Surat untuk Urang banua

Kutulis surat ini untukmu Saudaraku Urang Banua. Ada kemungkinan aku tak mempedulikan bahwa kamu yang membaca ini berasal dari suku mana. Bagiku tak penting apakah kamu Banjar, Jawa, Bugis, Madura, Sunda. Yang benar bermakna bagiku – dan tentu saja bagi semua orang – adalah integritasmu untuk Banua. Identitas mereduksimu pada sekat-sekat kelompok yang membuatmu terkungkung oleh pemikiran, sikap, dan norma-norma budaya yang sempit. Sementara Integritasmu adalah pilihanmu sendiri yang diprasyarati oleh kecintaanmu, kerelaaan, dan perbuatanmu yang terus-menerus ikhlas untuk Banua.

Kutulis ini Saudaraku, bukankah Tuhamu tak pernah menyebut sukumu? Santri Martapura Tempo duluDia hanya memandangmu satu: Khalifah Fil Ardi atau Orang berintegritas di Bumi. Dengan kalimat itu, Tuhanmu bermaksud agar kamu membebaskan dirimu dari definisi-definisi sempit yang bisa menghalangimu dari kemungkinan-kemungkinan yang luas untuk saling berkenalan, peduli, dan menyayangi, sebagai bagian dari sifat-sifat Tuhan yang maha besar, maha kasih dan maha sayang.

Banua kita ini, saudaraku, adalah Banua yang sangat berketuhanan. Ini adalah tanah tempat Syekh Arsyad Al Banjari, ulama besar dunia dilahirkan, berjuang. Ini adalah Banua yang dicahayai oleh ulama-ulama yang welas asih, para penyebar agama Islam yang tangguh, lemah lembut, dan berintegritas. Pernahkah kau membacanya, dari semua itu, berikan padaku satu riwayat saja, saudaraku, apakah ulama-ulama kita menyebarkan ajaran untuk menjadi Urang Banua dalam konteks yang kira-kira, seperti yang banyak dikampanyekan sekarang ini?

Jika tidak, kenapa? Mungkin, karena ulama-ulama Banua dulu menganggap bahwa tidak ada kebanggaan menjadi Urang Banua tanpa memiliki integritas Banua, kearifan-kearifan local yang tersambung dengan nilai-nilai kebaikan religious yang universal.

Zaman berganti saudaraku. Waktu berlalu. Hubungan-hubungan mencair, atau malah membeku. Di masa ini, identitas hanya disebut dalam ingar-bingar budaya dan politik. Dalam kemandekan nalar tanpa adanya penuntun, identitas hanya selalu dimanfaatkan untuk mencapai sesuatu, banyak hal diantaranya: kekuasaan.

Kita pernah masuk pada suatu masa dimana orang-orang berkampanye dengan mengendarai histeria dan kefanatisan massal akan identitas dan gen. Aku bisa mengerti sikap kebanggaan ini dilandasi oleh rasa kepemilikan akan Banua sendiri yang sumber daya alamnya dirampok, kebanyakan oleh orang-orang bermodal di pusat kekuasaan di Negara ini. Benar. Dalam dunia yang semakin kapitalistik, mungkin relevan bagi kita untuk mengagulkan identitas. Hal ini semacam kebanggaan dan kepercayaan diri – atau pada gilirannya justru ketidakpercayaan, yang memungkinkan kita untuk terus ada dan bersuara, bangkit dan melawan hegemoni entah apa di luar sana.

Tapi, lihatlah apa yang tersisa untuk kita di Banua: sebuah ironi yang pahit. Kita akhirnya menyadari , yang lebih banyak merampok kita justru adalah para penguasa –penguasa lokal kita sendiri.

Ini adalah sebuah pola, saudaraku. Seperti juga, memasang baliho, memborong partai, menghalangi orang lain mencalonkan diri, mengangkat gubernur dua periode sebagai tim sukses – yang sebenarnya justru merendahkannya – juga adalah sebuah pola. Cara para pemilik modal untuk merampok Banua ini. Dalam pusaran kepusingan ini, kita tidak bisa melihat awan, melihat hutan, langit biru, karena kita terkungkung oleh kabut asap tebal yang menaburi pandangan-pandangan objektif kita akan bagaimana harusnya kita menjaga Banua ini, Banua tempat nenek moyang, para pendahulu, dan ulama-ulama kita yang jernih dilahirkan.

Karena itu, aku mengajakmu saudaraku, marilah kita memutus pola ini. Cukup sudah. Ada kalanya kita salah, tak mengapa, saudaraku. Tapi kita bukan keledai yang bisa jatuh dalam lubang sama. Aku selalu meyakini, jika identitas terletak pada persetujuan dan ambungan orang lain, itu bukanlah identitas. Burung-burung di udara, ikan-ikan di di laut, tak pernah menamai diri mereka sendiri. Mereka terbang lepas, dan berenang untuk membuktikan integritas mereka.

Di Banua, aku percaya, kita harus benar-benar bergerak, peduli, dan melakukan sesuatu, sekawa-kawanya, sekuat-kuatnya, untuk membuktikan diri, sebagai Asli Urang Banua.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s