Raudah, Cinta dan Budaya

Di Madinah, senja dihadiri rembulan awal malam. Cahayanya jatuh lembut ke hamparan granit sedingin es, dinding kukuh berwarna gading yang berhiaskan ornamen -ornamen perunggu dan keemasan. Dari atas, dalam jalur cahaya keperakan, burung-burung kecil terbang cepat bersikejaran. Sesekali hinggap ke minaret yang menusuk langit, berpindah ke tiang -tiang kuncup, lalu terbang lagi, entah ke gerbang, entah ke puncak kubah berwarna zaitun. Dalam latarnya, cakrawala seperti lautan tanpa buih. Hawa dingin meruap dalam kilas-kilasan wewangian orang-orang yang berjubah hilir mudik di pelataran Masjid Nabawi. Waktu membeku dalam hembusan udara kering yang memecahkan bibir dan kulit, di akhir Februari yang dingin.

12790957_10205397158802972_3737608320338193800_n

Mungkin dari tempat semacam ini, cinta bisa dipahami. Melihat orang-orang yang keluar dari pintu Raudah, mengusap airmata kerinduan dengan serban yang terlilit di leher. Ada yang meraung, ada yang sekadar menutup mata tertatih-tatih meletakan sandal sambil kembali berbalik, menghadapkan tangan ke pusara orang suci itu. Di dalam, puluhan, ratusan, lebih banyak tangan-tangan mengembang terangkat, entah mengucapkan salam, entah sekadar mengabadikan dengan kamera. Di sepanjang pagar yang memisahkan tempat suci dari gelombang peziarah itu, petugas tanah haram, dengan gamis setinggi mata kaki dan tudung selendang hilir mudik mengusir para peziarah.

Saya suka duduk berlama-lama di sana memandangi para petugas bermata bening garang dengan janggut bergerumbul itu menepuk bahu orang-orang yang menangis. Sesekali mereka memungut wifik yang dilemparkan orang ke dalam pintu makam. Ada petugas yang meneriaki haram! haram!. Tapi ada juga yang menepuk lembut dan menasihati. Bahwa dilarang meminta doa ke kuburan. Bahwa Tuhan itu lebih dekat dari urat leher manusia. “Mintalah kepadaku, akan kukabulkan,” ucap salah satu petugas mengutip ayat suci. Kadang-kadang mereka didebat oleh para jemaah yang membandel, saling membuka dalil, saling bersumpah, wajah-wajah akan memerah karena emosi. Tapi yang lebih sering saya lihat, masing-masing berlalu dengan ucapan damai saling mendoakan.

Saya berusaha memahami, betapa tidak mudahnya bagi pemerintah Arab Saudi. Menjadi pelayan dua tanah suci, Makah dan Madinah, yang dikeramatkan ini mereka harus menghadapi semua aliran Islam yang datang dengan budaya masing-masing. Orang-orang dari negara dengan budaya sinkretisme yang tinggi, sepert India, Iran, Nigeria, dan Indonesia, datang untuk meratap, meletakan botol dan menulis wifik. Mereka memiliki keyakinan yang telah berakar selama ribuan tahun dari sesepuh ke sesepuh, ulama ke ulama.

Ajaran islam dengan doktrin Tauhid digetarkan dari sebuah gua, di sebuah desa kecil di semenanjung arab, lalu mengalir ke negara-negara di tepian laut merah, terus ke teluk persia, menyeberang ke bizantium lalu ke anak benua India, Asia selatan, hingga ke jalur perdagangan di asia tenggara. Ayat suci bukan hanya dimuratalka dari masjid-masjid berarsitektur Arab di Timur Tengah tapi juga bangunan-bangunan lempung di Afrika dan Mesir, pondok-pondok kubus di padang stepa Asia Tengah, hingga gubuk-gubuk para nelayan di negeri kepulauan Indonesia.

Islam bukan hanya datang sebagai jalan keselamatan, tetapi juga sepaket tata nilai, yang meliputi ekonomi, politik, dan budaya. Sebagai keyakinan, Islam barangkali telah luar biasa sukses dengan menguasai hampir separuh dunia, tetapi sebagai budaya, tidak ada penaklukan yang sederhana. Islam masih rumit karena bergumul- kelindan dengan banyak budaya yang telah menjadi tradisi sejak zaman pra islam. Islam menguasai negeri-negeri itu, tetapi mereka, dengan tradisinya yang rumit dan berlapis-lapis, turut memberi warna bagi perkembangan islam.

Anda bisa melihat debu dan darah pergumulannya setiap saat di media sosial. Di ruang yang memungkinkan orang berdebat tanpa bertemu, media sosial telah menjadi ajang yang menyuburkan para penista. Banyak di antaranya yang menuduh Haramain dengan alirannya yang fundamental tak memiliki ruang kreatif bagi imajinasi tentang agama dan keyakinan. Di Arab yang bermazhab Maliki dengan aliran pemerintah yang cenderung ke Wahabi, agama hanya “sesederhana” mengesakan Tuhan, salat, sedekah berpuasa di Ramadan, berzakat dan haji. Tidak ada tempat untuk mitos-mitos kepercayaan dan ritus-ritus para pebidah.

Untunglah.

Saya turut bersyukur untuk ini. Mungkin itulah hikmahnya Tuhan menurunkan agama di Arab dan mengijinkanya dikuasai para penganut Wahabi. Tidak ada yang paling keras, paling fanatik, paling radikal, nyaris tanpa kompromi, seperti orang yang menganut faham Wahabi.

Jika tidak, saya tak bisa membayangkan, betapa kacaunya beribadah di sini, karena Raudah, masjid Nabawi, Kakbah dan Masjidil Haram, penuh dengan bunga, bungkusan rajah, tarian dan jampi-jampi.()

Muhidin Sang Penantang Sejarah

Bahkan berhari-hari jelang puncak pesta demokrasi, hanya malaikat yang punya imajinasi, Muhidin bakal menang di Pilkada Gubernur Kalimantan Selatan. Pasti akan merepotkan, mungkin. Bakal membuat perbedaan? Bisa jadi. Tapi, menang? Melampaui perolehan suara Sahbirin Noor – Rudy Resnawan yang didukung oleh segenap infrastruktur dan kemegahan struktur politik? Kita semua tahu, dukun, orang gila, atau bandar judi paling nekat pun berpikir dua kali. Apalagi Rudy Resnawan masih di sini. Dia masih mencalonkan diri. Dan sebagai seorang yang selalu dicitrakan kompeten dan menawan, sejarah kerap berpihak kepadanya.

Tapi, banyak yang lupa bahwa menantang sejarah adalah nama tengah dari Muhidin. Publik Kalsel mungkin masih ingat saat dia maju menantang sang petahana di Pilkada Kota Banjarmasin 2010. Dalam pemilihan yang banyak dikenang sebagai “Pilkada paling tak mungkin” itu, Muhidin yang maju dengan M Irwan Ansyari menjungkalkan Yudhi Wahyuni dan meraih tahta tertinggi di pemerintahan kota Banjarmasin.

muh1Benarkah mantan guru olahraga itu sesakti itu? Apa rahasinya? Banyak yang mengatakan bahwa Muhidin menggunakan cara-cara curang dalam kampanyenya. Para pengamat di Koran-koran saat itu hampir kehilangan kata-kata sopan untuk menuduh dia “menghamburkan karung” untuk memikat pemilih. Muhidin dituduh melakukan money politic dengan uang yang sangat banyak, yang merubah peta politik grass root dalam satu malam. Sesuatu yang kemudian sepanjang pengetahuan saya, tidak pernah dibantahnya, tidak juga dibenarkannya.

Lima tahun menjabat sebagai walikota, masyarakat Banjarmasin dan bahkan Kalsel punya banyak waktu untuk berkenalan dengan mantan pengusaha batubara itu. Ternyata tak hanya punya uang, Muhidin punya keberanian untuk bertindak dan keyakinan untuk mengonfirmasi kebenaran tindakannya. Dua terakhir ini adalah bekal yang penting untuk memimpin di kota dengan penduduk padat dan ruang yang semrawut seperti Banjarmasin. Lebih dari itu, Muhidin punya sesuatu yang tidak pernah dimiliki oleh para pemimpin di Kalsel lainnya: selera humor yang tulus.

Kita masih ingat saat di HUT Kota Banjarmasin di awal pemerintahannya, dia mentahbiskan diri sebagai Baginda Raja di Banjarmasin. Sangat mungkin sebagai olok-olok untuk Gusti Khairul Saleh, bupati di kota tetangga yang saat itu sedang membangkitkan kesultanan Banjar dengan gelar Pangeran. “Sang baginda” menggelari gubernur Rudy Ariffin, sebagai “Raja Banua” dalam sebuah acara Mamanda yang penuh dengan gelak tawa. Muhidin memanggil para hulubalang raja, yaitu kepala dinas, untuk melaporkan kemajuan apa saja di nagari Banjar. Mereka yang dipanggil harus maju dengan dengan menari. Anda bisa membayangkan betapa ajaibnya para pejabat eselon II yang biasa mengembangkan kemempuan untuk menjaga wibawa, harus menari dengan menjelaskan program-programnya di depan khalayak luas.

Dalam kesempatan lain, Muhidin bisa bertindak di luar arus utama. Dia seperti seorang yang merdeka dari stigma dan norma. Di saat, pejabat lain memandang penting untuk terlihat sederhana dan tertib, Muhidin malah dengan santai masuk kantor mengendarai motor Harley Davidson-nya dan pengawalan Fortuner-nya. “Jangan dianggap saya pamer,” katanya saat itu.

Benar. Bahkan dalam balutan jaket kulit, sepatu koboi, serta kacamata hitam, H Muhidin tak bisa menyembunyikan dirinya.
Pria yang namanya similar dengan seorang pemain watak di sinetron Tukang Bubur Naik Haji ini, tak ingin menyesuaikan dengan pandangan ideal masyarakat tentang bagaimana harusnya seorang pemimpin. H Muhidin mengambil jalan lain dengan memaksakan apa adanya dirinya, sehingga publik Banjarmasin, mau tak mau, harus menerimanya.

Dan, sejauh ini, dia berhasil.

Undakan demi undakan dalam bisnis dan karir politik yang cemerlang hanya bisa didaki oleh orang-orang yang pintar membaca dinamika pasar dan arah angin histeria. Di Puncaknya, Muhidin berdiri dan melihat lapangan kurusetra yang lebih luas : pilgub. Tapi, dia butuh lebih dari sekadar keberuntungan dan dukungan. Muhidin butuh taktik yang tepat dan strategi yang matang. Waktu telah membuktikan bahwa langkah Muhidin menjauh dari partai politik adalah hal terjenius yang bisa dilakukannya. Alih-alih melamar partai yang tentu saja harus “meminyaki” pengurusnya dari cabang hingga pusat, Muhidin mengambil langkah tak popular: Maju melalui calon perseorangan.

Dan seperti setiap sesuatu yang dilakukannya dalam bisnis dan karirnya, Muhidin berhasil. Setahun setelah pesta demokrasi, kasak-kusuk borong partai terdengar. Di saat para calon kompetitornya sibuk dengan lobi-lobi yang “tak masuk akal” tentang harga “perahu”, Muhidin mempersiapkan berpikap-pikap KTP dukungan dari Hulu Sungai hingga Kotabaru, yang tentu saja, tak semahal harga satu partai. Muhidin seperti tidak memiliki konsultan politik yang kredibel dan metode yang dipakainya tidak terlalu canggih, tetapi pada akhirnya, dia tetap bisa bertahan dengan cara-cara yang sederhana.
Dia meluncurkan slogan yang mudah, berbahasa dengan retorika orang tuha, berdebat dengan sukacita, riang gembira dan penuh canda tawa. Dia bahkan terlalu malas untuk mengambil jatah kampanye yang disiapkan untuknya. Setiap langkah yang diambilnya seperti paradoks dari apa yang ditujunya, tetapi hngga masa akhir Seperti yang dikatakan Bruce Willis dalam perang Fire Sale di Film Die Hard 4: “Aku mungkin tidak pintar, tetapi hei, aku masih tetap hidup, right?”

Kini, Muhidin berada pada persilangan ekspektasi dan momentum yang tetap untuk mewujudkan ambisinya. Dia menjadi yang teratas versi Quick Count Metro TV dalam sebuah perhitungan yang menguras adrenalin. Laiknya drama, kalkulasi namanya merambat seperti demo antigravitasi kecil. Di menit-menit terakhir perhitungan, namanya hanya seperselisihan rambut dengan competitor terdekatnya: Sahbirin Noor – Rudy Resnawan yang tim suksesnya sempat berpesta kemenangan.

Drama sepertinya terjadi setiap detik dalam hidup Muhidin di hari-hari ini. Lapisan-lapisan terakhir dan terdalam dalam level keyakinan atas diri, strategi dan pengalamannya sendiri akan diuji. Hingga 19 Desember mendatang, mungkin dia akan sering membaca Koran, menyirap kabar, desas-desus, menerima telepon dan membaca pertanda, tetangar, isyarat, apa saja yang harus cepat diantisipasinya. Dia harus melakukan setiap sesuatunya dan bereaksi atas sesuatu secermat-cermatnya dan setepat-tepatnya. Ini bisa jadi pertarungan yang singkat atau pertempuran yang panjang dan melelahkan hingga sidang MK. Di luar dari kecurangan-kecurangan yang terjadi, baik yang mungkin dilakukannya atau mungkin dilakukan pesaingnya, politik, bagaimanapun, seperti sepak bola: hasil akhir adalah segalanya.

Surat untuk Urang banua

Kutulis surat ini untukmu Saudaraku Urang Banua. Ada kemungkinan aku tak mempedulikan bahwa kamu yang membaca ini berasal dari suku mana. Bagiku tak penting apakah kamu Banjar, Jawa, Bugis, Madura, Sunda. Yang benar bermakna bagiku – dan tentu saja bagi semua orang – adalah integritasmu untuk Banua. Identitas mereduksimu pada sekat-sekat kelompok yang membuatmu terkungkung oleh pemikiran, sikap, dan norma-norma budaya yang sempit. Sementara Integritasmu adalah pilihanmu sendiri yang diprasyarati oleh kecintaanmu, kerelaaan, dan perbuatanmu yang terus-menerus ikhlas untuk Banua.

Kutulis ini Saudaraku, bukankah Tuhamu tak pernah menyebut sukumu? Santri Martapura Tempo duluDia hanya memandangmu satu: Khalifah Fil Ardi atau Orang berintegritas di Bumi. Dengan kalimat itu, Tuhanmu bermaksud agar kamu membebaskan dirimu dari definisi-definisi sempit yang bisa menghalangimu dari kemungkinan-kemungkinan yang luas untuk saling berkenalan, peduli, dan menyayangi, sebagai bagian dari sifat-sifat Tuhan yang maha besar, maha kasih dan maha sayang.

Banua kita ini, saudaraku, adalah Banua yang sangat berketuhanan. Ini adalah tanah tempat Syekh Arsyad Al Banjari, ulama besar dunia dilahirkan, berjuang. Ini adalah Banua yang dicahayai oleh ulama-ulama yang welas asih, para penyebar agama Islam yang tangguh, lemah lembut, dan berintegritas. Pernahkah kau membacanya, dari semua itu, berikan padaku satu riwayat saja, saudaraku, apakah ulama-ulama kita menyebarkan ajaran untuk menjadi Urang Banua dalam konteks yang kira-kira, seperti yang banyak dikampanyekan sekarang ini?

Jika tidak, kenapa? Mungkin, karena ulama-ulama Banua dulu menganggap bahwa tidak ada kebanggaan menjadi Urang Banua tanpa memiliki integritas Banua, kearifan-kearifan local yang tersambung dengan nilai-nilai kebaikan religious yang universal.

Zaman berganti saudaraku. Waktu berlalu. Hubungan-hubungan mencair, atau malah membeku. Di masa ini, identitas hanya disebut dalam ingar-bingar budaya dan politik. Dalam kemandekan nalar tanpa adanya penuntun, identitas hanya selalu dimanfaatkan untuk mencapai sesuatu, banyak hal diantaranya: kekuasaan.

Kita pernah masuk pada suatu masa dimana orang-orang berkampanye dengan mengendarai histeria dan kefanatisan massal akan identitas dan gen. Aku bisa mengerti sikap kebanggaan ini dilandasi oleh rasa kepemilikan akan Banua sendiri yang sumber daya alamnya dirampok, kebanyakan oleh orang-orang bermodal di pusat kekuasaan di Negara ini. Benar. Dalam dunia yang semakin kapitalistik, mungkin relevan bagi kita untuk mengagulkan identitas. Hal ini semacam kebanggaan dan kepercayaan diri – atau pada gilirannya justru ketidakpercayaan, yang memungkinkan kita untuk terus ada dan bersuara, bangkit dan melawan hegemoni entah apa di luar sana.

Tapi, lihatlah apa yang tersisa untuk kita di Banua: sebuah ironi yang pahit. Kita akhirnya menyadari , yang lebih banyak merampok kita justru adalah para penguasa –penguasa lokal kita sendiri.

Ini adalah sebuah pola, saudaraku. Seperti juga, memasang baliho, memborong partai, menghalangi orang lain mencalonkan diri, mengangkat gubernur dua periode sebagai tim sukses – yang sebenarnya justru merendahkannya – juga adalah sebuah pola. Cara para pemilik modal untuk merampok Banua ini. Dalam pusaran kepusingan ini, kita tidak bisa melihat awan, melihat hutan, langit biru, karena kita terkungkung oleh kabut asap tebal yang menaburi pandangan-pandangan objektif kita akan bagaimana harusnya kita menjaga Banua ini, Banua tempat nenek moyang, para pendahulu, dan ulama-ulama kita yang jernih dilahirkan.

Karena itu, aku mengajakmu saudaraku, marilah kita memutus pola ini. Cukup sudah. Ada kalanya kita salah, tak mengapa, saudaraku. Tapi kita bukan keledai yang bisa jatuh dalam lubang sama. Aku selalu meyakini, jika identitas terletak pada persetujuan dan ambungan orang lain, itu bukanlah identitas. Burung-burung di udara, ikan-ikan di di laut, tak pernah menamai diri mereka sendiri. Mereka terbang lepas, dan berenang untuk membuktikan integritas mereka.

Di Banua, aku percaya, kita harus benar-benar bergerak, peduli, dan melakukan sesuatu, sekawa-kawanya, sekuat-kuatnya, untuk membuktikan diri, sebagai Asli Urang Banua.

Surat Kepada Pamanda Sahbirin Noor (Calon Gubernur Kalimantan Selatan)

Ini surat dari saya, keponakanda, Urang Banua yang mungkin gak akan pernah bisa menjadi gubernur. Keponakanda adalah satu dari tiga juta lebih keponakanmu yang terbentang dari Tanjung hingga Kotabaru. Kami Urang Banua kebanyakan yang masih kesusahan mengatur nasib kami sendiri. Puluhan tahun kami terantuk-antuk di jalanan, antre di POM bensin, mengutuk diknalpoti truk-truk debu, dikanai acil di warung-warung, dan sering kehabisan tisu untuk gosok akik. Sepertinya, kehabisan tisu untuk gosok akik telah menjadi nasib abadi kami hidup di Banua ini.Sahbirin Noor

Pamanda,

Mimpi menjadi gubernur bagi kami adalah mimpi yang nyaris olok-olokan. Kami tahu kami tak akan bisa menjadi gubernur. Keajaiban itu hanya bisa terjadi di dunia Pamanda, dunia politik. Dua tahun yang lalu, kami akan tertawa kalau disebut-sebut Pamanda akan menjadi Gubernur di Kalimantan Selatan. Di warung-warung, hanya ada empat orang yang biasa disebut-sebut, Bapak Rosehan, Bapak Rudy Resnawan, Pangeran Khairul Saleh dan Bapak Adriansyah.

Maafkan kami, jika waktu itu kami bahkan belum mengenal Pamanda. Baliho-baliho Pamanda baru beredar dalam setahun terakhir ini. Selebar apapun senyum Pamanda, kami belum tentu akan memilih. Kami lebih bisa meminandui empat nama yang telah lebih dulu populer. Kami berpikir, salah satu dari empat orang ini pasti akan menjadi Gubernur.

Lalu Pamanda datang, memesan teh, kue dan menjentikkan jari pamanda. Kami yang saat itu masih sedang menyulum Untuk dan Sari india terus ternganga sampai lalat bisa berwaterboom ria di mulut dan gigi kami, tepat ketika kami menyadari tidak ada dari nama-nama itu yang bisa menjadi Gubernur. Kami seperti ditempelak oleh nasib dan undi-undian kami sendiri. Pamanda mungkin bermaksud baik menyadarkan kami bahwa dalam dunia Pamanda saat ini tidak ada yang mustahil. Semua sesuatu bisa diselenggarakan. Bisa diadakan. Diwujudkan.

Orang-orang mengatakan Pamanda bisa jadi Gubernur lantaran Pamanda banyak uang. Pamanda didukung oleh pengusaha tambang. Mereka menjadi operator politik Pamanda yang akan mengantar Pamanda duduk di kursi Gubernur nantinya. Mereka mampu memborong begitu banyak partai dan adalah itu malapetaka?

Izinkan Keponakanda mengatakan tidak setuju dengan pandangan itu. Pengusaha tambang tidak sepenuhnya salah. Dari dulu, watak bisnis memang begitu.  Kejam, tak terbati, transaksional, kapitalistik dan ekspansional. Para pengusaha harus berekspansi ke dunia politik untuk mengamankan bisnis yang lebih besar.

Pamanda, di mana-manapun tempat di Indonesia ini, uang menghasilkan kekuasaan dan kekuasaan menghasilkan uang yang lebih banyak lagi.

Jadi, kalau ada yang harus disalahkan Pamanda, ialah Parpol-parpol dan anggota-anggota dewan kami yang duduk setelah kami mengangkatnya di atas kepala kami dan kemudian melacurkan kewajiban-kewajibannya kepada kami dengan menjebak dirinya sendiri kepada pilihan-pilihan pragmatis. Kami mendoakan mereka ini, Pamanda. Kami selalu memaafkan mereka setiap lima tahun sekali.

Ulama-ulama kami juga salah, Pamanda. Sebagai personal dan institusi yang otoritatif terhadap hajat sosial -spiritual Urang Banua, kebanyakan ulama-ulama kami lebih banyak merepotkan dibanding menuntun dan menenteramkan. Coba Pamanda, ulama itu mendukung si A karena telah dibantu pondok pesantrennya, ulama ini mendukung si B karena si B mau datang ke majelisnya. Ulama ono mendukung si C sesederhana melihat si C hadir di baliho dengan surban dan kopiah. Semuanya mengaku itu adalah pilihan yang mudah-mudahan barokah. Menurut Pamanda, kami harus bagaimana? Kami tak berani menolak karena takut nanti hidup kami tak barokah. Ya Tuhan, barokah- barokah ini membuat kami frustasi.

Yang salah juga adalah kaum intelektual dan cendekiawan kami. Mereka hadir di koran-koran dengan analisa yang mereka petik dari udara, secanggih-canggihnya untuk membuat terkesan para politisi. Nantinya, Pamanda bisa menduga sendiri, mereka kehilangan kejernihan. menjadi konsultan atau tim sukses orang-orang yang bahkan tidak lebih pintar dari mereka, menulikan diri sendiri dari realitas sosial, berdusta untuk menyenangkan orang yang membayar mereka, dan akhirnya tidak berpihak kepada kebenaran.

Padahal Pamanda tahu sendiri, kaum terpelajar dan akademisi bisa saja salah, tetapi tidak boleh berdusta.

LSM, Organisasi pemuda, organisasi kemasyarakatan, pers, mahasiswa juga bisa salah Pamanda. Mereka salah jika membiarkan Banua yang mereka cintai jatuh begitu saja ke tangan Gubernur yang berpihak ke pengusaha tambang. Dalam tatanan sosial kemasyarakatan kita, mereka adalah penarik katapel yang harusnya melontarkan batu -batu kritik ke bangunan kekuasaan sebagai fungsi kontrol sosial. Anak-anak muda Banua kita Pamanda, saat ini melontarkan batu angry bird di gadgetnya dan status-statusan jomblo di facebooknya. Padahal politik adalah sesuatu yang memungkinkan mereka masih bisa bikin status dan berbaris antre di Pizza HUT.

Jika semua mental dan perilaku kolektif ini akhirnya justru dipraktikkan oleh orang-orang yang harusnya memiliki integritas di antara kami, jangan salahkan Pamanda, jika kami akhirnya menjadi lebih salah lagi. Jika wakil rakyat, ulama, para intelektual, mahasiswa, LSM, pers, dan orang-orang yang seharusnya memberi kami contoh ternyata tidak peduli dan bahkan membiarkan kami menghadapi sunyinya nasib sebagai rakyat Banua, lalu apa yang bisa diharapkan dari kami para keponakanmu kebanyakan ini?

Jadi begitulah Pamanda, situasi kami saat ini, pada akhirnya kami harus mencari makan sendiri. Jadi, jangan salahkan kami jika nanti kami banyak memolitisi dan mengkapitalisasikan suara kami. Suram, pamanda, kami tahu. Banua ini mungkin akan hancur. Tapi, izinkan kami selalu, dalam kegelapan nasib kami sendiri, meraba-raba dan menggosok-gosok gelapnya akik kecubung kopi. Karena seperti yang keponakanda katakan, mungkin itulah takdir terbaik kami, lahir, hidup, tinggal, dan akhirnya mati di Banua ini.()

TTD

Keponakanda

Menanti Matahari

Getaran lembut di handphone. ‘Selamat Ulang tahun,” kata seseorang di wall saya. Saya teralihkan sebentar dari tayangan ulang Copa America. Mengingat tanggal. Azan subuh berkumandang katika saya membuka jendela. Angin dingin menelusup. Di ufuk, cahaya putih bunting dari malam yang gelap. Sesuatu akan terbit di sana. Matahari. Sebuah hari lagi, seperti ribuan hari lainnya, yang pernah saya lewati.

Ah! Selalu. Betapa ajaib waktu. Hari-hari mengalir deras dan membosankan, seperti tidak ada yang berubah. Tapi sejauh ini, saat melihat kembali ke belakang, betapa semuanya begitu jauh berbeda.

Saya ingat, pertama kali bermain, ingat pertama kali terhanyut dalam imajinasi, ingat pertama kali membaca, mengeja kata demi kata. Saya teringat, pertama kali yang bisa saya ingat saat turun ke jalan, berlari dan bermain. Tangan ayah di punggung mendeteksi keringat di kaos saya, membersihkan sela-sela kaki dengan air hangat saat saya jatuh tertidur sebelum sempat mencuci kaki.

Saya ingat, saat pertama kali naik bendi di jalanan Gorontalo dini hari. Aroma bau kotoran kuda kering dan rerumputan serta parit yang dikuras. Sebuah patung menunjuk ke utara, ke gunung-gunung tempat bunga-bunga berwarna merah dan ungu bergoyang-goyang. Ibu menyuruh saya sekolah.

Di punggung bukit, awan-awan menggelinding, menggulirkan siang dan malam. Cahaya dan kegelapan. Hidup. Selalu, tentang cerita-cerita kejayaan dan kejatuhan.

Saya ingat, pendar pelita di desa. Ranjang besi bertingkat dan dinding yang bisu menggambarkan keheningan sekaligus kesuraman. Ingat hari-hari panjang saat saya harus tidur sendirian, tinggal sendirian di rumah. Lagu bibi di sebelah menyenandungkan judul yang selalu ingat dengan baik, “Di bukit indah berbunga, kau mengajak aku ke sana…”

Lalu, saya ingat setiap jalan yang saya lewati ketika saya harus pergi. Ingat rasa kebas kaki saat mengarungi segalanya sendiri. Kota-kota yang telah saya lewati, bertahun-tahun dalam sunyi, setiap saat berpikir mungkin semuanya akan berubah jika saja sesuatu tak terjadi. Memikirkannya hampir setiap hari. Menyesalkannya. Berusaha berdamai dengannya.

Entah kenapa, serbuan kenangan begitu deras subuh ini. Ingatanmasa lalu berkelindan dengan keinginan dan kenyatan: apa yang ingin saya lupakan, apa yang ingin terus saya kenang. Hidup terus berjalan, dalam cara tententu, yang membatasi apa yang pernah diimpikan, apa yang akan terjadi, dan apa yang diharapkan di masa mendatang.

Di teras rumah, saya menunggu lama, pagi ini, untuk matahari. ()

 

(Kamis pagi, 25 Juni 2015)20150625_065114