Novel Lambung Mangkurat dan Kemalasan

Suatu hari di awal tahun 2016, saya bersama Sandi Firly berada di ruang baca Sainul Hermawan. Seperti biasanya kami bergunjing tentang banyak sekali topik, mulai dari bidang yang menjadi minat kami, sastra – , politik, bahasa dan sejarah. Lalu Sainul, kritikus sastra dan dosen di Universitas Lambung Mangkurat menantang saya: Kenapa tidak membuat novel tentang sejarah Lambung Mangkurat?

Saya tertegun. Saya akui, saya sudah lama tergoda untuk menulis novel Lambung Mangkurat. Ada banyak sekali pertimbangan dan satu yang agak personal: karena tahun 2015 dan 2016 adalah tahun yang sangat santai. Saya bisa tidur seharian dan tak menulis apapun selain status facebook dan kadang-kadang menjadi kolumnis gadungan di Koran. Dalam standard kemalasan yang normal, saya harusnya sudah lama terlempar dari jajaran mereka yang disebut penulis (baik yang produktif, maupun yang tidak). Bahkan, jika pun ada yayasan yang menganugerahkan award sebagai penulis paling malas di Indonesia, saya mungkin tak akan mengambil awardnya – saya terlalu malas.

Untunglah, meski setahun tak menulis novel, ada juga naskah saya yang terbit di tahun itu. Sebuah novel semi autobiografi saya berjudul Beranda Angin. Meski tak mencapai apa yang disebut para penjual buku sebagai sebagai best-seller, penjualannya lumayan karena ludes di beberapa toko buku. Tentu saja, di Kalimantan.

Lalu apa? Saya tidak memiliki naskah lagi. Dan, jika ingin bertahan di dunia kepenulisan yang keras-keras manja ini, saya harus bangkit dan mulai menulis. Kemalasan ini harus dilawan dengan sesuatu yang agak radikal, jika boleh dikatakan saya harus bangkit dengan menggarap penulisan naskah novel yang tak biasa. Saat mendengar Sainul Hermawan mengharapkan saya untuk menulis Lambung Mangkurat, saya mulai bersemangat.

Sayangnya untuk menjadi penulis, semangat saja tidak cukup. Kita juga ternyata harus menulis. Segera setelah kembali dari rumah itu, saya dengan cepat melupakan tekad untuk menulis tentang Lambung Mangkurat dan segera kembali ke siklus tidur, kerja-fesbukan, jalan-jalan, yang meski meresahkan, tetapi selalu nyaman.

Nanti, setelah Nisrina Lubis dari penerbit Diva Press menawarkan saya sebuah proyek penulisan novel budaya di akhir tahun itu, gairah saya menulis terpantik kembali. Saya mengajukan naskah yang mustahil itu dengan beberapa alasan yang akan saya jelaskan. Dan, penerbit setuju.
Mereka memberikan saya waktu enam bulan. Sangat longgar sebenarnya. Saya mengira, saya bisa menyelesaikan naskah Lambung Mangkurat setidaknya dalam empat bulan saja.

Tapi, ada sesuatu yang mengiringi setiap sesumbar saya. Sesuatu bernama ketakutan. Saya takut, saya tak akan bisa menuliskan Lambung Mangkurat. Secara teknis, ini naskah yang berat. Setahu saya tak ada yang pernah menuliskannya kecuali hanya sepintas-sepintas. Sekilas di sini, sedikit di sana. Tapi, tak ada gambaran utuh tentang siapa sebenarnya Lambung Mangkurat?

Lambung Mangkurat adalah jarum yang patah dalam tapak waktu sejarah Banjar. Sosoknya melayang-layan di langit mitos dan realitas dan tetap menghantui para peminat sejarah Banjar hingga saat ini. Banyak yang mempercayai bahwa Lambung Mangkurat tak pernah benar-benar ada, meski hal ini tentu saja akan menjadi lucu karena sudah terlanjur banyak tempat, atau jalan, yang memakai namanya. Universitas paling tua di Kalimantan bahkan meminjam namanya: Universitas Lambung Mangkurat.

Kalau memang ada, siapa dia? Kontroversi yang mengiringi kehadirannya dalam sejarah Banjar tak lebih jelas dari sikap dan kebijakan politiknya. Dalam beberapa referensi yang saya baca, dia adalah seorang mahapatih, anak dari pendiri Negara Dipa dan telah membawa Kerajaan itu melalui waktu-waktu tersulit. Dalam perbicangan di kalangan tertentu, dia justru adalah penjahat dan gembong yang tega melakukan kekejaman apapun, bahkan membunuh keluarganya sendiri.

Umumnya, mereka yang ingin mengkaji tentang Lambung Mangkurat harus membaca Hikayat Banjar dan Kotawaringin dalam kajian filologi Johannes Jacobus Ras yang juga terbagi dalam dua resensi yang membingungkan: I dan II. Ada perbedaan yang sangat mencolok dalam dua resensi ini dan penyimpangan-penyimpangan antara satu dengan yang lain membuat saya sakit kepala.

Kelak, saya juga membaca Tutur Candi karya sastra kuno yag dipinjamkan sahabat saya Aliansyah Jumbawuya. Agak sulit karena ceritanya kental dengan dunia yang dibentuk oleh kesaktian tokoh-tokohnya. Saya tak ingin cerita ini menjadi sebuah legenda rakyat. Saya ingin menulis novel.

Mungkin jawaban mengapa Lambung Mangkurat begitu sulit dipahami, karena tradisi oral dalam masyarakat Banjar begitu dominan. Kisah-kisah bersambung dari generasi ke generasi dan menyebar dari mulut ke mulut. Masyarakat punya kecenderungan kagum kepada sosok tertentu yang kemudian dilekatkan dengan kemampuan adikodrati, ada yang mengendarai buih, bertapa menaklukan naga, terbang dan menikah dengan peri di kahyangan…. Dalam masyarakat seperti itu, mitos selalu mengambilalih setiap fakta dan kebenaran yang tersisa selalu lebih membingungkan: Mengapa ada Iskandar Zulkarnain dan Nabi Haidir dalam sebuah kerajaan Hindu-Banjar? Kenapa bahkan saat mengawini putri-putri itu, mereka tak menyebarkan islam saja?

Karena itu, tidak heran dalam tiga bulan pertama saya mandek di bab-bab awal. Setiap malam, usai kerja, saya membuka komputer dan sembari menatap langit-langit berharap hantu Lambung Mangkurat bisa terperangkap di dalam layar Microsoft word. Saya tertidur dengan ketakutansemakin berlipat.

Dua bulan jelang deadline, saya baru mulai intens menuliskannya setelah meyakini bahwa saya tak bisa menyajikannya dengan sempurna. Pendekatan saya adalah alter-history, genre yang setahu saya masih jarang dalam penulisan fiksi sejarah. Di luar negeri, genre ini dipakai Robert Harris dalam Father Land -nya. Saya berharap, bisa melepaskan beban menulis sejarah sekaligus bisa melenggang bebas dari kejaran para sejarawan yang menuntut kebenaran faktual dari kisah ini.

Jadi, demikianlah, pada hari yang gelap di awal April kemarin, Microsoft word saya save, laptop saya tutup. Aneh sekali, saat menyadari dengung dari mesin itu telah terhenti. Seperti biasa, usai menyelesaikan naskah, saya segera tenggelam dalam depresi.

Tapi, dalam sehari, menikmati sedikit penghiburan bersama teman-teman, makan mie, mendengarkan musik, saya mulai rindu pada Lambung Mangkurat, pada Dulur, pada Putri Junjung Buih, pada Patmaraga, pada Sukmaraga, pada Gajah Mada, dan beberapa tokoh lain. Mereka telah menemani saya selama beberapa bulan ini, menjadi sosok yang nyata, yang memiliki kelebihan, kelemahan, yang melakukan pengorbanan, yang memiliki ambisi, memendam sakit hati, mendambakan kerinduan, penerimaan, dan juga cinta.

Saya berharap karya ini bisa diterima sebagaimana sebuah cerita adanya. Murni cerita. Sainul Hermawan mengatakan dulu kepada saya: “Kisah ini mungkin bukan sejarah tetapi setidaknya akan membuat generasi kita akan lebih penasaran dan kemudian mulai membaca kembali sejarahnya sendiri.”()

Negara Dipa, 1938 di Tahun Saka

Randu Alamsyah

Amat

Namanya Amat. Dia adalah satu-satunya yang saya kenal, yang saat ini masih terus tidur di emperan masjid At-Taqwa, Klandasan, Balikpapan. Orang – orang di pasar Klandasan atau sekitarnya pasti mengenal Amat. Dia tak punya rumah, tak punya pekerjaan tetap, tak punya anak dan istri. Lebih dari itu, sejauh yang saya tahu – dan kadang-kadang saya bayangkan – dia bahkan mungkin tak punya masa muda.

Saya mengenal lelaki ini di tahun 2003. Dengan enteng, seperti sudah biasa melihat anak-anak yang bermasalah, yang bingung dalam pencarian jati diri, atau kabur dari rumah karena persoalan keluarga, dia menawari saya untuk tidur saja di emperan masjid At-Taqwa. Dulu sebelum masjid itu semegah sekarang, ada tujuh tangga sebelum pintu masjid. Di setiap undakan itu, ada setidaknya satu gelandangan yang tidur. Amat menghuni tangga paling atas. Tidur beratap langit luas dan beralas koran yang dia baca atau kardus yang siangnya dipakai untuk markir di pasar klandasan. Kedinginan. Digigit nyamuk.

Saya tidur di sana malam itu, dan selama setidaknya dua tahun kemudian. Selain Amat, saya mengenal beberapa gelandangan, pengemis dan pemulung yang juga tidur di sana. Ada Padang, Daeng, Yudi, Banjar, Palembang (ya, kebanyakan kami saling memanggil dengan nama kampung). Amat memanggil saya Lando, karena lidahnya agak pelo.

Di malam hari, kami berbagi nasi, rokok, prediksi nomor togel, juga pengalaman seharian untuk terus bertahan hidup di jalanan Balikpapan. Saya mengenal lebih jauh sifat dan kecenderungan mereka. Apa yang mereka takuti, apa yang mereka sesali, dan juga, kalau ada, apa yg mereka impikan. Ternyata cuma sekadar bisa makan hari ini dan kena tembakan dua angka togel.

Para gelandangan di tangga masjid sudah terlatih untuk menyederhanakan kebahagiaan. Amat juga begitu. Dia nyaris tak punya keinginan. Dia adalah orang paling pesimis yg pernah saya kenal. Jangan ceramahi dia tentang motivasi dan keajaiban mimpi, blablabla. Waktu itu Mario teguh masih belum tayang. Saya gak tahu, apa yang mengantarkannya sampai di tangga masjid At-Taqwa. Kami tak pernah saling bertanya penyebab. Mungkin memang tak perlu. Mungkin beberapa hal memang tak perlu diketahui.

Cuma di malam-malam yg dingin, saat bintang-bintang menaburi langit di atas masjid Attaqwa, Amat bersama Daeng, salah seorang teman yg lain, suka bertanya apa yang akan saya lakukan dalam hidup ini. Saya katakan mungkin kelak saya akan menulis buku. Amat tahu, saya suka menghabiskan waktu di perpustakaan dan berjalan kaki setiap hari ke gramedia di Plaza Balikpapan. Tapi mengatakan padanya saya ingin menjadi penulis seperti mengatakan seseorang bisa jitu menembak tembakan empat angka togel empat puluh hari berturut-turut.

Amat cuma dengan gaya biasanya. Mendehem. Hmmm..hhmmm..

Malam ini, saya ke masjid Attaqwa dan melihat masjid itu tak seperti 13 tahun lalu. Tak ada lagi tangga. Tak ada lagi gelandangan. Menyusuri jalan di pagar kiri masjid, saya menemui seseorang yg duduk di bawah kegelapan pohon. Saya mengenali Amat, meski dia sudah tidak mengenali saya lagi. Saya mendekatinya.

“Mat!” saya memanggil.

Dia mengamati wajah saya dekat-dekat, meski saya rasa saya lah yg berusaha mengamatinya lagi. Rambutnya telah memutih. Wajahnya terlihat lebih tua dari umurnya yg baru 47 tahun. “Lando, iya, iya, ingat, ingat,” katanya kemudian.

Bagaimana Amat bisa mengingat saya hampir seperti mukjizat jika mendengar ceritanya tentang sakitnya. Amat lima kali dibawa ke rumah sakit jiwa di Samarinda. Setiap tahun, penyakitnya selalu kambuh. Tapi dia tak pernah lama di rumah sakit jiwa. Sebulan atau dua bulan. “makan tidur dijamin, tapi bosan,” katanya.

“Semoga tidak lagi,” katanya. Saya dengan tulus mengaminkan.Dalam beberapa tahun terakhir, Amat ingin sekali pulang ke Jawa (dia orang Jember) tetapi selalu ditolak keluarganya.

“Ya, aku sadar diri aja, keluargaku takut sakitku kambuh.”

Mendengarnya mengatakan itu dengan nada ringan, membuat saya sedikit tercekat.

Saya dengan congkak, mengajak Amat makan di resto, tapi dia tertawa sinis. Amat masih tetap Amat. Dia menggandeng saya ke warung makan legendaris kami. Warung termurah di Balikpapan. Kami biasa menyebutnya warung rembo. Dulu warung itu disebut begitu karena orang yg makan di sana seperti para prajurit yg telah menanti ransum berhari-hari. Para buruh dan pekerja di pasar bisa saling comot lauk dari rantang di sampingnya seperti serdadu yg saling lempar granat. Saling incar kelemahan di gundukan nasi masing-masing. Menabuk lubang untuk menyembunyikan lauk, dan memutar tutup kerupuk terengah-engah seperti membuka katup tank. Semua disajikan seperti medan puputan: Tahu dan tempe, peyek dan sambal, ikan dan pecel, gangan dan sayur yg langsung disiram di atas gunungan nasi.

Kini warung rembo, sudah menyajikan lalapan. Juga sudah lebih tertata. Tapi harganya tetap paling murah sebalikpapan.

Baru jam 9 malam. Usai makan, saya mengajaknya ke gramedia. Saya mengatakan ingin memperlihatkan sesuatu. Dia manut saja. Di jalan, saya mengatakan telah mengarang novel yg menceritakan semua ttang kehidupan kami di tangga masjid.
Saya mengetik novel saya di computer toko dan ada setidaknya tiga buku yg keluar. Seorang penjaga membawakan buku itu. Beranda Angin. Novel baru saya.

Amat tak pernah berhenti bertanya begitu kami keluar gramedia. Dia menanyakan apakah semuanya saya tulis. ‘Ya,” jawab saya. “Semuanya.” Saya memperlihatkan namanya. Nama teman-temannya. Teman-teman kami. Dia berjanji akan membacanya siang hari. Dia menderita rabun.

Di escalator, untuk pertama kali, saya mendengar optimisme dalam nada suaranya. “Aku merinding, Lando,” katanya.

Kami berpisah malam itu. Saya berjanji akan mendatanginya kembali pagi ini. Mungkin membayar banyak hal tentang tahun-tahun yg pernah kami lewati, sedikit menertawakan hidup dengan gaya khas Amat. Di bawah jembatan penyeberangan ke hotel tempat saya menginap di menara bahtera, dia meneriakkan sesuatu yg tertelan suara bising lalulintas. Sesuatu tentang nasib. Saya tak bisa lagi mendengarnya.

Dari atas jembatan, saya berhenti. melihat ke sosok Amat, berjalan sambil sesekali membuka-buka buku itu. Orang-orang melewatinya dari arah seberang. Amat terus melangkah melawan arus, sebagaimana caranya menjalani hidup. Saya berharap Beranda Angin bisa memberinya sedikit kegembiraan. Sekadar setitik keriangan dalam kesepian hidupnya. Mungkin seperti apa yg dia katakan di saat kami bertemu tadi: terima kasih. Aku bangga betul, Lando.

Sama-sama, Mat.
Sama-sama.14102307_10206553762837350_1791079259883428842_n

Raudah, Cinta dan Budaya

Di Madinah, senja dihadiri rembulan awal malam. Cahayanya jatuh lembut ke hamparan granit sedingin es, dinding kukuh berwarna gading yang berhiaskan ornamen -ornamen perunggu dan keemasan. Dari atas, dalam jalur cahaya keperakan, burung-burung kecil terbang cepat bersikejaran. Sesekali hinggap ke minaret yang menusuk langit, berpindah ke tiang -tiang kuncup, lalu terbang lagi, entah ke gerbang, entah ke puncak kubah berwarna zaitun. Dalam latarnya, cakrawala seperti lautan tanpa buih. Hawa dingin meruap dalam kilas-kilasan wewangian orang-orang yang berjubah hilir mudik di pelataran Masjid Nabawi. Waktu membeku dalam hembusan udara kering yang memecahkan bibir dan kulit, di akhir Februari yang dingin.

12790957_10205397158802972_3737608320338193800_n

Mungkin dari tempat semacam ini, cinta bisa dipahami. Melihat orang-orang yang keluar dari pintu Raudah, mengusap airmata kerinduan dengan serban yang terlilit di leher. Ada yang meraung, ada yang sekadar menutup mata tertatih-tatih meletakan sandal sambil kembali berbalik, menghadapkan tangan ke pusara orang suci itu. Di dalam, puluhan, ratusan, lebih banyak tangan-tangan mengembang terangkat, entah mengucapkan salam, entah sekadar mengabadikan dengan kamera. Di sepanjang pagar yang memisahkan tempat suci dari gelombang peziarah itu, petugas tanah haram, dengan gamis setinggi mata kaki dan tudung selendang hilir mudik mengusir para peziarah.

Saya suka duduk berlama-lama di sana memandangi para petugas bermata bening garang dengan janggut bergerumbul itu menepuk bahu orang-orang yang menangis. Sesekali mereka memungut wifik yang dilemparkan orang ke dalam pintu makam. Ada petugas yang meneriaki haram! haram!. Tapi ada juga yang menepuk lembut dan menasihati. Bahwa dilarang meminta doa ke kuburan. Bahwa Tuhan itu lebih dekat dari urat leher manusia. “Mintalah kepadaku, akan kukabulkan,” ucap salah satu petugas mengutip ayat suci. Kadang-kadang mereka didebat oleh para jemaah yang membandel, saling membuka dalil, saling bersumpah, wajah-wajah akan memerah karena emosi. Tapi yang lebih sering saya lihat, masing-masing berlalu dengan ucapan damai saling mendoakan.

Saya berusaha memahami, betapa tidak mudahnya bagi pemerintah Arab Saudi. Menjadi pelayan dua tanah suci, Makah dan Madinah, yang dikeramatkan ini mereka harus menghadapi semua aliran Islam yang datang dengan budaya masing-masing. Orang-orang dari negara dengan budaya sinkretisme yang tinggi, sepert India, Iran, Nigeria, dan Indonesia, datang untuk meratap, meletakan botol dan menulis wifik. Mereka memiliki keyakinan yang telah berakar selama ribuan tahun dari sesepuh ke sesepuh, ulama ke ulama.

Ajaran islam dengan doktrin Tauhid digetarkan dari sebuah gua, di sebuah desa kecil di semenanjung arab, lalu mengalir ke negara-negara di tepian laut merah, terus ke teluk persia, menyeberang ke bizantium lalu ke anak benua India, Asia selatan, hingga ke jalur perdagangan di asia tenggara. Ayat suci bukan hanya dimuratalka dari masjid-masjid berarsitektur Arab di Timur Tengah tapi juga bangunan-bangunan lempung di Afrika dan Mesir, pondok-pondok kubus di padang stepa Asia Tengah, hingga gubuk-gubuk para nelayan di negeri kepulauan Indonesia.

Islam bukan hanya datang sebagai jalan keselamatan, tetapi juga sepaket tata nilai, yang meliputi ekonomi, politik, dan budaya. Sebagai keyakinan, Islam barangkali telah luar biasa sukses dengan menguasai hampir separuh dunia, tetapi sebagai budaya, tidak ada penaklukan yang sederhana. Islam masih rumit karena bergumul- kelindan dengan banyak budaya yang telah menjadi tradisi sejak zaman pra islam. Islam menguasai negeri-negeri itu, tetapi mereka, dengan tradisinya yang rumit dan berlapis-lapis, turut memberi warna bagi perkembangan islam.

Anda bisa melihat debu dan darah pergumulannya setiap saat di media sosial. Di ruang yang memungkinkan orang berdebat tanpa bertemu, media sosial telah menjadi ajang yang menyuburkan para penista. Banyak di antaranya yang menuduh Haramain dengan alirannya yang fundamental tak memiliki ruang kreatif bagi imajinasi tentang agama dan keyakinan. Di Arab yang bermazhab Maliki dengan aliran pemerintah yang cenderung ke Wahabi, agama hanya “sesederhana” mengesakan Tuhan, salat, sedekah berpuasa di Ramadan, berzakat dan haji. Tidak ada tempat untuk mitos-mitos kepercayaan dan ritus-ritus para pebidah.

Untunglah.

Saya turut bersyukur untuk ini. Mungkin itulah hikmahnya Tuhan menurunkan agama di Arab dan mengijinkanya dikuasai para penganut Wahabi. Tidak ada yang paling keras, paling fanatik, paling radikal, nyaris tanpa kompromi, seperti orang yang menganut faham Wahabi.

Jika tidak, saya tak bisa membayangkan, betapa kacaunya beribadah di sini, karena Raudah, masjid Nabawi, Kakbah dan Masjidil Haram, penuh dengan bunga, bungkusan rajah, tarian dan jampi-jampi.()

Muhidin Sang Penantang Sejarah

Bahkan berhari-hari jelang puncak pesta demokrasi, hanya malaikat yang punya imajinasi, Muhidin bakal menang di Pilkada Gubernur Kalimantan Selatan. Pasti akan merepotkan, mungkin. Bakal membuat perbedaan? Bisa jadi. Tapi, menang? Melampaui perolehan suara Sahbirin Noor – Rudy Resnawan yang didukung oleh segenap infrastruktur dan kemegahan struktur politik? Kita semua tahu, dukun, orang gila, atau bandar judi paling nekat pun berpikir dua kali. Apalagi Rudy Resnawan masih di sini. Dia masih mencalonkan diri. Dan sebagai seorang yang selalu dicitrakan kompeten dan menawan, sejarah kerap berpihak kepadanya.

Tapi, banyak yang lupa bahwa menantang sejarah adalah nama tengah dari Muhidin. Publik Kalsel mungkin masih ingat saat dia maju menantang sang petahana di Pilkada Kota Banjarmasin 2010. Dalam pemilihan yang banyak dikenang sebagai “Pilkada paling tak mungkin” itu, Muhidin yang maju dengan M Irwan Ansyari menjungkalkan Yudhi Wahyuni dan meraih tahta tertinggi di pemerintahan kota Banjarmasin.

muh1Benarkah mantan guru olahraga itu sesakti itu? Apa rahasinya? Banyak yang mengatakan bahwa Muhidin menggunakan cara-cara curang dalam kampanyenya. Para pengamat di Koran-koran saat itu hampir kehilangan kata-kata sopan untuk menuduh dia “menghamburkan karung” untuk memikat pemilih. Muhidin dituduh melakukan money politic dengan uang yang sangat banyak, yang merubah peta politik grass root dalam satu malam. Sesuatu yang kemudian sepanjang pengetahuan saya, tidak pernah dibantahnya, tidak juga dibenarkannya.

Lima tahun menjabat sebagai walikota, masyarakat Banjarmasin dan bahkan Kalsel punya banyak waktu untuk berkenalan dengan mantan pengusaha batubara itu. Ternyata tak hanya punya uang, Muhidin punya keberanian untuk bertindak dan keyakinan untuk mengonfirmasi kebenaran tindakannya. Dua terakhir ini adalah bekal yang penting untuk memimpin di kota dengan penduduk padat dan ruang yang semrawut seperti Banjarmasin. Lebih dari itu, Muhidin punya sesuatu yang tidak pernah dimiliki oleh para pemimpin di Kalsel lainnya: selera humor yang tulus.

Kita masih ingat saat di HUT Kota Banjarmasin di awal pemerintahannya, dia mentahbiskan diri sebagai Baginda Raja di Banjarmasin. Sangat mungkin sebagai olok-olok untuk Gusti Khairul Saleh, bupati di kota tetangga yang saat itu sedang membangkitkan kesultanan Banjar dengan gelar Pangeran. “Sang baginda” menggelari gubernur Rudy Ariffin, sebagai “Raja Banua” dalam sebuah acara Mamanda yang penuh dengan gelak tawa. Muhidin memanggil para hulubalang raja, yaitu kepala dinas, untuk melaporkan kemajuan apa saja di nagari Banjar. Mereka yang dipanggil harus maju dengan dengan menari. Anda bisa membayangkan betapa ajaibnya para pejabat eselon II yang biasa mengembangkan kemempuan untuk menjaga wibawa, harus menari dengan menjelaskan program-programnya di depan khalayak luas.

Dalam kesempatan lain, Muhidin bisa bertindak di luar arus utama. Dia seperti seorang yang merdeka dari stigma dan norma. Di saat, pejabat lain memandang penting untuk terlihat sederhana dan tertib, Muhidin malah dengan santai masuk kantor mengendarai motor Harley Davidson-nya dan pengawalan Fortuner-nya. “Jangan dianggap saya pamer,” katanya saat itu.

Benar. Bahkan dalam balutan jaket kulit, sepatu koboi, serta kacamata hitam, H Muhidin tak bisa menyembunyikan dirinya.
Pria yang namanya similar dengan seorang pemain watak di sinetron Tukang Bubur Naik Haji ini, tak ingin menyesuaikan dengan pandangan ideal masyarakat tentang bagaimana harusnya seorang pemimpin. H Muhidin mengambil jalan lain dengan memaksakan apa adanya dirinya, sehingga publik Banjarmasin, mau tak mau, harus menerimanya.

Dan, sejauh ini, dia berhasil.

Undakan demi undakan dalam bisnis dan karir politik yang cemerlang hanya bisa didaki oleh orang-orang yang pintar membaca dinamika pasar dan arah angin histeria. Di Puncaknya, Muhidin berdiri dan melihat lapangan kurusetra yang lebih luas : pilgub. Tapi, dia butuh lebih dari sekadar keberuntungan dan dukungan. Muhidin butuh taktik yang tepat dan strategi yang matang. Waktu telah membuktikan bahwa langkah Muhidin menjauh dari partai politik adalah hal terjenius yang bisa dilakukannya. Alih-alih melamar partai yang tentu saja harus “meminyaki” pengurusnya dari cabang hingga pusat, Muhidin mengambil langkah tak popular: Maju melalui calon perseorangan.

Dan seperti setiap sesuatu yang dilakukannya dalam bisnis dan karirnya, Muhidin berhasil. Setahun setelah pesta demokrasi, kasak-kusuk borong partai terdengar. Di saat para calon kompetitornya sibuk dengan lobi-lobi yang “tak masuk akal” tentang harga “perahu”, Muhidin mempersiapkan berpikap-pikap KTP dukungan dari Hulu Sungai hingga Kotabaru, yang tentu saja, tak semahal harga satu partai. Muhidin seperti tidak memiliki konsultan politik yang kredibel dan metode yang dipakainya tidak terlalu canggih, tetapi pada akhirnya, dia tetap bisa bertahan dengan cara-cara yang sederhana.
Dia meluncurkan slogan yang mudah, berbahasa dengan retorika orang tuha, berdebat dengan sukacita, riang gembira dan penuh canda tawa. Dia bahkan terlalu malas untuk mengambil jatah kampanye yang disiapkan untuknya. Setiap langkah yang diambilnya seperti paradoks dari apa yang ditujunya, tetapi hngga masa akhir Seperti yang dikatakan Bruce Willis dalam perang Fire Sale di Film Die Hard 4: “Aku mungkin tidak pintar, tetapi hei, aku masih tetap hidup, right?”

Kini, Muhidin berada pada persilangan ekspektasi dan momentum yang tetap untuk mewujudkan ambisinya. Dia menjadi yang teratas versi Quick Count Metro TV dalam sebuah perhitungan yang menguras adrenalin. Laiknya drama, kalkulasi namanya merambat seperti demo antigravitasi kecil. Di menit-menit terakhir perhitungan, namanya hanya seperselisihan rambut dengan competitor terdekatnya: Sahbirin Noor – Rudy Resnawan yang tim suksesnya sempat berpesta kemenangan.

Drama sepertinya terjadi setiap detik dalam hidup Muhidin di hari-hari ini. Lapisan-lapisan terakhir dan terdalam dalam level keyakinan atas diri, strategi dan pengalamannya sendiri akan diuji. Hingga 19 Desember mendatang, mungkin dia akan sering membaca Koran, menyirap kabar, desas-desus, menerima telepon dan membaca pertanda, tetangar, isyarat, apa saja yang harus cepat diantisipasinya. Dia harus melakukan setiap sesuatunya dan bereaksi atas sesuatu secermat-cermatnya dan setepat-tepatnya. Ini bisa jadi pertarungan yang singkat atau pertempuran yang panjang dan melelahkan hingga sidang MK. Di luar dari kecurangan-kecurangan yang terjadi, baik yang mungkin dilakukannya atau mungkin dilakukan pesaingnya, politik, bagaimanapun, seperti sepak bola: hasil akhir adalah segalanya.

Surat untuk Urang banua

Kutulis surat ini untukmu Saudaraku Urang Banua. Ada kemungkinan aku tak mempedulikan bahwa kamu yang membaca ini berasal dari suku mana. Bagiku tak penting apakah kamu Banjar, Jawa, Bugis, Madura, Sunda. Yang benar bermakna bagiku – dan tentu saja bagi semua orang – adalah integritasmu untuk Banua. Identitas mereduksimu pada sekat-sekat kelompok yang membuatmu terkungkung oleh pemikiran, sikap, dan norma-norma budaya yang sempit. Sementara Integritasmu adalah pilihanmu sendiri yang diprasyarati oleh kecintaanmu, kerelaaan, dan perbuatanmu yang terus-menerus ikhlas untuk Banua.

Kutulis ini Saudaraku, bukankah Tuhamu tak pernah menyebut sukumu? Santri Martapura Tempo duluDia hanya memandangmu satu: Khalifah Fil Ardi atau Orang berintegritas di Bumi. Dengan kalimat itu, Tuhanmu bermaksud agar kamu membebaskan dirimu dari definisi-definisi sempit yang bisa menghalangimu dari kemungkinan-kemungkinan yang luas untuk saling berkenalan, peduli, dan menyayangi, sebagai bagian dari sifat-sifat Tuhan yang maha besar, maha kasih dan maha sayang.

Banua kita ini, saudaraku, adalah Banua yang sangat berketuhanan. Ini adalah tanah tempat Syekh Arsyad Al Banjari, ulama besar dunia dilahirkan, berjuang. Ini adalah Banua yang dicahayai oleh ulama-ulama yang welas asih, para penyebar agama Islam yang tangguh, lemah lembut, dan berintegritas. Pernahkah kau membacanya, dari semua itu, berikan padaku satu riwayat saja, saudaraku, apakah ulama-ulama kita menyebarkan ajaran untuk menjadi Urang Banua dalam konteks yang kira-kira, seperti yang banyak dikampanyekan sekarang ini?

Jika tidak, kenapa? Mungkin, karena ulama-ulama Banua dulu menganggap bahwa tidak ada kebanggaan menjadi Urang Banua tanpa memiliki integritas Banua, kearifan-kearifan local yang tersambung dengan nilai-nilai kebaikan religious yang universal.

Zaman berganti saudaraku. Waktu berlalu. Hubungan-hubungan mencair, atau malah membeku. Di masa ini, identitas hanya disebut dalam ingar-bingar budaya dan politik. Dalam kemandekan nalar tanpa adanya penuntun, identitas hanya selalu dimanfaatkan untuk mencapai sesuatu, banyak hal diantaranya: kekuasaan.

Kita pernah masuk pada suatu masa dimana orang-orang berkampanye dengan mengendarai histeria dan kefanatisan massal akan identitas dan gen. Aku bisa mengerti sikap kebanggaan ini dilandasi oleh rasa kepemilikan akan Banua sendiri yang sumber daya alamnya dirampok, kebanyakan oleh orang-orang bermodal di pusat kekuasaan di Negara ini. Benar. Dalam dunia yang semakin kapitalistik, mungkin relevan bagi kita untuk mengagulkan identitas. Hal ini semacam kebanggaan dan kepercayaan diri – atau pada gilirannya justru ketidakpercayaan, yang memungkinkan kita untuk terus ada dan bersuara, bangkit dan melawan hegemoni entah apa di luar sana.

Tapi, lihatlah apa yang tersisa untuk kita di Banua: sebuah ironi yang pahit. Kita akhirnya menyadari , yang lebih banyak merampok kita justru adalah para penguasa –penguasa lokal kita sendiri.

Ini adalah sebuah pola, saudaraku. Seperti juga, memasang baliho, memborong partai, menghalangi orang lain mencalonkan diri, mengangkat gubernur dua periode sebagai tim sukses – yang sebenarnya justru merendahkannya – juga adalah sebuah pola. Cara para pemilik modal untuk merampok Banua ini. Dalam pusaran kepusingan ini, kita tidak bisa melihat awan, melihat hutan, langit biru, karena kita terkungkung oleh kabut asap tebal yang menaburi pandangan-pandangan objektif kita akan bagaimana harusnya kita menjaga Banua ini, Banua tempat nenek moyang, para pendahulu, dan ulama-ulama kita yang jernih dilahirkan.

Karena itu, aku mengajakmu saudaraku, marilah kita memutus pola ini. Cukup sudah. Ada kalanya kita salah, tak mengapa, saudaraku. Tapi kita bukan keledai yang bisa jatuh dalam lubang sama. Aku selalu meyakini, jika identitas terletak pada persetujuan dan ambungan orang lain, itu bukanlah identitas. Burung-burung di udara, ikan-ikan di di laut, tak pernah menamai diri mereka sendiri. Mereka terbang lepas, dan berenang untuk membuktikan integritas mereka.

Di Banua, aku percaya, kita harus benar-benar bergerak, peduli, dan melakukan sesuatu, sekawa-kawanya, sekuat-kuatnya, untuk membuktikan diri, sebagai Asli Urang Banua.