Kisah Saya ada di Film Malaysia!

Dua hari lalu, seorang santri menulis sesuatu di grup alumnus pesantren kami di jejaring sosial. Katanya, novel saya “Jazirah Cinta” (terbitan Zaman, imprint Serambi, 2008) telah diadaptasi menjadi film di Malaysia. Judul film itu adalah “7 Petala Cinta.”
Awalnya saya tak percaya. Ya, memang novel itu selain diterbitkan di Indonesia, juga diterbitkan di Malaysia dengan judul yang sama, oleh penerbit Abadi Ilmu Sdn Bhd. Tetapi untuk difilemkan disana? Saya ragu. Selama ini saya tak mendengar kabar apapun tentang adaptasi novel itu, baik dari penerbit di Indonesia (Zaman-Serambi) ataupun dari Malaysia (Abadi Ilmu Sdn Bhd).

Ini terbitan Malaysia, diterbitkan Abadi Ilmu Sdn Bhd

Ini terbitan Malaysia, diterbitkan Abadi Ilmu Sdn Bhd

Ini versi Indonesia, diterbitkan Zaman-Serambi.

Ini versi Indonesia, diterbitkan Zaman-Serambi.

Karena itu, alih-alih mengeceknya, saya membiarkannya. Dalam bayangan saya, teman saya itu mungkin sedang melihat sebuah film romansa islami. Film-film seperti selalu berunsur sama -pesantren – wanita berjilbab – perjodohan, cinta terlarang, bla bla. Mungkin saja temanya sama, dan saya tidak harus keberatan untuk hal itu.
Tetapi sehari kemudian, teman sayan yang lain, menelepon saya pagi-pagi sekali, mengatakan sesuatu tentang hal yang sama. “Kau harus melihatnya dulu, jangan bilang apa-apa kecuali kau sudah nonton filmnya!” katanya.
Maka itulah yang saya lakukan.

Poster Film 7 Petala Cinta

Poster Film 7 Petala Cinta

Sebelum mengambil copian film-nya dari teman saya, saya menbrowsingnya di Internet. Saya ketikkan “7 Petala Cinta.” Hasilnya membuat saya sedikit menggerutu. Tidak ada indikasi bahwa film itu adalah sebuah karya plagiasi. Inilah rata-rata hasilnya :

Sinopsis Filem 7 Petala Cinta
7 Petala Cinta yang merupakan sebuah filem cinta berbentuk Islamik yang digarap oleh Azahari Zain dan diterbitkan oleh Metrowealth Pictures mengisahkan kehidupan anak remaja yang mendapat pendidikan dalam institusi keislaman. Pelbagai insiden dan suka duka yang berlaku selain berdepan dengan kemelut yang akhirnya mengundang perspektif berbeza.7 Petala Cinta tidak hanya menyingkap kisah suka duka dunia remaja yang terperangkap dengan nafsu dan nilai budiman dalam jiwa namun turut memaparkan pengorbanan, erti persahabatan serta kisah cinta agung.

Sinopsis Filem 7 Petala Cinta

Hamka seorang graduan syariah dari Universiti Al-Azhar ditunangkan dengan anak kepada guru di madrasah Qalbun Salim, tempatnya menuntut ilmu, Saidatul Nafisah (Shima Anuar) dan kemudiannya berhijrah ke Yemen untuk menuntut ilmu. Dalam pada masa yang sama, Hilma Aqila (Diana Amir) adik kepada Hamka turut menuntut di Madrasah yang sama. Namun sebaliknya, Hamka gigih menulis al-Quran dengan tulisan tangannya sendiri bagi dijadikan hantaran perkahwinannya kelak.

Entah mana punca, berita mengenai Hamka terbunuh di Yemen tersebar selepas negara itu dilanda perang saudara dan konflik politik. Tunangnya, Nafisah menanti dengan setia dan muncul pula watak Attar (Aeril) seorang yang jahil sehinggalah bertemu dengan Abi Ikhwan (Ustaz Dini) yang mengajar di Madrasah Qalbun Salim.yang sudah lama memendam perasaan kepada Nafisah. Di situlah wujudnya nilai kesetiaan seorang wanita yang mengagungkan seorang lelaki yang dicintai walaupun apa saja yang melanda.
Filem 7 Petala Cinta akan menemui penonton pada 15 Mac 2012.
***

Dari sinopsis singkat ini saya tidak melihat ada yang aneh. Sejujurnya, cerita tentang Hamka yang ditunangkan dengan Saidatul Nafisah dan berhijrah ke Yaman itu tidak ada dalam novel saya. Juga tentang Hamka yang gigih menulis Al-Quran dengan tangannya sendiri sebagai hantaran perkahwinan.

Saya merasa tenang. Meski demikian, Husin Alqodri, teman saya, mengirim SMS lagi. Ia mengatakan telah mengantongi file film-nya. Saya hanya harus mengambilnya di tempat teman saya yang lain. Saya selalu teringat kat-katanya,” Kau harus nonton filmnya, harus!”

Maka saya ke tempat teman saya, mengambil filenya dan kemudian menghabiskan sekitar 100 menit berikutnya menontonnya.Ā  Harus saya akui, kemiripannya begitu mengganggu saya. Hampir… identik. Saya hanya bisa mengira-ngira. Tapi terus-terang, saya berani mengatakan ; bohong, jika sutradara film ini atau penulis skenarionya tidak mengadaptasi ceritanya dari buku saya Jazirah Cinta.

Kisah itu memang bermula seperti yang ditulis sinopsisnya. Seseorang santri bernama Hamka akan dijodohkan dengan anak seorang ustaz bernama Saidatul Nafisah. Sebelum menikah, ia pergi ke Yaman untuk menuntut ilmu. Sebuah berita di televisi mengatakan ia telah meninggal karena terkena imbas dari konflik politik di Yaman. Dari sini, seorang santri lain bernama Attar mulai disebut-sebut akanmenjadi penggantinya. Ia direstui oleh Abi Ikhwan, orang tua Saidatul Nafisah untuk bertunangan dengan anaknya.Dari sini, sinopsis itu hanyalah semacam pengantar, selanjutnya cerita novel saya mulai mengambil alih plot film itu.

Dalam novel saya tokoh utamanya bernama Syamsu, Ia akan ditunangkan dengan anak ustaz (guru) bernama Salwa. Ia merasa tak pantas, karena, “Jika mereka tahu siapa saya sebenarnya.” Cerita kemudian ber-flashback- ke tahun-tahun sebelumnya. Saat itu, (Syamsu/Attar) adalah seorang penjahat yang bersama temannya sedang dikejar-kejar oleh beberapa polisi, ia kemudian menyelinap ke dalam ceruk mimbar sebuah masjid. Menggigil. Saat para polisi tiba mereka langsung menanyakannya kepada seorang yang sedang iktikaf.
Versi novel saya itu adalah seorang pemuda, tetapi versi film 7 Petala Cinta itu adalah ustaz pesantren itu sendiri. Ia mengatakan tidak ada seseorang yang masuk ke dalam masjid. Lewat sebuah retorika, ia mengatakan hal itu kepada Syamsu/Attar yang terheran-heran setelah polisi itu pergi : Tidak ada penjahat yang masuk ke rumah Allah, yang masuk ke rumah Allah adalah orang baik-baik. Orang yang mencari keredhaan Allah dll-versi film). Untuk versi saya kurang lebih serupa, “Sejak kapan penjahat masuk ke masjid? tak pernah! Yang ada di rumah suci ini adalah orang-orang yang mengaggungkan Allah, dan orang-orang begitu bukanlah orang-orang jahat.
Setelah itu. Syamsu/Attar kemudian mengaku bahwa dirinya “orang kotor” dan kemudian ingin bertaubat. ia kemudian jadi santri di pesantren itu.
Dalam versi novel saya ia kemudian ditunjukan pemuda itu jalan menuju pesantren.(Jazirah Cinta, hal 24-28)
Suatu waktu saat sedang sholat, serban ustaz/kyai tertinggal di tangan Syamsu/Attar saat akan mengembalikannya serban itu diserahkan oleh pak Kiai/ustaz kepada Syamsu/Attar dengan dikalungkan oleh beliau sendiri ke leher Syamsu/Attar.(Jazirah Cinta, hal 40). Serban itulah yang tertinggal dalam taksi/angkot dalam perjalanan pulang dari pertokoan (dalam novel saya dalam perjalan pulang dari pengajian). Saat itu Syamsu/Attar duduk dengans seorang wanita yang teryata seorang pelacur. Selama beberapa saat, Syamsu/Attar mencari serban itu sebelum kemudian teman-teman menyadarkannya bahwa serban itu teringgal di taksi/angkot dalam perjalanan pulang. (Jazirah Cinta Hal 31-33).
Yang membedakan hanyalah dalam versi film, sopir taksi itu yang mengatantarkan Attar ke wanita yang menyimpan kain serbannya, sedangkan di versi novel, kain serban itu diantarkan sendiri oleh si kupu-kupu malam (Jazirah Cinta, 44-45). Tapi, Attar/Syamsu tetap mendatangi kompleks pelacuran itu. Disanalah mereka kemudian, Attar/Syamsu dan si wanita pelavur itu berkenalan, mereka saling berargumen tentang nasib dan takdir, mengapa seseorang bisa menjadi seorang pendosa. pada akhirnya. mereka saling berpelukan, walau dalam versi filmnya, Attar tiba-tiba mendorong Lula, wanita itu. Untuk hal ini, novel saya terlihat lebih dewasa karena bergeming dalam pelukannya? šŸ˜‰
Selain itu banyak lagi kesamaan yang saya lihat begitu identik. Tentang Attar/syamsu yang kemudian terjebak oleh nafsunya sendiri sehingga tertangkap basah bersama pelacur itu dan kemudian diusir dengan tidak hormat dan kemudian diincar kawanan penjahat para temannya dulu yang ingin mengambil barang curian yang sejatinya telah dipulangkan Attar/Syamsu. menurut saya yang menjadi perbedaan hanyalah awal dan akhir novel itu. Hamka dalam film “7 Petala Langit” hanya semacam karakter yang ditempelkan dan tak sedikitpun merubah cerita di novel ini. Karakter Hamka ini kemudian dimunculkan kembali di akhir kisah sekadar untuk mengaburkan bahwa cerita ini sebenarnya adalah adaptasi dari novel saya.

***

Saya tidak mempermasalahkan uang. Tidak pernah begitu. Yang menjadi penyesalan saya mengapa tidak ada dari produser/sutradara/penulis skenario/penerbit di Malaysia yang memberitahu saya bahwa novel itu akan diadaptasi menjadi film?
Mereka pasti membaca, kalimat dedikasi yang saya tuliskan di lembaran awal novel itu. Saat menulisnya untuk ayah saya. Saat itu saya benar-benar berada di titik nol dan teracuni oleh mimpi menjadi penulis. Saya tidak memiliki uang, terlantung-lantung di tengah lahan transmigran. Waktu itu, saya tidak punya laptop, hape, PDA, BB, mesin ketik, bahkan saya tidak punya buku tulis. Saya hanya punya sebatang polpen dan mengumpulkan banyak kertas dari anak-anak trans yang akan lewat untuk bersekolah. Beberapa bab dari novel itu saya tuliskan di pelepah buku yang sudah dibuang. Saya menulisnya berpindah-pindah di kedalaman pulau sulawesi. Kelaparan, depresi dan merasa tanpa harapan.
Ini bukan tentang uang. Ini tentang penderitaan, rasa putus asa, kesakitan yang bersama-sama saya saat menuliskan kisah itu.