masih belum bersyukur juga anda ?

Iklan

Reuni

( Bukan maksudku berbagi nasib, Nasib adalah kesunyian masing-masing…)

Baiklah. Ini tentang ingatan kemarin. Sudah terlalu lama waktu berlalu, rupanya. Sehingga ketika pesta selesai, dan semua orang telah pulang ke dunianya masing-masing. aku masih pula berdiri sendiri disini.

Teman – teman dari seluruh pelosok datang, meninggalkan segala kesibukan dan keterjebakannya pada hari – hari yang tak pernah lagi menyeruak ke masa silam-untuk sekedar bertegur sapa, sepatah dua patah kata ; hai, masih ingat waktu itu, kita berbagi nasi dijam 3 malam ? masih ingat kau sobat, ketika kita melewati kuburan di bulan purnama untuk mletakkan surat di beranda rumah gadis rebutan kita ? waktu itu kita berlompatan di atas nisan dan meluncuri rerumputan setinggi dada. ingat jugakah kau kawan, waktu kita memperdayai nenek tukang masak untuk mencuri barang satu dua buah tahu ?

Percayakah kau, sobat. Masih kusimpan rindu itu. sebelum akhirnya aku sadar, bahwa hidup ini sebenarnya adalah pertarungan demi pertarungan. Aku, Demi Allah, sobat, mampu melewati segalanya, tapi betapa susahnya mengalahkan waktu.

Sebelum kita bertumbangan

kita selalu terlupa membaca cuaca

yang memakani pohon pohon usia

sampai nanti kita tersadar

ada lagi yang tumbang dalam diam

dan kita berada di deretan itu

menunggu

 

sementara sebelum saat itu datang

 aku ingin membangun sebuah rumah sederhana

di dalamnya ada sebuah meja

dengan dua kursi di dekat jendela

tempat kita menangis dan membusuk

dan malamnya kita sembahyang

menggugurkan dosa dosa

 

* Hasil adaptasi dan sedikit modifikasi dari puisi Sandi Firly, Sebelum kita bertumbangan.

Kisah Sedih Anak Pesantren

Sejak bertahun-tahun, cerita  tentangnya selalu berkelindan di benak saya. Selentingan kabar yang menguar selalu sama: Ia masih di sana, hidup di sebuah gubuk yang dibangun masyarakat,  mencuci bajunya sendiri, memasak sendiri, berbagi ilmu ke masyarakat pesisir, menjadi khatib masjid untuk jemaah yang hanya puluhan orang, mengajari anak-anak baca tulis huruf arab.

Disana, di kepaulauan Banggai,  ia berjuang sendirian. Mengajarkan hukum-hukum agama  jauh dari tempat kelahirannya. Sejak lulus dari pesantren sepuluh tahun lalu, jalan itu adalah jalan yang dipilihnya dengan segenap kesadaran. Ia hanya mengenal dunia ini sebagai pemberhentian dan sebisa mungkin berbagi hal-hal yang bermanfaat ke manusia lainnya. Beberapa tahun ini, keraguan berkecamuk di batinnya. Ia harus mengongkosi dirinya sendiri karena tiba-tiba disadarinya, tak ada orang yang akan membayarinya untuk ilmu-ilmu agama yang diajarkannya, tidak juga departemen agama.

10612553_277729099097114_3381905854627597760_n

Minggu kemarin, ia  pulang dari kepulauan Banggai. Ransel yang dibawanya masih ransel yang sama saat berangkat. Tak ada barang mencolok apapun yang dbawanya layaknya  perantau yang datang kampung halaman. Ia malah kelihatan kurus, liat dan rungkut, dengan mata yang tidak dapat menyembunyikan kelelahan.

Kepada saya ia menceritakan dalam pemilukada beberapa bulan lalu, seorang keluarga pengusaha sawit berhasil menduduki jabatan sebagai kepala daerah. Euforia meledak dimana-mana setelah calon bupati yang kaya raya itu berhasil menjungkalkan sang petahana. Ia menjadi penguasa baru di timur Sulawesi, wilayah kaya yang lautnya dilimpahi  ikan, udang, mutiara, rumput laut,  buminya subur dengan kopra, sawit, coklat, beras, kacang mente. Kandungan tanahnya kaya dengan emas, biji besi,  nikel, dan gas.  Lambat laun, seperti pengaruh minuman keras yang kian memudar, pesta  itu selesai. Dalam kesadarannya, masyarakat desa hanya bisa merasakan jengkal demi jengkal  tanah-tanah di sana berubah menjadi perkebunan sawit. Perusahaan begitu mudah mengklaim lahan  dan orang-orang di desa tidak mempunyai kesiapan hukum apapun untuk mempertahankan tanah ulayat.

Matahari benar-benar memanas dalam arti yang sebenarnya di sana. Hampir setiap malam gempa terjadi. Tanah sangat labil karena aktifitas pertambangan emas dan pengerukan lahan. Banjir datang bahkan untuk curah hujan yang sedikit. Kicau burung terdengar sayup, jauh, dan malam. Berita tentang pembunuhan dan orang-orang yang tertimbun tanah tambang berseliweran seperti wabah cacar. Seorang murid kesayangannya di Morowali  tewas  ketika makan pagi  setelah tanah dapur longsor dan menindih rumahnya di tubir tebing.

Segalanya  menjadi sangat tidak aman.

Sepuluh tahun mengabdi di negeri orang, ia kini pulang ke kampung halaman. Ia memilah-milah baju terbaiknya yang masih kelihatan layak. Menumpang angkot ke sekolah-sekolah untuk melamar pekerjaan sebagai guru, ke beberapa badan usaha dan jasa, tetapi nihil. Baru terasa, betapa peliknya pekerjaan di negeri ini. Kawan saya gamang meraba masa depannya. Sementara waktu, seperti tak bisa ditahan-tahan. Ia juga beranjak tua, memerlukan ketenangan, membutuhkan pendamping hidup, membutuhkan kehidupan yang disinari mentari pagi.

Ada berapa banyakkah orang-orang seperti teman saya itu di negeri kita ini? Orang-orang yang menempuh jalan sunyi sejak dari sekolah. Memakai sarung, mengaji, menghafal nazom, membaca kitab kuning, mempelajari arud, balaghagh dan tarikh di pesantren –pesantren tradisional, dimanakah tempat mereka dalam persilangan zaman yang semakin rumit ini? Apa arti mereka bagi dunia yang semakin materialistik ini? Dunia kerja seperti apakah yang masih bersahabat dengan mereka, selain difetakompli oleh norma-norma masyarakat untuk menjadi guru agama, penghulu, dan kaum penjaga masjid dan tukang menalaqin? ()