Menanti Matahari

Getaran lembut di handphone. ‘Selamat Ulang tahun,” kata seseorang di wall saya. Saya teralihkan sebentar dari tayangan ulang Copa America. Mengingat tanggal. Azan subuh berkumandang katika saya membuka jendela. Angin dingin menelusup. Di ufuk, cahaya putih bunting dari malam yang gelap. Sesuatu akan terbit di sana. Matahari. Sebuah hari lagi, seperti ribuan hari lainnya, yang pernah saya lewati.

Ah! Selalu. Betapa ajaib waktu. Hari-hari mengalir deras dan membosankan, seperti tidak ada yang berubah. Tapi sejauh ini, saat melihat kembali ke belakang, betapa semuanya begitu jauh berbeda.

Saya ingat, pertama kali bermain, ingat pertama kali terhanyut dalam imajinasi, ingat pertama kali membaca, mengeja kata demi kata. Saya teringat, pertama kali yang bisa saya ingat saat turun ke jalan, berlari dan bermain. Tangan ayah di punggung mendeteksi keringat di kaos saya, membersihkan sela-sela kaki dengan air hangat saat saya jatuh tertidur sebelum sempat mencuci kaki.

Saya ingat, saat pertama kali naik bendi di jalanan Gorontalo dini hari. Aroma bau kotoran kuda kering dan rerumputan serta parit yang dikuras. Sebuah patung menunjuk ke utara, ke gunung-gunung tempat bunga-bunga berwarna merah dan ungu bergoyang-goyang. Ibu menyuruh saya sekolah.

Di punggung bukit, awan-awan menggelinding, menggulirkan siang dan malam. Cahaya dan kegelapan. Hidup. Selalu, tentang cerita-cerita kejayaan dan kejatuhan.

Saya ingat, pendar pelita di desa. Ranjang besi bertingkat dan dinding yang bisu menggambarkan keheningan sekaligus kesuraman. Ingat hari-hari panjang saat saya harus tidur sendirian, tinggal sendirian di rumah. Lagu bibi di sebelah menyenandungkan judul yang selalu ingat dengan baik, “Di bukit indah berbunga, kau mengajak aku ke sana…”

Lalu, saya ingat setiap jalan yang saya lewati ketika saya harus pergi. Ingat rasa kebas kaki saat mengarungi segalanya sendiri. Kota-kota yang telah saya lewati, bertahun-tahun dalam sunyi, setiap saat berpikir mungkin semuanya akan berubah jika saja sesuatu tak terjadi. Memikirkannya hampir setiap hari. Menyesalkannya. Berusaha berdamai dengannya.

Entah kenapa, serbuan kenangan begitu deras subuh ini. Ingatanmasa lalu berkelindan dengan keinginan dan kenyatan: apa yang ingin saya lupakan, apa yang ingin terus saya kenang. Hidup terus berjalan, dalam cara tententu, yang membatasi apa yang pernah diimpikan, apa yang akan terjadi, dan apa yang diharapkan di masa mendatang.

Di teras rumah, saya menunggu lama, pagi ini, untuk matahari. ()

 

(Kamis pagi, 25 Juni 2015)20150625_065114

Dahlan Iskan dan Mekanisme Antivirus

Dahlan-IskanGelombang dukungan kepada Dahlan Iskan dalam hari-hari terakhir ini adalah suatu fenomena. Tak kurang dari pengamat politik, anggota dewan, pejabat Negara, mahasiswa, LSM, ulama, aktivis, sastrawan, jurnalis, buzzer, dan banyak profesi lain, “mengamuk” melalui corongnya masing-masing. Untuk pertamakalinya dalam sejarah penegakan hukum kita, seorang tersangka dibela, bukan oleh pasukan nasi bungkus dan model-model bayaran, tetapi sungguh-sungguh oleh hampir seluruh wajah yang muncul dari lapis-lapis struktur masyarakat kita.

Saya terkagum-kagum dengan fenomena ini. Meski juga sebenarnya tidak begitu kaget. Boleh dikatakan saya percaya masih banyak orang yang bernalar sehat di Indonesia. Adapun mengenai segelintir sisanya yang menyambut ketetapan tersangka ini dengan gembira, saya juga telah meramalkan akan begitu. Hari ini, kemewahan adalah mendapati semua yang terjadi, tepat dengan ramalan Anda. Kita tahu bersama, beberapa waktu lalu seorang presiden terpilih karena kesalahan orang banyak dalam meramalkan sesuatu.

Dukungan yang datang bersamaan dengan luapan energi yang menguatkan ini bukan saja memberi tekanan agar Kejaksaan kembali harus mereview kembali kasus ini dan membebaskan Dahlan Iskan, tetapi juga memberi perspektif baru tentang penegakan hukum di negeri ini. Saya harus repot-repot mencari perumpamaan yang tepat untuk hal-hal yang formil dulu, sebelum kemudian melompat lagi ke sesuatu yang besar setelah melihat suatu pola tertentu, misalnya: Ada hubungan apa dijegalnya Dahlan Iskan dengan Pemilu Presiden 2019?

Oke, perumpamaannya dulu.

Bagi Anda yang memiliki laptop pasti pernah uring-uringan karena laptop Anda diserang virus. Awalnya, Anda tidak begitu memperhatikan karena tidak begitu menganggu. Anda masih bisa mengetik dan nonton film. tetapi worm itu rutin menggandakan dirinya terus dan lama kelamaan mengelayuti sistem. Anda terus membiarkannya sampai suatu saat Anda tidak bisa membuka laporan perusahaan Anda atau koleksi film Anda menjadi 3gp semuanya. Anda terkena virus dan Anda menyadarinya. Anda bingung dan marah.

Karena muntab, Anda ingin sekaligus membunuh virus ini hingga ke cucu-cicitnya. Kalau bisa membuat semua virus ini menderita. Anda mencari antivirus yang memiliki pola algoritma yang canggih. Anda memasangnya dan aha! Semua file Anda kembali. Tapi lama kelamaan, Anda menyadari ada sesuatu yang salah. Game Anda suka berhenti di tegah jalan, sound film tidak terdengar, dan belakangan Anda juga menyadari tidak bisa menjalankan program maintenance.

Antivirus Anda yang baru mencegat semua program-proram baik yang diluncurkan.

Anda akhirnya tidak bisa leluasa berkomputer. Tidak bisa menginstall program baru karena Antivirus akan mendeteksinya sebagai program yang dijalankan dengan illegal. Anda aman tetapi tidak kemana-mana. Antivirus itu sepenuhnya membunuh semua aspek dari kreativitas Anda.
Saya pikir, mungkin beginilah gambaran tentang kasus Dahlan Iskan.

Laptop bisa diibaratkan Negara. Sistem operasi adalah sistem pemerintahan, konstitusi serta Undang-Undang dan peraturan yang memungkinkan pemerintah menjalankan Negara. Korupsi adalah virus yang harus kita tanggulangi bersama agar tidak merusak sistem bernegara kita. Karena itu, kita membutuhkan UU antikorupsi. Masalahnya adalah pasal-pasalnya ditulis secara ketat oleh para para programmer yang tidak memiliki visi akan kenyamanan berkomputer. Entah karena obsesi pribadi, mereka menulis script antivirus yang membuat bahkan malaikat harus memiringkan sedikit sayapnya atau hantu harus menjelma antimateri. Algoritmanya terlalu kaku. Hampir mustahil program atau seseorang yang kreatif bisa melewati semua itu tanpa membuat alarmnya “berdering” – dan kemudian terdentifikasi sebagai “Suspect.”

Oh tapi, kata seseorang pengamat, tidaklah sesederhana itu. Dalam sistem ini jangan melakukan pendekatan personal tetapi harus dengan pendekatan prosedural dan sistemik, tertib birokrasi, dan taat protap. Pendekatan personal selalu menyisakan masalah. Baik masalah birokrasi, administrasi, ataupun masalah hukum.

Tentu saja. Saya sudah meramalkan akan ada suara seperti itu. Untuk mereka ini jawabannya adalah: Tunggu saja. Sistemnya nanti akan berubah untuk Anda atau laptop Anda memperbaiki dirinya sendiri.

Dengan pola pikir seperti ini, saya mulai meramal lagi: masa depan Indonesia tidak akan ke mana-mana. Semua anak bangsa yang memiliki niat baik, komitmen, integritas dan kapabilitas, tidak akan banyak berguna bagi bangsa ini. Mereka akan terdeteksi di setiap ceruk-ceruk sistem sebagai program yang illegal. Yang bakal tersisa dan lolos scanning nanti adalah para medioker: punya kapasitas, tidak punya integritas. Punya integritas, tidak bisa apa-apa. Bisa melakukan apa-apa, tapi tidak berani menabrak sistem. Berani menabrak sistem, tapi tidak punya niat baik.

Semuanya akan serba tanggung.

Perumpamaannya sudah, sekarang saya mulai menulis lompatannya. Saya melihat pola-pola politis yang tak biasa dan aaaaaaah….*

*Saya teridentifikasi sebagai virus. ()

Dahlan Iskan dan Ilmu Memilih Batu

1800038_10201387382881080_321684314_o

Saya berada di sebuah sentra perbelanjaan di pusat kota Banjarmasin saat berita itu muncul di timeline jejaring sosial saya: Dahlan Iskan jadi Tersangka. Saya tertegun. Lalu keluar ruangan karena entah mengapa, udara dingin di dalam tetap membuat saya berkeringat.

Yang pertama kali teringat adalah ucapan Emha Ainun Nadjib di Youtube yang pernah saya tonton beberapa hari lalu. “Bangsa Indonesia ini,” kata Cak Nun, “ Gak bisa membedakan mana permata mana kerikil.” Bangsa ini punya kebiasaan membuang permata. Sementara kerikil disepuh-sepuh sedemikian rupa, melalui pelbagai macam teknik pemberitaan, hingga kemudian orang percaya bahwa itu adalah permata.

Entahlah, tapi kayaknya Emha benar.

Ketidakpaham yang berujung pada kekeliruan “cara memilah batu” ini barangkali menjadi periode gelap Indonesia saat ini. Orang –orang di manapun bisa mengambil kerikil di jalanan misalnya, lalu kemudian mengasahnnya menjadi akik yang mencuri perhatian makelar, memiliki sedikit harga di pasar kabupaten, lalu terus digosok, diminyaki, dipoles-poles hingga mengkilap, lalu dibawa ke Jakarta, dan akhirnya media massa membuatnya menjadi akik yang paling dicari dan ditawar. Di puncaknya, semua orang menahbiskanya sebagai akik favorit Indonesia.

Padahal cuma kerikil.

Lalu di situ ada permata. Permata yang benar-benar permata, bukan sepuhan, bukan sintetis. Intan yang mempunyai karakteristik konstan: bersinar di manapun dia berada. Dia tidak harus membuktikan dirinya permata, misalnya dengan digosok kain, diolesi minyak Zaitun, atau, sebagaimana yang dilakukan penjual batu-batu akik murahan di pinggir jalanan dekat pasar Ulin sana: direndam air kelapa muda.

Dahlan permata, bahkan jika dipenjara sekalipun.

Karena itu, saya, pada akhirnya setelah pulang dari mall tadi, tidak begitu mengkhawatirkan lagi nasib Dahlan Iskan. Jika dia akhirnya benar-benar dipenjara, lalu apa? Bagaimanapun, saya saya memprediksi dia tidak akan menjadi akik ataupun kerikil yang merintih-rintih. Dia akan tetap bersinar, membagikan spiritnyamelalui tulisan-tulisan di jejaring media massa miliknya: bukan untuk membuktikan dia tidak bersalah ( terlalu dangkal untuk itu), tetapi untuk menghidupkan keyakinan semua rakyat Indonesia, lagi dan lagi, bahwa selalu ada harapan. Seperti Manufacturing Hope yang dia cetuskan untuk menyentakkan kesinisan kita akan negeri kita sendiri. Bagi Dahlan Iskan tak peduli semuram apapun, segelap apapun, sehancur apapun, selalu ada harapan untuk memperbaiki negeri yang saya tahu, amat, amat, sangat, dia cintai ini.

Bagian sedihnya adalah tidak ada satu orang pun di negeri ini yang diberikan kesempatan memperbaiki bangsa tanpa dipeluangi kemungkinan untuk menjadi tersangka.

Sementara itu, saya, anda, dan kita semua mungkin masih akan terus mengumpulkan kerikil dalam banyak, banyaaakk tahun di depan ini. (@randualamsyah)

 

Kisah Sedih Anak Pesantren

Originally posted on BILIK SUNYI RANDU ALAMSYAH:

Sejak bertahun-tahun, cerita  tentangnya selalu berkelindan di benak saya. Selentingan kabar yang menguar selalu sama: Ia masih di sana, hidup di sebuah gubuk yang dibangun masyarakat,  mencuci bajunya sendiri, memasak sendiri, berbagi ilmu ke masyarakat pesisir, menjadi khatib masjid untuk jemaah yang hanya puluhan orang, mengajari anak-anak baca tulis huruf arab.

Disana, di kepaulauan Banggai,  ia berjuang sendirian. Mengajarkan hukum-hukum agama  jauh dari tempat kelahirannya. Sejak lulus dari pesantren sepuluh tahun lalu, jalan itu adalah jalan yang dipilihnya dengan segenap kesadaran. Ia hanya mengenal dunia ini sebagai pemberhentian dan sebisa mungkin berbagi hal-hal yang bermanfaat ke manusia lainnya. Beberapa tahun ini, keraguan berkecamuk di batinnya. Ia harus mengongkosi dirinya sendiri karena tiba-tiba disadarinya, tak ada orang yang akan membayarinya untuk ilmu-ilmu agama yang diajarkannya, tidak juga departemen agama.

10612553_277729099097114_3381905854627597760_n

Minggu kemarin, ia  pulang dari kepulauan Banggai. Ransel yang dibawanya masih ransel yang sama saat berangkat. Tak ada barang mencolok apapun yang…

View original 367 kata lagi

Tamu Pertama dalam Puluhan Kesunyian Natal

Meski dilahirkan dan mengalami masa kecil yang menyenangkan di Manado – daerah yang kebanyakan penduduknya adalah umat kristiani –dan sekolah di sekolah Kristen, saya tidak begitu banyak bersinggungan dengan hari Natal. Atau mungkin juga pernah, tapi saya tidak ingat. Bagi saya sebagai orang Islam, Natal hanya seperti hari-hari biasa. Kalau pun ada yang saya senangi dari Hari Natal, hanyalah bahwa pada hari itu sekolah libur. Jadi saya bisa main sepanjang hari.

Jika lelah bermain, kadang-kadang kami dipanggil oleh orangtua teman –teman saya. Diberi gula-gula, coklat, dan buku gambar. Di sore hari, Ibunya Conny, salah seorang teman saya, mendongengkan buku bergambar cerita tentang para nabi. Kadang-kadang saya masih bisa mendengar suara lembutnya saat menirukan sabda dari raja Sulaiman atau Musa yang membelah laut merah. Yang juga saya perhatikan adalah nama-nama Nabi di dalam buku itu, memiliki nama yang mirip-mirip dengan nabi-nabi dalam Islam. Yosep untuk Yusuf. Abraham untuk Ibrahim. Jacob untuk Yakub. Noah untuk Nuh.

Saya mencurigai mereka adalah orang yang sama.

Kelak, saya baru mengetahui bahwa kecurigaan saya benar. Sampai waktu itu, saya masih memahami bahwa baik Islam ataupun Kristen memiliki banyak kesamaan. Kami memiliki nabi –nabi yang sama, percaya kepada dosa dan pembalasan, surga dan neraka. Kami bahkan memiliki Tuhan yang namanya sangat mirip. Saya bertuhan Allah dan teman-teman saya bertuhan Allloh.

Teman-teman saya tidak pernah menyinggung soal agama kecuali itu dalam olok-olok yang aman. Kami pernah menertawai salah seorang teman yang memiliki dua agama di rumahnya, Islam dan Kristen. Dia akan ikut ayahnya ke masjid di Hari Jumat, dan ikut ibunya ke Gereja di Hari Minggu. Kami menyebutnya Krislam. Dan saat mengatakan itu kami tertawa terbahak-bahak. Tapi, hanya sebatas itu. Di luar dari perbedaan keyakinan, kami berteman tanpa takut-takut.

Tentu saja, orangtua teman saya segera menjauhkan daging babi jika saya bermain ke rumah mereka. Saya menandai kode mereka untuk Daging Babi dengan menyebut Ba’. Misalnya, “Taruh Ba’ itu di lemari.” Atau “Hati-hati Ba’ itu, ada teman-teman Richard datang.” Bersama saya yang tidak makan babi juga ada teman-teman lain dari kristiani juga, tapi dari aliran yang lain. Mungkin Advent. Mereka juga tidak makan babi.

Saya menyukai pelajaran agama, mungkin karena itulah saya akhirnya berniat untuk bersekolah pesantren. Selepas sekolah dasar, saya menghabiskan waktu enam tahun di pesantren di Banjarmasin, dan segera setelah itu, kenangan bersama teman-teman kristiani saya segera menyatu dalam bingkai masa kecil. Kadang-kadang saya mengingatnya, lebih sering tidak.

Di pesantren kami diajari bahwa jalan keselamatan adalah Islam. Itu sudah termaktub dalam Alquran. Kitab suci mengatakan “Bagimu Agamamu, dan bagi kami agama kami”. Kami menghapal rukun-rukun dan belajar hadits tentang keutamaan agama Islam. Siapapun yang memeluk suatu agama, pasti meyakini bahwa agama yang diyakininya adalah yang paling benar dan agama yang lain adalah sesat. Saya belajar banyak perbedaan di pesantren. Antara Islam dan Kristen memiliki perbedaan akidah yang sangat jelas.

Saya merampungkan enam tahun pesantren saya dan kemudian belajar sambil mengajar di pesantren di Luwuk Banggai. Setahun di sana, saya kemudian mondok lagi di dua pesantren sekaligus di Kediri, Pesantren Kencong dan Tahfidzul Quran. Jeda sebelum itu, saya kuliah di STAIN Sultan Amai di Gorontalo (tidak lulus). Saya tinggal dan juga ikut belajar di Pesantren Al Huda. Saya bangga memiliki banyak guru, bangga belajar dari mereka, meskipun pelajaran paling saya ingat justru berasal dari pengalaman sehari-hari yang saya temui.

Di Tahun 2006, saya pernah tinggal di Ombolu, sebuah desa Transmigran di Luwuk Banggai. Desa ini dibangun para pendatang yang berasal dari Bali dan Lombok. Mereka membangun Pura dan Masjid. Jika hari suci Umat Hindu tiba, saya yang tinggal di keluarga orang Bali Islam, ikut mendapatkan kue-kue dan kerupuk. Saya hanya makan sedikit. Inya, nenek petani tempat saya tinggal biasanya menerima pemberian itu dan kemudian membuangnya. Saya sempat ketar-ketir saat suatu kali dia membuangnya tepat saat orang itu menutup pintu.

Saya ingin menanyakan, “apakah mereka tidak marah?”. Tapi segera saya terpikir bahwa barangkali tetangga-tetangga kami dari Hindu juga melakukan hal yang sama. Meskipun demikian, Umat Islan dan Hindu tetap hidup rukun. Tetap saling “rewang” ketika membangun rumah, berkebun, dan menimbun jalan. Agama adalah sesuatu yang rumit.

Di Malam Natal tahun 2006, Saya diajak oleh teman saya, Syamsu Nazarul Adam (namanya pernah saya jadikan tokoh dalam novel pertama saya) untuk bertamu ke rumah satu-satunya umat kristiani di desa itu. Kami berjalan menyusuri jalan setapak perkebunan yang gelap. Selagi itu, saya bertanya kepada Syamsu, kenapa mereka tinggal di kebun? Syamsu mengatakan dulunya mereka sebenarnya adalah muslim. Seorang misionaris kemudian datang dan membujuk mereka untuk memeluk agama Kristen dengan diiming-imingi untuk diberi “sesuatu.” Mereka menerimanya dan akhirnya menjadi murtad dari Agama Islam. Mungkin akhirnya pilihan itu membuat mereka unik dan akhirnya harus menyepi tinggal di kebun.

“Apakah tidak apa-apa kalau kita mengunjungi mereka?” ucap saya ragu. “Nanti bapakmu marah?” Bapaknya Syamsu adalah seorang imam masjid desa.

“Tidak,” kata Syamsu. “Bapak tidak akan tahu,”

Kami tiba di gubuk yang hanya berpenerangan petromaks itu. Dua orang pemeluk Kristen itu ternyata adalah sepasang suami istri yang sudah lanjut usia. Mungkin sekitar 50 atau 60-an. Saya pernah tinggal di Manado, jadi tahu dengan perayaan natal yang gemerlap, penuh nyanyian, pohon natal, sinterklas, dan kado. Tapi saya melihat betapa sederhananya perayaan hari raya pasangan tua itu. Satu-satunya tanda bahwa mereka sedang merayakan sesuatu adalah dua buah kaleng kue dan sebotol Cocacola. Mereka terkejut ketika kami datang. Tak menduga bahwa akhirnya ada tamu yang datang di malam natal. Kami saling bertukar kabar tentang harga kakao. Dia juga menanyakan apakah Pak Imam, ayahnya Syamsu, baik-baik saja?

Syamsu mengatakan baik-baik saja.

Kami melewatkan malam hingga larut, makan kue  dan minum cola. Mereka terus menahan kami saat akan pergi. Kepada kami, sang nenek mengatakan bahwa kami adalah tamu pertama mereka dalam puluhan tahun natal yang mereka rayakan di kebun itu.

Saya mau menangis.

foto:internet

foto:internet

Dalam dunia yang semakin bising dengan pertentangan, konflik-konflik antar agama mudah meruncing, kebencian ditembakkan atas dasar kebenaran agama masing-masing. Api perang tersulut. Begitu mudahnya seseorang menuduh seseorang sesat hanya karena dia salah dalam bersikap atau pun berkomentar di media social. Orang-orang tak tahan untuk tidak memproklamirkan kebenaran relatif keyakinan mereka.

Agama adalah sesuatu yang sunyi, menurut saya. Di pesantren kami diajari, islam akan berjarak dengan Kristen, hindu, Budha, dll. Tidak ada sesuatu yang bisa menyatukan itu. Tidak ada. Tidak juga konsep pluralisme, dll. Debat antar agama adalah debat yang tidak produktif karena keyakinan bukanlah sesuatu yang bisa diperdebatkan. Debat membutuhkan pengetahuan, keyakinan adalah masalah perasaan, pengalaman, dan kecenderungan hati.

Dalam hiruk-pikiknya dunia sekarang, saya percaya, orang-orang harus melihat jauh melampaui semua status-status di media social, grup-grup kebencian yang memuntahkan makian kepada orang –orang yang berbeda pandangan dan keyakinan, jauh melampaui artikel-artikel di situs-situs agama, jauh melampaui berita-berita politik yang sumir yang menyeret kita pada debat kusir yang melelahkan.

Di malam natal tahun 2006, Syamsu mengajari saya bahwa tidak ada yang bisa kami lakukan untuk membuat agama kami terlihat benar dan kakek tua itu salah karena telah murtad. Tidak ada yang bisa kami perbuat dengan itu. Kami juga tidak tahu apakah apa yang kami perbuat – merayakan natal bersama pasangan tua itu – adalah salah. Yang bisa kami lakukan  dengan benar hanyalah usaha sederhana untuk menemani kesunyian hidup sesama manusia. Menghibur mereka. Melipur kesusahan. Memasukan kegembiraan di hati mereka. Harapan. Bahwa mungkin saja, Tuhan akan berbuat yang paling adil kepada mereka.

Sekarang, delapan tahun berselang sejak meninggalkan gubuk kecil di tengah ladang itu, saya termenung saat Jalaludin Rumi menujumkan ramalan kepada saya melalui puisi indahnya di abad ke-13 :

“Jauh melampaui benar dan salah, ada sebuah ladang: kutemui kau disana.”