KBB II dan Chelsea Olivia

Kongres Budaya Banjar(KBB) sudah pula berlalu. Pesta yang menghabiskan miliaran rupiah itu selesai. Alhamdulillah, kongresnya sukses, budayanya sukses, tim sukses, Semuanya sukses.

Ketika lagi asyik-asyik merebus mie soto banjar untuk persiapan sahur, seorang teman mengirimkan SMS. Saya tidak ingat bunyi SMS-nya, tetapi ia bertanya apakah saya hadir dalam malam penutupan. Saya katakan saja, saya tidak hadir untuk sebuah alasan yang saya malu untuk menuliskannya disini.

Sahabat saya itu sungguh baik hati. Ia tahu betapa saya sangat ingin hadir dan mendengarkan bagaimana urang banua berbicara di banua urang. Ingin merasakan atmosfer  betapa banjar bukan hanya di museum tetapi juga available di hotel-hotel. Sahabat saya tak ingin, saya hanya menjadi korban dari konsep jurnalisme “ujar-ujar.”

Sebab, sahabat saya tahu pasti seperti jutaan penduduk lainnya, saya kerap hanya mempunyai komunikasi satu arah sehingga tidak objektif dalam memandang sesuatu. Gampang gumunan, mudah keruh dan tidak fokus sebagai ciri-ciri orang yang tidak terpelajar.

Meskipun juga -Alhamdulillah-ia paham, bahwa ijazah saya kelima-limanya keluar dari mesin tik di  pesantren tradisional dan bukan institute kesenian elit di jogja. Jisim saya tak cukup kuat untuk berlumus-lumus apalagi bicara ndakik-dakik tentang budaya padahal sejauh yang didapatkan hanyalah pengertian relatif yang dikamuflasekan sendiri sebagai objektivitas bersama.

Teman saya yang cerdas menuliskan oleh-oleh liputan dari penutupan KBB. Sejenis indepth report dan dipostingnya di situs jejaring sosial hanya berselang beberapa jam setelah acaranya berakhir. Dari beberapa paragraph,  kawan saya nampak asing di acara budayanya sendiri.  “Ini kongres budaya banjar ya ?” tulisnya ringan tapi serius di akhir tulisan.

Tak penting untuk saya menjawabnya. Bukan karena saya memiliki kepentingan untuk menjawab, tetapi karena semua  pandangan akan menjadi sangat relatif. Misalnya tentang adanya opera van banjar yang digeremangi oleh beberapa budayawan sebagai karya yang sangat dangkal dan terkesan latah meniru komedi sutuasi di sebuah stasiun tv.

Saya tak ingin berkata “ Oh, justru itulah budaya kita ; Meniru “. Tidak. Pengalaman saya hidup di Indonesia, prasangka seperti itu tidaklah baik. Saya diwajibkan untuk melihat sisi positif saja. Saya percaya panitia mempunyai pertimbangan khusus untuk itu, misalnya menciptakan asimilasi budaya banjar dengan perilaku kemapanan budaya modern. Sejenis “ngejam” untuk melihat harmonisasi efek artistik maupun nonartistik yang timbul. Suatu kreasi, inovasi dan terobosan yang segar sebagai langkah maju supaya budaya tidak tersekap oleh romantisme masa lalu. Perlu adanya sentuhan-sentuhan masa kini supaya anak-anak kita tidak bosan disuguhi menu yang itu-itu saja setiap tahunnya.

Sangka baik, bahwa penyelenggaraan ini memang diadakan untuk niat yang tulus demi mensubyeki kebudayaan sendiri.

Walaupun memang beberapa pihak mengatakan ada anasir kepentingan tertentu yang amat telanjang dan bla-bla politis lainnya yang memang sengaja disisipkan. Bagi saya, wajar saja. Itu namanya pesan sponsor, karena itulah acara itu ada. Anda tidak bisa melihat si Chelsea Olivia nangis-nangisan di tivi, tanpa dipeluangi untuk melihat sponsor. Sebab memang dari situlah statsiun tivi hidup dan memberikan Chelsea Olivia yang nggemesin untuk Anda.

Jadi marilah tak usah berputar-putar lagi  : Apakah KBB menjawab permasalahan budaya yang kian lama kian tidak bisa menemukan lagi bentuknya di tengah konstelasi abadi perpolitikan kita ? Apakah dengan mengadakan KBB, “dosa “ pemerintah terhadap budaya telah terhapus ? Sehingganya boleh saja tidak diperhatikan lagi, sebab untuk memperhatikan budaya pun kita harus menunggu waktu yang tepat, misalnya menjelang pemilukada…?

Mudah-mudahan tidak. Pemerintah harus tahu bahwa permasalahan budaya adalah sebuah permasalahan yang rumit. Saking peliknya, maka tidak boleh kita main pinggirkan dengan memasang angka politik dengan taruhan besar di bagian lain. Terlebih kalau kita akhirnya menyadari krisis politik sendiri dimulai dari krisis kebudayaan.

Tapi betatapun rumitnya, bisalah kita perlahan-lahan mengangsur cicilan politik atas budaya. Bisa dimulai dengan mengajak para budayawan dan para pelaku seni untuk duduk-duduk santai sembari menanyakan permasalahan mereka. Apakah mereka bisa hidup hanya menjadi seniman dan pelaku budaya? Apakah ada gaji untuk mereka belikan susu anaknya ? untuk sekolah anaknya yang dilatihnya bermamanda, berwayang gong, bermadihinan dan sebagainya, untuk meneruskan perjuangan orangtua mempertahankan seni budaya?

Apakah anak-anak mereka bisa mengangkat wajahnya dengan mimik muka yang tegar, tanpa takut diketawakan anak-anak yang semakin telah terbiasa dengan budaya-budaya modern? Apakah uang kas masih cukup untuk  membeli komponen pengganti pada beberapa instrumen budaya yang mulai dimakan rayap ? Apakah iklim mereka telah kondusif untuk mengembangkan ilmu langka mereka ? Ada berapa stel baju sasirangan mereka, bisakah pemerintah memperhatikan daki-daki yang melekat di beberapa bagiannya, sekadar membelikan pembersih, apalah lagi membelikan sasirangan baru untuk mereka ?

Sewaktu meliput di Jawa Pos National Network (JPNN) Jakarta, saya pernah membuat tulisan bersambung yang dimuat di INDOPOS dan diapresiasi oleh masyarakat Jakarta. Tulisan  yang mendeskripisikan suasana di anjungan kalsel TMII. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, rombongan gadis dayak dari anjungan sebelahnya harus memutar ketika melintasi anjungan kita. Bau dari berkilo-kilo kotoran kelewawar adalah aib nyata yang dipajang  di etalase kebudayaan kita.

Tapi kemudian, karena memang dapur saya adalah pesantren, saya tetap berkhusnuzon. Ciri kepempinan modern adalah suatu yang terstruktur. Pembangunan maupun perbaikan ada masa-masanya. Ada anggaran yang harus melewati berbagai mekanismenya. Itu membutuhkan waktu serta kesinambungan kepemimpinan. Jadi sementara menunggu perbaikan,   marilah kita berpuas diri dulu dengan mulusnya jalan-jalan dari Banjarmasin sampai hulu sungai. (randu@radarbanjarmasin.com)

.

6 pemikiran pada “KBB II dan Chelsea Olivia

  1. Assalaamu’alaikum Tuan Randu Alamsyah

    Subhanallah walhamdulillah, sahabat novelis saya kembali berkarya di maya pada. Apa khabar ? Semoga semakin sukses dalam kerjaya junarlisnya. Tentu banyak pengalaman yang diperolehi dalam dunia kewartawanan ini.

    Memang patut kita mengambil berat terhadap perkembangan budaya kita yang terkadang masih berada ditakuk lama tanpa diberi perhatian untuk lebih dimajukan lagi mengikut perkembangan semasa. Sekurang-kurangnya penulisan budaya dan permasalahan yang dihadapinya melalui media mempunyai pengaruh kuat untuk membuka mata pelbagai pihak dalam membuat penilaian semula untuk pembaikan dan pemuliharaan kebudayaan dan keseniannya.

    Mudahan Tuan Randu tidak jenuh dalam membantu perkembangan sastera dan budaya di Banjarmasin bersama teman-teman yang lainnya. Salam mesra dari saya di Sarikei, Sarawak.

  2. ya, kotoran kelelawar di anjungan Kalsel… katanya sudah dilakukan berbagai cara (sampai mendatangkan orang pintar). Etalase kebudayaan yang menunjukkan bagaimana keadaan alam Kalsel, mungkin kelelawar itu pindah ke sana karena habitatnya di hutan Kalsel terus diberangus hehehehe

  3. hee,,baru baca artikel pian… wuih alur yg tak terduga…over all, keren! sapa bilang bukan kaum intelek, lah tulisannya bau intelektualitas kabeh je…hehe

    klo ttg anjungan, uln pernah dger jua. yah, mungkin harus ada orang kalsel yg ahli ttg kelelawar kemudian merumuskan sebuah perencanaan tata anjungan yg menjadikan kelelawar2 itu sbg daya tariknya…klo yg jd masalah adl bau kotorannya, nah harus bikin formula anti bau. atau si kelelawar suruh makan permen mint ajah…haha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s