Tamu Pertama dalam Puluhan Kesunyian Natal

Meski dilahirkan dan mengalami masa kecil yang menyenangkan di Manado – daerah yang kebanyakan penduduknya adalah umat kristiani –dan sekolah di sekolah Kristen, saya tidak begitu banyak bersinggungan dengan hari Natal. Atau mungkin juga pernah, tapi saya tidak ingat. Bagi saya sebagai orang Islam, Natal hanya seperti hari-hari biasa. Kalau pun ada yang saya senangi dari Hari Natal, hanyalah bahwa pada hari itu sekolah libur. Jadi saya bisa main sepanjang hari.

Jika lelah bermain, kadang-kadang kami dipanggil oleh orangtua teman –teman saya. Diberi gula-gula, coklat, dan buku gambar. Di sore hari, Ibunya Conny, salah seorang teman saya, mendongengkan buku bergambar cerita tentang para nabi. Kadang-kadang saya masih bisa mendengar suara lembutnya saat menirukan sabda dari raja Sulaiman atau Musa yang membelah laut merah. Yang juga saya perhatikan adalah nama-nama Nabi di dalam buku itu, memiliki nama yang mirip-mirip dengan nabi-nabi dalam Islam. Yosep untuk Yusuf. Abraham untuk Ibrahim. Jacob untuk Yakub. Noah untuk Nuh.

Saya mencurigai mereka adalah orang yang sama.

Kelak, saya baru mengetahui bahwa kecurigaan saya benar. Sampai waktu itu, saya masih memahami bahwa baik Islam ataupun Kristen memiliki banyak kesamaan. Kami memiliki nabi –nabi yang sama, percaya kepada dosa dan pembalasan, surga dan neraka. Kami bahkan memiliki Tuhan yang namanya sangat mirip. Saya bertuhan Allah dan teman-teman saya bertuhan Allloh.

Teman-teman saya tidak pernah menyinggung soal agama kecuali itu dalam olok-olok yang aman. Kami pernah menertawai salah seorang teman yang memiliki dua agama di rumahnya, Islam dan Kristen. Dia akan ikut ayahnya ke masjid di Hari Jumat, dan ikut ibunya ke Gereja di Hari Minggu. Kami menyebutnya Krislam. Dan saat mengatakan itu kami tertawa terbahak-bahak. Tapi, hanya sebatas itu. Di luar dari perbedaan keyakinan, kami berteman tanpa takut-takut.

Tentu saja, orangtua teman saya segera menjauhkan daging babi jika saya bermain ke rumah mereka. Saya menandai kode mereka untuk Daging Babi dengan menyebut Ba’. Misalnya, “Taruh Ba’ itu di lemari.” Atau “Hati-hati Ba’ itu, ada teman-teman Richard datang.” Bersama saya yang tidak makan babi juga ada teman-teman lain dari kristiani juga, tapi dari aliran yang lain. Mungkin Advent. Mereka juga tidak makan babi.

Saya menyukai pelajaran agama, mungkin karena itulah saya akhirnya berniat untuk bersekolah pesantren. Selepas sekolah dasar, saya menghabiskan waktu enam tahun di pesantren di Banjarmasin, dan segera setelah itu, kenangan bersama teman-teman kristiani saya segera menyatu dalam bingkai masa kecil. Kadang-kadang saya mengingatnya, lebih sering tidak.

Di pesantren kami diajari bahwa jalan keselamatan adalah Islam. Itu sudah termaktub dalam Alquran. Kitab suci mengatakan “Bagimu Agamamu, dan bagi kami agama kami”. Kami menghapal rukun-rukun dan belajar hadits tentang keutamaan agama Islam. Siapapun yang memeluk suatu agama, pasti meyakini bahwa agama yang diyakininya adalah yang paling benar dan agama yang lain adalah sesat. Saya belajar banyak perbedaan di pesantren. Antara Islam dan Kristen memiliki perbedaan akidah yang sangat jelas.

Saya merampungkan enam tahun pesantren saya dan kemudian belajar sambil mengajar di pesantren di Luwuk Banggai. Setahun di sana, saya kemudian mondok lagi di dua pesantren sekaligus di Kediri, Pesantren Kencong dan Tahfidzul Quran. Jeda sebelum itu, saya kuliah di STAIN Sultan Amai di Gorontalo (tidak lulus). Saya tinggal dan juga ikut belajar di Pesantren Al Huda. Saya bangga memiliki banyak guru, bangga belajar dari mereka, meskipun pelajaran paling saya ingat justru berasal dari pengalaman sehari-hari yang saya temui.

Di Tahun 2006, saya pernah tinggal di Ombolu, sebuah desa Transmigran di Luwuk Banggai. Desa ini dibangun para pendatang yang berasal dari Bali dan Lombok. Mereka membangun Pura dan Masjid. Jika hari suci Umat Hindu tiba, saya yang tinggal di keluarga orang Bali Islam, ikut mendapatkan kue-kue dan kerupuk. Saya hanya makan sedikit. Inya, nenek petani tempat saya tinggal biasanya menerima pemberian itu dan kemudian membuangnya. Saya sempat ketar-ketir saat suatu kali dia membuangnya tepat saat orang itu menutup pintu.

Saya ingin menanyakan, “apakah mereka tidak marah?”. Tapi segera saya terpikir bahwa barangkali tetangga-tetangga kami dari Hindu juga melakukan hal yang sama. Meskipun demikian, Umat Islan dan Hindu tetap hidup rukun. Tetap saling “rewang” ketika membangun rumah, berkebun, dan menimbun jalan. Agama adalah sesuatu yang rumit.

Di Malam Natal tahun 2006, Saya diajak oleh teman saya, Syamsu Nazarul Adam (namanya pernah saya jadikan tokoh dalam novel pertama saya) untuk bertamu ke rumah satu-satunya umat kristiani di desa itu. Kami berjalan menyusuri jalan setapak perkebunan yang gelap. Selagi itu, saya bertanya kepada Syamsu, kenapa mereka tinggal di kebun? Syamsu mengatakan dulunya mereka sebenarnya adalah muslim. Seorang misionaris kemudian datang dan membujuk mereka untuk memeluk agama Kristen dengan diiming-imingi untuk diberi “sesuatu.” Mereka menerimanya dan akhirnya menjadi murtad dari Agama Islam. Mungkin akhirnya pilihan itu membuat mereka unik dan akhirnya harus menyepi tinggal di kebun.

“Apakah tidak apa-apa kalau kita mengunjungi mereka?” ucap saya ragu. “Nanti bapakmu marah?” Bapaknya Syamsu adalah seorang imam masjid desa.

“Tidak,” kata Syamsu. “Bapak tidak akan tahu,”

Kami tiba di gubuk yang hanya berpenerangan petromaks itu. Dua orang pemeluk Kristen itu ternyata adalah sepasang suami istri yang sudah lanjut usia. Mungkin sekitar 50 atau 60-an. Saya pernah tinggal di Manado, jadi tahu dengan perayaan natal yang gemerlap, penuh nyanyian, pohon natal, sinterklas, dan kado. Tapi saya melihat betapa sederhananya perayaan hari raya pasangan tua itu. Satu-satunya tanda bahwa mereka sedang merayakan sesuatu adalah dua buah kaleng kue dan sebotol Cocacola. Mereka terkejut ketika kami datang. Tak menduga bahwa akhirnya ada tamu yang datang di malam natal. Kami saling bertukar kabar tentang harga kakao. Dia juga menanyakan apakah Pak Imam, ayahnya Syamsu, baik-baik saja?

Syamsu mengatakan baik-baik saja.

Kami melewatkan malam hingga larut, makan kue  dan minum cola. Mereka terus menahan kami saat akan pergi. Kepada kami, sang nenek mengatakan bahwa kami adalah tamu pertama mereka dalam puluhan tahun natal yang mereka rayakan di kebun itu.

Saya mau menangis.

foto:internet

foto:internet

Dalam dunia yang semakin bising dengan pertentangan, konflik-konflik antar agama mudah meruncing, kebencian ditembakkan atas dasar kebenaran agama masing-masing. Api perang tersulut. Begitu mudahnya seseorang menuduh seseorang sesat hanya karena dia salah dalam bersikap atau pun berkomentar di media social. Orang-orang tak tahan untuk tidak memproklamirkan kebenaran relatif keyakinan mereka.

Agama adalah sesuatu yang sunyi, menurut saya. Di pesantren kami diajari, islam akan berjarak dengan Kristen, hindu, Budha, dll. Tidak ada sesuatu yang bisa menyatukan itu. Tidak ada. Tidak juga konsep pluralisme, dll. Debat antar agama adalah debat yang tidak produktif karena keyakinan bukanlah sesuatu yang bisa diperdebatkan. Debat membutuhkan pengetahuan, keyakinan adalah masalah perasaan, pengalaman, dan kecenderungan hati.

Dalam hiruk-pikiknya dunia sekarang, saya percaya, orang-orang harus melihat jauh melampaui semua status-status di media social, grup-grup kebencian yang memuntahkan makian kepada orang –orang yang berbeda pandangan dan keyakinan, jauh melampaui artikel-artikel di situs-situs agama, jauh melampaui berita-berita politik yang sumir yang menyeret kita pada debat kusir yang melelahkan.

Di malam natal tahun 2006, Syamsu mengajari saya bahwa tidak ada yang bisa kami lakukan untuk membuat agama kami terlihat benar dan kakek tua itu salah karena telah murtad. Tidak ada yang bisa kami perbuat dengan itu. Kami juga tidak tahu apakah apa yang kami perbuat – merayakan natal bersama pasangan tua itu – adalah salah. Yang bisa kami lakukan  dengan benar hanyalah usaha sederhana untuk menemani kesunyian hidup sesama manusia. Menghibur mereka. Melipur kesusahan. Memasukan kegembiraan di hati mereka. Harapan. Bahwa mungkin saja, Tuhan akan berbuat yang paling adil kepada mereka.

Sekarang, delapan tahun berselang sejak meninggalkan gubuk kecil di tengah ladang itu, saya termenung saat Jalaludin Rumi menujumkan ramalan kepada saya melalui puisi indahnya di abad ke-13 :

“Jauh melampaui benar dan salah, ada sebuah ladang: kutemui kau disana.”

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s