Pengalaman Pertama Nonton Teater

Konon, teater adalah sastra yang divisualisasikan. Tapi tak seperti sastra, saya tidak punya minat  kepada teater,  seperti ketertarikan terhadap   cerpen atau novel, misalnya. Mungkin sekali waktu Gambar pernah juga  menonton orang berdeklamasi dan begadang membaca karya sastra dengan suntuk, tetapi saya tidak pernah sekalipun menonton teater. Sedikit banyak, film India dan lagu dangdut telah mengurung saya menjadi “orang yang tak melek seni selain karena persilangan momentum selalu membuat saya berada pada waktu dan tempat yang tidak tepat untuk bisa menjadi penonton teater.

 Setidaknya sampai Jumat malam lalu.

Beberapa hari sebelum Jumat malam itu, saya bertemu dengan Andi Sahludin, sutradara kelompok Halilintar di rumah Harie Insani Putra. Saat itu,  Andi dan Miftahudin Munidi, juga dari Halilintar ,sedang melakukan beberapa persiapan untuk mengikuti pestifal Monolog Indonesia di Bandung. Saya hanya beberapa kali bertemu Andi dan hanya sering mendengar namanya disebut-sebut pemenang lomba. Terlampau sering sehingga saya tidak bias tahan untuk tidak mengidolakannya seperti kemapanan saya untuk mengidolakan Hajriansyah dalam baca puisi, Sandi firly dalam cipta puisi dan Harie dalam menulis cerpen. Tiga sastrawan ini kebetulan masih muda dan saya sudah mengidolakannya sejak lama.

Tapi barangkali dunia  teater memang tidak sesantai sastra. Andi nampak tergesa-gesa, sesuatu yang jarang saya temukan di kalangan para pekerja sastra yang cukup dilakukan dengan secangkir kopi dan perbincangan tentang antah berantah. Ia merokok dengan cepat, mengepulkan asap dengan jauh dan menjentikan rokoknya terburu-buru. Sebelum pergi, Andi mengundang saya untuk menonton pertunjukan mereka di Aula Trisakti Banjarbaru. Saya berjanji akan datang, waktu itu.

Kenyataannya saya tidak datang saat kelompok Halilintar melakukan pentas pamit di aula Trisakti, Banjarbaru. Saya menyesal berhari-hari. Satu hal yang sedikit mengobati saya adalah sebenarnya tidak pernah ada pentas pamit di Banjarbaru. Pentas pamit hanya akan dilakukan satu kali dan itudi balairung Sari Taman Budaya, Banjarmasin.

Maka pada malam Sabtu, saya juga telah bersiap. Kali ini momentum harus direbut, lagu dangdut dimute, dan film India dipause sejenak. Teater, Coy! Saya sudah membayangkan bagaimana cara nonton teater yang baik, saya pernah melihatnay sekali waktu dalam sebuah film tentang Manhatan broadway yang melegenda itu.

Sejatinya saya akan berangkat ke Banjarmasin sore hari. Tepat pukul 04.00. Tapi sebuah sambungan telepon benar-benar mengganggu. Harie insani Putra mengabari saya bahwa acara sebenarnya baru akan diadakan malam hari pukul 08.00. seketika semangat saya meredup. “Nanti sama-sama saja ya, kita habis Maghrib berangkat,” demikian Harie bersabda.

Karena sudah tak sabar, tepat selepas maghrib saya meninggalkan Harie. Tidak ada yang menjami saya akan menemukan momentum yang pas untuk menonton teater seperti saat itu. Di puluhan kilometer, saya sedikit melambat, karena menyadari keputusan saya untuk duluan sebenarnya agak sedikit riskan. Tapi Harie Insani Putra, seperti selalu anggapannya tentang motor blade, menyebut  karir saya yang sebenarnya adalah menjadi pembalap di MotoGP 250 CC. Saya tetap tiba pertama kali dan Harie datang kemudian.

Benarlah firasat saya, acara telah ramai. Bahkan kami telah melewati perayaan Ultah entah keberapa kelompok Halilintar. Seorang wanita berjilbab menfetakompli kami untuk duduk di kursi depan panggung dan lampu segera dimatikan.

Harie mencolek saya untuk memberi kursus di menit-menit akhir takdir saya menonton teater. Ia berbisik agar hape di-silent. Sesunggunya tidak masalah karena secara alamiah, hape itu memang telah tersetting silent setiap waktu. Dada saya berdebar, apalagi ketika sebuah suara menggelegar. Kiranya itu adalah suara isuur Loeweng. Saya tidak tahu apakah memang demikian pengantar pertunjukan, tetapi Isuur memang mempunyai bakat untuk membuat kondisi yang gelap itu menjadi demikian menegangkan. Kalimat “SELAMAT MENIK…MATI” di akhir prolog-nya membuat gedung itu seperti bioskop dengan Super Duoulby Speaker tiga dimensi yang sedang memutar parody tentang pocong yang baru belajar melompat. Saya terkejut lama, sampai-sampai tak sadar bahwa setelah kalimat itu penonton harusnya bertepuk tangan. Ritual tepuk tangan itu adalah wajib karena dalam gelap, Harie juga terdengat teplak-teplok bertepuk-tangan, sesuatu yang jarang dilakukannya dalam beberapa acara.

Sebuah lampu sorot yang lembut adalah cahaya pertama yang menyorot ke atas panggung. Di sana, ada batang-batang bamboo bersaling-silang sedemikian rupa dan property pertunjukan lainnya, seperti nyiru yang dibungkus dan diturunkan perlahan dari pelavon buka tutup di atas panggung. Platform gelap di belakang dan lantai yang dihambur dedaunan sirap terlihat dramatis. Saya menahan nafas. “akhirnya, jadi juga menonton teater.”

Lama menunggu tak ada yang terjadi. Hanya ada suara  Isuur Loeweng lagi. Dengan nada muram ia  mengabarkan ada sedikit gangguan teknis. Mungkin ada property yang belum pas atau hal-hal semacam itu. Setelah semuanya beres, dan kemudian tak ketinggalan untuk kedua kalinya “SELAMAT MENIK…MATI yang dahsyat itu, penonton kembali bertepuk tangan. Harie kembali plak-plok- plak plok sementara saya terbius kalimat prolog yang luar biasa itu. Memang dahsyat betul Isuur ini, kok…

Dan kemudian, hamper tak ada kata-kata lagi. Saya terpesona oleh penampilan Andi yang memikat. Ia memerankan penduduk Meratus yang termarjinalisasi dan menjadi korban pembalakan hutan dan penambangan. Dadanya kembang kempis, suara serak, wajah merah dan mata berair. Saya banyak melihat actor di film-film India dan saya rasa  Andi menjiwai perannya dengan total. Ia berteriak, berbisik, bergumam menyennandungkan lagu yang mistis, memutari bamboo-bambu dan imajinasi saya seketika terseret ke tengah hutan. Saat manusia menjalin hubungan harmonis dengan alam. Sungguh sebuah pengalaman yang menggetarkan.

Setelah pertunjukan itu, ada musyawarah. Beberapa orang didaulat memberikan saran dan pandangannya. Ada Hajri, pak Johan, Abdus Syukur dan beberapa lainnya, juga Harie. Saya sempat ditanggap untuk memberikan komentar, tetapi urung. Karena setengah berbisik saya mengatakan, “Apalah daya saya ? bidang saya sebenarnya hanyalah dilwale dulhania le jayenge dan mera jana mera sanaam…

Andi kehabisan suara. Saya rasa ini jarang terjadi dengan para actor. Kiranya ia mempunyai tugas lain selain sutradara dan actor, yaitu sebagai pembantu umum. Sukar dibayangkan ini akan terjadi dalam pertunjukan-pertunjukan dari jenis apapun. Bahkan ustaz penceramah saja jarang yang membenahi kabel dan mikroponnya sendiri. Saya semakin kagum dan menyesal kenapa tidak dari dulu menonton acara yang luar biasa seperti pertunjukan seni teater.

Liga Monolog Indonesia di bandung adalah momen nasional.  Tapi dalam festival itu, kalah menang jelas bukan urusan uang. Juara utama “hanya” mendapatkan trophy dan uang dua juta setengah. Saya banyak mendengar tentang kisah sedih dunia kesenian tapi bukan yang seperti ini: kelompok Halilintar harus menyabung harta dan upaya untuk bisa mengikutkan enam personilnya ke Bandung, memaketkan property, menata musik, latihan tak henti-henti, menyewa gedung pertunjukan walaupun beberapa harus merelakan barang-barangnya terjual, untuk bisa mengikuti acara itu.  Bagi orang yang tidak menyukai kesibukan seperti saya, dunia teater memang terlihat horror luar biasa. Jauh lebih horror dari SELAMAT MENIK…MATI itu. ()

Satu pemikiran pada “Pengalaman Pertama Nonton Teater

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s