Setelah Tahun -tahun Berlalu…

Saat memutuskan untuk membuat akun Facebook, beberapa tahun lalu, tidak ada secuil imajinasi saya akan berhenti menulis sesuatu di blog ini. Facebook waktu itu bagi saya, adalah budaya urban yang lebih mementingkan keluasan dibanding kedalaman. Dan seperti riak-riak  gelombang yang tak pernah tetap, lautan selalu menyimpan mutiara berharganya di kedalaman dasarnya dan bukan di permukaan air yang berkilau-kilau diterpa cahaya.

Kenyataannya, ketika pada akhirnya, saya menjajal facebook di menit-menit terakhir setelah dilema panjang dan perseteruan hati nurani,  terasalah bahwa facebook memang bukan budaya yang baik. Ia mempunyai kekuatan seperti yang diembuskan oleh mie instant di malam hari: praktis dan langsung ke sasaran. Seseorang bisa memuaskan eksistensinya hanya dengan  “otw bandara, atau, “otw jakarta” .

Dan seperti semua hal-hal yang ditawarkan oleh sesuatu yang instant, hal ini akan berakibat buruk kemudian.

Maka tanpa terasa saya mulai meninggalkan posting akhir pecan seperti yang selama ini saya lakukan. Tulisan-tulisan panjang kini diganti dengan kalimat dan frasa –frasa pendek. Write news post diganti oleh “ wahta are you think?”. Semakin jauh, Bahkan saya juga kini harus tega menulis xoxoxoxo atau xixixix, atau wkwkwkwkw dan variabelnya…

Walhasil, blog dengan warna usang ini semakin kusam, dinding-dindingnya digelantungi sarang laba-laba, berlumut dan penuh kecoak. Orang yang datang jauh-jauh bahkan langsung putar balik begitu mendengar derit pintunya yang kini tidak pernah diminyaki lagi.

Memang adakalanya juga saya berkunjung ke sini, itu saat-saat dimana saya ingin melihat lukisan hitam putih dan bernostalgia dengan masa lalu yang menggelikan. Melihat komentar-komentar yang tersimpan dan membaca tulisan-tulisan lama dan kemudian merasakan keajaiban karena waktu ternyata bisa mengubah pandangan seseorang tentang sesuatu.

Kenyataannya, saya hampir pasti, telah melewatkan banyak hal indah saat menunggu komentar masuk. Langgam hidup yang cepat, seperti dereten kolom yang terus bergerak dalam rangkaian yang dinamis.   Status-status yang bermutasi di dalam jejaring-jekaring social hanya menyisakan satu kesadaran bahwa hidup adalah kecepatan dan persaingan. Tidak ada waktu untuk berhenti. Jika pun harus berhenti, orang-orang cenderung menyukai membuat reaksi cepat atas sesuatu dan selalu abai untuk refleksi mendalam. Kau tahu ironisnya? Kita terhubung tetapi saling  kehilangan. Barangkali itu jawabannya mengapa kamu merasakan ribuan temanmu di facebook justru membuat kamu semakin sendirian.

Saya barangkali belum siap untuk facebook, belum siap untuk hape, belum siap untuk mp3, belum siap atas semua kemajuan zaman yang membuat sisi-sisi terbatas dari kemanusiaan saya dipuaskan dengan cara-cara yang instan. Saya ingin tetap menjadi seorang yang tergagap-gagap saat seseorang mengirimkan saya surat, seorang yang selalu berada di beranda dan menunggu pak pos datang untuk balasan surat saya, seorang yang menempelkan radio di telinga untuk mendengarkan atensi saya dibacakan penyiar dalam rubric”kirim-kirim salam”, seorang yang ingin naik merogoh kocek dalam-dalam dan bertengkar untuk kembalian uang angkot, seorang yang berdebar-debar melihat filem Darah Muda diputar di bioskop.

Jika boleh memilih, saya tidak akan berpikir panjang untuk lebih memilih tipe recorder dibanding pemutar mp3, kaset pita dibanding cd, surat-surat dibanding sms, wartel dibanding hape, dan seterusnya-dan seterusnya.

Ada harga yang harus dibayar dan kemajuan memerlukan pengorbanan. Saat saya menulis catatan ini di siang hari yang mendung, ingatan saya terseret ke sebuah masa, saat harga buah-buahan belum dikapitalisasi dengan jual kiloan. Hidup justru lebih baik saat apple dan black berry, justru masih menjadi buah-buahan. ()