Kumandang Azan Surau Sekolah

Seperti tradisi pada lebaran-lebaran lainnya, setelah selesai Salat Idul Fitri, saya selalu kebingungan akan pergi ke mana. Jika pada akhirnya, saya kabur kanginan ke Pleihari sesungguhnya hal itu hanya karena saya mulai takut dianggap sebagai orang yang tidak berhari raya.

Pleihari, kata teman saya adalah kognat dari Play Here. Dulu sekali, kota itu disebut demikian karena orang-orang memang suka bermain di sana. Jangan tanya kepada saya tentang hal ini. Teman saya itu sendiri suka menawari saya setiap tahunnya: “Maen ke Pleihari ya?” Sungguh tak salah memang ibukota kabupaten itu mengambil namanya. Apalagi setelah Play Here, mereka juga mempunyai satu daerah yang tak kalah menggemaskan: Take a Song atau Takisung.

Jalanan ke Pleihari lengang. Hanya sesekali kendaraan berselisihan di jalan jalur cepat yang sempit. Nun di kiri kanan, awan-awan jatuh di hamparan ladang-ladang. Hawa pegunungan serasa lembap karena gerimis baru saja melintas di pinggiran kota kabupaten itu. Di pinggiran itu jua, teman saya tinggal.  Daerahnya masih sangat sunyi dengan permukiman.

Teman saya menyambut saya dengan ramah. Ia seorang guru honorer. Seingat saya sudah sangat lama ia menjadi honorer. Mungkin sudah sekitar lima atau enam tahun yang lalu. Ia belum diangkat karena selisih beberapa bulan dengan peraturan pemerintah tentang pengangkatan. Beberapa kali ia melamar di jalur umum tetapi gagal. Logika dari penerimaan pegawai memang seperti sedang berjudi dengan pemasang taruhan tak terbatas. Sementara hanya ada beberapa orang yang akan diterima menjadi pegawai.

Sejak kematian ayahnya berpuluh tahun lalu, teman saya itu tiba-tiba menjumpai hidup menjadi demikian keras. Di usia muda, waktu itu baru lulus pesantren, ia segera menjadi tulang punggung keluarga. Melamar pekerjaan, mengais setiap peluang, mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk mengepulkan asap dapur dan menyekolahkan dua orang adiknya. Ia bekerja demikian keras, siang dan malam. Mengajar di beberapa sekolah dan menjalankan les privat. Badannya menyusut hingga hampir saya tidak mengenalinya lagi.

ilustrasi dari internet

ilustrasi dari internet

Dia mempunyai seragam PNS yang terlihat selalu bersih digantung di kamarnya. Kepada saya ia mengatakan jika hanya memakai seragam itu pada hari senin. Di luar dari itu, ia memakai Sasirangan saat mengajar. “Supaya sadar dan tidak merasa sudah menjadi pegawai lalu mulai malas-malasan,” katanya.

Ia mengajar dan mendidik  sepenuh hati. Memantau bakat tumbuh kembang setiap muridnya secara personal. Memasuki alam pikiran mereka lalu mengarahkannya. Jika ada siswa yang nakal, ia segera menghukumnya. Esok harinya ia menemui siswa yang bandel itu dan merangkulnya seperti seorang teman. Tak jarang, ia tak cukup hanya memuji, tetapi juga  memberikan  hadiah atas kemajuan prestatif mereka.

Kepada saya ia mengatakan jika ia bertanggung jawab atas setiap anak yang dididiknya. Ia mempunyai teori sederhana tentang itu. “Ada dua jenis guru, guru yang saat mengajar hanya bisa memintarkan dirinya sendiri dan kedua, guru yang memintarkan anak didiknya.”

Sistem pendidikan di sekolah sangat terbuka untuk segala macam jenis persaingan. Anak-anak di sekolah ataupun mahasiswa di universitas hanya diajarkan satu basis metode yang sama: kompetisi. Ketika si A sudah bisa lebih pintar dari si B dan jauh melampaui si C dan di D, maka segala macam jenis penghargaan hanya akan didapatkan oleh sang pemenang. Pemenang mengambil semuanya, dan untuk menang, kalau perlu semua cara digunakan. Adapun mereka yang kalah dan tersisihkan oleh persaingan, akan mencari alternatif “rasa kemenangan” yang lain melalui penjegalan, perampokan, dan sebagai-sebagainya.

Teman saya mengajarkan kebersamaan dan kebijakan-kebijakan. Ia melatih semua muridnya untuk bertenggang rasa dan selalu bisa berbagi kemenangan kepada orang lain. Sebisa mungkin jangan ada anak yang merasa melampaui yang lain. Jika ada anak yang pintar, ia menugasi mereka untuk mengajarkan pengetahuan itu kepada anak-anak lainnya yang belum pintar. Si Pintar tidak merasa besar kepala dan si Belum Pintar akan merasa teman-temannya tidak akan meninggalkannya. Yang menang tidak mengalahkan dan yang kalah tidak ingin mencuri kemenangan.

Kami bercakap-cakap tentang pendidikan hingga maghrib menjelang. Berdua dengannya, kami pergi ke sebuah surau kecil di sekolah. Ia merawat surau itu dan menjadi bilal sekaligus imam di sana. Ketika ia akan azan, saya menyelanya.   Sudah lama saya tidak mengacaukan   kesadaran geografis orang-orang dengan azan.

“Jangan salahkan jika mendengar azan ini akan terasa seperti di Mekkah…” kata  saya sombong.

“Jangan khawatir,” katanya tersenyum,” sekacau-kacaunya  kesadaran orang, hanya ada satu dua orang yang akan datang ke surau ini.” (@justrandu)

 

 

 

Iklan

Bangkok: Antara Leo Di Caprio, Saya, dan Jangan Ketawa

Saya tidak menyukai Bangkok kecuali apa yang tersisa dari masa kecil saya. Itu adalah sebuah adegan film yang saya tonton sewaktu di pesantren. Selalu saya ingat, opening scene film itu dibuka dengan gambar dan  narasi; Leonardo Di Caprio, seorang turis muda yang bandel dan berbahaya dengan wajah berminyak dan ransel di depan patung  Budha emas. Melintasi kota dalam kemilau, menyusuri pasar, keriuhan malam, darah ular, penginapan murah, mencoba hal-hal baru.

Ini Leo Di Caprio di depan Budha Sleeping di film The Beach.

Ini Leo Di Caprio di depan Budha Sleeping di film The Beach.

Lama setelah film itu hanya tinggal setitik kenangan dari masa sekolah, saya akhirnya benar-benar menjadi Leo Di Caprio beberapa tahun kemudian.  Tentu tanpa darah ular.  Saya sudah phobia ular (Tapi, siapa yang tidak?) semenjak terakhir kali, seseorang menyetrum ular bernama “Mahria” yang saya pelihara di kamar saya di pesantren. Kenangan itu membekas lama. Setiap kali mendengar kata ular, sesuatu melintas di kuduk saya. Kini, Leonardo di Caprio kembali datang ke Bangkok dan mendapatkan kejutan kecil jika sekarang sudah ada yang namanya Sky Train.

Saya bisa merasakan, Sky Train atau BTS (Bangkok Mass Transit System) membuat revolusi besar di bidang transportasi kota ini. Betatapun, saya tidak bisa membayangkan bagaimana gambaran kota ini 15 atau 20 tahun lalu, saat BTS belum ada. Jalanan dipenuhi dengan sopir-sopir pengejar baht dan dollar, pengemudi Tuktuk, dengan celana puntung dan kacamata dibando di atas kepala, mengebut di setiap sudut jalan. Ditambah terik matahari Bangkok yang bisa mencapai 32 derajat celcius, Bangkok bakal menjadi ajang terror mental bagi turis-turis sok tangguh seperti saya yang akrab dengan angin sepoi-sepoi dan rintik romantik hujan.

Tanpa harus terkena setitikpun sinar matahari, saya bisa dengan leluasa menaiki Sky Train lewat lantai dua hotel Asia Hotel Rachathewi yang telah terkoneksi. Jadi, dari lantai delapan, kamar saya, saya tinggal menaiki lift ke lantai 2 lalu keluar ke terminal BTS. Di sini, tiket sudah bisa langsung dibeli dari mesin-mesin pengecer. Bersama dua orang teman lain, saya menjelajah Bangkok tanpa menyentuh bumi. Melihat lanskap kota, gedung-gedung tinggi, lapangan, warna-warna ceria,  gading gajah putih yang menjorok keluar, dan bingkai-bingkai besar dengan kalungan bunga, membingkai gambar Raja Bhumibol Adulyadej.

Kata Syarif, warga negara Malaysia yang tinggal di Bangkok, orang-orang Thailand adalah pemuja individu. Saya melihat seorang tukang ojek (ya, disana juga ada tukang ojek), pagi-pagi buta menyembah speedometer kendaraan yang disana ada gambar raja. Orang-orang berhenti dan berdiri khusyu mendengarkan lagu puja-puji kepada Raja.  Bendera nasional dikibarkan dengan panji-panji dan symbol kerajaan. Di sini, berlaku hukum Law Majeste, alias siapapun tidak bisa menghina raja dan keluarga kerajaan.  Kecuali jika dilakukan dengan bahasa Indonesia? 😉

Sangat wajar jika memang begitu. Konon, karena para raja lah, Thailand menjadi negara satu-satunya di Asia Tenggara yang luput dari penjajahan. Dengan kecerdikannya, Raja Siam – nama Thailand dahulu – berhasil memperdaya para penjajah.  Turun-temurun, raja bagi masyarakat Thailand adalah perwujudan dewa di bumi.  Raja sekarang, Bhumibol atau Rama IX, telah memerintah selama 68 tahun dan sejak tahun 2010, katanya, sudah dirawat di rumah sakit.

Thailand berada dalam krisis politik sewaktu saya ke sana, yang mana kami tidak bisa mencari waktu yang tepat lagi untuk berangkat. Saya bisa melihat pos-pos tentara dimana-mana, lengkap dengan matras dan jaring nyamuk. Royal Thai Army, beredar di sudut-sudut vital dengan wajah dingin dan menyelidik, memegang M16 dan  Barreta. Patroli berlangsung di halte-halte, wahana wisata, pusat perbelanjaan. Saya berjalan pelan-pelan saat di depan saya, dua orang Royal Thai Armi naik escalator sambil berbisik-bisik.

Meski begitu, turis-turis kayaknya gak pernah surut. Di bandara Svarnabhumi (udah bener tulisannya?) kami harus mengantre panjang untuk imigrasi bersama-sama dengan  orang-orang dari Asia timur, Australia, Kanada, Brasil skandinavia, India, dll. Di jalan-jalan kota di Bangkok, para pelancong berkacamata Rayban berjalan kaki menyusuri trotoar, tawar menawar dengan pedagang kaki lima. Di bar-bar dan restoran daerah-daerah Shumkhuvit, cekakak-cekikik Lady Escort tetap terdengar, gelas-gelas berdenting, lagu dan tepukan tangan hingga pagi. Lampu-lampu dimatikan separuh untuk menyiasati jam malam.

Kayaknya di kota ini badai politik hanya sampai di tepi dan tak bisa membalikan mangkok makan yang didapatkan dari sektor pariwisata. Faisal, seorang teman saya di sana mengatakan, padahal kunjungan turis sudah turun separuh jika dibanding saat kondisi negara sedang stabil. Sekadar ilustrasi yang saya dapatkan dari catatan di Jawa Pos, Sebelum ada rangkaian rusuh demonstrasi Thailand dikunjungi 26,7 juta wisatawan. Tahun ini, hingga Mei, jumlah wisatawan yang datang baru 10,5 juta orang. Dengan tingkat pembatalan yang tinggi dan lambatnya permintaan booking, diperkirakan Thailand hanya akan dikunjungi paling banter 22 juta turis pada 2014. Turun hampir 5 juta orang. Padahal, Thailand menargetkan penerimaan pendapatan dari sektor turisme hingga Thb 1,2 triliun atau Rp 450 triliun.

Mungkin inilah yang akhirnya membuat kerajaan harus turun tangan menyokong secara tertulis kudeta militer yang diinisiasi oleh Jenderal Prayuth.  Kondisi negara yang tidak kondusif, dampak buruk dari krisis yang terjadi selama setahun, perlahan tapi pasti bakal memukul ekonomi Thailand. Rangkaian demonstrasi oleh baju kuning dan baju merah yang balas-balasan tak berkesudahan harus dihentikan,  dan satu-satunya yang bisa dilakukan untuk menahan massa adalah militer yang ganas.

Saya sendiri bersama teman merasakan sendiri digeledah di tengah jalanan Bangkok saat jam malam. Taksi kami diberhentikan, kaki direntang, tangan diangkat di atas kepala. Diraba-raba, seluruh isi ransel ditumpah di atas kap mobil. Wajah di paspor kami disenter dan disesuaikan, apakah lebih ganteng aslinya atau tidak (yang ini ngarang). Saat diperiksa itu, saya memikirkan nasib sebuah negara dalam cengkeraman militer yang demikian represif.

Resistensi? Udah pasti. Saat militer mengambil alih pemerintahan, warna kuning dan merah melebur menjadi satu. Militer mengejar demonstran ke mall-mall, berderap-derap memanjati tangga stasiun,  dan memangkas jam operasi BTS Railway. Saat para demonstran berencana menggelar aksi massa besar-besaran di kawasan Ratchaprasong, kawasan bisnis di Bangkok, militer membuat aksi pencegahan dini dengan sweeping dan blokade.  Media sosial yang menjadi pemersatu para massa antikudeta diblokir.  Jelas, militer Thailand telah belajar banyak dari revolusi twiter yang menjatuhkan tiran di Mesir.

Tapi selalu ada waktu-waktu, dimana  para tentara membuka wajah ramahnya kepada para wisatawan. Tentara –tentara yang berjaga di kawasan sibuk MBK – Siam Paragon, menggendong anak-anak para pelancong dan mereka tak segan-segan tersenyum saat diajak para gadis-gadis muda Hispanik berselfie ria. Kelak, setelah piala dunia diselenggarakan Jenderal Prayuth, yang merupakan seorang pengikut kerajaan yang fanatik, membuka kanal –kanal berbayar untuk publik bisa mengaksesnnya gratis. Jauh setelah itu, jauh setelah saya meninggalkan Bangkok, nyaris tidak ada lagi demonstrasi. Keamanan mulai dipulihkan, jam malam dicabut, toko-toko buka dan orang-orang mulai kembali ke bisnis.

 

***

Berperahu di Chao Praya (Orang Thai menyebut Coa Paya), saya merenungi sejarah yang pernah melintas di sepanjang sungai ini.  Perebutan kekuasaan, pertumpahan darah antar dinasti, penghianatan, mungkin saja cinta terlarang. Harapan yang menyertai setiap kekalahan, dan bayang-bayang keruntuhan dalam setiap kejayaan.

Saya berhenti di beberapa dermaga, dan akhirnya  menemukan bagian dari masa kecil saya.   Patung Budha   yang pernah saya saksikan di pesantren dulu. Saya heran, kenapa matanya terbuka Budha Reclining)? Padahal kan di film tertutup (Budha Sleeping)? Apakah kedatangan saya akhirnya membuka mata sang patung? 😉 Apapun itu, saya berpose bersama Budha Emas, berusaha menirukan Leonardo Di Caprio,  merasakan narasi-narasi besar kehidupan mengalir menggerakan adrenalin, menjadikan keinginan nyaris seringan mimpi. Misteri. Matahari garang Siam bersinar dari balik ujung-ujung stupa emas di Grand Palace, berkilauan, seperti dulu saat kota ini diberkati sebagai kota para dewa. Di ujungnya saya merenungi kehidupan dan kefanaan, kebijaksanaan yang digaung-gaungkan dari abad ke abad oleh sang Budha :

Belajarlah dari air, dari celah dan retakan gunung. menderu deras dari kawah uap. Namun mengalir dengan tenang di sungai. ()

 

Saya di Grand palace.

Saya di Grand palace.