Politik, Islam, Ramadan dan Bla Bla bla

Seorang sahabat yang baru saja memutuskan suatu pilihan penting dalam hidupnya beberapa bulan ini terlihat sibuk. Ia acap mendatangi lokasi-lokasi musibah, mendampingi dan menfasilitasi pengobatan anak-anak tak mampu, aktif mengadakan beberapa program kerja sosial, pendidikan, kebudayaan, menyelenggarakan pasar murah, sunatan massal ke kelurahan-kelurahan, menandatangani satu dua proposal yang masuk dan menyediakan mobil ambulans untuk mereka yang berduka.
Tentu saja psiko-sosiologi masyarakat punya tafsir jelas tentang sahabat itu: Ia sedang merintis sebuah jalan panjang yang kelak akan dikembangkannya lebih jauh. Dalam bahasa kita ia mempunyai pamrih politik. Politik dalam arti yang kira-kira telah kita pahami selama ini. Dengan segala distorsi dan reduksi maknanya. Dengan segala stereotipisme pandangan dan anggapan hitam-putihnya. Masyarakat tidak melihat politik selain daripada dimensinya yang paling “universal.” Karenanya kita kebanyakan hanya punya bahasa tunggal tentang partai, pemilu, kampanye, demokrasi, uang absen, dll…
Masyarakat mempunyai elastisitas dan kelenturan yang luar biasa dalam memandang fenomena makhluk yang bernama politik. Yang saya maksudkan adalah suatu waktu anda bisa saja mati-matian membenci politisi tertentu dan di saat lain anda tidak akan menolak untuk suatu ketika diajak berfoto bersama. Di suatu saat Anda gencar mempertanyakan kemana uang dari proyek tertentu hanya karena Anda sama sekali tidak diajak “omong-omongan.”
Nasi bungkus yang disodorkan kepada Anda bisa Anda tolak hanya karena seseorang mengatakan itu pemberian seorang fungsionaris partai. Para aktivis melakukan demonstrasi dengan memperjuangkan agar tidak ada lagi politik uang dan kemudian mereka menjadikannya sebagai sebuah pencarian, karena siapa tahu selepas berdemo mereka bisa menaikan bargaining power untuk lebih didengar dan “dipertimbangkan.” Dalam menyikapi politik kita bersifat sangat hipokrit. Bahkan seorang akademisi yang berjarak dan memproses segala sesuatunya dengan perspektif pemikiran yang prima dan konsider ilmu tiba-tiba bisa saja menjadi tidak rasional hanya karena ia menjadi konsultan politik tokoh tertentu.
Di luar dari itu, di lingkaran yang lebih “suci.” Para mahasiswa, intelektual, aktivis, hanya melihat peran sosial-budaya dan politik-ekonomi mereka sebagai alternatif yang lebih baik karena bebas dari motif-motif kekuasaan, bebas dari keruwetan birokratis, lebih efisien dan lebih memihak rakyat kecil, tanpa disadari pandangan itu lebih merupakan idealisme dari pada gambaran akurat dari keadaan yang berlangsung dan konteks sosio-politik yang membidanginya.
Berangkat dari ingin lepas pada keterjebakan simbol-simbol anti dan pro, menolak dan setuju, saya menanyakan pertanyaan penting kepada sahabat saya. Tentang mengapa misalnya ia harus terjun ke sebuah dunia yang telah dicederai begitu banyak angggapan dan sangka buruk, kecurangan, permusuhan, kemunafikan, penjegalan, korupsi dll.
Ia terdiam. Tapi kemudian menunjuk ambulans di halaman rumahnya yang sedang diperbaiki oleh seorang teknisi karena “jam operasi’ ambulans yang padat setiap harinya. “Jika saya hanya berorientasi politik, ambulans itu mungkin tak akan saya bolehkan keluar dari Banjarbaru karena tidak ada keuntungan politik yang saya atau partai saya dapatkan seperti jika ia beroperasi di Banjarbaru. Tapi apakah hanya demi politik dan kepentingan saya bisa begitu tega menolak seseorang yang suatu saat meminta pertolongan untuk keluarga atau kerabat yang ditimpa kedukaan?”
“Maka kadang saya biarkan saja ketika ambulans itu tiba-tiba harus mengantar orang ke Hulu Sungai, ke Balangan, ke Marabahan, karena saya tahu itu ini bukan lagi tentang politik tetapi lebih dari itu, ini masalah kemanusiaan dan ketenggangrasaan antara sesama makhluk Tuhan,” simpulnya.
Sahabat saya itu memahami politik dengan sudut pandang yang jernih. Ia yang masih awam sesungguhnya telah mempunyai pemahaman yang lebih subtil dan tidak parsial tentang berpolitik.Ia tidak terbatasi oleh sekat-sekat karena rentang garisnya sungguh luas. Seperti juga sahabat saya yang lain yang mengatakan. Rasulullah toh adalah seorang strateg dan pemimpin politik yang mumpuni. Yang menjadikan masjid sebagai ruang kampanye untuk sebuah proses kemaslahatan dan kesejahteraan masyarakat.

Gambar: Internet
Politik dalam islam diatur sedemikian indahnya. Demokrasi yang katanya pencapaian terbesar dalam kebudayaan dan peradaban hanyalah salah satu wajah toleran islam dan tidak hanya terbatas pada negara, manusia dan sejarah tetapi juga jin, binatang. Bahkan Allah yang maha tahu tetap saja memintai pendapat para malaikat saat akan menciptakan manusia. Politik, demokrasi, seperti juga bagian lain dari agama ini adalah kebulatan sistem bagi masyarakat keseluruhan dan terkandung padanya dialektika pergaulan bersama Tuhan dan bersama manusia.
Maka jika rasulullah berpolitik dalam konteks dunia-akhirat melalui media dakwah demi kemaslahatan ummat, tentu politisi di banua kita jangan sampai ketinggalan dan harus “ittiba”. Kalau boleh milih, mbok ya caranya biar ga usah yang rumit-rumit. Kalo bisa tidak perlu sampai bergelut dengan tema-tema pembangunan sosial-ekonomi-budaya yang urgen. Cukup dengan nyisip di prime time stasiun televisi untuk mengucapkan sepatah dua patah kalimat “Saya haji blablabla dan segenap blab la bla, selamat berbuka puasa…” Sebab, siapa tahu, demikian bodohnya kita semua ini hingga perlu diberi tahu cara mengupas pisang saat berbuka. (@justrandu)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s