Ketika Teman Mudik…

Sabtu kemarin, saya melepas kepulangan seorang teman ke kampung halaman kami. Setelah disaput oleh debu kota besar selama bertahun-tahun, ia akhirnya pulang membawa rasa lelahnya untuk diusapi sanak saudara keluarga di desa permai.

Di sebuah halte di senja yang murung, saya menemaninya menunggu bis terakhir dari Banjarmasin yang akan menjempuntnya ke Balikpapan, untuk mengejar sirene kapal senja kemudian.

Ia, seorang satpam di sebuah kompleks perumahan. Hari itu saya lihat mengenakan baju yang belum pernah lihat sebelumnya. Jeans panjang, kaos dan dan jaket yang  bau tokonya masih dapat diendus dari jarak saya duduk. Ia katakan kepada saya, sekian lama ia telah menabung untuk hal ini dan rela berprihatin demi untuk menyisihkan sekadar oleh-oleh untuk sanak keluarga dan keponakan-keponakan di kampung.

Beberapa hari menjelang pergi, ia dilanda sindroma yang unik : tak bisa tidur, makan tak berselera, dan banyak berdiam. Saya tahu psikologi seperti ini adalah wajar bagi orang-orang yang akan pulang ke kampung halaman. Istilah orang yang menggoda adalah : Ia sudah pulang, hatinya sebenarnya telah berada di kampung, hanya jasadnya yang teronggok disini.

Perjalanan panjang menuju kampung kami, adalah perjalanan panjang yang sangat menyiksa. Hal ini pulalah yang menfetakompli saya sehingga sangat-sangat jarang pulang di seperempat abad umur saya. Naik bis semalam suntuk ke Balikpapan, terluntang-lantung di kapal, untuk kemudian naik bis lagi selama sehari semalaman, kemudian disambung lagi dengan berkapal lagi ke pulau-pulau di gugusan Halmahera. Semuanya harus berdesak-desakan, dengan semua anggota tubuh yang menggotong beban, berpindah-pindah. Belum lagi dengan kecenderungan penumpang yang tiba-tiba menjadi manusia-manusia teritoris di bangku bis, dek kapal, dan  tidak ingin berbagi tempat dengan penumpang lainnya. Maka peristiwa mudik, adalah peristiwa yang cenderung menyiksa sekaligus ajang teror mental.

foto diambil dari internet

foto diambil dari internet

Tapi teman saya tidak memikirkannya. Baginya mudik adalah kemewahan yang tidak bisa ditebus dengan tawaran nilai apapun di kota besar. Siksaan bukan lagi siksaan jika dilalui dengan debaran-debaran estetis di setiap tahapannya. Berjuta-juta orang menyiksa diri di dalam tahapan-tahapan itu karena mereka tidak punya kemampuan seperti penghuni kelas sosial ekonomi tingkat atas yang jumlah uangnya membuat mereka bisa mudik kapanpun mereka mau. Bisa sebulan sekali, seminggu sekali, bahkan sehari sekali, jika waktu dan jarak memungkinkan. Kemampuan membeli tiket pesawat membuat mereka bisa menjadikan hari raya kapanpun mereka mau, dan bisa membeli kenyamanan mudik tanpa harus berbagi peluh dengan para buruh, pekerja, dan satpam seperti teman saya itu.

Teman saya gelisah menanti momen-momen nostalgik yang akan dilewatinya di desa. Mungkin sedang membayangkan atmosfir desa yang diyakininya akan banyak berubah. Orangtuanya mungkin tidak lagi sekuat dulu, kepala desa mungkin telah berganti beberapa kali, demikian juga juru tulis desa, lapangan di depan langgar juga mungkin sekarang telah mulai semarak dengan lomba voli tingkat desa yang biasanya digelar menjelang agustusan. Mungkin juga teman saya mudik untuk seorang kembang desa yang telah mengikat janji kepadanya yang mengais rejeki beribu-ribu kilometer.

Pada akhirnya, semuanya telah berubah. Orang-orang yang mudik akan melihat betapa cita-cita, hari depan pencapaian dan masa tua sebenarnya bukan terletak di hadapan, tetapi sesuatu yang menunggunya di belakang. Hidup sejatinya bukanlah perjalanan menuju, tetapi hanyalah perjalanan kembali.

Maka berbahagialah kalian wahai mudikun-mudikawati yang tahun ini bisa menyapa kampung asal-usul kalian. Sesungguhnya, ibarat haji, getaran untuk rindu dan mudik hanya diberikan Tuhan kepada hamba-hamba yang dipilihnya. (@justrandu)

 

Iklan