You Tired of Banjarbaru? You Tired of Love

     1013543_10200503231326457_245833732_n

       Di antara macam-macam nikmat yang diberikan Tuhan kepada kehidupan, saya harus bersyukur –Alhamdulillahirabbil Alamin – saya tinggal di Banjarbaru. Kota ini, jika bisa diibaratkan, adalah Verona di pertengahan abad kelima belas atau Herat pada pertengahan abad tujuh belas, tempat yang kata orang “Kau tidak bisa meluruskan kakimu tanpa menjejak bokong seorang pujangga”. Di Banjarbaru, perpustakaan selalu penuh, buku-buku sastra didiskusikan, poster seniman dipasang sejajar dengan baliho pejabat. Di kota seperti ini, puisi-puisi dibacakan di keteduhan atap kafe, diperbincangkan di bangku-bangku panjang dengan segelas latte, didebatkan dengan sama antusiasnya seperti menndebatkan skor sepakbola, gosip panas dan politik.

     Dari semua momen romantik yang selalu ditunggu di Banjarbaru tentulah Tadarus Puisi di bulan Ramadan. Kata “tadarus” untuk puisi hampir tidak terlalu tinggi jika mengerti bahwa kecintaan kepada puisi, kebanggaan untuk membacanya, setinggi intesitas pemujaan kepada Tuhan. Buku-buku puisi dan antologi menjadi kitab suci yang dideres, ditadaruskan, dikaji, sebagai salah satu sarana, metode pendekatan, kendaraan yang bisa mengangkat seorang hamba kepada Sang Khalik. Maka Tadarus puisi di bulan Ramadan di Banjarbaru adalah ibadah yang secara psikososial menjadi wajib hukumnya untuk dihadiri.

     Alhamdulillah lagi, saya berada di saf terdepan dalam majelis ilmu Tadarusan puisi itu bersama dengan para alim: Arifin Noor Hasby, Jamal Suryanata, Sainul Hermawan. Dua malam sebelum acara itu, saya sudah amat senewen karena tidak ada puisi yang bisa saya bikin meski saya telah mencoba dengan sekuat daya dan tenaga. Menyadari betapa cekaknya imajinasi saya, miskinnya intuisi dan kepekaan kata, serta betapa mengharukannya bakat saya di bidang ini, membuat saya akhirnya harus pasrah kembali membacakan puisi orang lain. Saya memilih sajak Istanbul yang Jauh-nya Acep Zamzam Noor dari kumpulan sajak-nya Di Atas Umbria yang sangat kuat itu. Saya menyalinnya dari internet, memprint dan kemudian menyisipkannya di saku celana saya sehari setelah akan pergi.

    Baru sampai di acara itu, saya ditodong panitia untuk mewakili harian Radar Banjarmasin memberikan sambutan. Saya ingat, saya berbicara dengan kacau, menyampaikan joke dengan amat garing, dan kemudian turun “dengan tanpa suara.” Sahabat saya Sandi Firly yang duduk bersama saya berbisik harusnya saya mengucapkan terima kasih di awal sambutan. “kau tidak ada bakat jadi pejabat,” katanya.

Tapi tentu saja, tidak ada yang peduli dengan pejabat di malam yang setiap orang bisa menyuarakan hati nuraninya sendiri. Saat sesi pembacaan puisi akhirnya dimulai, bergantian para sastrawan dan seniman membacakan sajak-sajak – kebanyakan adalah protes terhadap otoritas dan kemapanan – dengan suara lantang, interpretasi yang matang dan skill entertaining yang prima. Maka mengalirlah sajak –sajak dari Arsyad Indradi, Micki Hidayat, Zulfaisal Putra, Ibramsyah Barbary, Helwatin Najwa, Abdul Karim, Fahruraji Asmuni, Rudi Karno. Saya duduk di bangku depan dan cukup melihat dengan jelas bagaimana selain mereka, para sastrawan dan generasi semenjana naik dan menaklukan puisi dengan kualitas yang tak kalah mengesankan. Sorot mata mereka, penjiwaan, nada-nada ritmik dan kadang patah –patah tak terduga, memikat saya amat dalam. Muhammad Rizky, Rosiana, Imam Bukhori, Hadani, dan beberapa nama lagi yang saya akan cantumkan di sini andai saja saya bisa lebih mengingatnya dengan baik.

    Lalu di puncaknya, saat Abdurahman El Husaini naik dan kemudian berusaha merampok panggung dari Ali Syamsudin Arsy, kekaguman saya menemukan bentuknya. Di antara ekspresi puisi yang pernah saya lihat sepanjang umur saya, inilah ekspresi yang paling menggetarkan. Dua sastrawan fenomenal ini saling meneriakan sajak, melemparkan kata, bait dan nada,  membuat puisi adalah momen kekal yang mengurung mereka dalam sebuah koreografi paling agung dalam sejarah. Abdurrahman el Husaini dengan wajah yang basah dan Ali Syamsudi Arsy dengan mata terpejam mendaki larik demi larik puisi seperti saling bersekutu untuk menemukan klimaks dan keindahan. mereka seperti saling merangkul, saling merintihkan permohonan, meneriakan kerinduan.

      Saya hampir menangis meski kata teman-teman yang duduk di bangku saya sesungguhnya saya tertawa. Di puncak dari pendakian sufistik, saya tahu, puisi bisa membuat kita menangis sambil tertawa.

Diam-diam saya meremas kertas puisi saya.

***

     Tadarus Puisi telah memasuki tahun ke sepuluh. Selama satu dekade pementasan tahunan ini telah memberi nuansa bagi suasana Ramadan di Banjarbaru. Saya tahu, tak gampang mempertahankan sebuah acara selama itu, terlebih jika itu adalah acara nonprofit. Bidang-bidang kerja seni dan budaya adalah bidang kerja yang sunyi, tak diminati, dan jauh dari publikasi serta kucuran dana sponsor. Publik Banjarbaru harus mengapresiasi panitia tahunan acara ini yang tetap menggelarnya di sela-sela keterbatasan anggaran. Perlu berterima kasih kepada mereka yang tanpa dibayar tetap mau mempersiapkan undangan, kursi, panggung, sound sistem, melakukan ini itu demi acara ini. Juga kepada mereka yang datang jauh-jauh dari luar Banjarbaru dengan risiko tak ditonton – kita tahu Tadarus puisi tidak seperti gelaran tanglong yang betapapun dangkal dan destruktifnya, mendapatkan antusias massa dan limpahan dana, tetap dipertahankan dan digadang-gadang sebagai even nasional.

    Kata Sainul Hermawan, rasanya sudah ada perlu ada buku untuk memotret satu dekade penyelenggaraan Tadarus Puisi. Mungkin sejenis testimony, atau antologi puisi, catatan sejarah, apa saja, yang merekam perjalanan acara ini sejak digelar tahun 20o3 silam. Rasanya memang perlu. Yang menjadi pertanyaan tentu saja bagaimana membukukannya? Saat kami berdiskusi dalam suasana buka bersama di restoran Padang, ide sekecil membuat sebuah buku tiba-tiba menjadi amat rumit karena lagi-lagi ini acara dan proyek sastra.

    Ada juga ide dari pak Zulfaisal Putra untuk membuat acara ini sebagai roadshow tahunan dan karenanya tidak terpusat di Banjarbaru tetapi digelar di kota-kota lainnya di Kalsel. Belum ada konfirmasi apakah ide beliau bisa diwujudkan.

    Bagaimanapun, saya harus bersyukur, tinggal di Banjarbaru. Tidak pernah lelah tinggal di sini. Meski truk-truk terus melintas di jalanan membawa debu, pemukiman terus tumbuh dan jalan-jalan begitu cepat rusak. Hanya disinilah puisi dihayati seperti orang menghayati keindahan dan harapan.

 Never tired of Banjarbaru. Never Tired of Love.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s