki oleh para pemimpin di Kalsel lainnya: selera humor yang tulus.

Kita masih ingat saat di HUT Kota Banjarmasin di awal pemerintahannya, dia mentahbiskan diri sebagai Baginda Raja di Banjarmasin. Sangat mungkin sebagai olok-olok untuk Gusti Khairul Saleh, bupati di kota tetangga yang saat itu sedang membangkitkan kesultanan Banjar dengan gelar Pangeran. “Sang baginda” menggelari gubernur Rudy Ariffin, sebagai “Raja Banua” dalam sebuah acara Mamanda yang penuh dengan gelak tawa. Muhidin memanggil para hulubalang raja, yaitu kepala dinas, untuk melaporkan kemajuan apa saja di nagari Banjar. Mereka yang dipanggil harus maju dengan dengan menari. Anda bisa membayangkan betapa ajaibnya para pejabat eselon II yang biasa mengembangkan kemempuan untuk menjaga wibawa, harus menari dengan menjelaskan program-programnya di depan khalayak luas.

Dalam kesempatan lain, Muhidin bisa bertindak di luar arus utama. Dia seperti seorang yang merdeka dari stigma dan norma. Di saat, pejabat lain memandang penting untuk terlihat sederhana dan tertib, Muhidin malah dengan santai masuk kantor mengendarai motor Harley Davidson-nya dan pengawalan Fortuner-nya. “Jangan dianggap saya pamer,” katanya saat itu.

Benar. Bahkan dalam balutan jaket kulit, sepatu koboi, serta kacamata hitam, H Muhidin tak bisa menyembunyikan dirinya.
Pria yang namanya similar dengan seorang pemain watak di sinetron Tukang Bubur Naik Haji ini, tak ingin menyesuaikan dengan pandangan ideal masyarakat tentang bagaimana harusnya seorang pemimpin. H Muhidin mengambil jalan lain dengan memaksakan apa adanya dirinya, sehingga publik Banjarmasin, mau tak mau, harus menerimanya.

Dan, sejauh ini, dia berhasil.

Undakan demi undakan dalam bisnis dan karir politik yang cemerlang hanya bisa didaki oleh orang-orang yang pintar membaca dinamika pasar dan arah angin histeria. Di Puncaknya, Muhidin berdiri dan melihat lapangan kurusetra yang lebih luas : pilgub. Tapi, dia butuh lebih dari sekadar keberuntungan dan dukungan. Muhidin butuh taktik yang tepat dan strategi yang matang. Waktu telah membuktikan bahwa langkah Muhidin menjauh dari partai politik adalah hal terjenius yang bisa dilakukannya. Alih-alih melamar partai yang tentu saja harus “meminyaki” pengurusnya dari cabang hingga pusat, Muhidin mengambil langkah tak popular: Maju melalui calon perseorangan.

Dan seperti setiap sesuatu yang dilakukannya dalam bisnis dan karirnya, Muhidin berhasil. Setahun setelah pesta demokrasi, kasak-kusuk borong partai terdengar. Di saat para calon kompetitornya sibuk dengan lobi-lobi yang “tak masuk akal” tentang harga “perahu”, Muhidin mempersiapkan berpikap-pikap KTP dukungan dari Hulu Sungai hingga Kotabaru, yang tentu saja, tak semahal harga satu partai. Muhidin seperti tidak memiliki konsultan politik yang kredibel dan metode yang dipakainya tidak terlalu canggih, tetapi pada akhirnya, dia tetap bisa bertahan dengan cara-cara yang sederhana.
Dia meluncurkan slogan yang mudah, berbahasa dengan retorika orang tuha, berdebat dengan sukacita, riang gembira dan penuh canda tawa. Dia bahkan terlalu malas untuk mengambil jatah kampanye yang disiapkan untuknya. Setiap langkah yang diambilnya seperti paradoks dari apa yang ditujunya, tetapi hngga masa akhir Seperti yang dikatakan Bruce Willis dalam perang Fire Sale di Film Die Hard 4: “Aku mungkin tidak pintar, tetapi hei, aku masih tetap hidup, right?”

Kini, Muhidin berada pada persilangan ekspektasi dan momentum yang tetap untuk mewujudkan ambisinya. Dia menjadi yang teratas versi Quick Count Metro TV dalam sebuah perhitungan yang menguras adrenalin. Laiknya drama, kalkulasi namanya merambat seperti demo antigravitasi kecil. Di menit-menit terakhir perhitungan, namanya hanya seperselisihan rambut dengan competitor terdekatnya: Sahbirin Noor – Rudy Resnawan yang tim suksesnya sempat berpesta kemenangan.

Drama sepertinya terjadi setiap detik dalam hidup Muhidin di hari-hari ini. Lapisan-lapisan terakhir dan terdalam dalam level keyakinan atas diri, strategi dan pengalamannya sendiri akan diuji. Hingga 19 Desember mendatang, mungkin dia akan sering membaca Koran, menyirap kabar, desas-desus, menerima telepon dan membaca pertanda, tetangar, isyarat, apa saja yang harus cepat diantisipasinya. Dia harus melakukan setiap sesuatunya dan bereaksi atas sesuatu secermat-cermatnya dan setepat-tepatnya. Ini bisa jadi pertarungan yang singkat atau pertempuran yang panjang dan melelahkan hingga sidang MK. Di luar dari kecurangan-kecurangan yang terjadi, baik yang mungkin dilakukannya atau mungkin dilakukan pesaingnya, politik, bagaimanapun, seperti sepak bola: hasil akhir adalah segalanya.

Satu pemikiran pada “Muhidin Sang Penantang Sejarah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s