Kisah Sedih Anak Pesantren

Sejak bertahun-tahun, cerita  tentangnya selalu berkelindan di benak saya. Selentingan kabar yang menguar selalu sama: Ia masih di sana, hidup di sebuah gubuk yang dibangun masyarakat,  mencuci bajunya sendiri, memasak sendiri, berbagi ilmu ke masyarakat pesisir, menjadi khatib masjid untuk jemaah yang hanya puluhan orang, mengajari anak-anak baca tulis huruf arab.

Disana, di kepaulauan Banggai,  ia berjuang sendirian. Mengajarkan hukum-hukum agama  jauh dari tempat kelahirannya. Sejak lulus dari pesantren sepuluh tahun lalu, jalan itu adalah jalan yang dipilihnya dengan segenap kesadaran. Ia hanya mengenal dunia ini sebagai pemberhentian dan sebisa mungkin berbagi hal-hal yang bermanfaat ke manusia lainnya. Beberapa tahun ini, keraguan berkecamuk di batinnya. Ia harus mengongkosi dirinya sendiri karena tiba-tiba disadarinya, tak ada orang yang akan membayarinya untuk ilmu-ilmu agama yang diajarkannya, tidak juga departemen agama.

10612553_277729099097114_3381905854627597760_n

Minggu kemarin, ia  pulang dari kepulauan Banggai. Ransel yang dibawanya masih ransel yang sama saat berangkat. Tak ada barang mencolok apapun yang dbawanya layaknya  perantau yang datang kampung halaman. Ia malah kelihatan kurus, liat dan rungkut, dengan mata yang tidak dapat menyembunyikan kelelahan.

Kepada saya ia menceritakan dalam pemilukada beberapa bulan lalu, seorang keluarga pengusaha sawit berhasil menduduki jabatan sebagai kepala daerah. Euforia meledak dimana-mana setelah calon bupati yang kaya raya itu berhasil menjungkalkan sang petahana. Ia menjadi penguasa baru di timur Sulawesi, wilayah kaya yang lautnya dilimpahi  ikan, udang, mutiara, rumput laut,  buminya subur dengan kopra, sawit, coklat, beras, kacang mente. Kandungan tanahnya kaya dengan emas, biji besi,  nikel, dan gas.  Lambat laun, seperti pengaruh minuman keras yang kian memudar, pesta  itu selesai. Dalam kesadarannya, masyarakat desa hanya bisa merasakan jengkal demi jengkal  tanah-tanah di sana berubah menjadi perkebunan sawit. Perusahaan begitu mudah mengklaim lahan  dan orang-orang di desa tidak mempunyai kesiapan hukum apapun untuk mempertahankan tanah ulayat.

Matahari benar-benar memanas dalam arti yang sebenarnya di sana. Hampir setiap malam gempa terjadi. Tanah sangat labil karena aktifitas pertambangan emas dan pengerukan lahan. Banjir datang bahkan untuk curah hujan yang sedikit. Kicau burung terdengar sayup, jauh, dan malam. Berita tentang pembunuhan dan orang-orang yang tertimbun tanah tambang berseliweran seperti wabah cacar. Seorang murid kesayangannya di Morowali  tewas  ketika makan pagi  setelah tanah dapur longsor dan menindih rumahnya di tubir tebing.

Segalanya  menjadi sangat tidak aman.

Sepuluh tahun mengabdi di negeri orang, ia kini pulang ke kampung halaman. Ia memilah-milah baju terbaiknya yang masih kelihatan layak. Menumpang angkot ke sekolah-sekolah untuk melamar pekerjaan sebagai guru, ke beberapa badan usaha dan jasa, tetapi nihil. Baru terasa, betapa peliknya pekerjaan di negeri ini. Kawan saya gamang meraba masa depannya. Sementara waktu, seperti tak bisa ditahan-tahan. Ia juga beranjak tua, memerlukan ketenangan, membutuhkan pendamping hidup, membutuhkan kehidupan yang disinari mentari pagi.

Ada berapa banyakkah orang-orang seperti teman saya itu di negeri kita ini? Orang-orang yang menempuh jalan sunyi sejak dari sekolah. Memakai sarung, mengaji, menghafal nazom, membaca kitab kuning, mempelajari arud, balaghagh dan tarikh di pesantren –pesantren tradisional, dimanakah tempat mereka dalam persilangan zaman yang semakin rumit ini? Apa arti mereka bagi dunia yang semakin materialistik ini? Dunia kerja seperti apakah yang masih bersahabat dengan mereka, selain difetakompli oleh norma-norma masyarakat untuk menjadi guru agama, penghulu, dan kaum penjaga masjid dan tukang menalaqin? ()

4 pemikiran pada “Kisah Sedih Anak Pesantren

  1. Ass.wr.wb buat om Randu Alamsyah dan semua kawan Denaya Lesa.

    Maaf, Denaya belakangan terlalu asyik beranikan diri berdiskusi dengan mahasiswa/i Atheists, seperti di link yang ini…

    http://metrostateatheists.wordpress.com/2009/02/04/lightgod.

    Jadi ketinggalan ngisi komentar artikel om Randu yang melesat kencang kayak kereta superkonduktor itu, hehehe. Denaya nyesel terlambat haturkan terima kasih buat semua blogger di Indonesia yang ngesupportin Denaya, ampey-ampey teranugerah dijuarain nomer satu.

    Puji syukur selalu Denaya panjatkan pada Alloh, karena ide-ide baru untuk mecahin problem matematika yang diamanahin ke Rohedi’s Family alhamdulillah telah tersiarkan, bahkan sampai ke Manca Negara. Sungguh papa Rohedi tidak menyangka dipersatukan dengan kru om Randu Alamsyah yang Insyaalloh emang ditugasi untuk genapkan siar itu lewat link yang ini kan om…

    https://randualamsyah.wordpress.com/2009/01/09/denaya-lesa-2/ ,amin.

    Denaya ngingatkan papa Rohedi untuk berterima kasih pula pada mbak Rita Nusa Indah via http://ritasubrata.wordpress.com/2008/12/28/tulus/,

    blog pertama tempat Denaya belajar ngisi komen bantuin papa Rohedi. Dan kalo ndak salah om Randu komen “uh angka-angka itu, saya harus baca berulang-ulang,…”, masiy ingat khan om?

    Nah om Randu Alamsyah, kemarin Denaya dapat pelajaran Agama “kandungan ayat-ayat Al qur’an” di sekolah aku. Eeeh setelah Denaya buka mydocuments-nya papa Rohedi ketemu file yang isinya begini…

    133=13+3=16—>1+6=7
    133=1+33=34—>3+4=7
    7/7=1

    234=23+4=27—->2+7=9
    234=2+34=36—->3+6=9
    9+9=18—->1+8=9
    9/9=1

    567=56+7=63—->6+3=9
    567=5+67=72—->9
    9/9=1

    Lalu…

    114=11+4=15—->1+5=6
    1+14=15—->1+5=6
    6+6=12—>1+2=3

    Denaya kan Public Relation (PR) nya rohedi.com, jadi wajarkan om kalo Denaya buka-buka mydocuments beliau.
    Nah setelah Denaya nanya pada papa Rohedi, apa maksudnya angka-angka itu papae, emangnya papa mao cari keberuntungan lewat toto gelap. Jawabnya…Denaya, papa rohedi bermaksud menafsirkan makna 114 jumlah surat dalam Al qur’an itu. Coba perhatikan sifat 114 itu, beda kan dengan yang lainnya?. Kalau angka-angka lainnya istiqomah mengagungkan sifat tauhid Allah, tapi yang 114 ngasilkan sifat yang insyaallah kaya tafsirannya, ya seperti setelah 1 lalu 2. Papa persilahkan bagi bapak-bapak atau ibu-ibu pengunjung blognya om Randu yang berminat mengkajinya lebih lanjut.

    Oh ya om di atas ada 234,,,kata papa terserah om randu mau dikemanain angka itu, ya mudah-mudahan barokah.

    Ini dulu ya om Randu, salam dari papa Rohedi untuk semuanya..

    Denaya Lesa.

  2. Sepertinya upaya menafsirkan makna angka 114 oleh ROHEDI LAboratory dapat memperkaya upaya serupa yang dirangkum telukbone.wordpress.com. Salut dech mudah-mudahan menggugah pemuka umat islam untuk mengkajinya lebih lanjut.AMIN. Semoga segenap pahala terlimpahkan kepada bpk Randu Alamsyah yang mengibarkan panji 114 ini, salam kenal dari saya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s