Reuni Pesantren

Barangkali saya termasuk orang yang beruntung karena pernah  menjadi salah seorang dari mereka yang ditakdirkan Tuhan untuk bersekolah di pesantren.  Saya yakin, tidak banyak  anak-anak di zaman sekarang yang diberi keberuntungan serupa.  Pesantren selalu identik dengan kedisiplinan. Pembatasan dan pengendalian.  Dan hampir segala hal yang serba terbatas itu sangat tidak mengenakan.

Bangun dini hari, sholat Subuh berjamaah, mengaji, wiridan, sekolah dari pagi sampai sore,  kadang-kadang kepala digundul untuk hal yang bahkan tidak diketahui, kelaparan hampir setiap jam, belajar sampai larut malam, terisolasi dari dunia luar, dan diserang penyakit  gatalan! Segala laku yang hampir menyerupai ajang teror mental itu harus dijalani setiap hari, selama bertahun-tahun.

Di beberapa bulan awal, beberapa teman berhenti.  Waktu itu, sekolah di SMA Banjarmasin atau di MAN Gambut dinilai lebih mempunyai harapan dibanding dengan harus berkutat dengan Tahi lambuan di pesantren.  Mereka-meraka yang telah keluar dari pesantren ini kadang-kadang datang dan memamerkan motornya dan menfetakompli teman-temannya yang   masih bertahan dengan rayuan “hari yang cerah di luar sana.”

Ini adalah siklus turun-temurun. Semacam hukum alam. Mereka yang tak tahan ujian, akan pergi.  Sementara  mereka yang bertahan mendapatkan tiba-tiba seiring dengan bertambahnya usia, godaan hampir tak tertahankan lagi. Ini biasa terjadi di tahun-tahun semenjana. Di pesantren, tahun awal selalu lebih sulit, tetapi tahun kedua, lebih sulit lagi, dan tahun ketiga, dan tahun keempat, dst..dst…

Setelah tahun-tahun berlalu, di reuni kemarin, saat bermain volly di senja yang suram,  barulah terasa bahwa setiap kami  selalu merindukan masa-masa itu. Masa-masa dimana kadang kami harus dibangunkan subuh hari,  antre di dapur umum, terkantuk-kantuk mengusir nyamuk saat belajar di surau,  bercanda sebelum tidur malam, mencucibaju bersama. Terasa,hampir tidak ada kenangan yang pahit, semua kenangan di pesantren, belajar dan bertahan di dalamnya menjadi kenangan indah yang tak terlupakan.

Di reuni kemarin, beberapa teman dari jauh datang, beberapa berombongan. Saling menyapa, melepas kerinduan dan berbagi kenangan. “Ingatkah saat kita memanjat pagar pesantren, saat kita bersembunyi dari razia radio, saat   melewati kuburan di samping masjid untuk mengantar surat cinta…

Pesantren punya cerita dalam waktu,  rahasia tertentu yang sulit untuk diungkapkan.

Reuni pesantren

Saya dan beberapa teman, kebanyakan kakak kelas. tebak saya yg mana?

Pesantren kami sendiri sudah sangat berubah. Anak-anak yang sekolah di sana juga tidak lagi kebanyakan anak-anak yang mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan masa depannya.  Lulus pesantren mereka sudah bisa memilih ingin kuliah dimanapun yang mereka mau. Saya tidak tahu apakah generasi pesantren sekarang mengalami masa-masa romantik dengan keterbatasan itu ataukah pesantren telah memecahkan masalah klasik mereka  tentang bagaimana pesantren tidak terus menggigil di halte yang ditinggalkan bis zamannya.

Ya, zaman berubah. Beberapa hal tidak lagi seperti sebelumnya.  Selalu seperti itu.

Kini pesantren berada di persimpangan jalan yang rumit antara terus bertahan dengan metode pembelajaran konvensional atau membuka diri dengan  hal-hal baru yang dulu harus ditentang habis-habisan. Internet, televisi, handphone, jejaring sosial, makanan cepat saji, dan pola pikir praktis adalah  trademark kemajuan.   Bagian terburuknya adalah para anak-anak zaman tidak lagi mengalami antusiasme yang relevan dengan semangat pesantren.  Pesantren ingin merubah mereka, tetapi mereka juga, dengan segala psikologi yang dibentuk oleh kultur lingkungan dan informasi zamannya, memberi warna baru bagi pesantren.

328219_507319109282977_1768354626_o

Saya (membelakangi kamera).

Saya tidak tahu, apakah hingga puluhan tahun ke depan, masih akan ada anak-anak yang mau sekolah di pesantren. Yang jelas, itikad baik muncul dari para teman-teman saat reuni. Mereka sepakat untuk kelak tetap menyekolahkan anak-anak mereka di pesantren dan menjadi bagian dari generasi yang serba sulit dan terisolir itu. Mereka  selalu berdoa untuk kehidupan sederhana di pesantren. (@justrandu)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s