(Catatan Pulang Kampung -3) Rumah Tanpa Pintu dan Positivisme kota

Kerlap-kerlip cakrawala modernisasi di desa saya tidaklah menggerus apa yang dinamakan sebagai nurani dan keyakinan desa. Di mana-mana tempat di desa, semua orang masih tetap memelihara harmoni mereka dalam menemani sesama manusia. Berkunjung ke bagian manapun , kita akan dipertemukan dengan dengan wajah –wajah manusia dengan air muka yang seperti ingin tidak akan pernah terbetik untuk menyengsarakan orang lain.
Orang-orang desa menyapa, tersenyum dan mempersilakan orang lain masuk ke rumah mereka dan kemudian mengeluarkan apapun yang mampu mereka suguhkan. Jika mereka kebetulan tidak memiliki apapun, maka jalan keluarnya adalah “lari” ke warung terdekat dan ngebon makanan, gula dan teh agar dapat menjamin kebahagiaan para tamu yang datang.
Saya pernah tinggal berbulan-bulan lamanya di rumah seorang transmigran asal Bali, jauh di pedalaman Sulawesi. Teras rumah bagian depannya terbuka dan tidak berdinding hingga ke pembatas bilik. Tidak ada pintu di rumahnya. Orang-orang bisa bebas masuk dan duduk-duduk di ruang tamunya yang telah disediakan toples dan makanan ala kadarnya. Ia tidak memiliki sebetik prasangka pun apakah akan ada orang yang tergiur mengangkut dua salon speaker besar di rumahnya.
“Tidak ada maling di sini, “ katanya ketika saya mengemukakan kekhawatiran.
Dia benar. Di desa yang sebenarnya tidak pernah ada maling karena orang selalu membantu kesulitan manusia lainnya. Tidak pernah ada kekurangan karena segalanya bisa diselenggarakan dengan saling urun pertolongan.
Bagi orang yang hidup di kota, merelakan ruang pribadinya bisa dimasuki oleh siapapun, adalah suatu keanehan kalau tidak bisa disebut kegilaan. Kota penuh dengan sekat-sekat sosial, dinding-dinding kultural dan pagar-pagar individual yang semakin mempersempit manusia untuk hanya melihat dirinya sendiri. Ironisnya, kita selalu merasa, kita-kita inilah yang paling berhak tentang segala jenis konsep tentang memanusiakan manusia.
Ada paradoks besar antara sikap hidup masyarakat perkotaan dan realitas sehari-hari mereka. Kota selalu penuh dengan orang-orang terpelajar, mereka yang bergiat di usaha-usaha perbaikan masyarakat, melakukan pendekatan ilmiah, melakukan diskusi-diskusi, mengolah data, memberikan analisa-analisa, kemudian terlelap dalam labirin panjang teori mereka sendiri dan merasa telah berbuat sesuatu untuk kemanusiaan.
Begitu sakitnya hingga tak seorang pun yang menyadari bahwa ada sistem bertolak belakang yang sedang bekerja dalam ruang bawah sadarnya. Orang-orang kota membuka diri untuk motivasi, menonton dan membaca buku-buku tentang pengembangan diri, merasa telah menjadi transhuman, lalu mengunci dirinya dalam ruang kedap suara yang tidak bisa dijangkau oleh manusia lain. Orang-orang kota selalu menyukai dan mengaku berpikiran positif tetapi mereka juga membangun pagar rumah dan mengunci pintu rumah bahkan walau hanya ditinggalkan sejenak.
Saya sendiri merasa sebagai orang yang lama di kota, pikiran saya sudah sangat rusak dengan prasangka. Begitu ada wacana kenaikan BBM, kita dilanda kepanikan dan memilih untuk memborong BBM sebisa-bisanya. SPBU penuh dengan wajah-wajah yang khawatir bahwa orang lain akan menghabiskan BBM dan ia tidak akan kebagian. Karenanya, daripada “digorok” orang lain, sebisa-bisa kita memanfaatkan kesempatan untuk “menggorok” orang lain dengan mendahului memborong BBM sebanyak-banyaknya. Kita tidak sekali pun terpikir apakah orang keduapuluh yang antre di belakang kita masih akan mendapatkan jatah pengisian. (@justrandu)

(3/10/2012)

Satu pemikiran pada “(Catatan Pulang Kampung -3) Rumah Tanpa Pintu dan Positivisme kota

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s