Surat Untuk Saudara-saudaraku BaWaRak ( Bakal Wakil Rakyat)

Salam Sejahtera Kepada Kalian Saudara – Saudaraku. Kami senantiasa mengagumi kegagahan, keberanian, juga Niat Baik kalian untuk mewakili rakyat seperti kami yang terlalu sibuk memberi makan anak – anak kami hingga tak sempat memberi kalian aplaus, barang satu dua tepukan tangan. Kami hanya bisa menatap haru wajah kalian yang terpampang dengan gagahnya di setiap sudut kota kehidupan kami.Selebihnya kami harus bertarung lagi dengan hari – hari yang mendesak kami.

Kami Bangga, Karena terus terang saja, kami tak mempunyai keimanan seteguh kalian. Hati kami lumer kalau berhadapan dengan uang dan kekuasaan,Kami rakyat Kecil yang  hanya bisa mengkapitalisasikan kehidupan kecil kami. Kalian tentu tak silau dengan Harta. Wajah – wajah jernih kalian, dengan Serban dan kerudung, tentu menandakan keputihan hati kalian dan niat tulus kalian untuk hanya menyuarakan suara parau kami.

Saudaraku, Bisakah kalian memperpendek nama kalian ? Kami yang bebal dan tak makan sekolah ini, Sungguh susah untuk melafalkan nama Mulia kalian. Nama Kalian Panjang-Panjang seperti sepur Biru Malam. Hj, SE, BSC, MA, D2,SAg, S, Fil. I, LC, BCL, dan Huruf-huruf seperti itu. Kami Tahu itu adalah gelar kalian. Kalianlah orang-orang besar yang bahkan nama kalian pun harus dikawal oleh huruf-huruf. Sekolah kalian pasti sangat tinggi, hingga jika kami mencoba menengadah maka leher kepala kami akan patah.

Maafkan kelancangan kami, Saudaraku. Tapi menurut kami, Tak perlu bersekolah tinggi-tinggi untuk hanya mewakili kami.Tak perlu memalsukan ijazah untuk menambah jumlah nasi di piring kami,saudaraku. Bukan. Bukan itu persyaratannya untuk mewakili kami. Cukup kalian, bisa merasakan penderitaan kami, yang kadang-kadang harus menanak batu,kadang-kadang harus membunyikan suara kompor dan mengaduk-ngaduk penggorengan kami untuk tak menarik cemoohan dari tetangga usil yang mengira tak ada yang bisa kami masak, harus  bolak – balik ke pegadaian…

Pernahkah kalian saudaraku, Merasakan kerasnya kenyataan hidup ini menghantam kami ? Pernahkah kalian memamah nasi dengan kuah air mata ?
Pernahkah ? Jika Tak pernah, Wahai, terangkan, bagaimana kami harus percaya terhadap janji-janji dan simpati kalian? Bagaimana kami harus menjelaskan tentang kami  sedang kalian berada tinggi di atas Hotel-hotel, balkon-balkon mewah menikmati segelas Jus limau panas di pagi hari, dan memandang kepala-kepala kami yang menyemut di bawah kaki kalian ?

Turunlah kesini saudaraku, Berbicaralah dengan kami. Bicaralah dengan Logika yang biasa-biasa saja. Tak perlu muluk – muluk. Tak Usah Janji. Jikapun kalian berkata
” Kami memberi bukti bukan janji ! “
Wahai, saudaraku yang pintar, Bukankah itu juga sebuah janji ?

Maka, Merendahlah Saudaraku, Jangan pernah sesumbar untuk bisa memenangkan hati kami. Jangan Pernah menyinggung-nyinggung tentang hati kami dalam kampanye-kampanye meriahmu. Tahu apa kalian tentang hati kami ?
Demikian, Saudaraku, Mungkin kalian membaca surat kami ini dengan hati murung. Tak usah khawatir, saudaraku, pada harinya nanti kami akan memilih.kami akan berduyun-duyun, membolos kerja yang berarti  melewatkan satu hari perburuhan kami.Tapi untuk kalian,kami sungguh Ikhlas koq. Mungkin ada sebagian kami yang tak memilih, Maka sekali lagi, jangan salahkan mereka yang tak memilih, Mungkin mereka tak percaya dengan kalian dan itu adalah haknya untuk tak percaya. Mohon Dimaklumi.

Terima Kasih.

Saudara Indonesiamu

Randu Alamsyah

39 pemikiran pada “Surat Untuk Saudara-saudaraku BaWaRak ( Bakal Wakil Rakyat)

  1. saya sebal dengan mereka DATANG TAK DIUNDANG TIBA-TIBA MINTA DUKUNGANNYA…UDAH KEPILIH NGILANG BAGAI DITELAN BUMI……

    saya pikir mereka nda tahu malu, pas rakyat susah mah mereka bungkam…untuk pemilihan Caleg saya memilig GOLPUT TITIK hehehehe

  2. Saudaraku, Randu Alamsyah yang tak kalah terhormat,

    Kami tahu kegundahan kalian ketika kami naik pentas mengatasnamakan wakil kalian. Kami berjanji (kalau kata ini membuat trauma, kami ganti dengan niat) akan mengangkat kalian tinggi-tinggi derajat kalian. Tidak usah menanak batu lagi. Tidak usah pakai kompor minyak lagi. Pakai LPG aja ya, karena nanti kalian akan bertambah makmur ketika kami telah dicoblos kalian.

    Gelar kami memang banyak. Lhah, kan banyak orang jualan gelar? Zaman sekarang untuk mewakili kalian mesti terhormat, meskipun terhormat itu bisa melalui harta, kekuasaan, ketampanan/kecantikan, ketenaran, kepintaran, kebijaksanaan, ketakwaan, kedermawanan, dll. Itu semua kami wakili dengan gelar kami. Bukankah lebih singkat menuliskannya di depan dan belakang nama kami? Mosok kami mau menulis nama kami, misalnya Prof. Hrt. Keku. Ketamp. Seleb. Kebij. Takw. Kedermw. dll. HEJIS, MSc, MA, Ph.D . Kan, malah lebih panjang dan bikin leher kalian tambah patah-patah?

    Masalah kami ngentit duwit negara/kalian? Jangan cemas, saudaraku Randu Alamsya. Kami tak sekotor itu. Paling-paling kalau sempat ngambil sedikit saja. Harta negara/kalian amat-sangat melimpah dan tak akan habis hanya gara-gara ngambil sedikit saja. Itu pun kami gunakan untuk nyogok kalian bukan? Kemarin kami bagi-bagi sembako, kaos, amplop kepada kalian. Apa kalian gak nyadar bahwa uang itu hasil dari entitan itu? Jika itu masih kurang, jangan khawatir. Masa kampanye masih panjang. Nanti kami tambahi.

    Jadi rakyat janganlah selalu murung karena itu nama kampung di Tabalong Kalsel sana, Murung Pudak atau nama binatang: murung merak, murung merpati. Itu juga sebutan untuk kain yang dipakai saudaraku, Randu Alamsyah ketika meringkuk, njingkrung di bale-bale… eh itu sarung ya? Oleh sebab itu, kami gak mau jadi rakyat karena selalu murung. Makanya kami memilih jadi wakil rakyat, biar gak murung.

    Jangan sekali-kali mengira jadi wakil rakyat itu enak. Coba pikirkan, kami sebagai wakil rakyat sering di telepon orang. Pusing mencari hp mana yang lagi bunyi karena hp kami banyak. Emangnya enak? Kami juga gak enak waktu kunjungan kerja ditarik sana-tarik sini untuk ditraktir para petinggi daerah. Emangnya enak? Kami juga gak enak sama kalian, tiap kali rapat harus tanda tangan berlembar-lembar untuk terima honor. Emangnya enak? Kami juga tidak nyaman harus gigih dan ngotot untuk menaikkan tunjangan kami tiap tahun. Emangnya nyaman?

    Ya udah, saudaraku. Doakan saja kami akan menjadi wakil kalian seperti yang kalian inginkan, tapi kami tidak janji (kalian kan gak suka janji?).

    Dari saya, Hejis (mewakili wakil rakyat dari aliran hitam. Musuhnya Wiro Sableng). Ciaaaaaatttttt!!
    *Blugg. Jatuh kasaleho*

  3. surat balasan dari bawarak yang bimbang

    aku telah menerima suratmu, dan ijinkan aku–berusaha–menjawabnya. salam sejahtera bagimu dan orang-orang yang banyak di luar sana. sungguh, membaca suratmu mengingatkanku suatu masa ketika aku kelayapan di lorong-lorong malioboro malam hari bersama para pengamen, pelacur sarkem, copet bringharjo, dan preman yang lucu-lucu. cerita-cerita mereka dan gambaran-gambaran pribadi mereka yang sederhana dan terkadang menyedihkan, juga diriku yang waktu itu urakan, membuatku bermimpi, jika saja di suatu hari aku dapat melakukan sesuatu yang berarti. aku membayangkan diriku punya semacam kuasa untuk mengatasi kepedihan-kepedihan, di balik tawa yang seakan benar-benar bahagia itu, alangkah berartinya itu bagiku. tapi, tentu saja aku menyadari setiap pencerahan ternyata dapat saja menjadi otoritas yang menindas kemudian, yang sekarang kupahami sebagai konsekwensi dari penerapan kebijaksanaan untuk yang banyak. maka, suatu hari ketika seorang kawanku mendaftarkan namaku sebagai bawarak sebuah partai, aku menerimanya saja dengan senyum yang mendua, antara yaya dan hehe. aku tak benar-benar yakin, tapi aku melihat kesempatan–bolehlah kucoba dengan semangat mudaku yang menyenangi tantangan. tapi, kemudian akupun bimbang. sekarang saja sebagai pengusaha, aku banyak menghabiskan uang untuk kepentingan orang-orang yang kuanggap layak untuk kuberi. alih-alih menjadi pengusaha yang kaya, aku malah tak beranjak ke mana-mana, memang gaya hidupku sekarang beda dengan yang dulu, tapi tetap saja aku tak punya simpanan–rumahku hibah dari ayahku, perabotannya pun begitu, cicilan mobil usaha tersendat-sendat, dst. menjadi pengusaha saja aku tekor, apalagi menjadi wakil dari banyak orang yang beragam keinginannya dan banyak itu. tapi tetap saja aku berusaha tegak dan berjalan, mungkin ada kesempatan untuk berbuat lebih, apalagi ketika beberapa kawan menyapa bangga, “jadi caleglah situ.” walau kulihat di senyumnya ada semacam permintaan,”jika saja,engkau duduk di sana, nanti..”
    aku sudah berusaha merendah saudaraku, tapi tetap saja ada yang memintaku lebih merendah lagi, sehingga hampir aku terjatuh. kadang aku kesal juga melihat orang tua yang tak pernah memandang ke yang muda, timbul lagi dalam benakku, jika saja aku dapat mewakili kebanyakan yang muda itu, tentu si tua itu akan tersenyum padaku dan pada yang kebanyakan itu, meski biarlah itu senyum kepalsuan. entahlah, akupun tak dapat menduga, apa yang dapat kulakukan di suatu hari di sebuah gedung wakil rakyat itu, apakah aku akan menjadi tua ataukah terus saja muda dan tak bergerak ke mana-mana. setidaknya, aku melihat kesempatan, saudaraku, dan kuharap aku dapat berdiri tegak dan terus berjalan. salam, semoga engkau mau memilihku, jika saja kau tinggal di sekitar banjarmasin tengah. saudaramu yang kesepian.

  4. Pada akhirnya kehadiran rakyat dalam Pemilu tidak lebih hanya sekedar alat untuk memberi cap stempel demokrasi sebagai bentuk legitimasi konstitusional bagi lahirnya kekuasaan baru.

    Setelah itu.., rakyat kembali dibiarkan miskin dan menderita agar pada Pemilu 5 tahun mendatang suaranya tetap bisa dibeli murah cukup dengan sebungkus sembako dan selembar 50 ribu.

    Itulah bentuk kejahatan demokrasi terhadap kemanusiaan… Tabik…😦

  5. Ass.

    Saudara Randu yang Alamsyah, terima kasih atas teks pidatonya, nanti akan saya gunakan untuk kampanye. Judulnya, nanti akan disesuaikan, bisa Keprihatinan BaWaRak dari Barak atau Suara yang Tak Perlu Diingat.

    Sangat aspiratif, sesuai dengan visi pencalonan saya, yang memperjuangkan wong cilik tanpa menculik dan merampok.

    Sekali lagi terima kasih, saya tidak perlu berjanji apa-apa dengan saudara karena sudah tahu siapa saya.

  6. @ omiyan : iya, Mbak. Tak ada yang bisa nyalahkan kalo Mbak Golput…

    @Han Han : Tapi kan, Han-han, Bagaimana mau membuktikan kalo belum dipilih ?

    @Hejis : Wah, ternyata Musuh Bebuyutanku telah pula menguasai Ilmu baru dan bersombong-sombong rupa disini, baiklah saya akan serang langsung ke blognya…hiiiiaaaat…

    @ hajri : Nah, menarik Komen Caleg tadi sekalinya yang datang, dedengkot sastra-nya tanah banjar…

    @Mahendra : Iya, Fren…Tapi yah mau gimana lagi…

    @H.E benyamine : Lho, pian caleg beneran ya..

  7. Walk out!!!!
    (seorang pria berdiri dari meja, bereskan berkas yang berserakan, berlalu menuju pintu keluar dengan ekspresi “kada tetahu muha”). semua mata tertuju padanya…

    (wartawan pun memburu sambil mberebutan menyodorkan alat recorder dan sebagainya..)

    wartawan : “kenapa anda keluar pak?, apakah rapat tadi tidak sesuai dengan visi misi dari partai bapak?”

    (sambil agak kerepotan menghalau wartawan)
    Pria : “oh..eh.. maaf, partai apa maksudnya ya?”
    wartawan : “partai yang mengusung bapak tentunya”
    Pria : “wah..wah.. salah orang sodara-sodara ini” (sambil membetulkan kacamatanya akibat tersenggol para wartawan)
    wartawan : “loh, emang bapak siapa?”
    Pria : “saya cuman Pegawai Negeri Sipil, yang dapat tugas buat ngeresume hasil rapat ini”
    wartawan : “kenapa anda keluar, acaranya kan belum selesai?”
    Pria : “sebab saya bingung mba memposisikan diri saya, saya ga bisa ngasih pendapat sebab saya bukan siapa-siapa disana”
    wartawan : “tapikan anda kan masih ada tugas disana?”
    pria : “itu dia, PNS kan utusan dari eksekutif, posisinya serba sulit”
    wartawan : “maksudnya?”
    Pria : “yah, anda semua kan tau kalau PNS sering disalahkan rakyat kecil, karena katanya sering tidak membela kepentingan rakyatlah, korupsilah, ga ngasih pelayanan maksimallah… Nah kenyataannya begitu kami ngusulin anggaran buat membela kepentingan rakyat kecil tadi, anggarannya di sanggah sama wakil-wakil mereka sendiri. Potong sana alokasikan kesini, kurangi sana tambahkan kesini”. (saat berkata SINI sembari nunjuk-nunjuk kantong sendiri)”kami bingung toh? Disatu sisi disalahkan, disisi lain dibantah-bantah”.
    Pria : “yo wis lah, gitu aja dulu ya… terima kasih”

    (berusaha keluar dari kerumunan sambil mengangkat dua belah tangan menandakan “cukup wawancaranya”).

  8. Maaf bapak-bapak yang terhormat!

    Rupanya ruangan ini penuh dengan wakil2 rakyat yang lagi bermusyawarah… maaf..maaf saya salah masuk ruangan…saya hanya seorang pengemis tak layak disini…maaf..maaf saudara…kalau bau ditubuhku…sudah membuat ruangan jadi tak sedap…dan penggap…

    Apakah saya pantas memiliki hak untuk memilih bapak-bapak calon legislatif yang terhormat, atau namaku sudah tercoret karena kebodohan dan kemiskinan yang telah melekat?

    ah tapi…suaraku juga tak ada artinya buat kalian…kalian juga tak ada artinya buatku…karena kalian tak akan pernah tahu siapa dan bagaimana aku!

    Salam, dari pengemis disalah satu simpang kota metropolitan !

  9. @ pak ersis : Iya Pak, terima Kasih.

    @Sandyagustin : Hmmm. Menarik. Ini Pengalaman pribadi ?

    @Pak Rohedi : Wah. Iya Pak. Para Opportunis itu…

    @KwekLina : Nah ini Mbak Lina. Jangan Minder gitu Mbak..Mbak Lina wangi Koq he..he..

    @Rocknoida : Langsung meluncur gan…

    @ Sandy : Siapkan, sesuai janjinya ( Nasi, roti, dan segelas susu ), Lusa saya meluncur…He..he..

  10. Tuan Randu Alamsyah…membaca surat itu seperti luahan yang penuh harapan. Saya memahaminya. Di mana-mana sahaja….tentu ada janji yang perlu dilunaskan. Baik atau buruk…ada imbalannya. Jiwamu penuh dengan pengharapan yang baik. Punya semangat patriotik yang utuh. Moga harapan itu akan menjadi kenyataan. Didoakan dari jauh. Salam penuh hormat.

  11. benarkah gajinya besar? hehe..ada kesempatan tuk jadi tambah kaya (tampak makin bersemangat)
    buat mbak pengemis, anda adalah pengemis tercantik yang saya tahu. di simpang kota sebelah mana? nanti kalau saya jadi ‘anggota’ akan saya sejahterakan anda (tapi saya tidak janji, karena janji itu sampah–kata nahdiansyah abdi)

  12. Info di sini jua:

    Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) MAN 2 Model Banjarmasin ke-11 tanggal 20 Pebruari 2009, MAN 2 Model Banjarmasin mencoba menggali kreatifitas guru yang masih terpendam. Banyak potensi yang belum tersalurkan khususnya bidang tulis menulis dan jurnalistik.

    Lihat link: http://manda-bjm.blogspot.com/

  13. Ini ruang kampanye yaa…Wahh mohon pamit, salah masuk..
    Tenang aja, janji akan saya penuhi “setelah” urusan saya selesai” loh???… kabur akhh…..

  14. surat balasan dari Bawarak
    Yth. Mr. Randualamsyah.
    Bangsa ini masih perlu diberi harapan melalui janji-janji. Bukti dapat diwujudkan, dengan catatan : Bangsa ini harus bersabar dan mampu menahan ego masing-masing serta memelihara peninggalan (bukti sejarah). Memang bangsa ini banyak menuntut atas nama kepentingan rakyat banyak tapi lupa akan kewajibannya sebagai rakyat. Masyaallah… mereka lupa akan dirinya, hanya perut yang dilihat.
    Mr. Randualamsyah,
    Saat ini uanglah yang berbicara meskipun ada KPK dan program sunset policy, selam masih bisa dilipat dan dicarikan alibinya… pasti aman-aman saja.
    Bangsa ini masih mencari sesuatu yang gratisan. Mari tengok mereka yang berebutan demi uang Rp. 20.000 atau kupon kurban meskipun mereka sanggup membelinya, mereka rela berdesakkan.
    Nah.. momen inilah yang Barawak gunakan, dengan uang donasi, Barawak dapat mengerahkannya. Soal kepilih atau tidak, tak jadi soal, Barawak sudah senang dapat memanfaatkannya.
    Nah… bangsaku, Barawak berharap mereka cerdas memanfaatkan momen ini dan memilih yang berkualitas serta kompeten.
    Kepada bangsaku yang GOLPUT,
    Golput tidak mempengaruhi hitungan perolehan suara Barawak. Golput hanya menunjukkan kepada dunia bahwa rakyat belum berpolitik dan tidak perduli terhadap perkembangan NKRI. Barawak harapkan pilihlah sembarang ajah sehingga mempengaruhi perhitungan perolehan kursi. Dengan demikian, kita dapat melihat apa yang akan dilakukan oleh KPU. Apakah kan terulang seperti Pemilu 2004?
    Salam
    Barawak

    NB:
    Semoga milih Barawak yang terbaik.

  15. buat cenya95:
    barawak itu apa, mas? apakah bakal rapuh/ ripu awak (memanggul janji terlampau banyak), kalau itu sih saya gak mau. kalau bawarak, bakal wakil rakyat–kata randu, kalau ini, mau. hehehe

  16. hmm blog yg saling bersenda gurau soal caleg dan rakyat kecil …aduh…maaf ya saya ga perlu tahu siapa caleg itu….dah bosan kali ya…janji mulu….kabuuuurrrrr…

  17. @ : Siti Fatimah Ahmad : Iya Tuan Putri, Ini harapan-harapan sunyi saya…

    @Hajri : E..eh, Wal ai, Makanya amun jadi warak kaena tolong perjuangkan kami – kami ini lah…

    @Taufik79 : Ayo ke MAN 2 Yo…Ayo..yo…

    @ Rita : Lho, koq salah masuk Mbak…

    @Cenya95 : Iya, Netol saya sependapat…

    @Hajri :Ha..ha..ha..

    @Sandyagustin : Langsung meluncur ke TKP…

    @Matahati : Selamat Datang, Mbak…Senang sekali Mbak ada disini..

    @ m : Janji…Janji…

  18. Mungkin hanya di Indonesia saja yang memakai embel-embel yang ngak sesuai dengan akte kelahirannya.

    Di sini guru besar yg sudah menggangkat orang-orang Indonesia menjadi doktorat saja tidak pakai tambahan embel-embel. Bahkan kalo kita sudah kenal (walau kita mahasiswanya) kita hanya menyebut nama panggilan saja, tak pakai Profesor, Pak, Buk dan bla…bla…bla…bla…

  19. ya, namanya juga wakil rakyat mas, mbak… mereka kan mewakili karakter rakyat kebanyakan. kalau sebagian mereka kasar, sombong dan rakus, itu karena sebagian rakyat yang mereka wakili juga ada yang kasar, sombong dan rakus. kalau di antara mereka ada yang jujur, aspiratif dan punya ide solutif, itu juga karena beberapa rakyat kita juga ada loh yang masih jujur dan baik hati. masih ada calon wakil rakyat yang baik.
    liat aja. perhatikan. dengan mata, hati dan mohon petunjukNya..🙂 jangan cuma liat duit beliau-beliau ajah yah.. GO AHEAD You Are !!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  20. nah, iya kan…
    wakil rakyat itu cuma mewakili rakyat kok.
    kalo yang diwakili itu parah dan menyedihkan, itulah yang akan ditampilkan oleh wakil mereka di parlemen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s