Pesantren, Kuch-kuch Hota Hai, dan The King Khan (1)

220px-Kuch_Kuch_Hota_Hai_DVD_Cover

SAYA tidak ingat kapan pertama kali menonton film India yang dibintangi oleh Shahrukh Khan. Di awal-awal tahun 90-an, The King Khan masih belum banyak mendapat perhatian saya. Film-filmya seperti Darr dan Bazigar , English Babu Desi Men, atau Deewana yang diproduksi di awal –awal karirnya baru beberapa tahun kemudian saya buru di rental Ariyadi Putra di Liang Anggang, tentu saja setelah saya menonton Kuch-kuch Hota Hai yang monumental itu.
Jauh sebelum Kuch-kuch Hota Hai merubah wajah perfiliman India, saya pernah membintangi lomba drama malam tujuhbelasan di pesantren. Mungkin sekitar tahun 1996-1997, atau sebelum itu, saya lupa. Waktu itu saya menjadi produser, koreografer, sutradara, sekaligus actor utama dalam drama Karan Arjun, film dengan genre India klasik tentang balas dendam dua bersaudara yang dibintangi Salman dan Shahrukh Khan. Saya menjadi Arjun (Shahruk Khan) dan seorang teman saya menjadi Karan (Salman khan).
Seingat saya, itulah drama pesantren yang paling berani yang pernah ditampilkan dalam sejarah pesantren. Lomba drama di pesantren tak jauh-jauh dari anak yang durhaka, ibu yang suka mengutuk anaknya, dan ayah pemabuk yang cepat sekali insyaf. Juga ustaz muda yang selalu dipaksakan berjanggut putih. Propertinya selalu ada tasbih, botol kecap yang secara kacau dilabeli dengan tulisan spidol “Malaga” dan gambar tengkorak dengan tulang bersilang, Serban putih dan darah dari tomat curah. Secara umum, lomba drama di pesantren waktu itu masih terinspirasi dari film-film WD Muchtar .
Maka ketika saya mengajukan ide untuk membuat drama mengadaptasi film India, semua teman meragukannya. Film India, walaupun cukup sukses kala itu, belum bisa membangun inspirasi yang sama yang pernah dibangun Rhoma Irama atau WD Muhtar. Apalagi sebagian besar teman saya belum pernah menonton Karan Arjun. Saya sengaja menyembunyikan ide utamanya, bahwa film ini sesungguhnya bercerita tentang ide transedental dalam konsep kehidupan Hindu, tentang Karma dan Reinkarnasi.
Tapi saya tak menyerah, saya menuliskan scenario film itu hampir detail hingga dialog-dialog dramatis antara Karan dan Arjun. Saya melatih beberapa santri Tazizi untuk menjadi Karan semasa kecil dan Arjun semasa kecil. Saya juga menunjuk seorang santri yang berbadan besar untuk menjadi Tuan Takur (Amrish Puri) dan beberapa teman lain sebagai figuran untuk berjoget dan menari.
Saya tak pernah akan melupakan malam itu. Kami masuk ke panggung utama dengan entry dari Le Ghayi, Asha Bosle dan berjoget seakan-akan berada di hamparan belukar dan bunga marigold di pedesaan India. Para juri yang terdiri dari kakak kelas, mualim dan seorang ustaz muda, benar-benar memicingkan mata, antara marah, kagum, dan tak tahu harus berbuat apa. Drama di pesantren Darul Ilmi kala itu, selalu didatangi banyak orang kampung di luar pesantren dan menghentikan drama kala sedang tampil, bukanlah tindakan yang bijak.
Tapi semakin durasi bergulir, drama itu berlangsung dengan amat memikat. Saya dan teman saya yang saling berpegangan tangan walaupun telah ditembak berkali-kali oleh Tuan Takur adalah bagian terbaiknya dari film itu. Kami merampas pistol Tuan Takur dan segera menembaknya dengan efek ledakan yang sudah dirancang sebelumnya. Sebelum semua pemain turun dari panggung, saat menundukan badan menghormat dewan juri, saya mendapatkan kilatan di mata-mata dewan juri: mereka terhibur.
Saya ingat, kami mendapat juara pertama karena drama India itu. Karan Arjun dipentaskan dua kali, dan pada pementasan terakhir, penonton dari kampung datang, bersama para santri mereka menyemut di bawah panggung.

***

Di akhir tahun 1998, Indonesia, khususnya Kalimantan Selatan mabuk Kuch-kuch Hota Hai. Sebuah ilustrasi di harian surat kabar lokal menggambarkan pasangan suami istri yang duduk di sofa menonton televisi sambil tak henti-hentinya memeras airmata mereka ke dalam sebuah ember. Bahkan kesedihan di film itu mengalahkan kecemasan akan kiamat yang saat itu diisukan akan terjadi di tahun 2000.
Saya termasuk orang yang sangat terlambat menonton Kuch-kuch Hota Hai. Saya hilir mudik ke rental Ariyadi Putra milik teman saya tapi kaset itu selalu hilang dari kotak “bestseller,” pertanda semua orang di Liang Anggang sedang bergantian meminjam. Saya hilang mood dan merasa bahwa sebenarnya sebagai penikmat film India sejati, orang-orang itu harusnya membiarkan saya dulu meminjam kaset itu.
Lama setelah itu, barulah saya bisa menonton film India terlaris sepanjang zaman itu. Saya melihat persepsi yang lain dari kebanyakan film-film yang dibintangi Shahrukh Khan yang selalu memerankan pemuda yang matanya selalu memancarkan dendam, menjadi seorang pemuda dengan keremajaan yang urakan dan pria romantis dengan wajah yang cepat sekali bersimbah airmata. Shahrukh Khan seperti mematahkan anggapan tentang dirinya yang selalu berada di bawah bayang-bayang para pemuda kekar dan berbadan besar yang selama ini selalu menjadi trademark film-film India. Sanjay Dutt, Anil Kapoor, Jacky Shroof, Mitun Chakraborti, Govinda adalah protogonis yang sempurna tetapi juga menyimpan sisi gelap dirinya sendiri. Dalam konteks ini, jauh sebelum Kuch-kuch Hota Hai, Shahrukh khan seperti selalu memainkan karakter-karakter aneh tentang psikopat, si gagu yang lugu, atau pemuda kaya imbisil yang selalu merayu wanita dengan berusaha mencium tengkuknya sambil mendesis-desis.
Setelah Kuch-kuch Hota Hai meledak, Industri film India seperti hanya mengenal satu jenis prototype: cinta yang megah dan wajah yang berlumur melankolia. Tidak ada yang paling cocok memerankannya selain pemuda keturunan Afganistan yang beristri orang hindu itu. (bersambung)

Jika Lewatlah Kau Sya’ban

Jika lewatlah engkau Sya’ban, berarti tertinggal pula kenangan  lama tentang hari dan waktu. Ya, seperti malam-malam nifshu yang dahulu, kami semua berkumpul di masjid setelah maghrib. Shalat sunnah dua rekaat, baca Yasin tiga kali, lantas bertahlil ramai-ramai.

Setelah itu air bening yang sudah ditaburi dengan doa diperebutkan oleh anak-anak kecil. Bukan dengan keyakinan untuk memperpanjang umur, tetapi sekedar perlambangan bahwa malam itu rahmat itu turun melimpah-limpah laksana air, dan kami sudah siap menghirupnya.

Ada juga yang datang ke masjid hanya karena roti dan ketan-ketan turun. Bahkan ketika yang lain sedang sibuknya membaca doa, ada beberapa orang perempuan yang kehilangan sandalnya. Malahan Sanusi dari Gunung Sari, biasanya sandalnya jelek, pagi-pagi sudah baru. Ternyata setelah ditangkap dia mengaku nimpe punya orang masjid waktu upacara malam nifshu Sya’ban.

Menurut Nabi, Ibadah manusia dalam bulan Sya’ban dilipatgandakan pahalanya oleh Allah. Dan dikatakan oleh para ahli hikmah, Sya’ban adalah bulan untuk membersihkan hati.

Wahai, Sya’ban, jika engkau lewatlah, engkau akan menjadi saksi kepada Allah bahwa maksiat orang pun makin menjadi-jadi pada bulan ini. Banyak yang ke masjid, tetapi banyak juga yang menggunakan masjid sebagai ambisi pribadi. Ada masjid yang memakai bedug, dan ada masjid yang mengutuk bedug. Juga soal jamaah dan jumlah murid terkadang untuk berlomba pasang nama, bukan untuk syi’ar agama. Ada juga yang buat untuk interest pribadi. Dengan jamaah yang melimpah, namanya terangkat, kedudukannya terhormat.

Yang lain lagi, soal sedekah dan sumbangan hanya untuk dipuji. Yang sangat terlalu, justru kalau ada ustad atau kiai yang memuji-muji di atas mimbar tentang kedermawanan seseorang. Berarti mendidik manusia untuk ria dalam amalnya. Bukankah sama dengan mengajari mereka untuk menjadi pendusta agama?

Kalau lewatlah engkau,  Sya’ban, engkau akan menghapus dosa sang hamba. Lantaran Nabi pernah bersabda: “Tidak ada suara yang lebih dicintai oleh Allah daripada suara seorang hamba yang sedang bertaubat.” Tetapi, engkau juga akan lewat untuk melaknat, yakni mereka yang berkhianat terhadap rahmat, membohongi rakyat dan menyelewengkan amanat.

Sya’ban yang suci, berlalulah engkau dengan tenang, menyobek kabisat demi kabisat. Kami yang kau tinggal hanya mampu melambaikan tangan. Batuk mendecing tidak mampu bertobat. TBC melumat par-paru kami biarkan. Sebab obat makin  lama makin mahal, sementara pekerjaan makin sukar dikejar. Untuk menjadi pegawai, saingan kelewat berjubel. Yang diterima sekian ratus, yang mendaftar begitu ribuan.

Ah Sya’ban, tahukah engkau bahwa mantri kesehatan di depan rumahku tarifnya sudah melangit? Dan anak yang tiba-tiba sakit kritis, kemana harus minta toong? Banyak dokter di sebelah rumah, tetapi banyak yang sulit dimintai bantuan mendadak. Dan banyak lagi yang ternyata bukan dokter-dokter kami, tetapi dokter-dokter gedongan. Kalau yang memisahkan hanya tembok kami bisa loncat, wahai Sya’ban, tetapi yang memisahkan adalah kantung. Dengan apa batas ditempuh jika demikian? Korupsi? Kami belum punya jabatan.

Jika lewatlah Sya’ban keramat, maka kuburan sudah banyak dibongkar. Yang keramat bukanlah makam atau orang suci. Yang keramat di zaman itu adalah mereka yang berduit dan bisa mengambil kesempatan. Kaulihat, Sya’ban, orang ziarah sekarang sambil pacaran dan pakai celana jeans atau cut bray merangsang?

Dulu ditaburkan kembang diatas kubur, sekarang ada yang bawa gitar, menyanyi di atas pusara ibunya. Itu adalah hak asasi. Tetapi, apakah akan dibiarkan juga pelacur menebarkan tikarnya dan berzina di atas tengkorak para mendiang?

Oh Syaban, negkau adalah nama bulan. Kami tinggal menghitung. Kedatanganmu tanpa terasa, juga lewatmu tidak terasa. Tetapi, yang makin perih pundak dan hati kami. Dulu tempat melacur tersembunyi. Sekarang singgahlah si warung-warung pinggir jalan, di hotel-hotel besar, di panti-panti pijat, di nite club remang-remang, apa yang kaudapati?

Karena itu kami ingin berkompromi denganmu Sya’ban. Jangan kau catat yang jelek-jelek tentang kami, nanti engkau kami sanjung kami hormati. Bukankah tak ada urusan zaman ini yang tak beres dengan kompromi? Pokoknya asal ente bijaksana, ana pun tahu diri. TST-lah, kita makan sama-sama.

Tulisan ini khusus untukmu, Sya’ban. Jangan kasih lolos pada orang lain. sebab kami sedang memperbaiki langkah. Restu keagunganmu lah sebagai bulan Nabi yang kami harapkan, mudah-mudahan mempercepat sampainya harapan rakyat.

Jika lewatlah Sya’ban, maka kami semua sedang bersiap-siap diri. Kami bangun negeri ini, sebab inilah satu-satunya milik kami.

(Disadur dari: 3o Kisah Teladan,  oleh: KH. Abdurrahman Arroisi)