Sesuatu Indomie

MESKI ini hari Minggu, tapi saya tidak ingin berbicara tentang politisasi Indomie. Saya tidak ingin tahu apakah Taiwan memberangus Indomie karena semata-mata adalah ada kata-kata Indo di depannya, ataukah karena ia pernah menjadi selera politik Presiden Indonesia dengan jingle SBY Presidenku….

Saya juga tidak mau membahas mengapa setiap produk berlabel Indo selalu dicurigai di luar Indo-nesia. Padahal Orang China pembuat Indomie sendiri sudah mengindo-nesia dengan Indofood sukses makmurnya.

Aplagi mau menuduh bahwa ini adalah perang merk. Bahwa ini adalah  strategi pembunuhan pasar yang masif lewat media. Saya sendiri sedikit pun tidak ingin menaruh syak bahwa jika masyarakat Indonesia tidak mengkonsumsi Indomie maka terjadi hal-hal yang menakutkan, semisal revolusi…

Tapi jika Anda mengira ini adalah gurauan, maka hitunglah ada berapa juta karyawan Indomie. Jika mereka melakukan demo saja maka bisa dijamin yang terjadi adalah ancaman yang jelas  bagi stabilitas negara.

Ini tidak main-main. Mie adalah makanan masyarakat Indonesia yang diciptakan bukan oleh pilihan tetapi ketidakmampuan ekonomi. Orang miskin yang tidak beli beras akan berbisik kepada istri dan anaknya ” Kita bagi sebungkus mie ini ya, kita rebus lamaaa biar gemuk-gemuk mie-nya, biar kenyang…”

gambar dari Internet

gambar dari Internet

Maka bagi sesama penghuni kelas kaus dan daki, saya kira semua rakyat Indonesia perlu berempati akan nasib para buruh dan karyawan yang menggerakan roda ekonomi keluarganya dengan harap-harap cemas akan nasib perusahaan tempatnya bergantung. Tak perlu bicara nasionalisme, cukuplah kita ngomong-ngomong tentang kemanusiaan dan keterhimpitan hidup. Cukuplah kita berbagi akan kesamaan nasib di tengah-tengah raksasa gurita  industrialisme kapitalis yang semakin menyesakan.

Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengeluarkan imbauan untuk tidak mengkonsumsi Indomie secara berlebihan. “”Kita cari jalan aman saja” kata bu Menteri.

Konsep jalan aman ibu menteri ini rupanya tidak mengindahkan jenis-jenis keamanan yang lain. Setelah sekian lama, ekonomi masarakat berada di status rawan, panggilan untuk beraman adalah tidak menemukan titik temu yang relevan.

Bagi masyarakat marjinal yang mengenal mie sejak dari dalam perut,  jalan selamat ibu menteri jelas bergerumbul dan tidak aman.

Sebagai orang yang telah mengalami kemerdekaan ekonomi, ada banyak pilihan selain mie. Tetapi setiap orang yang masih harus berkutat dan dipinggirkan dengan kerasnya sistem kapitalis dan persaingan, mie sudah didekap dalam romantisme masa lalu mereka.

Dulu waktu hidup di pesantren, saya ingat mie adalah kemewahan tertentu dan lambang borjuisme kelas khusus di institusi asrama. Santri proletar seperti saya adalah kelas iwak karing dikuahi air panas.  Seorang teman saya penghayat sosialisme suatu malam mencungkil lemari milik salah seorang teman yang pelitnya minta ampun. Ia mengambil mie dan memakannya bersama seluruh penghuni kamar. Terang saja si borju datang dan mengamuk. Berbagai makian diserapahkan “Aku kada rela, itu tidak halal untuk kalian !” katanya di ujung marahnya.

Dengan santai, teman saya konyol menjawab “Biar saja, yang penting ini halal..”

“Haram !” amuk si pemilik.

“Halal !” jawab teman saya tetap santai.

“Mana dalilnya kalau itu halal!” gugat si pemilik.

Dengan kalem, teman saya maju dan menunjukan sudut kiri bawah mie. “Ini lho, Majelis Ulama Indonesia putuskan halal. Berani-beraninya kamu menantang ulama indonesia…” (@justrandu)

17 pemikiran pada “Sesuatu Indomie

  1. Assalaamu’alaikum..

    Jika tidak tertahan rindunya Tuan Randu… harus diziarah untuk meredakan perasaan atau lukiskan sahaja di datar hati sebagai rasa syukur pernah merasai kehidupan lalu yang senang dengan keindahannya. Photo yang cantik dan indah.

    Setuju…kenangan di satu-satu tempat membawa seribu kenangan yang tidak dapat dilupakan sampai bila-bila. Terutama tika kemesraan sudah terkumpul padu. Pahit dan sakit untuk meninggalkannya di peringkat awal pemergiaan. namun kita harus pasrah bahawa itulah kehidupan. Ada pertemuan dan ada perpisahan. Salam mesra selalu.

  2. Assalaamu’alaikum Tuan Randu..

    ke mana menghilang? Sibuk benar tugasnya hingga tiada postingan baru. Saya jadi kangen dengan tulisan dan ziarah Tuan Randu. Salam mesra dan hangat selalu.

  3. kampung halaman memang tak kan terlupakan sepanjang masa, apa jadinya jika kita tidak kampung halaman untuk “pulang” salam kenal yah,…tulisannya bagus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s