Sebuah Malam Inspirasi, Jancuk dan Cerita Lainnya

“Hati-hati diculik!”

Begitu pesan Sasa Puroh kepada saya begitu tiba di terminal 2 Bandar Udara Soekarno Hatta.  Sejauh ini, tidak ada tanda-tanda ada penculik. Saat keluar dari pesawat Garuda yang membawa saya, Jakarta bersahabat  dalam cuaca terbaiknya, mendung dan berangin tanpa tanda hujan.  Saya mengirimkan whats app balasan : Hahahahahahahaha…

Iya. Saya biasa bercanda dengan Sasa. Sudah beberapa bulan ini,  sejak dia menelepon saya pertama kali November tahu lalu, untuk mengabari  dia yang akan menjadi editor saya.  Nanti-nanti, dia bahkan mengejutkan saya dengan mengatakan buku saya bakal dilaunching dan saya harus datang ke Jakarta pada 16 Maret itu. Sasa editor yang baik. Ramah. Penyabar dan keibuan. Sudah semuanya, Sa? Sudah? Baiklah.   Lihat saja, dia tak henti mengurus keberangkatan saya sejak jauh-jauh hari dan tak bosan  mengirim pesan walaupun hanya mengatakan “Hati-hati diculik” tadi.

Sasa juga yang memandu saya sejak saya numpang ke dalam taksi Ekspress. Alamat yang akan dituju adalah kantor yang belum pernah saya kunjungi : Jakagarsa, Jakarta Selatan. Dia memberi saya clue bahwa saya boleh berhenti di samping kantor Diklat Transportasi Laut. “Nanti bilang aja ke sopirnya,” ucapnya dari sambungan telepon.

Jalanan Jakarta lengang di hari Minggu, begitulah yang saya dengar. Tapi mendengar tidak seperti melihat sendiri. Di bilangan dekat jalan tol, sopir taksi, seorang bapak yang sangat ramah bernama Aris, mengatakan dia harus menempuh jarak yang sedikit agak memutar ke Jakagarsa melewati sebuah tol lagi. “Lihat itu,” katanya menunjuk penyebab kemacetan. Kami berdecak kompak saat melihat puluhan bahkan mungkin ratusan bus mengantre di jalanan. Ada bendera partai ditempel di lambung bis. Sopir taksi merutuk karena dia tidak ingat ini hari pertama kampanye.

Kami memutari beberapa jalanan dan mulai memasuki perkampungan yang lumayan padat. Sopirt taksi bertanya kepada beberapa orang. Saat akhirnya kami menemukan kantor diklat itu, saya kerepotan saat Pak Aris  terlalu bersemangat membelokan taksinya ke dalam kantor. “Oh, takut diantar ke dalam?” tanyanya menyimpulkan.

“Iya, selain itu tujuannya juga bukan kantor ini,” jawab saya ngakak. Saya membayar dan menelepon Sasa. Mengabarkan bahwa saya telah tiba.

***

Kantor Moka Media adalah bangunan memanjang yang menempati  lahan seluas kira-kira dua hektar. Dari luar, bangunan  berlantai dua bercat terang ini tertutup pagar setinggi dua meter yang dirambati tanaman pergola hijau tua. Masuk ke dalam, melewati dua orang satpam yang ramah-ramah, saya melihat ada banyak lagi tumbuhan perdu  dan pepohonan. Hamparan  rumput hijau menimbulkan kesan asri.

Kata Dedik Priyanto, editor Moka Media yang saya jumpai kemudian, banyak penerbit nasional berkantor di kawasan ini. Ada Gagas Media, Noura, dll. Mungkin karena Jakarta Pusat bukan tempat yang tepat untuk melakukan sesuatu yang berhubungan dengan pusing kepala edit-mengedit? Entahlah. Moka Media sendiri baru beberapa hari berkantor di sana. Saat saya datang, anak-anak Moka masih mencoba mesin absensi jari.

Dedik, adalah orang pertama yang saya jumpai di dalam kantor.Dia sedang asyik mengamati tampilan Web Moka saat saya masuk. Tubuhnya yang tinggi besar memenuhi kursi kecil yang didudukinya. Kami  berkenalan dan begitu cepat akrab karena beberapa kesamaan: kopi dan rokok. Saat memenuhi ruangan itu dengan asap, kami ngobrol melantur kesana-kemari mencari beberapa kesamaan lagi.  Dedik suka ngomong Jancuk dan segala variannya. Saya punya waktu panjang seharian dan semalam untuk belajar darinya.

Sasa tiba beberapa saat kemudian. Dia lebih cantik dari di foto? Saya sudah gak ingat lagi kalau memang benar demikian.  Sasa harus mengisi acara di dewan naskah jadi kami gak sempat ngobrol banyak. Tapi setelah itu, berturut-turut, seiring dengan jam masuk kantor, saya bertemu dengan editor Moka lainnya,  Dyah Rini, Fisca, Dea Anugrah, Dimas dan Kiki.  Saya bersyukur tiba lebih cepat dari jadwal sebenar acara hingga punya kesempatan untuk berbincang –bincang dengan mereka, para editor yang ramah dan cerdas –cerdas itu.  Sayang, kata Dedik, Mas Sulak (A.S Laksana) tidak ada di kantor. Dia ada acara di Jogja.

Sampai jamnya tiba, kami berombongan ke TM Book Store, Depok.  Di sana, saya berbicara banyak tentang novel saya “Galuh Hati”, bergantian dengan Stan Meulen , penulis novel Forever Sunset dan Medz, komikus Oen Makin Konyol. Dari beberapa pertanyaan yang dilontarkan, saya menangkap ketertarikan besar terhadap latar kisah di dalam  Galuh Hati. Menakjubkan, karena jauh dari Cempaka, sangat jauh dari terik matahari dan lumpur, saya benar-benar berbicara tentang ironi, ditingkahi  alunan musik lembut dan terpaan angin AC.  Apakah ini hal yang dihadapi setiap penulis yang berusaha menulis kesedihan dalam cerita mereka? Aku gak tahu.

Acara berlangsung hingga sore. Saya pamit karena harus menemui seorang teman lama yang datang dalam acara launching  itu. Kami kangen-kangenan di sebuah kafe. Berbicara, kebanyakan dengan tawa,  tentang masa depan yang salah arah. Jelang senja, Sasa mengirimkan SMS: siap-siap.  Diskusi buku akan kembali dilanjutkan di Bogor. Kali ini dengan pembincang para sastrawan dan penulis.
Kami harus bermobil lagi  ke Bogor.  Perjalanan sejauh  40 KM  saya harap gak tiba secepat itu. Di mobil, obrolan masih seru-serunya antar Dedik dan Stan. Dari film terbaik, artis terseksi, sampai aktor yang berpredikat G.  Untuk yang terakhir ini, Fisca yang duduk di belakang bersama saya bahkan harus teriak saat dengar gossip dari Stan “ Whaaakkkss? Itu benar? Padahal dia ganteng lho?” Saya ngakak gak abis-abis.

Obrolan dilanjutkan dengan diskusi politik. Dedik membuka permasalahan dan  argumen mengapa presiden harus Jokowi.  Sten gak setuju. Saya gak setuju. Tapi saya suka mendengar cara Dedik memaparkannya dengan jancuk-jancuknya itu.

Yah, mobil sampai.

***

Kesan pertama saya saat bersalaman dengan Krishna Pabichara, penulis novel Sepatu Dahlan,  adalah dia orang yang rendah hati. Maksud saya, dia penulis novel Mega Best Seller, tapi lihatlah apa yang dilakukan Daeng itu: dia membacakan part novel Galuh Hati milik seorang penulis dari antah-berantah yang baru kemarin lulus membuka Microsoft word. Dia membacakan itu dan mendiskusikannya beberapa teman-teman penulis dari Bogor : Ada Mbak Utami, Mbak Margarette Maria, Bang Manov, Bang Tomi, Mas Haqi, Mas Irsan, dan beberapa nama lagi yang akan saya cantumkan di sini andai saja saya tidak keburu gugup.

Dea Anugrah sedang memaparkan pandangannya dalam Diskusi Buku Galuh Hati dengan komunitas Rumah Kata Indonesia (RKI).  (Foto dari twitter)

Dea Anugrah sedang memaparkan pandangannya dalam Diskusi Buku Galuh Hati dengan komunitas Rumah Kata Indonesia (RKI). (Foto dari twitter)

Selebihnya, diskusi berlangsung gayeng. Saya harus berterima kasih kepada  Dea Anugrah dengan pengantar diskusinya yang ciamik (Thanks Cuk;-)) dan Mas Krishna Pabichara yang tidak membiarkan Galuh Hati dilepaskan begitu saja tanpa kritikan.  Saya merasa mendapatkan kehormatan bisa berkumpul dengan para penulis hebat. Saya berguru kepada mereka semua.

Saking nyamannya dalam diskusi itu saya bahkan tidak memperhatikan masalah saya setelah ini:  Saya harus tidur dimana?  Saya belum mempunyai rencana tidur dimana-mana.  Dedik melontarkan ide untuk bermalam bersamanya di rumah Mas Krishna Pabichara. Saya mengiyakan dan…

Dan itu menjadi malam inspiratif saya.

***

Krishna Pabichara tinggal di Narasoma. Saya kurang tahu apakah itu nama jalan, kompleks atau sejenis nama yang biasa disematkan pada padepokan tempat tinggal seorang resi. Tapi sepertinya Daeng – begitu panggilannya – bergiat dalam kegiatan yang biasa dilakukan para sastrawan yang peduli dengan lingkungan literasi di daerahnya.  Dia bersama RKI (Rumah Kata Indonesia) biasa mengadakan acara-acara semacam diskusi dan pembacaan puisi. Mungkin juga mengajari anak-anak Bogor untuk menulis dan membaca sastra.

Di kamarnya, ada pelbagai macam buku dari berbagai disiplin ilmu: Sejarah, budaya, politik, ekonomi, humaniora, agama, dan terutama bahasa dan sastra. Dia mempunyai semua kamus bahasa dunia dan memiliki kecenderungan mengerikan dengan mengoleksi buku.  Kata Dedik, di rumahnya di Parung dia bahkan memiliki lebih banyak lagi buku. Untuk buku-buku fiksi, Mas Krishna dalam kopi pagi keesokan harinya merekomendasikan beberapa yang terbaik, yang perlu dibaca seorang yang ingin serius menulis.

Tadinya kami akan melewatkan malam itu begadang  ditemani kopi, rokok dan roti bakar Bogor. Mungkin juga akan menonton siaran langsung Manchester United vs Liverpool dari TV flat di ruangan kerja Mas Krishna. Sekonyong-konyong sebuah SMS masuk dan akhirnya kami memutuskan memindah tempat begadang   ke rumah seorang tokoh yang sangat dihormati Mas Krishna Pabichara : Idang Rasjidi.

***

Sayup-sayup saya pernah juga mendengar nama Idang Rasjidi.

Tentu saja saya menyukai musik. Tapi level kecintaan saya pada musik tak bisa lebih jauh dari lagu-lagu YKS. Paling jauh  Grenade-nya Fatin yang suka foya-foya itu😉 Saya berusaha untuk menyukai music jazz tapi agak sukar untuk dijelaskan mengapa seseorang harus menyukai musik yang tidak akrab dengan telinganya.  Saya berniat mengubah cara pandang saya tentang musik saat bertemu dengan Idang Rasjidi.

Bang Idang – begitu kami menyapanya – duduk di bangku panjang dengan bantalan empuk., berselonjor kaki. Saat melihat kami datang, dia berdiri dan menyalami kami hangat.  Saya memahami bahwa dia sangat dihormati.  Tentu saja.  Seseorang mengatakan suatu malam, perdana menteri Malaysia  datang tanpa pengawalan ke rumahnya yang dipenuhi pelbagai atribut dan kampanye berintelejensia tentang musik jazz.

Tapi malam itu, Idang tidak bicara kerumitan jazz. Dia bicara idealism dalam berkesenian. Dia menunjuk bata-bata hitam di dinding rumahnya dan mengatakan, dia membeli setiap bata di rumahnya dari bayaran bermusik. Idang adalah seseorang yang tidak takluk. Lelaki tangguh yang mempunyai prinsip hidup yang jelas dan mempertahankan prinsipnya dari awal sampai akhir. Dia seperti lelaki yang kutemui telah menjalani banyak kehidupan sekaligus, dan karenanya memiliki otoritas alamiah untuk mengatakan kebenaran. Dia bisa tertawa, menghardik, lantang, lembut pada suatu ketika seperti sebuah aransemen jazz yang murni dan tak terduga-duga.  Dan sebegaimana pula, apa-apa yang disampaikanya keluar dari hatinya yang paling dalam. Kata-katanya orisinil.

Kami pulang dengan berkeranjang penuh inspirasi  dari lelaki itu.

***

Orang Banjar punya adagium modern “ Lapah tapi Rami”. Capek tapi seru.  Saya rasa untuk perjalanan kali ini, layak ditambah inspirasional. Saya akan mengenang perjalanan   launching Buku Galuh Hati di Jakarta dan Bogor itu 16-17 Maret.

Terima kasih Moka Media. Untuk semua  kru redaksi : Mas Sulak,   Dedik Priyanto, Sasa, Fisca, Mbak Dyah Rini, Dea Anugrah, Dhimas, Kiki. Terima kasih adik-adik dari dewan pertimbangan naskah. Juga untuk rekan-rekan penulis : Sten Meulen, Jason Abdul, Medz. Terima kasih Mas Krishna Pabichara, Mbak Rora dan anak-anaknya yang pinter dan lucu,  Bang Manov.
Terima kasih untuk sang maestro, Bang Idang Rasjidi.

Terima kasih pengunjung TM Book Store, Depok. Pengelola warung  Kuliner, Bogor, Komunitas RKI dan Malam Puisi Bogor.

Juga terima kasih untuk Pak Aris dari Taksi Ekspress dan Boele yang telah bolos dari pekerjaannya hanya untuk bernostalgia.()

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s