Tom Cruise, Ambisi Copra, dan Film Terlaris Sepanjang Masa

“Sudah biasa, di kota-kota besar, sering terjadi hal-hal kecil…”

 

Jika saja Aditya Copra mempertahankan sifat keras kepalanya, barangkali jutaan orang di antero dunia tidak akan menemukan mozaik dan pengalaman  terindah dalam menonton film India. Putra mahkota Yash Copra itu ingin menjadikan Tom Cruise sebagai pemeran utama dalam film debutannya. Cruise meskipun tampil baik Gambardalam The Last Samurai, dan dianggap sebagai investasi aman bagi dunia perfilmen di negara-negara berpenduduk terbanyak,  tetapi wajahnya terlalu “angkuh” dan rasannya juga  ia tidak pandai menari India.

Aditya Copra sebenarnya tidak sebodoh itu. Dalam hitungan industri, ia jelas sangat cerdas. Ia ingin membidik dua kelereng sekaligus dengan satu bidikan yang presisi. Ia ingin menaklukan dunia. Ia punya modalnya: uang, kejeniusan, intuisi, keberuntungan dan dan sentuhan alamiah yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang hidup di industri perfileman.

Untunglah anak muda gila, cerdas dan kelebihan semangat itu segera diinsyafkan ayahnya. Puluhan tahun menjadi produser film yang sukses, visi Yash Copra sudah terlalu tajam untuk bisa dikelabui. Semangat menggebu-gebu selalu menyimpan bahaya dan tanpa perhitungan yang matang, sebuah film hanya akan disimpan di luar sejarah: banyak yang akan menontonnya, tidak banyak ruang untuk mengenangnya.

Maka ide untuk merekrut Tom Cruise segera dilupakan. Sebagai gantinya, perlu seorang anak muda berkarakter paduan antara timur dan barat.   Ia tak hanya seorang yang bisa menjiwai perannya, tetapi juga yang bisa memiliki magis dalam tatapan dan gerak-geriknya. Ini film India moderen. Pemeran utama biasa yang hanya bisa memukul anak-anak muda pasar dan menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah berminyak, sudah banyak ditinggalkan di era awal tahun 90-an.

Disinilah pentingnya imajinasi. Jika ketepatan adalah persilangan garis antara  momentum dan kesempatan, maka Copra barangkali membutuhkan lebih dari sebuah keyakinan untuk bisa menemukan takdirnya. Dan seperti film-film yang akan selalu dikenang orang sepanjang masa, seringkali keajaiban terjadi di detik-detik terakhir. Di saat-saat menentukan itu, Copra menemukan Shahruk Khan…

Jika Anda mengira saya berbicara tentang Kuch-kuch Hota Hai, maka Anda keliru. Bagi saya (dan mungkin sebagian besar pecinta film India di antero dunia), Kuch-Kuch Hota Hai bukanlah yang terbaik. Waktu telah membuktikan. Sejarah berbicara lebih jujur daripada apa yang dikatakan mulut.Aada film yang selalu ditonton orang seperti mereka menonton sisi paling romantik dari hidup mereka. Ada film yang selalu dikenang seperti mengenang keremajaan yang fana dan keindahan hari-hari.   

Benar.

Saya berbicara tentang Dilwale Dulhania Le Jayenge.

***

 

Saya tidak mempunyai masalah dengan Kuch-Kuch Hota Hai (KKHH). Saya menyukai KKHH seperti semua orang menyukainya. Persahabatan, cinta, airmata, pengorbanan, sebut saja. Tetapi KKHH tidak memberi banyak sensasi menonton film India seperti Dilwale Dulhania Le Jayenge (DDLJ).  Banyak film India bagus yang pernah saya tonton di sepanjang dasawarsa tahun 2000- terakhir, tapi sulit menemukan ide, tema, musik, penggarapan seperti Copra dan Aditya membuat DDLJ.

DDLJ seperti sebuah kemurnian. Cerita cinta yang menjembatani tradisi antara timur dan barat. Raj Maholtra  –diperankan dengan amat memikat- oleh Shahruk Khan –adalah seorang anak muda keturunan Hindustan yang lahir dan tumbuh di tengah potret eropa yang asing, kosong dan sunyi. Cekikan individualisme London membuat tidak banyak cinta yang dikenalnya. Sementara Simran – diperankan Kajol – meski juga tumbuh dan besar di London, tetapi terikat oleh nilai-nilai Punjab yang kental. Ayahnya, Chaudhary Baldev Singh (Amrish Puri), seorang lelaki yang telah 20 tahun menetap di London tetapi selalu merindukan tanah tumpah darahnya dan menjaga agar keluarganya memiliki “nurani Punjab” dan tradisi desa yang konservatif.

Untuk menjaga hubungan dengan kampung halamannya,  Baldev Singh telah mejodohkan Simran dengan anak sahabatnya di Punjab. Kuljet Singh, putra kebanggan Ajit Singh, sahabat Baldev, adalah seorang anak muda yang hidup dengan tata-nilai keluarga terhormat di Punjab yang ketat dan selalu mengutamakan harga diri. Kuljet menghabiskan waktu sebagai pemuda tangguh yang setiap hari berburu. Di Punjab, anak-anak muda seperti itulah yang menjadi dambaan setiap mertua.

Mengetahui waktu perjodohannya sudah semakin dekat, Simran pasrah dan membuang kegalauannya dengan berlibur panjang selama sebulan berkeliling Eropa. Di stasiun kereta api, disanalah ia bertemu Raj, cintanya. Meski pada akhirnya, ia diboyong ayahnya ke Punjab, cinta selalu menemukan jalannya pulangnya sendiri.

 

***

 

Kolase terbaik film ini adalah pergulatan norma dan tata nilai antara timur dan barat. Chopra membuat penempatan sudut pandang yang tak biasa kala itu dengan membuat tokoh utamanya, Raj, justru lebih bermoral “Hindustan” daripada Kuljet yang dibesarkan di desa dalam pagar-pagar tata nilai yang tertib dan tanak.  Dalam sejarah film-film India, secara ekstrem, sistem moral selalu dimonopoli oleh tradisi dan kearifan Hindustan.

Di sisi lain, ide cerita tentang para penduduk india yang telah berdiaspora ke Eropa- utamanya London-  menginspirasi film-film lainnya yang hadir sesudah DDLJ. Sebut saja, Salam Namaste, Pardes, Kal Ho Na Ho, hingga Kabhi Kushi Kabhi Gaam, My Name is Khan. Dua judul terakhir ini bahkan, menyandingkan duet Shahrukh Khan dan Kajol yang menjadi hulu ledak utama keberhasilan film ini, tetapi  meski berhasil menjaga stigma sebagai  pasangan romantis dalam film cinta india modern, sangat sulit untuk mengulang keberhasilan DDLJ.

Telah hampir 20 tahun,   film ini secara nonstop  masih diputar di bioskop Maratha Mandir,di Mumbai. Keajaiban tidak berhenti sampai di situ. Ada ratusan orang terus hadir dan peminatnya tidak pernah berkurang.  Yash Copra mengatakan ia belum pernah melihat selama puluhan tahun bioskop selalu memutar film yang sama dan tidak pernah kehilangan penggemar. Mereka selalu memupunyai antusiasme yang sama seperti di awal-awal menonton DDLJ. Mereka bersorak, bertepuk tangan, menghafalkan dialognya dan menyanyikan lagu-lagunya. Semua orang selalu kembali ke bioskop, menontonnya, dan merasakan sensasinya.

 

***

 

 

Saya menikmati film yang bagus. Beberapa film India sangat bagus, tetapi DDLJ, di luar dari semua ekspektasi  saya tentang film. Ia akan selalu dikenang seperti saya merindukan langit biru, arakan awan putih,  havana luas, tempat segala inspirasi melanglang tanpa batas. Saya tidak sering menikmati DDLJ untuk menjaga mood saaya tentang film itu. Musiknya Tujhe Dekha Toye Jaan Sanaam (Baru kutahu magisnya cinta), saya hindari agar saya tidak merasa bosan. Ini adalah bekal bagi seseorang yang ingin mengenang sesuatu dengan abadi.

6 pemikiran pada “Tom Cruise, Ambisi Copra, dan Film Terlaris Sepanjang Masa

  1. Jarang banget ada blogger yang membuat review mengenai film india. Saya menonton DDLJ ini setelah KKHH dan jujur saya baru menonton film india setelah KKHH ini. Surprise juga ternyata di India sendiri film DDLJ ini masih bolak-balik diputar dan masih mempunyai penggemarnya sendiri.😀

  2. KKHH memang seperti open ceremony bagi para pecinta film india di indonesia. Sebelum itu, masih banyak film-film India yang bagus. Di luar dari akting SRK, timing KKHH memang pas…(tidak bisa lebih pas lag)😉

  3. Assalaamu’alaikum wr.wb, Tuan Randu Alamsyah…

    Senang mendapat khabar kembali dari Tuan Randu. Didoakan sihat dan sukses dengan kerjayanya. Terima kasih sudah menyapa di blog saya. Maaf, baru kini bisa membalasnya.😀

    KKHH merupakan filem pertama Shah Rukh Khan dan Kajol yang mengesankan saya untuk berpaling semula ke filem Hindi setelah sekian lama tidak menonton filen hindi kerana jemu dan sudah tahu penamatnya.

    KKHH memperlihatkan cinta sejati yang penuh dengan pengorbanan rasa dan jiwa yang hanya dimiliki oleh mereka yang tidak mempunyai kepentingan diri sendiri untuk merebut cintanya walau harus mengorbankan perasaan sendiri. Tidak semua cinta harus kita miliki. Itulah kenyataannya.

    Saya sudah menonton Dilwale Dulhania Le Jayenge. Gandingan Kajol dan Shah Rukh Khan memang kesukaan saya. Filem ini juga menyentuh hati dan mengesankan saya, maksudnya bisa membuat saya menangis tika menontonnya. Filem hindi terakhir yang saya tonton dari Khan dan Kajol ada My Name is KHAN. Mempunyai kelainan yang lebih bersifat manusiawi, konflik agama dan keberanian.

    Ternyata review ringkas di atas mengembalikan ingatan saya kepada filem2 terbaik Khan dan Kajol yang merupakan gandingan mantap dalam dunia perfileman Hindustane.

    Mudahan blog ini bisa di update selalu, Tuan Randu.😀
    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.

  4. Terima kasih tuan Putri kerana telah berkunjung. Saya tak sangka tuan putri suka juga dengan film India. Kadang-kadang film-film seperti itu menghantarkan kenang-kenangan di masa dulu. Insya Allah, saya akan mengupdate blog terus. Mungkin saya akan menulis review tentang film My Name is Khan yang tuan putri sebut itu😉

  5. Assalaamu’alaikum wr.wb, Tuan Randu Alamsyah..

    Lama sekali tidak bersilaturahmi dan bertanya khabar. Semoga selalu sihat di sana. Hadir ingin menyapa dengan ucapan.

    Ditunggu review My Name is Khan itu.😀

    Marhaban yaa Ramadhan..
    Pucuk selasih bertunas menjulang
    Dahannya patah tolong betulkan,
    Puasa Ramadhan kembali menjelang,

    Semoga amal ibadah kita diterima Allah dan amalan kita semakin bertambah baik dari sebelumnya.

    Salah dan khilaf mohon dimaafkan.
    Selamat Menunaikan Ibadah puasa

    Salam Ramadhan dari Sarikei, Sarawak.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s