Wawancara dengan Randu, Penulis ‘Galuh Hati’

Wawancara dengan Randu, Penulis ‘Galuh Hati’.

Published in: on Maret 22, 2014 at 11:10 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Galuh Hati

Galuh Hati Oke

Published in: on Februari 27, 2014 at 4:58 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Dahlan Iskan: Antara Matt Damon dan Paul Walker

Image

      Entahlah, tapi sepertinya saya mengenal Dahlan Iskan sejak usia sekolah. 12 atau 13 tahun. Mungkin lebih atau sedikit kurang.  Masa-masa yang jauh tapi hanya seperti kerlipan mata saat ini. Waktu itu dunia belum begitu hiruk, uang koin masih lebih berat, limaratusan masih bergambar bunga, buah-buah masih belum semahal sekarang, dan apa yang diputuskan di televisi dan koran hari ini, tidak akan didemo  keesokan harinya.

       Setiap hari, loper koran mengantar Jawa Pos ke pesantren. Koran yang selalu saya  suka aroma kertasnya itu diselipkan ke dalam kaca jendela rumah kyai yang bersisian dengan asrama saya. Kadang-kadang saya melihat koran itu segera lenyap ditarik ke dalam oleh seseorang, mungkin istri pak kyai, anaknya, atau mungkin pak kyai sendiri.  Koran itu baru akan dikeluarkan dan diserahkan untuk ditempel di kaca koran setelah beberapa jam setelah kyai selesai membaca. Umumnya siang atau jelang sore. Kami membaca Jawa Pos dan sebuah koran lokal setempat.

Yang saya ingat, selalu ada banyak kepala di depan etalase koran.  Kami, para santri membaca koran berjejelan. Yang paling laku, tentu halaman kriminal, lalu artis, lalu sepak bola. Biasanya, selalu begitu urutannya. Tapi, sebelum ke sana, saya selalu suka membaca kolom Dahlan Iskan terlebih dahulu, setidaknya untuk saya sendiri.  Saya suka membacanya. Dahlan Iskan, seingat saya, dulunya   adalah seorang penulis yang baik.  Sekarang pun tetap begitu. Kecuali bahwa sekarang wartawan Jawa Pos itu kini sudah jadi orang besar, jadi Dirut PLN, lalu  menteri BUMN, dan menulis banyak hal-hal besar tentang tugasnya mengelola trilyunan uang aset negara ini.

Kadang-kadang,  saya merasa bahwa pilihan Dahlan Iskan untuk menjadi seorang pejabat negara adalah sebuah pilihan yang salah.  Untuk apa lagi? Dia telah kaya raya, dia punya ratusan perusahaan, dihormati ribuan karyawannya, punya mobil mewah dan helicopter. Baru-baru ini dia masuk dalam urutan orang terkaya di Indonesia.  Dengan kekuatan finansial itu dia bisa hidup tenang menikmati masa tua bersama cucu-cucu, menanam tomat, cabai, di pekarangan atau sesekali belajar main golf di Villa Serpong. Untuk apa, mencurahkan segala umur emasnya hanya demi cercaan dan ejekan karena harus menjadi publik figure?

Lalu tibalah masa saat saya mendengar Dahlan Iskan kini ingin jadi presiden.

Saya memikirkan banyak hal saat membaca berita Dahlan Iskan ikut konvensi Partai Demokrat. Benar-benar banyak hal. Presiden,  seperti yang selalu dikatakan Dahlan Iskan sendiri, adalah manusia seribu satu. Mungkin sejuta satu atau seratus juta satu. Seseorang yang benar-benar dikehendaki oleh semesta dan  secara tepat harus berada pada persilangan momentum dan tempat.  Dia harus mulai memikirkan  pencitraan, suara-suara teredam di balik meja dewan,  arah angin histeria. Dia juga harus punya persiapan, taktik, teknik,   pendanaan yang banyak.

Juga takdir.

***

       Saya pernah nonton sebuah film yang saat ini judulnya hanya samar-samar bagi saya. Itu film bagus yang dibintangi Matt Damon tentang seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi presiden Amerika. Dia mempunyai ambisi politik yang meluap –luap dan sedang  diatur oleh sebuah kekuatan konspirasional untuk meraih cita-citanya. Di usia muda, dia telah menjadi anggota kongres dan sedang dipersiapkan oleh takdir untuk menjadi manusia paling berkuasa di muka bumi. Dia jatuh cinta pada seorang wanita yang membuatnya terus berlari untuk menghindari takdirnya.

Saat menonton filem itu saya mengingat-ingat seberapa jauh  takdir  berpihak kepada Dahlan Iskan. Seberapa sering dia lolos dari maut?

Mengalami masa muda yang penuh kerja keras, Dahlan iskan mendapatkan sirosis di tubuhnya.  Dengan cepat, sirosis itu berubah menjadi kanker. Dokter telah mevonis hidupnya akan segera berakhir.  Kerusakan di tubuh dalam Dahlan Iskan sudah amat parah. Organ-organnya ditubuhnya menggelembung , limpanya membesar dan siap pecah kapan saja, livernya memburuk seperti daging panggang.

Secara teori, Dahlan Iskan sudah tak tertolong.

Tapi kemudian, di saat-saat kritis itu, Dahlan Iskan mendapatkan liver baru. Hati seorang pemuda yang meninggal karena kecelakaan. Kecocokannya disebut-sebut nyaris mustahil di dunia medis. Semua sel, jaringan, darah, begitu sesuai. Saat saya memikirkan tentang film –nya Matt Damon, saya memikirkan betapa takdir seperti telah mengatur tentang kematian seorang pemuda dan memberikan kehidupan  untuk seorang lain.

Beberapa tahun setelah itu, kematian mendekat dalam bentuknya yang lain: kecepatan. Mobil listrik Tuxuci yang disetiri Dahlan Iskan menabrak tebing di jalanan berbahaya.  Melihat  foto-foto yang diunggah di internet, rasanya seperti bertahun-tahun kemudian saat melihat foto mobil maut Paul Walker. Dahlan Iskan takkan selamat. Tiada yang selamat dalam kondisi yang seperti itu.  Tapi Dahlan Iskan keluar dari dalam mobil dengan hanya luka-luka gores kecil.

Saya selalu ingat ucapan bijak tentang kehidupan: Satu-satunya yang membuat kita masih bernafas sampai saat ini adalah tugas di kehidupan yang belum kita selesaikan.

Tugas  besar apa yang dipersiapkan untuk Dahlan Iskan?

***

      Saya tidak pernah bertemu Dahlan Iskan.  Tapi saya percaya kepadanya. Saya tidak tahu, apakah kepercayaan saya dibentuk oleh sesuatu yang sebenarnya remeh-temeh saja, mungkin karena Dahlan Iskan  adalah seorang yang jujur, pantang menyerah, pekerja keras. Lucu. Lugu. Atau mungkin karena dia penulis idola saya, atau hanya karena dia  lulusan pesantren tradisional seperti halnya saya.

Di pesantren kami diajari, bahwa dunia tidak seperti layaknya yang terlihat. Bahwa kadang-kadang pandangan bisa memperdaya. Dahlan Iskan dilahirkan dalam keadaan miskin dan saat dia menjadi begitu kaya, caranya memandang dunia ini tak pernah sekalipun berubah. Dengan cepat dia  melihat tembus bahwa suatu hari yang ditumpuknya saat ini akan ditinggalkannya.

Saya ingat pernah membaca bahwa kadang-kadang yang diinginkan Dahlan iskan hanyalah melupakan semuanya. Dia ingin menjadi seperti ayahnya, seorang petani yang cepat melupakan. Meninggalkan sesuatu di belakang.  Itu adalah filosofi hidup yang paling sufistik di kalangan pesantren. Saat seseorang sudah bisa mengatasi kenangan,  penyesalan , hasrat dan keinginan yang berkobar-kobar  atas dunia, maka tidak ada sesuatu yang bisa ditakutkan lagi.

Tidak juga kematian .

Atas dasar inilah, harusnya tidak sulit bagi siapapun memahami setiap tindakan Dahlan Iskan. Dia adalah menteri yang tidak pernah takut berkali-kali naik pesawat. Tidak takut mengebut. Tidak takut  gagal dan salah. Tidak takut DPR. Tidak takut pers. Tidak takut terjebak atau  dijebloskan ke penjara.  Tidak takut menjadi apapun, sekalgus tidak takut tidak menjadi siapapun.

Dan memang begitulah seorang muslim yang besar. Saat setiap langkahnya, setiap perkataan, setiap tindakan yang diambil tegak lurus hanya menghadap kepadaNya. Saya teringat kesaksian dari Zainal Muttakin, salah seorang sahabat Dahlan iskan yang mengatakan di tanah suci, Dahlan Iskan menjadi begitu mudah untuk menangis. Kerapkali dia bersembunyi dari pandangan sahabat-sahabtnya, dan dipergoki  berderai airmata saat berdoa di dekat kakbah.

Saya tidak pernah bertemu Dahlan Iskan.  Tidak pernah berbincang-bincang dengannya. Dan karena itu, bisa saja apa yang sampaikan di sini salah. Tapi ingat-ingatlah ini  : Suatu saat di Indonesia kita  mungkin telah memilih pemimpin yang santun dan merasa tertipu, dan kemudian kita memilih pemimpin yang merakyat dan masih tetap merasa tertipu.

Kalaupun  takdir memang telah memilih Dahlan Iskan,  apa yang dapat saya sampaikan hanyalah seperi apa yang dikatakan Zaenal Muttakien saat Dahlan diangkat menjadi Dirut PLN: Selamat bangsa Indonesia,  kalian telah memilih seorang yang menjadi panutan,  pemimpin yang tak pernah berhenti bekerja, guru yang tak pernah menggurui, sahabat yang takkan mau mengkhianati. ()

Published in: on Desember 25, 2013 at 4:46 am  Komentar (3)  

You Tired of Banjarbaru? You Tired of Love

     1013543_10200503231326457_245833732_n

       Di antara macam-macam nikmat yang diberikan Tuhan kepada kehidupan, saya harus bersyukur –Alhamdulillahirabbil Alamin – saya tinggal di Banjarbaru. Kota ini, jika bisa diibaratkan, adalah Verona di pertengahan abad kelima belas atau Herat pada pertengahan abad tujuh belas, tempat yang kata orang “Kau tidak bisa meluruskan kakimu tanpa menjejak bokong seorang pujangga”. Di Banjarbaru, perpustakaan selalu penuh, buku-buku sastra didiskusikan, poster seniman dipasang sejajar dengan baliho pejabat. Di kota seperti ini, puisi-puisi dibacakan di keteduhan atap kafe, diperbincangkan di bangku-bangku panjang dengan segelas latte, didebatkan dengan sama antusiasnya seperti menndebatkan skor sepakbola, gosip panas dan politik.

     Dari semua momen romantik yang selalu ditunggu di Banjarbaru tentulah Tadarus Puisi di bulan Ramadan. Kata “tadarus” untuk puisi hampir tidak terlalu tinggi jika mengerti bahwa kecintaan kepada puisi, kebanggaan untuk membacanya, setinggi intesitas pemujaan kepada Tuhan. Buku-buku puisi dan antologi menjadi kitab suci yang dideres, ditadaruskan, dikaji, sebagai salah satu sarana, metode pendekatan, kendaraan yang bisa mengangkat seorang hamba kepada Sang Khalik. Maka Tadarus puisi di bulan Ramadan di Banjarbaru adalah ibadah yang secara psikososial menjadi wajib hukumnya untuk dihadiri.

     Alhamdulillah lagi, saya berada di saf terdepan dalam majelis ilmu Tadarusan puisi itu bersama dengan para alim: Arifin Noor Hasby, Jamal Suryanata, Sainul Hermawan. Dua malam sebelum acara itu, saya sudah amat senewen karena tidak ada puisi yang bisa saya bikin meski saya telah mencoba dengan sekuat daya dan tenaga. Menyadari betapa cekaknya imajinasi saya, miskinnya intuisi dan kepekaan kata, serta betapa mengharukannya bakat saya di bidang ini, membuat saya akhirnya harus pasrah kembali membacakan puisi orang lain. Saya memilih sajak Istanbul yang Jauh-nya Acep Zamzam Noor dari kumpulan sajak-nya Di Atas Umbria yang sangat kuat itu. Saya menyalinnya dari internet, memprint dan kemudian menyisipkannya di saku celana saya sehari setelah akan pergi.

    Baru sampai di acara itu, saya ditodong panitia untuk mewakili harian Radar Banjarmasin memberikan sambutan. Saya ingat, saya berbicara dengan kacau, menyampaikan joke dengan amat garing, dan kemudian turun “dengan tanpa suara.” Sahabat saya Sandi Firly yang duduk bersama saya berbisik harusnya saya mengucapkan terima kasih di awal sambutan. “kau tidak ada bakat jadi pejabat,” katanya.

Tapi tentu saja, tidak ada yang peduli dengan pejabat di malam yang setiap orang bisa menyuarakan hati nuraninya sendiri. Saat sesi pembacaan puisi akhirnya dimulai, bergantian para sastrawan dan seniman membacakan sajak-sajak – kebanyakan adalah protes terhadap otoritas dan kemapanan – dengan suara lantang, interpretasi yang matang dan skill entertaining yang prima. Maka mengalirlah sajak –sajak dari Arsyad Indradi, Micki Hidayat, Zulfaisal Putra, Ibramsyah Barbary, Helwatin Najwa, Abdul Karim, Fahruraji Asmuni, Rudi Karno. Saya duduk di bangku depan dan cukup melihat dengan jelas bagaimana selain mereka, para sastrawan dan generasi semenjana naik dan menaklukan puisi dengan kualitas yang tak kalah mengesankan. Sorot mata mereka, penjiwaan, nada-nada ritmik dan kadang patah –patah tak terduga, memikat saya amat dalam. Muhammad Rizky, Rosiana, Imam Bukhori, Hadani, dan beberapa nama lagi yang saya akan cantumkan di sini andai saja saya bisa lebih mengingatnya dengan baik.

    Lalu di puncaknya, saat Abdurahman El Husaini naik dan kemudian berusaha merampok panggung dari Ali Syamsudin Arsy, kekaguman saya menemukan bentuknya. Di antara ekspresi puisi yang pernah saya lihat sepanjang umur saya, inilah ekspresi yang paling menggetarkan. Dua sastrawan fenomenal ini saling meneriakan sajak, melemparkan kata, bait dan nada,  membuat puisi adalah momen kekal yang mengurung mereka dalam sebuah koreografi paling agung dalam sejarah. Abdurrahman el Husaini dengan wajah yang basah dan Ali Syamsudi Arsy dengan mata terpejam mendaki larik demi larik puisi seperti saling bersekutu untuk menemukan klimaks dan keindahan. mereka seperti saling merangkul, saling merintihkan permohonan, meneriakan kerinduan.

      Saya hampir menangis meski kata teman-teman yang duduk di bangku saya sesungguhnya saya tertawa. Di puncak dari pendakian sufistik, saya tahu, puisi bisa membuat kita menangis sambil tertawa.

Diam-diam saya meremas kertas puisi saya.

***

     Tadarus Puisi telah memasuki tahun ke sepuluh. Selama satu dekade pementasan tahunan ini telah memberi nuansa bagi suasana Ramadan di Banjarbaru. Saya tahu, tak gampang mempertahankan sebuah acara selama itu, terlebih jika itu adalah acara nonprofit. Bidang-bidang kerja seni dan budaya adalah bidang kerja yang sunyi, tak diminati, dan jauh dari publikasi serta kucuran dana sponsor. Publik Banjarbaru harus mengapresiasi panitia tahunan acara ini yang tetap menggelarnya di sela-sela keterbatasan anggaran. Perlu berterima kasih kepada mereka yang tanpa dibayar tetap mau mempersiapkan undangan, kursi, panggung, sound sistem, melakukan ini itu demi acara ini. Juga kepada mereka yang datang jauh-jauh dari luar Banjarbaru dengan risiko tak ditonton – kita tahu Tadarus puisi tidak seperti gelaran tanglong yang betapapun dangkal dan destruktifnya, mendapatkan antusias massa dan limpahan dana, tetap dipertahankan dan digadang-gadang sebagai even nasional.

    Kata Sainul Hermawan, rasanya sudah ada perlu ada buku untuk memotret satu dekade penyelenggaraan Tadarus Puisi. Mungkin sejenis testimony, atau antologi puisi, catatan sejarah, apa saja, yang merekam perjalanan acara ini sejak digelar tahun 20o3 silam. Rasanya memang perlu. Yang menjadi pertanyaan tentu saja bagaimana membukukannya? Saat kami berdiskusi dalam suasana buka bersama di restoran Padang, ide sekecil membuat sebuah buku tiba-tiba menjadi amat rumit karena lagi-lagi ini acara dan proyek sastra.

    Ada juga ide dari pak Zulfaisal Putra untuk membuat acara ini sebagai roadshow tahunan dan karenanya tidak terpusat di Banjarbaru tetapi digelar di kota-kota lainnya di Kalsel. Belum ada konfirmasi apakah ide beliau bisa diwujudkan.

    Bagaimanapun, saya harus bersyukur, tinggal di Banjarbaru. Tidak pernah lelah tinggal di sini. Meski truk-truk terus melintas di jalanan membawa debu, pemukiman terus tumbuh dan jalan-jalan begitu cepat rusak. Hanya disinilah puisi dihayati seperti orang menghayati keindahan dan harapan.

 Never tired of Banjarbaru. Never Tired of Love.

Published in: on Agustus 1, 2013 at 2:34 am  Tinggalkan sebuah Komentar  

Pesantren, Kuch-kuch Hota Hai, dan The King Khan (1)

220px-Kuch_Kuch_Hota_Hai_DVD_Cover

SAYA tidak ingat kapan pertama kali menonton film India yang dibintangi oleh Shahrukh Khan. Di awal-awal tahun 90-an, The King Khan masih belum banyak mendapat perhatian saya. Film-filmya seperti Darr dan Bazigar , English Babu Desi Men, atau Deewana yang diproduksi di awal –awal karirnya baru beberapa tahun kemudian saya buru di rental Ariyadi Putra di Liang Anggang, tentu saja setelah saya menonton Kuch-kuch Hota Hai yang monumental itu.
Jauh sebelum Kuch-kuch Hota Hai merubah wajah perfiliman India, saya pernah membintangi lomba drama malam tujuhbelasan di pesantren. Mungkin sekitar tahun 1996-1997, atau sebelum itu, saya lupa. Waktu itu saya menjadi produser, koreografer, sutradara, sekaligus actor utama dalam drama Karan Arjun, film dengan genre India klasik tentang balas dendam dua bersaudara yang dibintangi Salman dan Shahrukh Khan. Saya menjadi Arjun (Shahruk Khan) dan seorang teman saya menjadi Karan (Salman khan).
Seingat saya, itulah drama pesantren yang paling berani yang pernah ditampilkan dalam sejarah pesantren. Lomba drama di pesantren tak jauh-jauh dari anak yang durhaka, ibu yang suka mengutuk anaknya, dan ayah pemabuk yang cepat sekali insyaf. Juga ustaz muda yang selalu dipaksakan berjanggut putih. Propertinya selalu ada tasbih, botol kecap yang secara kacau dilabeli dengan tulisan spidol “Malaga” dan gambar tengkorak dengan tulang bersilang, Serban putih dan darah dari tomat curah. Secara umum, lomba drama di pesantren waktu itu masih terinspirasi dari film-film WD Muchtar .
Maka ketika saya mengajukan ide untuk membuat drama mengadaptasi film India, semua teman meragukannya. Film India, walaupun cukup sukses kala itu, belum bisa membangun inspirasi yang sama yang pernah dibangun Rhoma Irama atau WD Muhtar. Apalagi sebagian besar teman saya belum pernah menonton Karan Arjun. Saya sengaja menyembunyikan ide utamanya, bahwa film ini sesungguhnya bercerita tentang ide transedental dalam konsep kehidupan Hindu, tentang Karma dan Reinkarnasi.
Tapi saya tak menyerah, saya menuliskan scenario film itu hampir detail hingga dialog-dialog dramatis antara Karan dan Arjun. Saya melatih beberapa santri Tazizi untuk menjadi Karan semasa kecil dan Arjun semasa kecil. Saya juga menunjuk seorang santri yang berbadan besar untuk menjadi Tuan Takur (Amrish Puri) dan beberapa teman lain sebagai figuran untuk berjoget dan menari.
Saya tak pernah akan melupakan malam itu. Kami masuk ke panggung utama dengan entry dari Le Ghayi, Asha Bosle dan berjoget seakan-akan berada di hamparan belukar dan bunga marigold di pedesaan India. Para juri yang terdiri dari kakak kelas, mualim dan seorang ustaz muda, benar-benar memicingkan mata, antara marah, kagum, dan tak tahu harus berbuat apa. Drama di pesantren Darul Ilmi kala itu, selalu didatangi banyak orang kampung di luar pesantren dan menghentikan drama kala sedang tampil, bukanlah tindakan yang bijak.
Tapi semakin durasi bergulir, drama itu berlangsung dengan amat memikat. Saya dan teman saya yang saling berpegangan tangan walaupun telah ditembak berkali-kali oleh Tuan Takur adalah bagian terbaiknya dari film itu. Kami merampas pistol Tuan Takur dan segera menembaknya dengan efek ledakan yang sudah dirancang sebelumnya. Sebelum semua pemain turun dari panggung, saat menundukan badan menghormat dewan juri, saya mendapatkan kilatan di mata-mata dewan juri: mereka terhibur.
Saya ingat, kami mendapat juara pertama karena drama India itu. Karan Arjun dipentaskan dua kali, dan pada pementasan terakhir, penonton dari kampung datang, bersama para santri mereka menyemut di bawah panggung.

***

Di akhir tahun 1998, Indonesia, khususnya Kalimantan Selatan mabuk Kuch-kuch Hota Hai. Sebuah ilustrasi di harian surat kabar lokal menggambarkan pasangan suami istri yang duduk di sofa menonton televisi sambil tak henti-hentinya memeras airmata mereka ke dalam sebuah ember. Bahkan kesedihan di film itu mengalahkan kecemasan akan kiamat yang saat itu diisukan akan terjadi di tahun 2000.
Saya termasuk orang yang sangat terlambat menonton Kuch-kuch Hota Hai. Saya hilir mudik ke rental Ariyadi Putra milik teman saya tapi kaset itu selalu hilang dari kotak “bestseller,” pertanda semua orang di Liang Anggang sedang bergantian meminjam. Saya hilang mood dan merasa bahwa sebenarnya sebagai penikmat film India sejati, orang-orang itu harusnya membiarkan saya dulu meminjam kaset itu.
Lama setelah itu, barulah saya bisa menonton film India terlaris sepanjang zaman itu. Saya melihat persepsi yang lain dari kebanyakan film-film yang dibintangi Shahrukh Khan yang selalu memerankan pemuda yang matanya selalu memancarkan dendam, menjadi seorang pemuda dengan keremajaan yang urakan dan pria romantis dengan wajah yang cepat sekali bersimbah airmata. Shahrukh Khan seperti mematahkan anggapan tentang dirinya yang selalu berada di bawah bayang-bayang para pemuda kekar dan berbadan besar yang selama ini selalu menjadi trademark film-film India. Sanjay Dutt, Anil Kapoor, Jacky Shroof, Mitun Chakraborti, Govinda adalah protogonis yang sempurna tetapi juga menyimpan sisi gelap dirinya sendiri. Dalam konteks ini, jauh sebelum Kuch-kuch Hota Hai, Shahrukh khan seperti selalu memainkan karakter-karakter aneh tentang psikopat, si gagu yang lugu, atau pemuda kaya imbisil yang selalu merayu wanita dengan berusaha mencium tengkuknya sambil mendesis-desis.
Setelah Kuch-kuch Hota Hai meledak, Industri film India seperti hanya mengenal satu jenis prototype: cinta yang megah dan wajah yang berlumur melankolia. Tidak ada yang paling cocok memerankannya selain pemuda keturunan Afganistan yang beristri orang hindu itu. (bersambung)

Published in: on Juli 21, 2013 at 7:19 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.