(Catatan Pulang Kampung –2) Sudah, Makan Dulu Sana, Ada Tahi Ayam Spesial Tuh..

Banyaknya sepeda motor yang kini dimiliki oleh orang di desa saya, tak bisa tidak, adalah lompatan penting menuju arus besar kemajuan. Sepeda motor menjadi sebuah metafora tentang perubahan fundamentalis di kalangan masyarakat desa. . Mereka sedang menggagas cita-cita senyap mereka akan sebuah kelayakan, atau setidaknya anggapan tentang hidup yang lebih baik. Sepeda motor itu tak perlu susah-susah, cukup nyalakan mesin dan kita, kalau mau, bisa ongkang-ongkang kaki di atas sadelnya.
Di jalan-jalan desa yang sepi, sepeda motor biasa dibawa dengan amat cepat oleh para penduduk, tua dan muda. Di jalan yang lurus, mereka memacu motor bahkan hingga di ambang batas akselerasinya. Saya tak bisa membayangkan, jika motor-motor itu dipacu di jalanan kota yang padat dan pejal. Akhir-akhir ini, setiap orang di desa sepertinya memang sedang berpotensi untuk menjadi pembalap.
Mereka hafal Palentino Rosi (Valentino Rossi) dan punya beberapa poster di ruangan tamu (Bayangkan itu, di ruangan tamu!). Konon, setiap malam Senin, sirkuit Jersey atau Catalunya, seperti diseret ke rumah milik juragan beras. MotoGp adalah acara favorit semua orang. Riuhnya nonton bersama MotoGp hanya bisa dikalahkan oleh pertandingan sepak bola Timnas Indonesia.
Celetukan dan sesambatan dalam menonton pun terasa tak berubah semenjak televisi masuk desa. Sebelum acara, beberapa orang sudah berdebat tentang apa agama Palentino Rosi. Pasalnya seseorang penduduk yang bermata jeli mengatakan ia pernah melihat Palentino Rosi mengangkat tangan berdoa di samping knalpot, seperti orang yang sedang duduk tahlilan. Ada yang mengatakan Palentino Rosi masuk islam karena mendengar azan di sirkuit, ada juga yang berseloroh bahwa sesungguhnya tak penting agama itu yang penting adalah kadar keimanannya, dan rupa-rupa cerita absurd yang ditanggapi dengan tak kalah absurd.
Globalisasi jelas telah merubah desa saya. Kemilau modernisasi menciptakan pergeseran budaya yang serius. Rumah beton, sepeda motor, televisi dianggap sebagai simbol status. Tiba-tiba, semua orang di desa memiliki gairah dan harapan yang aneh tentang cara memandang hidup. Seiring dengan itu, hampir setiap hari, orang-orang dikejutkan dengan barang-barang elektronik ajaib yang kini bisa diperoleh di pasar-pasar malam dan toko-toko terdekat.
Lelucon dan kisah-kisah tentang orang-orang desa yang tergagap-gagap dengan produk kota menjadi anekdot yang dibincangkan setiap hari di rumah dan di gardu-gardu. Tentang orang dari lembah yang datang ke kecamatan untuk membeli hape sekaligus meminta bungkuskan sinyal untuk dibawa pulang. Orang dari pesisir yang menolak mengirimkan SMS dengan alasan “tulisan tangannya tidak bagus.” Orang dusun yang datang ke konter hape dan meminta menggantikan kulit hape (maksudnya chasing), cerita pertengkaran rumah tangga karena perebutan hape, dan macam-macam cerita yang menggambarkan transformasi realitas yang terjadi di kalangan masyarakat desa.
Modernisasi membawa segalanya, menjadi berkah juga kutukan. Kini anak-anak muda sangat jarang pergi ke langgar, karena mereka lebih suka melihat bagaimana Marshanda dan Ridho Rhoma beradu akting di televisi. Anak-anak muda desa menjadi hapal cara bicara, berjalan, para artis-artis sinetron dan mereka menjadi mimikri yang mengaggumkan. Kalimat-kalimat dalam iklan mereka pelesetkan dengan artikulasi dan interpretasi yang bahkan tak bisa terpikirkan oleh para pembuatnya. Kata-kata seperti “Sudah, makan dulu sana, ada tahi ayam special tuh,” menjadi olok-olok kreatif di kalangan remaja-remaja gaul di desa saya.
Ibu-ibu rumah tangga yang dulu aktif arisan, yasinan, semakin meningkatkan aktifitas mereka dengan lebih canggih berkat siaran infotainment di televisi. Mereka merasa ikut harus memikirkan apakah Rafi Ahmad memang perlu secepatnya menikahi Yuni Sara, serta dimanakah Sahrini pada hari Jumat lalu, dan tidur dimanakah ia pada malam Minggu. Sesekali mereka menggunjingkan mengapa Chelsea Olivia itu bisa berbahasa Jawa dan siapakah istri ketiga Saiful Jamil.
Terakhir, Lapangan volly di depan langgar, simbol persatuan lintas gender, agama dan usia, kini menjadi sunyi, karena orang-orang telah memiliki fasilitas hiburan individual di rumah masing-masing. Beberapa hal telah berubah dan pilihan masyarakat untuk mengompromikan tradisi dengan kemajuan zaman, adalah sesuatu yang lambat laun pasti terjadi. (@justrandu)

(3/10/2012)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s