(Catatan Pulang Kampung -1) BBM Naik? Tenang, Ada Hape Cina

Sekian lamanya merindukan pulang kampung, akhirnya tercapai juga keinginan saya beberapa hari lalu. Tiga hari tiga malam menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, berjubel-jubel di bis dan kapal, berkeleweran bersama para ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, para pekerja, melewati segala kesengsaraan dan sifat tamak para supir-supir dan calo pelabuhan, akhirnya, sampai juga saya di desa tercinta.
Desa saya nun jauh di pulau-pulau Indonesia timur, sedikit telah berubah. Pembangunan terasa sayup-sayup di sana. Listrik masih sering padam, tetapi orang-orang desa sekarang sudah banyak yang punya mesin genset sendiri. Tidak seperti orang-orang kota yang sudah mempunyai “jalur makian resmi” untuk mati lampu, orang-orang desa lebih konkrit dalam menyikapi situasi. Mereka memiliki daya tahan sekaligus bisa menyiasati kehidupan bagaimanapun sulitnya.
Misalnya, saya juga tidak menemukan adanya pembahasan yang serius tentang akan naiknya harga BBM di kalangan orang-orang desa. Perdebatan tentang BBM biarlah menjadi konsumsi dan kegilaan orang-orang di kota.Bagi masyarakat yang hidup di pedesaan, asalkan mereka bisa menyelenggarakan hidupnya sendiri, tanpa diganggu pemerintah, tanpa diambil rumah, tanah dan sawahnya, maka cukuplah itu. Secara struktural, orang-orang desa memang tidak memiliki ketergantungan yang berarti kepada misalnya, anggota dewan, APBN, subsidi, dana pemerataan, bahkan Indonesia sekalipun.
Tetangga-tetangga kini banyak yang sudah punya motor. Bahkan ada yang sampai punya dua buah. Satu dipakai sang ayah, satu dipakai anaknya pergi ke sekolah. Jika sore hari, motor-motor itu diparkir di depan rumah sebagai perlambang kemajuan dan kesejahteraan. Dengar-dengar selepas sekolah menengah atas nanti, sang anak akan segera dikirim untuk sekolah di Jawa seperti kakaknya.
Jika dulu, hanya ada beberapa orang yang bisa pergi ke kota, sekarang anak-anak muda kampung bahkan tidak perlu mandi pagi untuk naik bis ke kota. Mereka adalah anak-anak muda yang lebih beruntung daripada teman-temannya yang berlulurkan Lumpur di sawah.
Yang selalu mengasyikan saya, Jika pulang kampung, anak-anak muda desa itu tak sungkan-sungkan memamerkan “kemajuan-kemajuan” tertentu dari kota. Bahkan anak saudagar beras dekat rumah saya sudah menimang blekberi. “Dulu SMS-an, sekarang BBM-an,” katanya kepada teman-temannya,”Lho, katanya BBM naik, lebih baik pakai hape china saja,” canda saya.
Barangkali seperti saya, mereka adalah anak-anak desa asuhan kota yang memberi warna dan nuansa tertentu bagi harmonisasi dan sistem nilai orang-orang desa yang dekaden. Bagaimana pun sistem nilai, moralitas, pola perhubungan, dan sikap masyarakat desa selalu lebih jernih dan manusiawi dibandingdengan masyarakat modern yang hidup di kota-kota besar. Setidaknya, tidak pernah ada gelandangan di desa.Orang-orang yang hidup di kota, ya kita-kita ini, acapkali memendam situasi kebatinan tertentu untuk setidaknya, sewaktu-sewaktu, bisa tinggal di desa. Pada takaran sederhana, mimpi ideal kita adalah bisa hidup berkecukupan di desa, syukur-syukur bisa menjadi tuan tanah, pemilik penginapan, atau buka warung dan toko pupuk di desa.
Tak usah terlalu besar, cukup untuk bisa membiayai kehidupan kita di desa. Sekadar agar tidak membanting tulang seperti yang dilakukan orang-orang desa kebanyakan. Bonusnya, kita kemudian bisa dipanggil tuan, atau juragan. Atau mewahnya, kalau kita punya modal banyak, kita juga bisa mencalonkan diri menjadi bupati, carik, atau kepala desa, tergantung kreatifitas kita dalam menggauli nasib. (@justrandu)

(3/10/2012)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s