Bum…Bum..Bum…Bum…Bum…!

Malam ini mati lampu. Diluar angin kencang. Saya mulai khawatir rumah kontrakan saya akan terbang. Sekian lama saya dicekam hawa dingin, sebelum akhirnya angin berhenti bertiup, lalu Hujan.Ya hujan, yang tes…tes…tes itu. Saya rebah-rebahan. Menikmati ekstase khusus yang ditimbulkan oleh suara jutaan tetes air yang menampar atap seng rumah secara simultan. Kadang ritmik. Kadang Patah-patah.Jika suara hujannya mulai mereda, saya bangkit duduk dan garuk – garuk kepala. Namun jika suaranya mulai keras lagi, saya kembali meringkuk dalam sarung sambil tersenyum gigil-gigil sendiri. Agar lebih seru, Mumpung hujannya masih deras, saya menyalakan lampu teplok. Kemudian meraba-raba di samping pembaringan, mencari Buku “perempuan yang memburu Hujan,” Karya 2 Kolega Saya: Sandi Firly dan Harie, tapi segera teringat bahwa saya belum memiliki buku itu. Akhirnya Ngambil buku di kardus, Serial Wiro Sableng “Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212. Saya telah membaca buku ini, mungkin telah ribuan kali. Serial Silat Karya Almarhum Bastion Tito. Pengarang Buku pertama yang saya kenal dan saya kagumi. Saya telah tumbuh besar bersama kisah – kisah Wiro sableng. Sedikit banyak saya menyikapi hidup ini seperti Wiro sableng Menghadapi hidupnya. Contohnya ya, jika menghadapi musuh. Pukulan Sinar Matahari…! Bum..Bum…Bumm…!

40 pemikiran pada “Bum…Bum..Bum…Bum…Bum…!

  1. Subhanallah, ternyata AF(A) formula papa Rohedi juga kepake-pake di cerita fiksi, lah ituh yang di kapak “212” nya si brother wiro sableng.

    He he he ..sukses om Randu. Denaya sekalian Pamit mohon diri dari sekelumit kiprah Denaya Lesa.

    Terima Kasih Semuanya.

    Salam….
    Denaya.

  2. Ass.

    Pantas aja … angin jadi nggak karuan, sebentar ribut, terkadang sepoi-sepoi, adakalanya hilang tak berpamit, tidak berapa lama terdengar deru menderu, angin yang kehilangan komandan … ternyata muridnya Wiro Sableng lagi latihan Pukulan Sinar Matahari.

    Perempuan Yang Memburu Hujan … buku itu jangan-jangan gosong kena Pukulan Sinar Matahari yang masih belum sempurna … mudahan dapat gantinya biarpun sebenarnya belum punya.

  3. Angka 212 memiliki makna
    di dalam kehidupan
    dalam diri manusia terdapat dua
    unsur ingat duniawi dan Tuhan
    segala yang ada di dalam dunia ini
    terdiri atas pembagian
    yang berlainan
    namun merupakan pasangan
    semuanya tak dapat terpisahkan

    waaaaawwww…

  4. wah jarang2 masih ada yang koleksi buku wiro sableng hehehe…. tapi keren Om punya saya saja sudah engga tau dipinjam siapa2 sudah hilang semua ….. hiks,…..

  5. Sekarang entah bagaimana nasib Wiro Sableng selanjutnya, karena telah berhenti seiring dengan wafatnya sang pengarang. Patut kita ungkapkan rasa bangga kepada alm. Bastian Tito atas karya-karyanya.

    Untuk nama pendekar mungkin ada sekitar ratusan yang telah dia ciptakan baik dari golongan hitam, golongan putih maupun yang golongannya tidak jelas.

    Untuk golongan hitam semisal Pangeran Matahari,
    Si Muka Bangkai, Makhluk Pembawa Bala, Datuk Tinggi Rajo Di Langit atau biasa disebut Datuk Sipatoka, Datuk Angek Garang, Datuk Tinggi Rajo di Bumi, Datuk
    Lembah Akherat, Tiga Bayangan Setan, Elang Setan, Sepasang Elmaut Kuning, Delapan Tokoh Kembar, Mayat Tiga Warna, Raja Rencong Dari Utara, Jagal Iblis
    Makam Setan, Ratu Ular, Dewi Ular, Daun Setan, Warok Jangkrik, Warok Mata Api, Pengelupas Kepala, Warok Kepala Besi, Sepasang Momok Dempet, Sepuh Item, dll.

    Tokoh golongan putih semisal Wiro Sableng, Sinto Gendeng, Kakek Segala Tahu, Tua Gila, Raja Penidur, Bidadari Angin Timur, Harimau Singgalang, Ratu Duyung, Dewi Bunga Mayat alias Bunga alias Suci, Anggini, Puti Andini alias Dewi Payung Tujuh, Kiai Paus Samudera Biru atau biasa dipanggil Naga Kuning, Setan Ngompol, Ke Gede Tapa Pamungkas, Datuk Rao Basaluang Ameh, Datuk Rao Bamato Hijau, Raja Obat Delapan Penjuru Angin, Dewa Ketawa, Bujang Gila Tapak Sakti, Dewa Tuak, Malaikat Berambut Salju, Manusia Paku, Harimau Singgalang, Pendekar Kipas
    Pelangi, dll. Belum lagi tokoh yang tak jelas golongannya seperti Dewa Sedih, Sika Sure Jelantik, Sabai Nan Rancak, Iblis Pemabuk, dll.

    Koq hapal yaaa??! hehe…

  6. Salam hormat Tuan Randu,

    Mengapa ya…setiap kali membaca karya tuan yang seperti ini, pastinya saya cuba menahan ketawa. Bait-bait cetusan idea melalui setiap rangkap perkataan yang dikarang menimbulkan keceriaan buat saya. Saya menikmati bacaan dan jalan ceritanya dengan penuh nikmat dan senang. Rasa sentuhan pada gambaran cerita itu begitu mendekatkan hati untuk memahami apa yang sedang berlaku.

    Apa tuan mengalaminya sendiri atau sekadar berkhayal sambil memikir seolah-olah peristiwa itu sedang berlaku. Terima kasih…saya mula memahami bahasa Indonesia dengan mudah secara bacaan sahaja. Mungkin berkomunikasi perlukan pembaikian yang lebih mantap.

    Terima kasih juga atas sentuhan hujan dan deruan angin yang mendinginkan jiwa.Malah menakutkan. Begitu agaknya ketakutan yang dirasai oleh tubuh-tubuh lemah di palastine tika mendengar deretan tembakan bertalu-talu tentera zionis laknatullah.

    Salam dari jauh penuh hormat.

    LAMAN MENULIS GAYA SENDIRI
    http://websitifatimah.wordpress.com/

  7. salam kenal broo….sorry..saya lama menghilang dari dunia bloggers…lagi banyak kesibukan di kantor…posisi dimana nih ???
    masalah wiro sableng dan hidup or kehidupan ke-kinian emang gak jauh beda..bukan cuma soal bum..bum..-nya aja tapi lebih banyak hal lagi…prinsipnya cuman satu…terkadang satu kegilaan (dalam pengambilan keputusan) diperlukan (sangat) untuk menjamin keselarasan hidup…hehehe…(ngomong apaan sih…)
    Merdeka !!! say no for corrupt !!!

  8. @ Aliyansyah : Setujuuuu…!

    @Denaya : Salam Anak manis…Sukses ya..!

    @Rocknoida : Langsung Meluncur…!

    @HE. Benyamine : Ha..ha..ha pian Bisa aja. Salam 212…!

    @taufik79 : Salam 212…!Saya gak nyangka kalo kita seperguruan di Gunung Gede dulu..

    @Han han : kalo mau baca Wiro, Pinjam ama om Google aja…

    @Tuan Putri Siti Fatimah : terima Kasih atas Kunjungannya, Saya adalah Murid Tuan Putri dalam menulis…

    @Mahendra : Langsung ke TKP…

    @Mel : Selamat datang anak manis. jangan nyamain om dengan Om Hejis Donk. Om Randu kan dari golongan Putih…

    @Fachri : Iya fahri, hiburan saya di hidup sunyi ini ya cuma hujan…

    @Omiyan : Bagus itu. Penasaran itu awal dari ilmu…

    @Iwan : Halo. selamat Malam Luwuk…

    @Kweklina : Iyak Betol Mbak Lina. Apalagi kalo Mbak lina yang bikinin saya..

    @Sandyagustin : Salam kenal anak manis…Itu ingusnya dilap dulu he..he..he

    @bonar : Wah, banyak ternyata saudara seperguruanku ni. Salam 212…!!!

    @DewiFatma : Wah, Udah Lama Pak Bastian Meninggal…Mbak kemana aja…?

    @

    @

  9. bahasa pendek merapat nan indah seperti permainan sepak bola khas Brasil yang selalu menciptakan gol di kotak penalti
    Pak, aku lagi nyari komik Judulnya; Pertemuan sesaat Kho Ping Ho dengan Wiro Sableng
    duh….pelajaran udah mo kelar aku baru datang🙂

  10. Yang sampai saat ini meninggalkan kesan untuk saya adalah buku yang berjudul ‘Naga Sasra dan Sabuk Inten’. Tak pernah bosan membacanya berulang-ulang. Selalu ada kesan baru setiap kali membacanya. Tabik…🙂

  11. Kalau pendekar 212 sempat baca cerpen pendekar AFA yang di http://www.penulislepas.com/v2/?p=1105…Aku yakin dia bakal ngeluarin jurus masturbasi ach..ach..ach.

    Sorry kawan-kawan posting ulang, abis asyik untuk dibaca.

    Perlukah Sertifikasi Orang Tua Untuk menjamin Anak berakhlakul Karimah?

    Saya sudah tuntas membaca tajuk saudara. Menurut saya paragraf kunci dari paparan anda adalah yang ini:
    “tentang peran istri suami, domestik dan luaran itu, sepertinya harus dibicarakan lagi. Sebenarnya toh tak ada kewajiban atau perjanjian tertulis bahwa istri harus menyediakan makan atau bekal suami. Jika pagi istri sudah repot dengan si bayi, kenapa suami nggak turun dapur sendiri?”

    Sebenarnya apa yang anda keluhkan juga dialami hampir semua anggota paguyuban istri di Indonesia. Dari paragraf kunci itu sebenarnya sudah terlihat, kalau anda sendiri tahu cara mengatasinya. Jadikan apa yang ada tuntut dari suami anda itu sebagai sandra. Misal, selepas nonton TV jam sebelas malam, dengan nanda sopan anda katakan “Hayo, kalau mas besok pagi tidak bantuin saya buatkan mie untuk sarapan anak-anak, ntar lagi tidak saya kasih lho”. Persolaan selesai. Cobalah saran saya itu yah.

    Tugas berat yang kita hadapi semua di era globalisasi ini adalah bagaimana kita para Pasutri sekaligus Orang Tua dapat membesarkan anak-anak kita dengan Ahlakul karimah. Mari kita baca beberapa petikan di bawah ini.

    >Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput >artistik, Playboy, menumpang taufan reformasi >dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga >di Indonesia. Majalah ini diam-diam jadi >tempat pelatihan awal onani.

    Disinilah tugas berat itu dimulai. Begitu putra putri kita memasuki usia akhil balik, kita harus meluangkan waktu, memperhatikan mereka, berbagi cerita, dan hal-hal positif lainnya. Anda tidak akan banggakan, kalau suatu ketika tetangga sebelah pada ngerumpiin bahwa salah putra anda menjuarai lomba onani?.

    Kita harus menyadari bahwa anak-anak Indonesia berpotensi untuk binal, mengingat :
    >Di Singapura, Malaysia, Korea Selatan situs >porno diblokir pemerintah untuk terutama >melindungi anak-anak dan remaja.
    >Pemerintah kita tidak melakukan hal yang sama.
    Anda masih ingat kan gebrakan sesaat Bapak Muhammad Nuh setelah dilantik sebagai MenkoInfokom? Namun faktanya…

    Bahkan lebih memprihatinkan perbuatan maksiat itu belakangan ini sudah bermula dari usia dini. Ini salah satu kasusnya :

    >Seorang peneliti mengabarkan bahwa di Jakarta >Pusat ada murid-murid laki-laki yang kumpul >jam dua sore seminggu di rumah salah seorang
    >dari mereka, lalu menayangkan VCD-DVD porno. >Sesudah selesai mereka onani bersama-sama. >Siswa sekolah apa, dan kelas berapa? Siswa SD,
    >kelas lima. Tak diceritakan apa ekses >selanjutnya.

    Wah..wah..wah..Pantas saja Guru-guru kelas 5 SD di jakarta ada juga yang mengeluh, “koq kalau pelajaran ngitung akar, murid-murid banyak yang pada lemas ya”. Hanya siswa lakinya saja lho pak yang ketangkap basah beronani, siswa perempuan kelas 5 SD yang ketahuan bermasturbasi belum terrecord lho…

    Kalau anak SD memulainya dengan beronani ria, kepiawaian segelintir oknum mahasiswa dalam berunjuk pornoaksi sudah barang tentu tidak perlu dipertanyakan lagi. Masya Allah adegan seks yang mereka pertontonkan benar-benar sudah tidak konvensional lagi. Dan kalau kelak ada olimpiade hubungan intim edisi mahasiswa/i sebagaimana halnya Olimpiade Sains Internasional, tidak diragukan lagi mereka akan mengibarkan merah putih di manca negara. Dan yang tidak mengenakkan saya, adegan mesum mahasiswa yang santer diberitakan mass media untuk edisi bulan November ini dilakukan oleh oknum mahasiswa ITS tempat saya mengabdi. Tetapi yang perlu dicatat, saya bukannya satu-satunya dosen, di sana banyak dosen lainnya yang sekarang pada sibuk mengumpulkan kredit point untuk meraih Jabatan Professor sebagai syarat lolos sertifikasi dosen.

    Saya berfikir apa perlu ya ,,, diusulkan pada Pemerintah Indonesia agar ada pencanangan Sertifikasi Orang Tua untuk menjamin putra-putrinya ber- Akhlakul Karimah.

    Petikan yang angkat itu bukanlah cerita bualan saya. Melainkan petikan yang saya ambil dari pidato tokoh kebudayaan kita Bapak Taufiq Ismail. Saya merasa pidato itu penting dibaca tidak saja oleh sebagian besar jurnalis member website penulislepas.com, tetapi juga tidak salah pula kalaupun dibaca oleh para penulis buku (dkk) wabilkhusus terbaca oleh Al Ustat Agus Mustofa yang kita kenal sebagai produktor Buku kotroversial itu sebagai sarana untuk “menguji diri sendiri”. Karena itu naskah pidato yang sangat penting itu saya lampirkan pada posting komentar ini.

    Mohon maaf bagi yang tidak berkenan.

    Salam Hangat Saya.

    Ali Yunus Rohedi.
    Staff Pengajar Pada Jurusan Fisika,
    FMIPA-ITS Surabaya.

    From: dewi suryani
    Date: 2008/11/3
    Subject: [Kibar-Scotland]Fwd: BUDIDAYA MALU DIKIKIS HABIS GERAKAN SYAHWAT MERDEKA
    (Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail)
    To:

    ===================
    BUDIDAYA MALU DIKIKIS HABIS GERAKAN SYAHWAT MERDEKA (Pidato Kebudayaan Taufiq Ismail)

    Sederetan gelombang besar menggebu-gebu menyerbu pantai Indonesia, naik ke daratan,
    masuk ke pedalaman. Gelombang demi gelombang ini datang susun-bersusun dengan suatu keteraturan, mulai 1998 ketika reformasi
    meruntuhkan represi 39 tahun gabungan zaman Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Pembangunan, dan membuka lebar pintu dan jendela Indonesia. Hawa ruangan yang sumpek dalam dua zaman itu
    berganti dengan kesegaran baru. Tapi tidak terlalu lama, kini digantikan angin yang semakin kencang dan arus menderu-deru.

    Kebebasan berbicara, berpendapat, dan mengeritik, berdiri-menjamurnya
    partai-partai politik baru, keleluasaan berdemonstrasi, ditiadakannya
    SIUPP (izin penerbitan pers), dilepaskannya tahanan politik, diselenggarakannya pemilihan umum bebas dan langsung, dan seterusnya,
    dinikmati belum sampai sewindu, tapi sementara itu silih berganti beruntun-runtun belum terpecahkan krisis yang tak habis-habis. Tagihan rekening reformasi ternyata mahal sekali.

    Bahana yang datang terlambat dari benua-benua lain itu menumbuh dan menyuburkan kelompok permissif dan addiktif negeri kita, yang sejak
    1998 naik daun. Arus besar yang menderu-deru menyerbu kepulauan kita adalah gelombang sebuah gerakan syahwat merdeka. Gerakan tak bersosok
    organisasi resmi ini tidak berdiri sendiri, tapi bekerjasama bahu-membahu melalui jaringan mendunia, dengan kapital raksasa mendanainya, ideologi gabungan yang melandasinya, dan banyak media massa cetak dan elektronik jadi pengeras suaranya.

    Siapakah komponen gerakan syahwat merdeka ini?

    PERTAMA adalah praktisi sehari-hari kehidupan pribadi dan kelompok dalam perilaku seks bebas hetero dan homo, terang-terangan dan
    sembunyi-sembunyi. Sebagian berjelas-jelas anti kehidupan berkeluarga normal, sebagian lebih besar, tak mau menampakkan diri.

    KEDUA, penerbit majalah dan tabloid mesum, yang telah menikmati tiada perlunya SIUPP. Mereka menjual wajah dan kulit perempuan muda, lalu
    menawarkan jasa hubungan kelamin pada pembaca pria dan wanita lewat nomor telepon genggam, serta mengiklankan berbagai alat kelamin tiruan
    (kue pancong berkumis dan lemper berbaterai) dan boneka karet perempuan yang bisa dibawa bobok bekerjasama.

    KETIGA, produser, penulis skrip dan pengiklan acara televisi syahwat. Seks siswa dengan guru, ayah dengan anak, siswa dengan siswa, siswa dengan pria paruh baya, siswa dengan pekerja seks komersial ditayangkan pada jam prime time, kalau pemainnya terkenal. Remaja berseragam OSIS memang menjadi sasaran segmen pasar penting tahun-tahun ini. Beberapa guru SMA menyampaikan keluhan pada saya. “Citra kami guru-guru SMA di sinetron adalah citra guru tidak cerdas, kurang pergaulan dan memalukan.” Mari kita ingat ekstensifnya pengaruh tayangan layar kaca ini. Setiap tayangan televisi, rata-rata 170.000.000 yang memirsa. Seratus tujuh puluh juta pemirsanya.

    KEEMPAT, 4,200,000 (empat koma dua juta) situs porno dunia, 100,000 (seratus ribu) situs porno Indonesia di internet. Dengan empat kali
    klik di komputer, anatomi tubuh perempuan dan laki-laki, sekaligus fisiologinya, dapat diakses tanpa biaya, sama mudahnya dilakukan baik dari San Francisco, Timbuktu, Rotterdam mau pun Klaten. Pornografi gratis di internet luarbiasa besar jumlahnya. Seorang sosiolog Amerika Serikat mengumpamakan serbuan kecabulan itu di negaranya bagaikan “gelombang tsunami setinggi 30 meter, dan kami melawannya dengan dua telapak tangan.” Di Singapura, Malaysia, Korea Selatan situs porno diblokir pemerintah untuk terutama melindungi anak-anak dan remaja.
    Pemerintah kita tidak melakukan hal yang sama.

    KELIMA, penulis, penerbit dan propagandis buku syahwat sastra dan sastra. Di Malaysia, penulis yang mencabul-cabulkan karyanya penulis pria. Di Indonesia, penulis yang asyik dengan wilayah selangkang dan sekitarnya mayoritas penulis perempuan. Ada kritikus sastra Malaysia
    berkata: “Wah, pak Taufiq, pengarang wanita Indonesia berani-berani. Kok mereka tidak malu, ya?” Memang begitulah, RASA MALU ITU YANG SUDAH
    TERKIKIS, bukan saja pada penulis-penulis perempuan aliran s.m.s. (sastra mazhab selangkang) itu, bahkan lebih-lebih lagi pada banyak bagian dari bangsa.

    KEENAM, penerbit dan pengedar komik cabul. Komik yang kebanyakan terbitan Jepang dengan teks dialog diterjemahkan ke bahasa kita itu
    tampak dari kulit luar biasa-biasa saja, tapi di dalamnya banyak gambar hubungan badannya, misalnya (bukan main) antara siswa dengan Bu
    Guru. Harganya Rp 2.000. Sebagian komik-komik itu tidak semata lucah saja, tapi ada pula kadar ideologinya. Ideologinya adalah anjuran
    perlawanan pada otoritas orangtua dan guru, yang banyak aturan ini-itu, termasuk terhadap seks bebas. Dalam salah satu komik itu saya
    baca kecaman yang paling sengit adalah pada Menteri Pendidikan Jepang. Tentu saja dalam teks terjemahan berubah, yang dikecam jadinya Menteri Pendidikan Nasional kita.

    KETUJUH, produsen, pengganda, pembajak, pengecer dan penonton VCD/DVD biru. Indonesia kini jadi sorga besar pornografi paling murah di dunia, diukur dari kwantitas dan harganya. Angka resmi produksi dan bajakan tidak saya ketahui, tapi literatur menyebut antara 2 juta – 20 juta keping setahun. Harga yang dulu Rp30.000 sekeping, kini turun menjadi Rp3.000, bahkan lebih murah lagi. Dengan biaya 3 batang rokok kretek yang diisap 15 menit, orang bisa menonton sekeping VCD/DVD biru dengan pelaku kulit putih dalam 6 posisi selama 60 menit. Luarbiasa murah. Anak SD kita bisa membelinya tanpa risi tanpa larangan peraturan pemerintah.

    Seorang peneliti mengabarkan bahwa di Jakarta Pusat ada murid-murid laki-laki yang kumpul jam dua sore seminggu di rumah salah seorang
    dari mereka, lalu menayangkan VCD-DVD porno. Sesudah selesai mereka onani bersama-sama. Siswa sekolah apa, dan kelas berapa? Siswa SD,
    kelas lima. Tak diceritakan apa ekses selanjutnya.

    KEDELAPAN, fabrikan dan konsumen alkohol. Minuman keras dari berbagai merek dengan mudah bisa diperoleh di pasaran. Kemasan botol kecil
    diproduksi, mudah masuk kantong celana, harga murah, dijual di kios tukang rokok di depan sekolah, remaja dengan bebas bisa membelinya. Di Amerika dan Eropa batas umur larangan di bawah 18 tahun. Negeri kita pasar besar minuman keras, jualannya sampai ke desa-desa.

    KESEMBILAN, produsen, pengedar dan pengguna narkoba. Tingkat keterlibatan Indonesia bukan pada pengedar dan pengguna saja, bahkan
    kini sampai pada derajat produsen dunia. Enam juta anak muda Indonesia terperangkap sebagai pengguna, ratusan ribu menjadi korbannya.

    KESEPULUH, fabrikan, pengiklan dan pengisap nikotin. Korban racun nikotin 57.000 orang / tahun, maknanya setiap hari 156 orang mati,
    atau setiap 9 menit seorang pecandu rokok meninggal dunia. Pemasukan pajak Rp15 triliun (1996), tapi ongkos pengobatan berbagai penyakit akibatnya Rp30 triliun rupiah. Mengapa alkohol, narkoba dan nikotin termasuk dalam kategori kontributor arus syahwat merdeka ini? Karena sifat addiktifnya, kecanduannya, yang sangat mirip, begitu pula proses pembentukan ketiga addiksi tersebut dalam susunan syaraf pusat manusia. Dalam masyarakat permissif, interaksi antara seks dengan alkohol, narkoba dan nikotin, akrab sekali, sukar dipisahkan.
    Interaksi ini kemudian dilengkapi dengan tindak kriminalitas berikutnya, seperti pemerasan, perampokan sampai pembunuhan. Setiap hari berita semacam ini dapat dibaca di koran-koran.

    KESEBELAS, pengiklan perempuan dan laki-laki panggilan. Dalam masyarakat permissif, iklan semacam ini menjadi jembatan komunikasi yang diperlukan.

    KEDUABELAS, germo dan pelanggan prostitusi. Apabila hubungan syahwat suka-sama-suka yang gratis tidak tersedia, hubungan dalam bentuk
    perjanjian bayaran merupakan jalan keluarnya. Dalam hal ini prostitusi berfungsi.

    KETIGABELAS, dokter dan dukun praktisi aborsi. Akibat tujuh unsur pertama di atas, kasus perkosaan dan kehamilan di luar pernikahan
    meningkat drastis. Setiap hari dapat kita baca kasus siswa SMP/SMA memperkosa anak SD, satu-satu atau rame-rame, ketika papi-mami tak ada di rumah dan pembantu pergi ke pasar berbelanja. Setiap ditanyakan apa
    sebab dia/mereka memperkosa, selalu dijawab ‘karena terangsang sesudah menonton VCD/DVD biru dan ingin mencobakannya.’ Praktisi aborsi gelap menjadi tempat pelarian, bila kehamilan terjadi.

    Seorang peneliti dari sebuah universitas di Jakarta menyebutkan bahwa angka aborsi di Indonesia 2,2 juta setahunnya. Maknanya setiap 15 detik seorang calon bayi di suatu tempat di negeri kita meninggal akibat dari salah satu atau gabungan ketujuh faktor di atas. Inilah
    produk akhirnya. Luar biasa destruksi sosial yang diakibatkannya.

    Dalam gemuruh gelombang gerakan syahwat merdeka ini, pornografi dan pornoaksi menjadi bintang panggungnya, melalui gemuruh kontroversi
    pro-kontra RUU APP.

    Karena satu-dua-atau beberapa kekurangan dalam RUU itu, yang total kontra menolaknya, tanpa sadar terbawa dalam gelombang gerakan syahwat
    merdeka ini. Tetapi bisa juga dengan sadar memang mau terbawa didalamnya.

    Salah satu kekurangan RUU itu, yang perlu ditambah-sempurnaka n adalah perlindungan bagi anak-cucu kita, jumlahnya 60 juta, terhadap
    kekerasan pornografi. Dalam hiruk pikuk di sekitar RUU ini, terlupakan betapa dalam usia sekecil itu 80% anak-anak 9-12 tahun terpapar
    pornografi, situs porno di internet naik lebih sepuluh kali lipat, lalu 40% anak-anak kita yang lebih dewasa sudah melakukan hubungan
    seks pra-nikah. Sementara anak-anak di Amerika Serikat dilindungi oleh 6 Undang-undang, anak-anak kita belum, karena undang-undangnya belum ada. KUHP yang ada tidak melindungi mereka karena kunonya. Gelombang Syahwat Merdeka yang menolak total RUU ini berarti menolak melindungi anak-cucu kita sendiri.

    Gerakan tak bernama tak bersosok organisasi ini terkoordinasi bahu-membahu menumpang gelombang masa reformasi mendestruksi moralitas dan tatanan sosial. Ideologinya neo-liberalisme, pandangannya materialistik, disokong kapitalisme jagat raya.

    Menguji Rasa Malu Diri Sendiri

    Seorang pengarang muda meminta pendapat saya tentang cerita pendeknya yang dimuat di sebuah media. Dia berkata, “Kalau cerpen saya itu
    dianggap pornografis, wah, sedihlah saya.” Saya waktu itu belum sempat membacanya. Tapi saya kirimkan padanya pendapat saya mengenai
    pornografi. Begini.

    Misalkan saya menulis sebuah cerpen. Saya akan mentes, menguji karya saya itu lewat dua tahap. Pertama, bila tokoh-tokoh di dalam karya
    saya itu saya ganti dengan ayah, ibu, mertua, isteri, anak, kakak atau adik saya; lalu kedua, karya itu saya bacakan di depan ayah, ibu,
    mertua, isteri, anak, kakak, adik, siswa di kelas sekolah, anggota pengajian masjid, jamaah gereja; kemudian saya tidak merasa malu,
    tiada dipermalukan, tak canggung, tak risi, tak muak dan tidak jijik karenanya, maka karya saya itu bukan karya pornografi.

    Tapi kalau ketika saya membacakannya di depan orang-orang itu saya merasa malu, dipermalukan, tak patut, tak pantas, canggung, risi, muak
    dan jijik, maka karya saya itu pornografis.

    Hal ini berlaku pula bila karya itu bukan karya saya, ketika saya menilai karya orang lain. Sebaliknya dipakai tolok ukur yang sama
    juga, yaitu bila orang lain menilai karya saya. Setiap pembaca bisa melakukan tes tersebut dengan cara yang serupa.

    Pendekatan saya adalah pengujian rasa malu itu. Rasa malu itu yang kini luntur dalam warna tekstil kehidupan bangsa kita, dalam terlalu
    banyak hal.

    Sebuah majalah mesum dunia dengan selaput artistik, Playboy, menumpang taufan reformasi dan gelombang liberalisme akhirnya terbit juga di Indonesia. Majalah ini diam-diam jadi tempat pelatihan awal onani pembaca Amerika, dan kini, beberapa puluh tahun kemudian, dikalahkan
    internet, sehingga jadilah publik pembaca Playboy dan publik langganan situs porno internet Amerika masturbator terbesar di dunia. Majalah pabrik pengeruk keuntungan dari kulit tubuh perempuan ini, mencoba menjajakan bentuk eksploitasi kaum Hawa di negeri kita yang pangsa pasarnya luarbiasa besar ini. Bila mereka berhasil, maka bakal berderet antri masuk lagi majalah anti-tekstil di tubuh perempuan dan fundamentalis- syahwat-merdeka seperti Penthouse, Hustler, Celebrity
    Skin, Cheri, Swank, Velvet, Cherry Pop, XXX Teens dan seterusnya.

    Untuk mengukur sendiri rasa malu penerbit dan redaktur Playboy Indonesia, saya sarankan kepada mereka melakukan sebuah percobaan,
    yaitu mengganti model 4/5 telanjang majalah itu dengan ibu kandung, ibu mertua, kakak, adik, isteri dan anak perempuan mereka sendiri.
    Saran ini belum berlaku sekarang, tapi kelak suatu hari ketika Playboy Indonesia keluar perilaku aslinya dalam masalah ketelanjangan model yang dipotret. Sekarang mereka masih malu-malu kucing. Sesudah dibuat dalam edisi dummy, promosikan foto-foto itu itu di 10 saluran televisi dan 25 suratkabar. Bagaimana? Berani? Malu atau tidak?

    Pendekatan lain yang dapat dipakai juga adalah menduga-memperkirakan-mengingat akibat yang mungkin terjadi sesudah orang membaca karya
    pornografis itu. Sesudah seseorang membaca, katakan cerpen yang memberi sugesti secara samar-samar terjadinya hubungan kelamin,
    apalagi kalau dengan jelas mendeskripsikan adegannya, apakah dengan kata-kata indah yang dianggap sastrawi atau kalimat-kalimat brutal,
    maka pembaca akan terangsang. Sesudah terangsang yang paling penakut akan onani dan yang paling nekat akan memperkosa. Memperkosa perempuan dewasa tidak mudah, karena itu anak kecil jadi sasaran. Perkosaan banyak terjadi terhadap anak-anak kecil masih bau susu bubuk belum haid yang di rumah sendirian karena papi-mami pergi kerja, pembantu pergi ke pasar, jam 9-10 pagi.

    Anak-anak tanggung pemerkosa itu, ketika diinterogasi dan ditanya kenapa, umumnya bilang karena sesudah menonton VCD porno mereka
    terangsang ingin mencoba sendiri. Merayu orang dewasa takut, mendekati perempuan-bayaran tidak ada uang. Kalau diteliti lebih jauh kasus yang
    sangat banyak ini (peneliti yang rajin akan bisa mendapat S-3 lewat tumpukan guntingan koran), mungkin saja anak itu juga pernah membaca cerita pendek, puisi, novel atau komik cabul.

    Akibat selanjutnya, merebak-meluaslah aborsi, prostitusi, penularan penyakit kelamin gonorrhoea, syphilis, HIV-AIDS, yang meruyak di
    kota-kota besar Indonesia berbarengan dengan akibat penggunaan alkohol dan narkoba yang tak kalah destruktifnya.

    Akibat Sosial Ini Tak Pernah Difikirkan Penulis

    Semua rangkaian musibah sosial ini tidak pernah difikirkan oleh penulis cerpen-puisi-novelis erotis yang umumnya asyik berdandan
    dengan dirinya sendiri, mabuk posisi selebriti, ke sana disanjung ke sini dipuji, tidak pernah bersedia merenungkan akibat yang mungkin
    ditimbulkan oleh tulisannya. Sejumlah cerpen dan novel pasca reformasi sudah dikatakan orang mendekati VCD/DVD porno tertulis. Maukah mereka
    membayangkan, bahwa sesudah sebuah cerpen atau novel dengan rangsangan syahwat terbit, maka beberapa ratus atau ribu pembaca yang terangsang itu akan mencontoh melakukan apa yang disebutkan dalam alinea-alinea di atas tadi, dengan segala rentetan kemungkinan yang bisa terjadi selanjutnya?

    Destruksi sosial yang dilakukan penulis cerpen-novel syahwat itu, beradik-kakak dengan destruksi yang dilakukan produsen-pengedar-
    pembajak- pengecer VCD/DVD porno, beredar (diperkirakan) sebanyak 20 juta keping, yang telah meruyak di masyarakat kita, masyarakat
    konsumen pornografi terbesar dan termurah di dunia. Dulu harganya Rp30.000 sekeping, kini Rp3.000, sama murahnya dengan 3 batang rokok
    kretek. Mengisap rokok kretek 15 menit sama biayanya dengan memiliki dan menonton sekeping VCD/DVD syahwat sepanjang 6o menit itu. Bersama
    dengan produsen alkohol, narkoba dan nikotin, mereka tidak sadar telah menjadi unsur penting pengukuhan masyarakat permissif-addiktif
    serba-boleh-apa-saja-genjot, yang dengan bersemangat melabrak apa yang mereka anggap tabu selama ini, berpartisipasi meluluh-lantakkan moralitas anak bangsa.

    Perzinaan yang Hakekatnya Pencurian adalah Ciri Sastra Selangkang

    Akhirnya sesudah mendapatkan korannya, saya membaca cerpen karya penulis yang disebut di atas. Dalam segi teknik penulisan, cerpen itu
    lancar dibaca. Dalam segi isi sederhana saja, dan secara klise sering ditulis pengarang Indonesia yang pertama kali pergi ke luar negeri, yaitu pertemuan seorang laki-laki di negeri asing dengan perempuan asing negeri itu. Kedua-duanya kesepian. Si laki-laki Indonesia lupa isteri di kampung. Di akhir cerita mereka berpelukan dan berciuman. Begitu saja.

    Dalam interaksi yang kelihatan iseng itu, cerpenis tidak menyatakan sikap yang jelas terhadap hubungan kedua orang itu. Akan ke mana
    hubungan itu berlanjut, juga tak eksplisit. Apakah akan sampai pada hubungan pernikahan atau perzinaan, kabur adanya. Perzinaan adalah
    sebuah pencurian. Yang melakukan zina, mencuri hak orang lain, yaitu hak penggunaan alat kelamin orang lain itu secara tidak sah. Pezina
    melakukan intervensi terhadap ruang privat alat kelamin yang dizinai. Dia tak punya hak untuk itu. Yang dizinai bersekongkol dengan yang
    melakukan penetrasi, dia juga tak punya hak mengizinkannya. Pemerkosa adalah perampok penggunaan alat kelamin orang yang diperkosa.
    Penggunaan alat kelamin seseorang diatur dalam lembaga pernikahan yang suci adanya.

    Para pengarang yang terang-terangan tidak setuju pada lembaga pernikahan, dan/atau melakukan hubungan kelamin semaunya, yang
    tokoh-tokoh dalam karyanya diberi peran syahwat merdeka, adalah rombongan pencuri bersuluh sinar rembulan dan matahari. Mereka maling
    tersamar. Mereka celakanya, tidak merasa jadi maling, karena (herannya) ada propagandis sastra menghadiahi mereka glorifikasi, dan
    penerbit menyediakan gratifikasi. Propagandis dan penerbit sastra semacam ini, dalam istilah kriminologi, berkomplot dengan maling.

    Hal ini berlaku bukan saja untuk karya (yang dianggap) sastra, tapi juga untuk bacaan turisme, rujukan tempat hiburan malam, dan direktori semacam itu. Buku petunjuk yang begitu langsung tak langsung menunjukkan cara berzina, lengkap dengan nama dan alamat tempat
    berkumpulnya alat-alat kelamin yang dapat dicuri haknya dengan cara membayar tunai atau dengan kartu kredit gesekan.

    Sastra selangkang adalah sastra yang asyik dengan berbagai masalah wilayah selangkang dan sekitarnya. Kalau di Malaysia pengarang-pengarang yang mencabul-cabulkan karya kebanyakan pria, maka di Indonesia pengarang sastra selangkang mayoritas perempuan. Beberapa di antaranya mungkin memang nymphomania atau gila syahwat, hingga ada
    kritikus sastra sampai hati menyebutnya “vagina yang haus sperma”. Mestinya ini sudah menjadi kasus psikiatri yang baik disigi, tentang
    kemungkinannya jadi epidemi, dan harus dikasihani.

    Bila dua abad yang lalu sejumlah perempuan Aceh, Jawa dan Sulawesi Selatan naik takhta sebagai penguasa tertinggi kerajaan, Sultanah atau Ratu dengan kenegarawanan dan reputasi terpuji, maka di abad 21 ini sejumlah perempuan Indonesia mencari dan memburu tepuk tangan kelompok permissif dan addiktif sebagai penulis sastra selangkang, yang aromanya jauh dari wangi, menyiarkan bau amis-bacin kelamin
    tersendiri,yang bagi mereka parfum sehari-hari.

    Dengan Ringan Nama Tuhan Dipermainkan

    Di tahun 1971-1972, ketika saya jadi penyair tamu di Iowa Writing Program, Universitas Iowa, di benua itu sedang heboh-hebohnya
    gelombang gerakan perempuan. Kini, 34-an tahun kemudian, arus riaknya sampai ke Indonesia. Kaum feminis Amerika waktu itu sedang
    gencar-gencarnya mengumumkan pembebasan kaum perempuan, terutama liberasi kopulasi, kebebasan berkelamin, di koran, majalah, buku dan televisi.

    Menyaksikan penampilan para maling hak penggunaan alat kelamin orang lain itu di layar kaca, yang cengengesan dan mringas-mringis seperti Gloria Steinem dan semacamnya, banyak orang mual dan jijik karenanya. Mereka tidak peduli terhadap epidemi penyakit kelamin HIV-AIDS yang meruyak menyebar seantero Amerika Serikat waktu itu, menimpa baik orang laki-laki maupun perempuan, hetero dan homoseksual, akibat kebebasan yang bablas itu.

    Di setasiun kereta api bawah tanah New York, seorang laki-laki korban HIV-AIDS menadahkan topi mengemis. Belum pernah saya melihat kerangka manusia berbalut kulit tanpa daging dan lemak sekurus dia itu. Sinar matanya kosong, suaranya parau. Kematian banyak anggota kelompok ini, terutama di kalangan seniman di tahun 1970-an, tulis seorang esais,
    bagaikan kematian di medan perang Vietnam. Sebuah orkestra simfoni di New York, anggota-anggotanya bergiliran mati saban minggu karena kejangkitan HIV-AIDS dan narkoba, akibat kebebasan bablas itu. Para pembebas kaum perempuan itu tak acuh pada bencana menimpa bangsa karena asyik mendandani penampilan selebriti diri sendiri. Saya sangat heran. Sungguh memuakkan.

    Kalimat bersayap mereka adalah, “This is my body. I’ll do whatever I like with my body.” “Ini tubuhku. Aku akan lakukan apa saja yang aku suka dengan tubuhku ini.” Congkaknya luar biasa, seolah-olah tubuh mereka itu ciptaan mereka sendiri, padahal tubuh itu pinjaman kredit mencicil dari Tuhan, Cuma satu tingkat di atas sepeda motor Jepang dan Cina yang diobral di iklan koran-koran.

    Mereka tak ada urusan dengan Maha Produser Tubuh itu. Penganjur masyarakat permissif di mana pun juga, tidak suka Tuhan dilibatkan
    dalam urusan. Percuma bicara tentang moral dengan mereka. Dengan ringan nama Tuhan dipermainkan dalam karya. Situasi kita kini
    merupakan riak-riak gelombang dari jauh itu, dari abad 20 ke awal abad 21 ini, advokatornya dengan semangat dan stamina mirip anak-anak
    remaja bertopi beisbol yang selalu meniru membeo apa saja yang berasal dari Amerika Utara itu.

    Penutup

    Ciri kolektif seluruh komponen Gerakan Syahwat Merdeka ini adalah budaya malu yang telah kikis nyaris habis dari susunan syaraf pusat dan rohani mereka, dan tak adanya lagi penghormatan terhadap hak penggunaan kelamin orang lain yang disabet-dicopet- dikorupsi dengan entengnya. Tanpa memiliki hak penggunaan kelamin orang lain, maka sesungguhnya Gerakan Syahwat Merdeka adalah maling dan garong genitalia, berserikat dengan alkohol, nikotin dan narkoba, menjadi
    perantara kejahatan, mencecerkan HIV-AIDS, prostitusi dan aborsi, bersuluh bulan dan matahari.

  12. Wah Para tokoh Dunia Persilatan udah pada ngumpil rupanya…

    @ Mahendra :Iya, Itu termasuk Fave saya juga…

    @ Sandi : Beda Aliran gak mesti Beda Pandangan Kan ?

    @Ian : Wah..wah..wah…Panjang Amat Komennya Mas. Ini Komen terpanjang dalam sejarah perblogan…

    @Cozyrira89 : He..he..Maklum udah lama ga latihan Pak..

    @Nanoq : Selamat siang, Brunei…

    @ Prameswari :Ya jelas Beda Mbak…

    @ Hermawanov : Ga dijual lagi kayaknya, Di Google ada lho..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s