Kisah Sedih Anak Pesantren

BILIK SUNYI RANDU ALAMSYAH

Sejak bertahun-tahun, cerita  tentangnya selalu berkelindan di benak saya. Selentingan kabar yang menguar selalu sama: Ia masih di sana, hidup di sebuah gubuk yang dibangun masyarakat,  mencuci bajunya sendiri, memasak sendiri, berbagi ilmu ke masyarakat pesisir, menjadi khatib masjid untuk jemaah yang hanya puluhan orang, mengajari anak-anak baca tulis huruf arab.

Disana, di kepaulauan Banggai,  ia berjuang sendirian. Mengajarkan hukum-hukum agama  jauh dari tempat kelahirannya. Sejak lulus dari pesantren sepuluh tahun lalu, jalan itu adalah jalan yang dipilihnya dengan segenap kesadaran. Ia hanya mengenal dunia ini sebagai pemberhentian dan sebisa mungkin berbagi hal-hal yang bermanfaat ke manusia lainnya. Beberapa tahun ini, keraguan berkecamuk di batinnya. Ia harus mengongkosi dirinya sendiri karena tiba-tiba disadarinya, tak ada orang yang akan membayarinya untuk ilmu-ilmu agama yang diajarkannya, tidak juga departemen agama.

10612553_277729099097114_3381905854627597760_n

Minggu kemarin, ia  pulang dari kepulauan Banggai. Ransel yang dibawanya masih ransel yang sama saat berangkat. Tak ada barang mencolok apapun yang…

Lihat pos aslinya 367 kata lagi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s