Jika Lewatlah Kau Sya’ban

Jika lewatlah engkau Sya’ban, berarti tertinggal pula kenangan  lama tentang hari dan waktu. Ya, seperti malam-malam nifshu yang dahulu, kami semua berkumpul di masjid setelah maghrib. Shalat sunnah dua rekaat, baca Yasin tiga kali, lantas bertahlil ramai-ramai.

Setelah itu air bening yang sudah ditaburi dengan doa diperebutkan oleh anak-anak kecil. Bukan dengan keyakinan untuk memperpanjang umur, tetapi sekedar perlambangan bahwa malam itu rahmat itu turun melimpah-limpah laksana air, dan kami sudah siap menghirupnya.

Ada juga yang datang ke masjid hanya karena roti dan ketan-ketan turun. Bahkan ketika yang lain sedang sibuknya membaca doa, ada beberapa orang perempuan yang kehilangan sandalnya. Malahan Sanusi dari Gunung Sari, biasanya sandalnya jelek, pagi-pagi sudah baru. Ternyata setelah ditangkap dia mengaku nimpe punya orang masjid waktu upacara malam nifshu Sya’ban.

Menurut Nabi, Ibadah manusia dalam bulan Sya’ban dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Dan dikatakan oleh para ahli hikmah, Sya’ban adalah bulan untuk membersihkan hati.

Wahai, Sya’ban, jika engkau lewatlah, engkau akan menjadi saksi kepada Allah bahwa maksiat orang pun makin menjadi-jadi pada bulan ini. Banyak yang ke masjid, tetapi banyak juga yang menggunakan masjid sebagai ambisi pribadi. Ada masjid yang memakai bedug, dan ada masjid yang mengutuk bedug. Juga soal jamaah dan jumlah murid terkadang untuk berlomba pasang nama, bukan untuk syi’ar agama. Ada juga yang buat untuk interest pribadi. Dengan jamaah yang melimpah, namanya terangkat, kedudukannya terhormat.

Yang lain lagi, soal sedekah dan sumbangan hanya untuk dipuji. Yang sangat terlalu, justru kalau ada ustad atau kiai yang memuji-muji di atas mimbar tentang kedermawanan seseorang. Berarti mendidik manusia untuk ria dalam amalnya. Bukankah sama dengan mengajari mereka untuk menjadi pendusta agama?

Kalau lewatlah engkau,  Sya’ban, engkau akan menghapus dosa sang hamba. Lantaran Nabi pernah bersabda: “Tidak ada suara yang lebih dicintai oleh Allah daripada suara seorang hamba yang sedang bertaubat.” Tetapi, engkau juga akan lewat untuk melaknat, yakni mereka yang berkhianat terhadap rahmat, membohongi rakyat dan menyelewengkan amanat.

Sya’ban yang suci, berlalulah engkau dengan tenang, menyobek kabisat demi kabisat. Kami yang kau tinggal hanya mampu melambaikan tangan. Batuk mendecing tidak mampu bertobat. TBC melumat par-paru kami biarkan. Sebab obat makin  lama makin mahal, sementara pekerjaan makin sukar dikejar. Untuk menjadi pegawai, saingan kelewat berjubel. Yang diterima sekian ratus, yang mendaftar begitu ribuan.

Ah Sya’ban, tahukah engkau bahwa mantri kesehatan di depan rumahku tarifnya sudah melangit? Dan anak yang tiba-tiba sakit kritis, kemana harus minta toong? Banyak dokter di sebelah rumah, tetapi banyak yang sulit dimintai bantuan mendadak. Dan banyak lagi yang ternyata bukan dokter-dokter kami, tetapi dokter-dokter gedongan. Kalau yang memisahkan hanya tembok kami bisa loncat, wahai Sya’ban, tetapi yang memisahkan adalah kantung. Dengan apa batas ditempuh jika demikian? Korupsi? Kami belum punya jabatan.

Jika lewatlah Sya’ban keramat, maka kuburan sudah banyak dibongkar. Yang keramat bukanlah makam atau orang suci. Yang keramat di zaman itu adalah mereka yang berduit dan bisa mengambil kesempatan. Kaulihat, Sya’ban, orang ziarah sekarang sambil pacaran dan pakai celana jeans atau cut bray merangsang?

Dulu ditaburkan kembang diatas kubur, sekarang ada yang bawa gitar, menyanyi di atas pusara ibunya. Itu adalah hak asasi. Tetapi, apakah akan dibiarkan juga pelacur menebarkan tikarnya dan berzina di atas tengkorak para mendiang?

Oh Syaban, negkau adalah nama bulan. Kami tinggal menghitung. Kedatanganmu tanpa terasa, juga lewatmu tidak terasa. Tetapi, yang makin perih pundak dan hati kami. Dulu tempat melacur tersembunyi. Sekarang singgahlah si warung-warung pinggir jalan, di hotel-hotel besar, di panti-panti pijat, di nite club remang-remang, apa yang kaudapati?

Karena itu kami ingin berkompromi denganmu Sya’ban. Jangan kau catat yang jelek-jelek tentang kami, nanti engkau kami sanjung kami hormati. Bukankah tak ada urusan zaman ini yang tak beres dengan kompromi? Pokoknya asal ente bijaksana, ana pun tahu diri. TST-lah, kita makan sama-sama.

Tulisan ini khusus untukmu, Sya’ban. Jangan kasih lolos pada orang lain. sebab kami sedang memperbaiki langkah. Restu keagunganmu lah sebagai bulan Nabi yang kami harapkan, mudah-mudahan mempercepat sampainya harapan rakyat.

Jika lewatlah Sya’ban, maka kami semua sedang bersiap-siap diri. Kami bangun negeri ini, sebab inilah satu-satunya milik kami.

(Disadur dari: 3o Kisah Teladan,  oleh: KH. Abdurrahman Arroisi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s