Yang Menyimpan Fitri Dalam Hatinya…    

Hingga tulisan ini dibuat, saya sama sekali belum mengetahui apakah Idul Fitri akan jatuh pada tanggal berapa. Umat islam punya banyak term untuk mengabsahi perayaan hari raya mereka dalam kaidah yang sudah cukup final bagi golongan masing-masing. Ada yang memakai metode konvensional, ada juga yang semi tradisional,  juga ada mereka yang sedikit lebih futuristic dengan teknologi modern. Jika nantinya, persilangan ilmu-ilmu ini tidak bertemu dalam koordinat yang sama,  betapa Allah maha memaklumi semua ijtihad umatnya.

Maka saya menunggu saja apa yang akan diputuskan Majelis Ulama Indonesia tentang hal ini. Selama MUI tidak memutuskan sesuatu yang nyeleneh, umpamanya seperi menunda hari raya setelah harga emas turun. MUI dan kementrian agama punya kredibilitas yang jelas tentang hal ini. Mereka punya sejenis wewenang aneh yang bisa membuat 200 juta orang Indonesia tampak lebih bercahaya dengan sarung baru, teluk belanga dan songkok baru. Jika pun nanti ada yang tidak memakai pakaian baru di hari raya nanti, maka betapa Allah juga maha bijaksana. Tak penting apakah seseorang bisa punya baju baru di hari raya, yang penting bagi Tuhanmu adalah bagaimana kau bisa selalu memperbarui imanmu setelah Ramadan ini.

Demikianlah, Ramadan berlalu. Datang dengan gegap-gempita, dipekakan dengan mercon dan hura-hura, dan kemudian pergi diantar oleh perayaan eforia. Di mall-mall, pusat perbelanjaan, orang-orang memborong kemapanan. Baju baru tidak cukup satu, meskipun hari raya idul fitri hanya satu hari. Jika dimungkinkan, di hari itu kita bisa menggilir setiap baju baru di setiap jamnya. Ayolah! Ini idul Fitri, kelahiran kembali yang harus dirayakan dengan pesta dan kebanggaan.

Di desa –desa pada umumnya, perayaan hari raya dirayakan dengan lebih kultural dan religius, lebih murni dibanding trade mark kota yang hanya menganggap Ramadan dan idul Fitri adalah peluang untuk bancakan kapitalisasi dan klenik tentang kepantasan yang berlebihan. Orang-orang dari kota yang belum siap atau sudah lupa mengidentifikasi hari raya di kampungnya akan cepat bosan dan bertanya-tanya di setengah hari jelang siang: Cuma begini sajakah Idul Fitri?

Percayalah, bahkan mereka yang tidak siap pun memiliki keinginan untuk berakrab-akrab diri dengan masa lalunya. Idul fitri senantiasa bukan hari yang kita tunggu, tetapi adalah atmosfir sunyi yang menunggu kita. Demi menepati janji itu, kita rela berjejal-jejal di bis-bis, lantai kereta api, dek-dek kapal, membayar tiket, membiayai perjalanan seharga gaji kita berbulan-bulan, demi itu semua, tak kadang air mata kita menetes untuk sesuatu yang bahkan tidak kita ketahui. Mungkin kerinduan yang mendalam atas “sesuatu yang di sana.”

Di saat-saat seperti inilah, relung tersunyi dari jiwa manusia merintih-rintih. Seorang anak akan pulang ke kampungnya, mencium tangan ibu dan ayahnya untuk mencari surga yang telah disediakan Tuhan kepadanya. Inilah fragmen abadi kehidupan, panggilan untuk selalu kembali. Kemanakah kalian bisa pergi selain akhirnya kepadaKu juga?Tantang Tuhan.

Di pagi hari yang bening itu, saat takbir dan tahmid bergema mengalun, jiwa manusia bergetar-getar. Radar kita sesungguhnya sedang Fade-in untuk melebur dalam gelombang besar kesadaran Idul Fitri. Kita berada dalam proses sublimasi menuju kepadaNya. Wajah-wajah terlihat lebih tenang, seakan telah terlepas dari beban berat kehidupan. Mereka yang bertikai akan melupakan masalahnya, berbagi kebahagiaan dan kemurahan hati, bahkan para rentenir tidak akan menagih utangnya pada hari raya. Idul Fitri yang agung, menjadi waktu transedesial bagi kita untuk memantul-mantulkan sifat-sifat Tuhan yang maha penyayang.

Bagi kita yang telah terbiasa dengan rumbai-rumbai dan ancang-ancang materialisme menuju Idul Fitri dan menganggapnya lebih sebagai peristiwa kultural daripada religi, Idul Fitri mungkin selesai dalam seuluk dua salam dan jabatan tangan dan bentuk-bentuk banal perayaan. Tetapi bagi mereka yang menyimpan Fitri di dalam hatinya, gema takbir di pagi buta itu sesungguhnya abadi, tak lekang-lekang hingga saat kembali ke asalnya yang sejati.

Selamat bergembira, Selamat Idul Fitri. (@justrandueid-al-fitr-4)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

5 pemikiran pada “  Yang Menyimpan Fitri Dalam Hatinya…    

  1. artikel yang menarik…. kadang2 dari arah bjb ke bjm dekat simpang tiga km 18, saya mengendarai motor dengan kecepatan 80-90 km/jam, terus menikung dengan hanya menggunakan tangan kanan memegang stang,secara alamiah tangan di stang dan posisi tubuh seperti yang ada di artikel ini

  2. Assalaamu’alaikum wr.wb Tuan Randu…

    Lama tidak menjenguk ke blog sahabat muda yang tentu sekali sangat sibuk hingga belum punya masa untuk update blog dan bersapa lagi.

    Tidak pernah melupakan sahabat yang baik dan selalu juga menjenguk aktivitasnya di sini, namun hampa tiada kisah baru ditampilkan.

    Hari ini hadir kembali untuk mengucapkan,

    Bunga melati bunga kasturi,
    mekar indah dalam jembangan.
    Sucikan hati di hari fitri,
    salah dan dosa mohon dimaafkan.

    Selamat hari raya idul fitri 1431 H.
    Mohon maaf lahir dan bathin.

    Didoakan Randu selalu sukses dalam kerjayanya.
    Salam mesra dari Sarikei, Sarawak.😀

  3. Ping balik: CT74. PENGHARGAAN BUAT PENULIS GUMAM ASA – ALI SYAMSUDIN ARSI « LAMAN MENULIS GAYA SENDIRI G2

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s