Dahlan Iskan dan Mekanisme Antivirus

Dahlan-IskanGelombang dukungan kepada Dahlan Iskan dalam hari-hari terakhir ini adalah suatu fenomena. Tak kurang dari pengamat politik, anggota dewan, pejabat Negara, mahasiswa, LSM, ulama, aktivis, sastrawan, jurnalis, buzzer, dan banyak profesi lain, “mengamuk” melalui corongnya masing-masing. Untuk pertamakalinya dalam sejarah penegakan hukum kita, seorang tersangka dibela, bukan oleh pasukan nasi bungkus dan model-model bayaran, tetapi sungguh-sungguh oleh hampir seluruh wajah yang muncul dari lapis-lapis struktur masyarakat kita.

Saya terkagum-kagum dengan fenomena ini. Meski juga sebenarnya tidak begitu kaget. Boleh dikatakan saya percaya masih banyak orang yang bernalar sehat di Indonesia. Adapun mengenai segelintir sisanya yang menyambut ketetapan tersangka ini dengan gembira, saya juga telah meramalkan akan begitu. Hari ini, kemewahan adalah mendapati semua yang terjadi, tepat dengan ramalan Anda. Kita tahu bersama, beberapa waktu lalu seorang presiden terpilih karena kesalahan orang banyak dalam meramalkan sesuatu.

Dukungan yang datang bersamaan dengan luapan energi yang menguatkan ini bukan saja memberi tekanan agar Kejaksaan kembali harus mereview kembali kasus ini dan membebaskan Dahlan Iskan, tetapi juga memberi perspektif baru tentang penegakan hukum di negeri ini. Saya harus repot-repot mencari perumpamaan yang tepat untuk hal-hal yang formil dulu, sebelum kemudian melompat lagi ke sesuatu yang besar setelah melihat suatu pola tertentu, misalnya: Ada hubungan apa dijegalnya Dahlan Iskan dengan Pemilu Presiden 2019?

Oke, perumpamaannya dulu.

Bagi Anda yang memiliki laptop pasti pernah uring-uringan karena laptop Anda diserang virus. Awalnya, Anda tidak begitu memperhatikan karena tidak begitu menganggu. Anda masih bisa mengetik dan nonton film. tetapi worm itu rutin menggandakan dirinya terus dan lama kelamaan mengelayuti sistem. Anda terus membiarkannya sampai suatu saat Anda tidak bisa membuka laporan perusahaan Anda atau koleksi film Anda menjadi 3gp semuanya. Anda terkena virus dan Anda menyadarinya. Anda bingung dan marah.

Karena muntab, Anda ingin sekaligus membunuh virus ini hingga ke cucu-cicitnya. Kalau bisa membuat semua virus ini menderita. Anda mencari antivirus yang memiliki pola algoritma yang canggih. Anda memasangnya dan aha! Semua file Anda kembali. Tapi lama kelamaan, Anda menyadari ada sesuatu yang salah. Game Anda suka berhenti di tegah jalan, sound film tidak terdengar, dan belakangan Anda juga menyadari tidak bisa menjalankan program maintenance.

Antivirus Anda yang baru mencegat semua program-proram baik yang diluncurkan.

Anda akhirnya tidak bisa leluasa berkomputer. Tidak bisa menginstall program baru karena Antivirus akan mendeteksinya sebagai program yang dijalankan dengan illegal. Anda aman tetapi tidak kemana-mana. Antivirus itu sepenuhnya membunuh semua aspek dari kreativitas Anda.
Saya pikir, mungkin beginilah gambaran tentang kasus Dahlan Iskan.

Laptop bisa diibaratkan Negara. Sistem operasi adalah sistem pemerintahan, konstitusi serta Undang-Undang dan peraturan yang memungkinkan pemerintah menjalankan Negara. Korupsi adalah virus yang harus kita tanggulangi bersama agar tidak merusak sistem bernegara kita. Karena itu, kita membutuhkan UU antikorupsi. Masalahnya adalah pasal-pasalnya ditulis secara ketat oleh para para programmer yang tidak memiliki visi akan kenyamanan berkomputer. Entah karena obsesi pribadi, mereka menulis script antivirus yang membuat bahkan malaikat harus memiringkan sedikit sayapnya atau hantu harus menjelma antimateri. Algoritmanya terlalu kaku. Hampir mustahil program atau seseorang yang kreatif bisa melewati semua itu tanpa membuat alarmnya “berdering” – dan kemudian terdentifikasi sebagai “Suspect.”

Oh tapi, kata seseorang pengamat, tidaklah sesederhana itu. Dalam sistem ini jangan melakukan pendekatan personal tetapi harus dengan pendekatan prosedural dan sistemik, tertib birokrasi, dan taat protap. Pendekatan personal selalu menyisakan masalah. Baik masalah birokrasi, administrasi, ataupun masalah hukum.

Tentu saja. Saya sudah meramalkan akan ada suara seperti itu. Untuk mereka ini jawabannya adalah: Tunggu saja. Sistemnya nanti akan berubah untuk Anda atau laptop Anda memperbaiki dirinya sendiri.

Dengan pola pikir seperti ini, saya mulai meramal lagi: masa depan Indonesia tidak akan ke mana-mana. Semua anak bangsa yang memiliki niat baik, komitmen, integritas dan kapabilitas, tidak akan banyak berguna bagi bangsa ini. Mereka akan terdeteksi di setiap ceruk-ceruk sistem sebagai program yang illegal. Yang bakal tersisa dan lolos scanning nanti adalah para medioker: punya kapasitas, tidak punya integritas. Punya integritas, tidak bisa apa-apa. Bisa melakukan apa-apa, tapi tidak berani menabrak sistem. Berani menabrak sistem, tapi tidak punya niat baik.

Semuanya akan serba tanggung.

Perumpamaannya sudah, sekarang saya mulai menulis lompatannya. Saya melihat pola-pola politis yang tak biasa dan aaaaaaah….*

*Saya teridentifikasi sebagai virus. ()

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s