Kejutan dari Pembaca Luarbiasa

Tadinya, saya telah berjanji dengan Sandi Firly untuk bangun cepat pagi ini. Ada acara di perpustakaan di Banjarmasin yg menghadirkan seorang pesohor di media nasional. Tapi seperti biasa, saya selalu bisa mengulur-ulur waktu tidur dan akhirnya dengan usaha yg berat bisa bangun lumayan pagi: pukul 09.00.

Saya menghidupkan handphone dan mendengarkan nada mekanisnya dan dengan mood yang baik melihat notif dan pesan-pesan yg masuk. Lalu tercenung lama ketika melihat pesan di whatsapp. Saya agak kurang berani membukanya tapi juga penasaran.

Intinya: saya mendapatkan kejutan dari seorang pembaca Novel Liberty pagi ini. Seorang pembaca yang luar biasa sebenarnya: Pak Dahlan Iskan. Beliau memuji novel itu dan juga memberikan catatan. Juga kritik.

Saya tak tahu mau menjawab apa. Tik tok tik tok. Waktu berjalan. Saya sudah terlambat tapi terus berdiri di sana ragu.18527631_10208533321445078_4222897469955560168_n

Tentu saja, saya tahu Pak Dahlan memang seorang penggemar sastra. Dia membaca cerpen dan novel dari penulis Indonesia dan luar negeri. Saat beliau memenangi telak konvensi Partai Demokrat beberapa waktu lalu, saya mendapat firasat untuk pertamakalinya sejak Pak Karno, Indonesia akan mendapatkan presiden seorang pecinta buku dan sastra. Benar-benar seorang pembaca dan bukan hanya seorang yg berpose dengan buku di gramedia lalu menulis: ayo biasakan gemar membaca!

Saya membayangkan Pak Dahlan akan mendiskusikan Dostoyevsky dengan Putin di jeda minum teh kenegaraan atau mendiskusikan sajak-sajak Pablo Neruda bersama Presiden Chile, Bachelet dalam perbincangan beranda. Seorang presiden, harusnya memang bisa menulis karena dengan begitu dia bisa terlatih menangkap ide-ide yg liar dan kabur dan menuangkan dengan bahasa yg jernih dan sistematis. Lagi pula dia tak akan membuat repot biro humas istana untuk menuliskan sesuatu untuknya. Adalah sebuah tragedi menurut saya jika sebuah visi salah ditangkap oleh tukang tulis atau lebih parah lagi ide -ide tukang tulis istana dijadikan visi negara. Kenapa gak sekalian kira menyerahkan kepemimpinan negara ke biro humas?

Tapi, itu mimpi yg lampau. Sekarang lain cerita. Kita bukan saja tidak mendapatkan presiden seorang pembaca tapi juga mulai memiliki kecenderungan untuk mempidanakan mereka hanya karena mereka tergoda ingin mewujudkan ide dari apa -apa yg dibacanya.

Dahlan dan Cinta yang Berbalas Tangan Hukum

Pak Dahlan Iskan divonis 2 tahun. Dua tahun untuk semua yang dilakukannya bagi negeri ini.

Negara ini tak pernah memberi apa-apa kepada Dahlan Iskan. Dia tidak seperti banyak anak bangsa yg disekolahkan dan mendapat beasiswa ke luar negeri dan pulang-pulang mengantre kemapanan, alih-alih membangun negeri.
Dia terlahir dengan kemiskinan ekstrem. Kondisi yang siapapun bisa memikirkan bahwa pendidikan adalah kemewahan dan bukanlah hak asasi. Tapi, dia bisa bangkit tanpa terjebak melankolia menjadi orang susah, memperjuangkan pendidikan, melihat sesuatu dari sudut yang semata-mata positif, mempelajari apa saja dengan riang gembira.

Dahlan Iskan yg saya suka adalah manusia pembelajar. Dia suka belajar apa saja dan mengekspos dirinya sendiri ke macam-macam tantangan. Manusia tipe A yang tidak setiap saat bisa kamu temui dalam zamanmu. Dia adalah mesin pompa harapan. Mata air inspirasi yang tidak pernah kering. Dia memiliki kualitas yang langka: mengubah besi menjadi emas.

Saat terbaring di sebuah rumah sakit di Tiongkok karena sakit parah yg dideritanya, dia mengubah brankarnya menjadi kursi belajar, yg dari sana dia bisa mendatangkan guru bahasa. Dia mungkin menteri dalam cabinet pemerintahan lalu dan bakal calon presiden yang tamatan Aliyah yang menguasai banyak bahasa dunia: Arab, Inggris, Tiongkok…

Sepulangnya dari negeri itu, dia mendapatkan kehidupan keduanya yang memberinya kekuatan dan pencerahan bahwa hidupharuslah bermanfaat untuk bangsa dan negara. Saat dia diminta untuk mengabdi, dia menyanggupinya dengan kepatuhan dan kekuatan nyaris seperti kuda pacu. Dia bekerja hingga larut malam dan memulai hari lebih pagi dari pejabat manapun di republik ini. Dia mengejar pesawat siang, sore dan malam untuk bisa hadir ke tempat –tempat tugasnya, berjalan kaki menembus hutan-hutan di Papua, berjalan kaki di savana Bima, mendaki gunung-gunung di Sumatera dan Jawa, menginap di mana saja dia bisa diterima, memuji apapun makanan tuan rumah yang dihidangkan untuknya, tidur di tempat manapun dia bisa tertidur.

Dia merintis mobil listrik. Membiayai dari kantongnya sendiri. Menggaji para pembuatnya dari gaji menterinya. Dia melakukan pengujian sendiri, yang membuat nyawanya nyaris melayang, tapa membuatnya kapok untuk melakukanya lagi karena menurutnya inilah teknologi mobil di masa depan yang harus dimiliki Indonesia.18056711_10208337340985689_3428689292125591096_n

Demi Indonesia. Semuanya dilakukannya demi negerinya.

Tapi semua itu sia-sia. Cinta Dahlan Iskan kepada negaranya adalah cinta, yang bukan saja bertepuk sebelah tangan, tetapi berbalas tangan hukum. Dia diperkarakan, para enginer mobil listriknya ditangkap, kelak, bertahun-tahun kemudian apa yang dikatakannya benar. Thailand kini telah menasbihkan diri sebagai pusat pengembangan mobil listrik di Asia Tenggara.

Adapun Dahlan Iskan seperti dijebloskan ke dalam sebuah taman permainan hukum yang tidak pernah ada akhirnya. Selesai mobil, dia dijegal dengan pembangkit listrik, di sana sudah menunggu kasus sawah fiktif, sebelum itu, dia harus melewati terowongan kasus-kasus di kotanya: Pelepasan aset PT PWU perusahaan BUMD Pemprov Jatim, dll. Tak penting apapun kasusnya, asalkan bisa menjeratnya. Asalkan bisa membuat dia tidak aktif hingga Pilpres 2019 mendatang.

Kemarin, dia divonis 2 tahun penjara. Untuk kasus yang setiap orang Indonesia, asalkan balig dan berakal, tahu bahwa itu semata-mata penjegalan.

Melihat Pak Dahlan duduk dengan di kursi pesakitan dan mendengarkan vonis yang dijatuhkan kepadanya membuat saya memikirkan nasib setiap orang yang tulus di negeri ini. Dua tahun vonis. Setelah semua yang dilakukannya bagi negara ini, setelah semua iktikad baik, perjuangan, ketahanan untuk selalu berpihak kepada orang banyak dan kesepian pengorbanannya, setelah semua tetes keringat, harta, curah pikiran dan nyawa, yang sedianya setahu saya bisa diberikannya kapan saja negeri ini memint: negara akhirnya memlasa dengan memberi penderitaan di hari tuanya.

Novel Lambung Mangkurat dan Kemalasan

Suatu hari di awal tahun 2016, saya bersama Sandi Firly berada di ruang baca Sainul Hermawan. Seperti biasanya kami bergunjing tentang banyak sekali topik, mulai dari bidang yang menjadi minat kami, sastra – , politik, bahasa dan sejarah. Lalu Sainul, kritikus sastra dan dosen di Universitas Lambung Mangkurat menantang saya: Kenapa tidak membuat novel tentang sejarah Lambung Mangkurat?

Saya tertegun. Saya akui, saya sudah lama tergoda untuk menulis novel Lambung Mangkurat. Ada banyak sekali pertimbangan dan satu yang agak personal: karena tahun 2015 dan 2016 adalah tahun yang sangat santai. Saya bisa tidur seharian dan tak menulis apapun selain status facebook dan kadang-kadang menjadi kolumnis gadungan di Koran. Dalam standard kemalasan yang normal, saya harusnya sudah lama terlempar dari jajaran mereka yang disebut penulis (baik yang produktif, maupun yang tidak). Bahkan, jika pun ada yayasan yang menganugerahkan award sebagai penulis paling malas di Indonesia, saya mungkin tak akan mengambil awardnya – saya terlalu malas.

Untunglah, meski setahun tak menulis novel, ada juga naskah saya yang terbit di tahun itu. Sebuah novel semi autobiografi saya berjudul Beranda Angin. Meski tak mencapai apa yang disebut para penjual buku sebagai sebagai best-seller, penjualannya lumayan karena ludes di beberapa toko buku. Tentu saja, di Kalimantan.

Lalu apa? Saya tidak memiliki naskah lagi. Dan, jika ingin bertahan di dunia kepenulisan yang keras-keras manja ini, saya harus bangkit dan mulai menulis. Kemalasan ini harus dilawan dengan sesuatu yang agak radikal, jika boleh dikatakan saya harus bangkit dengan menggarap penulisan naskah novel yang tak biasa. Saat mendengar Sainul Hermawan mengharapkan saya untuk menulis Lambung Mangkurat, saya mulai bersemangat.

Sayangnya untuk menjadi penulis, semangat saja tidak cukup. Kita juga ternyata harus menulis. Segera setelah kembali dari rumah itu, saya dengan cepat melupakan tekad untuk menulis tentang Lambung Mangkurat dan segera kembali ke siklus tidur, kerja-fesbukan, jalan-jalan, yang meski meresahkan, tetapi selalu nyaman.

Nanti, setelah Nisrina Lubis dari penerbit Diva Press menawarkan saya sebuah proyek penulisan novel budaya di akhir tahun itu, gairah saya menulis terpantik kembali. Saya mengajukan naskah yang mustahil itu dengan beberapa alasan yang akan saya jelaskan. Dan, penerbit setuju.
Mereka memberikan saya waktu enam bulan. Sangat longgar sebenarnya. Saya mengira, saya bisa menyelesaikan naskah Lambung Mangkurat setidaknya dalam empat bulan saja.

Tapi, ada sesuatu yang mengiringi setiap sesumbar saya. Sesuatu bernama ketakutan. Saya takut, saya tak akan bisa menuliskan Lambung Mangkurat. Secara teknis, ini naskah yang berat. Setahu saya tak ada yang pernah menuliskannya kecuali hanya sepintas-sepintas. Sekilas di sini, sedikit di sana. Tapi, tak ada gambaran utuh tentang siapa sebenarnya Lambung Mangkurat?

Lambung Mangkurat adalah jarum yang patah dalam tapak waktu sejarah Banjar. Sosoknya melayang-layan di langit mitos dan realitas dan tetap menghantui para peminat sejarah Banjar hingga saat ini. Banyak yang mempercayai bahwa Lambung Mangkurat tak pernah benar-benar ada, meski hal ini tentu saja akan menjadi lucu karena sudah terlanjur banyak tempat, atau jalan, yang memakai namanya. Universitas paling tua di Kalimantan bahkan meminjam namanya: Universitas Lambung Mangkurat.

Kalau memang ada, siapa dia? Kontroversi yang mengiringi kehadirannya dalam sejarah Banjar tak lebih jelas dari sikap dan kebijakan politiknya. Dalam beberapa referensi yang saya baca, dia adalah seorang mahapatih, anak dari pendiri Negara Dipa dan telah membawa Kerajaan itu melalui waktu-waktu tersulit. Dalam perbicangan di kalangan tertentu, dia justru adalah penjahat dan gembong yang tega melakukan kekejaman apapun, bahkan membunuh keluarganya sendiri.

Umumnya, mereka yang ingin mengkaji tentang Lambung Mangkurat harus membaca Hikayat Banjar dan Kotawaringin dalam kajian filologi Johannes Jacobus Ras yang juga terbagi dalam dua resensi yang membingungkan: I dan II. Ada perbedaan yang sangat mencolok dalam dua resensi ini dan penyimpangan-penyimpangan antara satu dengan yang lain membuat saya sakit kepala.

Kelak, saya juga membaca Tutur Candi karya sastra kuno yag dipinjamkan sahabat saya Aliansyah Jumbawuya. Agak sulit karena ceritanya kental dengan dunia yang dibentuk oleh kesaktian tokoh-tokohnya. Saya tak ingin cerita ini menjadi sebuah legenda rakyat. Saya ingin menulis novel.

Mungkin jawaban mengapa Lambung Mangkurat begitu sulit dipahami, karena tradisi oral dalam masyarakat Banjar begitu dominan. Kisah-kisah bersambung dari generasi ke generasi dan menyebar dari mulut ke mulut. Masyarakat punya kecenderungan kagum kepada sosok tertentu yang kemudian dilekatkan dengan kemampuan adikodrati, ada yang mengendarai buih, bertapa menaklukan naga, terbang dan menikah dengan peri di kahyangan…. Dalam masyarakat seperti itu, mitos selalu mengambilalih setiap fakta dan kebenaran yang tersisa selalu lebih membingungkan: Mengapa ada Iskandar Zulkarnain dan Nabi Haidir dalam sebuah kerajaan Hindu-Banjar? Kenapa bahkan saat mengawini putri-putri itu, mereka tak menyebarkan islam saja?

Karena itu, tidak heran dalam tiga bulan pertama saya mandek di bab-bab awal. Setiap malam, usai kerja, saya membuka komputer dan sembari menatap langit-langit berharap hantu Lambung Mangkurat bisa terperangkap di dalam layar Microsoft word. Saya tertidur dengan ketakutansemakin berlipat.

Dua bulan jelang deadline, saya baru mulai intens menuliskannya setelah meyakini bahwa saya tak bisa menyajikannya dengan sempurna. Pendekatan saya adalah alter-history, genre yang setahu saya masih jarang dalam penulisan fiksi sejarah. Di luar negeri, genre ini dipakai Robert Harris dalam Father Land -nya. Saya berharap, bisa melepaskan beban menulis sejarah sekaligus bisa melenggang bebas dari kejaran para sejarawan yang menuntut kebenaran faktual dari kisah ini.

Jadi, demikianlah, pada hari yang gelap di awal April kemarin, Microsoft word saya save, laptop saya tutup. Aneh sekali, saat menyadari dengung dari mesin itu telah terhenti. Seperti biasa, usai menyelesaikan naskah, saya segera tenggelam dalam depresi.

Tapi, dalam sehari, menikmati sedikit penghiburan bersama teman-teman, makan mie, mendengarkan musik, saya mulai rindu pada Lambung Mangkurat, pada Dulur, pada Putri Junjung Buih, pada Patmaraga, pada Sukmaraga, pada Gajah Mada, dan beberapa tokoh lain. Mereka telah menemani saya selama beberapa bulan ini, menjadi sosok yang nyata, yang memiliki kelebihan, kelemahan, yang melakukan pengorbanan, yang memiliki ambisi, memendam sakit hati, mendambakan kerinduan, penerimaan, dan juga cinta.

Saya berharap karya ini bisa diterima sebagaimana sebuah cerita adanya. Murni cerita. Sainul Hermawan mengatakan dulu kepada saya: “Kisah ini mungkin bukan sejarah tetapi setidaknya akan membuat generasi kita akan lebih penasaran dan kemudian mulai membaca kembali sejarahnya sendiri.”()

Negara Dipa, 1938 di Tahun Saka

Randu Alamsyah

Amat

Namanya Amat. Dia adalah satu-satunya yang saya kenal, yang saat ini masih terus tidur di emperan masjid At-Taqwa, Klandasan, Balikpapan. Orang – orang di pasar Klandasan atau sekitarnya pasti mengenal Amat. Dia tak punya rumah, tak punya pekerjaan tetap, tak punya anak dan istri. Lebih dari itu, sejauh yang saya tahu – dan kadang-kadang saya bayangkan – dia bahkan mungkin tak punya masa muda.

Saya mengenal lelaki ini di tahun 2003. Dengan enteng, seperti sudah biasa melihat anak-anak yang bermasalah, yang bingung dalam pencarian jati diri, atau kabur dari rumah karena persoalan keluarga, dia menawari saya untuk tidur saja di emperan masjid At-Taqwa. Dulu sebelum masjid itu semegah sekarang, ada tujuh tangga sebelum pintu masjid. Di setiap undakan itu, ada setidaknya satu gelandangan yang tidur. Amat menghuni tangga paling atas. Tidur beratap langit luas dan beralas koran yang dia baca atau kardus yang siangnya dipakai untuk markir di pasar klandasan. Kedinginan. Digigit nyamuk.

Saya tidur di sana malam itu, dan selama setidaknya dua tahun kemudian. Selain Amat, saya mengenal beberapa gelandangan, pengemis dan pemulung yang juga tidur di sana. Ada Padang, Daeng, Yudi, Banjar, Palembang (ya, kebanyakan kami saling memanggil dengan nama kampung). Amat memanggil saya Lando, karena lidahnya agak pelo.

Di malam hari, kami berbagi nasi, rokok, prediksi nomor togel, juga pengalaman seharian untuk terus bertahan hidup di jalanan Balikpapan. Saya mengenal lebih jauh sifat dan kecenderungan mereka. Apa yang mereka takuti, apa yang mereka sesali, dan juga, kalau ada, apa yg mereka impikan. Ternyata cuma sekadar bisa makan hari ini dan kena tembakan dua angka togel.

Para gelandangan di tangga masjid sudah terlatih untuk menyederhanakan kebahagiaan. Amat juga begitu. Dia nyaris tak punya keinginan. Dia adalah orang paling pesimis yg pernah saya kenal. Jangan ceramahi dia tentang motivasi dan keajaiban mimpi, blablabla. Waktu itu Mario teguh masih belum tayang. Saya gak tahu, apa yang mengantarkannya sampai di tangga masjid At-Taqwa. Kami tak pernah saling bertanya penyebab. Mungkin memang tak perlu. Mungkin beberapa hal memang tak perlu diketahui.

Cuma di malam-malam yg dingin, saat bintang-bintang menaburi langit di atas masjid Attaqwa, Amat bersama Daeng, salah seorang teman yg lain, suka bertanya apa yang akan saya lakukan dalam hidup ini. Saya katakan mungkin kelak saya akan menulis buku. Amat tahu, saya suka menghabiskan waktu di perpustakaan dan berjalan kaki setiap hari ke gramedia di Plaza Balikpapan. Tapi mengatakan padanya saya ingin menjadi penulis seperti mengatakan seseorang bisa jitu menembak tembakan empat angka togel empat puluh hari berturut-turut.

Amat cuma dengan gaya biasanya. Mendehem. Hmmm..hhmmm..

Malam ini, saya ke masjid Attaqwa dan melihat masjid itu tak seperti 13 tahun lalu. Tak ada lagi tangga. Tak ada lagi gelandangan. Menyusuri jalan di pagar kiri masjid, saya menemui seseorang yg duduk di bawah kegelapan pohon. Saya mengenali Amat, meski dia sudah tidak mengenali saya lagi. Saya mendekatinya.

“Mat!” saya memanggil.

Dia mengamati wajah saya dekat-dekat, meski saya rasa saya lah yg berusaha mengamatinya lagi. Rambutnya telah memutih. Wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya yg baru 47 tahun. “Lando, iya, iya, ingat, ingat,” katanya kemudian.

Bagaimana Amat bisa mengingat saya hampir seperti mukjizat jika mendengar ceritanya tentang sakitnya. Amat lima kali dibawa ke rumah sakit jiwa di Samarinda. Setiap tahun, penyakitnya selalu kambuh. Tapi dia tak pernah lama di rumah sakit jiwa. Sebulan atau dua bulan. “makan tidur dijamin, tapi bosan,” katanya.

“Semoga tidak lagi,” katanya. Saya dengan tulus mengaminkan.Dalam beberapa tahun terakhir, Amat ingin sekali pulang ke Jawa (dia orang Jember) tetapi selalu ditolak keluarganya.

“Ya, aku sadar diri aja, keluargaku takut sakitku kambuh.”

Mendengarnya mengatakan itu dengan nada ringan, membuat saya sedikit tercekat.

Saya dengan congkak, mengajak Amat makan di resto, tapi dia tertawa sinis. Amat masih tetap Amat. Dia menggandeng saya ke warung makan legendaris kami. Warung termurah di Balikpapan. Kami biasa menyebutnya warung rembo. Dulu warung itu disebut begitu karena orang yg makan di sana seperti para prajurit yg telah menanti ransum berhari-hari. Para buruh dan pekerja di pasar bisa saling comot lauk dari rantang di sampingnya seperti serdadu yg saling lempar granat. Saling incar kelemahan di gundukan nasi masing-masing. Menabuk lubang untuk menyembunyikan lauk, dan memutar tutup kerupuk terengah-engah seperti membuka katup tank. Semua disajikan seperti medan puputan: Tahu dan tempe, peyek dan sambal, ikan dan pecel, gangan dan sayur yg langsung disiram di atas gunungan nasi.

Kini warung rembo, sudah menyajikan lalapan. Juga sudah lebih tertata. Tapi harganya tetap paling murah sebalikpapan.

Baru jam 9 malam. Usai makan, saya mengajaknya ke gramedia. Saya mengatakan ingin memperlihatkan sesuatu. Dia manut saja. Di jalan, saya mengatakan telah mengarang novel yg menceritakan semua ttang kehidupan kami di tangga masjid.
Saya mengetik novel saya di computer toko dan ada setidaknya tiga buku yg keluar. Seorang penjaga membawakan buku itu. Beranda Angin. Novel baru saya.

Amat tak pernah berhenti bertanya begitu kami keluar gramedia. Dia menanyakan apakah semuanya saya tulis. ‘Ya,” jawab saya. “Semuanya.” Saya memperlihatkan namanya. Nama teman-temannya. Teman-teman kami. Dia berjanji akan membacanya siang hari. Dia menderita rabun.

Di escalator, untuk pertama kali, saya mendengar optimisme dalam nada suaranya. “Aku merinding, Lando,” katanya.

Kami berpisah malam itu. Saya berjanji akan mendatanginya kembali pagi ini. Mungkin membayar banyak hal tentang tahun-tahun yg pernah kami lewati, sedikit menertawakan hidup dengan gaya khas Amat. Di bawah jembatan penyeberangan ke hotel tempat saya menginap di menara bahtera, dia meneriakkan sesuatu yg tertelan suara bising lalulintas. Sesuatu tentang nasib. Saya tak bisa lagi mendengarnya.

Dari atas jembatan, saya berhenti. melihat ke sosok Amat, berjalan sambil sesekali membuka-buka buku itu. Orang-orang melewatinya dari arah seberang. Amat terus melangkah melawan arus, sebagaimana caranya menjalani hidup. Saya berharap Beranda Angin bisa memberinya sedikit kegembiraan. Sekadar setitik keriangan dalam kesepian hidupnya. Mungkin seperti apa yg dia katakan di saat kami bertemu tadi: terima kasih. Aku bangga betul, Lando.

Sama-sama, Mat.
Sama-sama.14102307_10206553762837350_1791079259883428842_n

Raudah, Cinta dan Budaya

Di Madinah, senja dihadiri rembulan awal malam. Cahayanya jatuh lembut ke hamparan granit sedingin es, dinding kukuh berwarna gading yang berhiaskan ornamen -ornamen perunggu dan keemasan. Dari atas, dalam jalur cahaya keperakan, burung-burung kecil terbang cepat bersikejaran. Sesekali hinggap ke minaret yang menusuk langit, berpindah ke tiang -tiang kuncup, lalu terbang lagi, entah ke gerbang, entah ke puncak kubah berwarna zaitun. Dalam latarnya, cakrawala seperti lautan tanpa buih. Hawa dingin meruap dalam kilas-kilasan wewangian orang-orang yang berjubah hilir mudik di pelataran Masjid Nabawi. Waktu membeku dalam hembusan udara kering yang memecahkan bibir dan kulit, di akhir Februari yang dingin.

12790957_10205397158802972_3737608320338193800_n

Mungkin dari tempat semacam ini, cinta bisa dipahami. Melihat orang-orang yang keluar dari pintu Raudah, mengusap airmata kerinduan dengan serban yang terlilit di leher. Ada yang meraung, ada yang sekadar menutup mata tertatih-tatih meletakan sandal sambil kembali berbalik, menghadapkan tangan ke pusara orang suci itu. Di dalam, puluhan, ratusan, lebih banyak tangan-tangan mengembang terangkat, entah mengucapkan salam, entah sekadar mengabadikan dengan kamera. Di sepanjang pagar yang memisahkan tempat suci dari gelombang peziarah itu, petugas tanah haram, dengan gamis setinggi mata kaki dan tudung selendang hilir mudik mengusir para peziarah.

Saya suka duduk berlama-lama di sana memandangi para petugas bermata bening garang dengan janggut bergerumbul itu menepuk bahu orang-orang yang menangis. Sesekali mereka memungut wifik yang dilemparkan orang ke dalam pintu makam. Ada petugas yang meneriaki haram! haram!. Tapi ada juga yang menepuk lembut dan menasihati. Bahwa dilarang meminta doa ke kuburan. Bahwa Tuhan itu lebih dekat dari urat leher manusia. “Mintalah kepadaku, akan kukabulkan,” ucap salah satu petugas mengutip ayat suci. Kadang-kadang mereka didebat oleh para jemaah yang membandel, saling membuka dalil, saling bersumpah, wajah-wajah akan memerah karena emosi. Tapi yang lebih sering saya lihat, masing-masing berlalu dengan ucapan damai saling mendoakan.

Saya berusaha memahami, betapa tidak mudahnya bagi pemerintah Arab Saudi. Menjadi pelayan dua tanah suci, Makah dan Madinah, yang dikeramatkan ini mereka harus menghadapi semua aliran Islam yang datang dengan budaya masing-masing. Orang-orang dari negara dengan budaya sinkretisme yang tinggi, sepert India, Iran, Nigeria, dan Indonesia, datang untuk meratap, meletakan botol dan menulis wifik. Mereka memiliki keyakinan yang telah berakar selama ribuan tahun dari sesepuh ke sesepuh, ulama ke ulama.

Ajaran islam dengan doktrin Tauhid digetarkan dari sebuah gua, di sebuah desa kecil di semenanjung arab, lalu mengalir ke negara-negara di tepian laut merah, terus ke teluk persia, menyeberang ke bizantium lalu ke anak benua India, Asia selatan, hingga ke jalur perdagangan di asia tenggara. Ayat suci bukan hanya dimuratalka dari masjid-masjid berarsitektur Arab di Timur Tengah tapi juga bangunan-bangunan lempung di Afrika dan Mesir, pondok-pondok kubus di padang stepa Asia Tengah, hingga gubuk-gubuk para nelayan di negeri kepulauan Indonesia.

Islam bukan hanya datang sebagai jalan keselamatan, tetapi juga sepaket tata nilai, yang meliputi ekonomi, politik, dan budaya. Sebagai keyakinan, Islam barangkali telah luar biasa sukses dengan menguasai hampir separuh dunia, tetapi sebagai budaya, tidak ada penaklukan yang sederhana. Islam masih rumit karena bergumul- kelindan dengan banyak budaya yang telah menjadi tradisi sejak zaman pra islam. Islam menguasai negeri-negeri itu, tetapi mereka, dengan tradisinya yang rumit dan berlapis-lapis, turut memberi warna bagi perkembangan islam.

Anda bisa melihat debu dan darah pergumulannya setiap saat di media sosial. Di ruang yang memungkinkan orang berdebat tanpa bertemu, media sosial telah menjadi ajang yang menyuburkan para penista. Banyak di antaranya yang menuduh Haramain dengan alirannya yang fundamental tak memiliki ruang kreatif bagi imajinasi tentang agama dan keyakinan. Di Arab yang bermazhab Maliki dengan aliran pemerintah yang cenderung ke Wahabi, agama hanya “sesederhana” mengesakan Tuhan, salat, sedekah berpuasa di Ramadan, berzakat dan haji. Tidak ada tempat untuk mitos-mitos kepercayaan dan ritus-ritus para pebidah.

Untunglah.

Saya turut bersyukur untuk ini. Mungkin itulah hikmahnya Tuhan menurunkan agama di Arab dan mengijinkanya dikuasai para penganut Wahabi. Tidak ada yang paling keras, paling fanatik, paling radikal, nyaris tanpa kompromi, seperti orang yang menganut faham Wahabi.

Jika tidak, saya tak bisa membayangkan, betapa kacaunya beribadah di sini, karena Raudah, masjid Nabawi, Kakbah dan Masjidil Haram, penuh dengan bunga, bungkusan rajah, tarian dan jampi-jampi.()