Dilarang Korupsi (kecuali saya kecipratan…)

SIAPAPUN itu, orang pintar, pengamat sosial, pemerhati kemasyarakatan, ulama, guru, wartawan, penyair, sastrawan, sudah mulai remang-remang dan mati gaya  menebak kemana zaman ini akan membawa penumpangnya.

Jangankan menebak kemana tujuan kereta, untuk mengetahui meluncur pada jalur apa, ada bahaya pada lajur berapa, mana tikungan yang memiliki sekian kemiringan,  pada kilometer  berapa akan menunggu apa, dan sepersekian kemungkinan lainnya yang  sudah sangat tak jelas, betapa  lagi mengantisipasinya.

Maka ketika, gempa melanda Sumatera Barat kemampuan puncak kita hanya memberikan bantuan. Kita selenggarakan semacam duka nasional di jalan-jalan sembari matian-matian membangkitkan empati yang nyungsep entah di lipatan hati bagian mana,  untuk kemudian, minggu berikutnya  kita  lupakan. Entah titik entah koma, gempa Sumatera seperti juga bencana-bencana lainnya  hilang tak berbekas  dari memori kita.

Entah berapa gallon airmata berapa barrel darah lagi yang harus tertumpah untuk memancangkan kesadaran kita tentang konsep hidup mati, keseimbangan kosmos alam, tata nilai manusia di depan rambu-rambu agama,  sinkronisasi lautan , hutan dan langit serta semua yang berteduh di kolongnya.

BMKG dan para pengamat ilmu bumi sibuk menghitung-hitung keretakan ; apakah ada menimbulkan potensi tsunami apakah akan ada gempa susulan, tanpa berniat untuk mengkaitannya dengan surah ke tujuh belas ayat ke enam belas  Alquran apalagi merambah ke seperkemungkinan baru : Apakah gempa ini sengaja dikirimkan Tuhan karena rumah-rumah telah lebih mewah daripada robohnya surau kami ?

Ada kecenderungan kita kehilangan kearifan hidup. Kita menguasai teknologi serta mengerti efek-efek mekanikal ilmu pengetahan modern dan mengangkat kepala tinggi -tinggi di depan langit. Pada giliran bencana datang dan semua teori kita terpatahkan, kita bagaikan anak kecil yang nguncek-nguncek yang merepotkan dunia dengan air mata sekan-akan Tuhan mengkhianati kita padahal kita tak pernah betul-betul percaya bahwa ia ada.

Meski demikian, kita tak pernah betul-betul bisa bersedih. Sebagai  manusia modern kita telah menyiapkan beribu-ribu pelarian untuk menguangmukai kekalahan kita. Kita santuni anak yatim, kita beri makan fakir miskin, kita menangis di depan kabah. Semuanya hanya untuk membeli rasa aman psikologis yang sewaktu-waktu bisa kita gadaikan lagi di perusahaan –perusahaan kapitalisme dunia yang sistemik.

Begitu terus menerus. Sejarah kita hanyalah pengulangan pengulangan dan parade kekalahan-kekalahan yang melintas di panggung sunyi kefanaan manusia yang kelihatan penuh kejutan namun sebenarnya stagnan dan monoton.

Maka ketika ada orang-orang yang membuang dirinya karena frustasi dengan sejarah yang selalu membosankan, kita anggap mereka teroris. Kita berondong mereka dengan peluru, dengan cacian, dengan semua yang mewakili kuasa kebencian kita. Kita pancang nisan kenistaan bagi kuburnya, Kita coreng, kita blacklist seluruh sisi kehidupannya, keluarganya, anak-anaknya,  piring nasinya, idealismenya, agamanya, Tuhannya..

Tak kita sadari kita menjadi patron baru yang angker dan tak terbantahkan serta selalu tak siap mengahadapi perubahan. Sesekali kita melongok ke jendela kecil di tempurung kebekuan kita, lalu menyadari bahwa kita telah begitu tua dan kereta yang kita percayai selama bertahun-tahun tidak pernah kita capai bahkan tidak pernah akan sampai.

Kita bebankan harapan kita pada anak-anak muda. Bagaikan veteran, kita yang bahkan belum pernah turun bertempur ini, memekikkan kata reformasi di telinga anak-anak muda yang lugu-lugu karena belum pernah ditempeleng oleh realitas.

Kita suruh mereka melatih kejujuran di kantin sekolahnya. Kita tanamkan pelajan anti korupsi yang kurikulumnya langsung kita pesan dari malaikat dan penghuni surga.Sementara kita tetap mengamankan  kompromi rupiah per rupiah di setiap inci hidup kita.

Kita dirikan lembaga-lembaga sosial,  kemasyarakatan, HAM, agama, dan berteriak keras-keras demi hukum dan keadilan ; Katakan tidak Pada Korupsi ! sambil diam-diam kita zikirkan dalam hati ; Kecuali saya kecipratan, kecuali saya kecipratan…

Tapi siapa yang mau coba-coba, siapa yang mau jadi benar. Diantara kungkungan kapitalisme dan ketergantungan kita kepada kekuasaan, siapa yang mau sok pahlawan.

Kalapupun ada bawa kesini ! mau apa dia ! gue kasi duit baru tau rasa  ! (randu@radarbanjarmasin.com)

Diterbitkan di: on November 3, 2009 at 5:22 am Komentar (2)

Ada Imron kah di Rumah Anda ?

Seperti biasa Rudi,Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba dirumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imronmenjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”

“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi,ya?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.

“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jamnya digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah,sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi. Tetapi Imron tak beranjak.Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya,”Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”

“Sudah, nggakusah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”

“Tapi, Ayah…” Kesabaran Rudi habis.

“Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata,”Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”

“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama seminggu ini.” Iya,iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.

“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga.Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-.Tapi karena Ayah bilang satu jam ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos. Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.

###

Membaca postingan lama seorang sahabat di sore yang basah kemarin, membuat saya termurung-murung. Berapa banyak Imron yang ingin membeli ayahnya untuk main  ular tangga di senja ini ?

Ah, roman panjang kehidupan manusia, tak mudah untuk kita genggam hanya dengan buih-buih mulut motivator, satu dua kata-kata mutiara, dan status-status dangkal di fesbuk.(randu@radarbanjarmasin.com)

Diterbitkan di: on Oktober 13, 2009 at 7:51 am Komentar (14)

Lebaran lebaran…

randua

Diterbitkan di: on September 18, 2009 at 7:07 am Komentar (8)

Kemiskinan, Apa Itu ?

Saya akan mengawali edisi kali ini dengan sebuah cerita tentang seorang anak TK dari keluarga kaya di sebuah kompleks persekolahan elit yang dipanggil gurunya ke depan kelas untuk menceritakan tentang sebuah keluarga yang miskin. Anak itupun kemudian mulai bercerita dengan riang : “ Ada sebuah keluarga yang miskiiin sekali. Ayahnya miskin. Ibunya miskin. Sopirnya miskin, baby sitternya miskin, tukang kebunnya miskin, tukang cucinya miskin, tukang masaknya miskin, satpamnya miskin. Sungguh sebuah keluarga yang miskiiin sekali…”

***

Ini sama sekali bukan sedang menyinggung pemerintah. Saya bukan sedang menceritakan tentang begitu miskinnya pemerintah hingga para sastrawan harus mengeluarkan ongkos pulang-balik sendiri demi menghadiri Temu Sastawan Indonesia II di Pangkalpinang, beberapa waktu lalu.

Ini juga bukan sindiran halus kepada pemerintah yang tak memperhatikan tumbuh-kembang sastrawan di daerah sendiri hingga mereka bagaikan anak-anak yatim yang gamang membaca sejarahnya sendiri.

Juga tidak ada maksud saya –dengan tulisan ini- mempertanyakan kepedulian pemerintah akan nasib sastra di Indonesia, Kalsel khususnya. Apalagi mau menggugat pemerintah daerah untuk mengganti dana kunjungan kerja DPRD dengan memberikannya kepada para satrawan yang sudah kebelet ingin mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.

Bukan. Bukan itu yang saya maksudkan dengan cerita tadi.

Kemiskinan. Perhatikan : Kapan terakhir kali anda mendengar atau menyebut kata itu ? Apa masih ada kamus yang melemakan kata itu ?apa ada lagi orang yang mengangkat kemiskinan sebagai judul disertasi ? Apa kemiskinan masih relevan diperbincangkan ? Apa betul masih ada rakyat miskin di Indonesia ?

Barngkali rakyat miskin pun telah bosan disebut miskin. Setelah berabad-abad dimiskinkan secara struktural dan sistemik, orang-orang ingin melihat dunia dengan gaya baru. Siap atau tidak siap, kita sedang bergerak modern. Kemiskinan bukan lagi menjadi tema yang menarik untuk diperbincangkan.

Maka kemudian, orang betul-betul tidak lagi membicarakannya. Bapak-bapak di warung kopi tidak ada lagi yang membanting kupluknya karena harga –harga naik. Sutradara sinetron Indonesia mulai mengalami apa yang dinamakan disorientasi ruang : Tak tahu, mana rumah untuk si kaya, mana untuk si miskin (kedua-duanya ada tivi dan kulkasnya). Para pembicara seminar kemiskinan mulai berkurang jam terbangnya dan banyak caleg yang sukses terpilih tanpa repot-repot mengumbar jimat kemiskinan dalam orasinya.

Hal ini karena Indonesia memang telah kaya. Semua orang sudah punya hape dan sepeda motor. Pakaian ? Jangan tanya. Pemuda-pemuda di kampung pun sekarang banyak yang pakai jaket kulit merk terbaru meski hari sedang gerah. “Gaul dong,” katanya.

Ini yang namanya kemajuan. Rumah-rumah sebisa mungkin pake kaca nako yang tembus pandang. sehingga orang bis melihat isi ruangan berupa lemari besar berisi alat-alat elektronik dengan sedikit piring-piring yang diapit oleh dua buah boks spiker. Di dinding terpampang kalender artis, serta bingkai foto orang memakai baret. Di buffet ada tivi lengkap dengan pemutar CD dan remotnya. Kadang-kadang harus hati-hati memasukan sepeda motor sebab nanti tersenggol sepeda motor lainnya yang juga parkir.

Orang Indonesia itu kaya-kaya koq. Lihat gaya dalam jejaring sosial di Internet. Lihat latar belakang foto mereka. Di depan patung singa yang dari mulutnya keluar air atau di depan menara kembar. Pertanda : Hati-hati lho, saya pernah ke Singapura dan Malaysia ! Terus perhatikan senyum merekah di avatar-avatar mereka. Akan sulit Anda bayangkan wajah –wajah itu pernah berurusan dengan uang kembalian seribu dua ribu rupiah. Perhatikan juga apa yang dipegang, pernahkan anda menemukan avatar seseorang sedang memegang cangkul dan celemotan Lumpur dalam jejaring sosial ?

Walhasil, Seperti si bocah TK yang kehilangan bahasa tentang kemiskinan, demikian adanya kita. Rupa-rupanya kita mulai sadar bahwa cara terbaik untuk lepas dari kemiskinan adalah sebisa mungkin menjadi modern. Karena itu, meski kulit hitam rambut harus dicat pirang. Jangan melongo, jangan ngomong ndeso. Aksen bicara bolehlah sedikit nyerap dari Jakarte. Kalau ada yang Tanya : Dari mane ? Ame siape ? kita jawab : Dari sane, ame meme dan pepe (maksudnya sama mama dan papa).”

Diterbitkan di: on September 12, 2009 at 2:19 am Komentar (15)

Repertoar Pak Botol

Di bulan puasa ini mari kita bicara yang ringan-ringan saja. Mari melewati bulan ini dengan penuh introspeksi diri. Bagi yang telah terbiasa mematikan nalar kebijakannya, mari pancang kembali radar untuk mencari gelombang dimana suara Tuhan biasa “siaran.” Mari kembali menjadi makhluk. Mari menjadi manusia.

Seorang teman wartawan beberapa hari lalu datang dengan tergopoh-gopoh dengan mata bersinar-sinar bagaikan musafir yang baru menemukan air.

“Luar biasa, saya hampir tidak percaya,” retetnya.

Ia kemudian mengisahkan perjalanannya. Teman saya ini kebetulan seorang yang tergila-gila dengan dunia memancing. Bersama beberapa teman dengan profesi dan kegilaan yang sama, juga seorang anggota dewan yang mempunyai referensi tempat-tempat dimana ikan biasa ngumpul, mereka melakukan perjalanan jauh ke luar kota.

Di lokasi pemancingan yang dibentuk oleh banjir secara alami. Pasukan pemancing ini rupanya harus berjalan-jalan beberapa kilo di tengah terik matahari yang panas di atas kepulan tanah bekas kebakaran lahan yang masih menyimpan sisa –sisa panasnya. Kaki jadi melepuh. Tenggorokan kerontang. Namun persediaan air tidak banyak dan telah habis dalam perjalanan.

Tak tahunya, seorang penduduk setempat menawarkan kepada teman saya untuk menmgambilkan air minum. Teman saya kaget. Kesadaran kotanya kacau. Tentu saja ia bercuriga. Di pikirannya pastilah orang ini memiliki pamrih sekadar sepuluh duapuluh ribu isi kantongnya.

Tak sempat berpikir panjang, ia betul-betul berlari mengambilkan air bagi teman saya. Saya rasa tak usahlah diterangkan bahwa panas hari itu memang betul-betul seperti di padang mahsyar. Tapi dengan semangat entah apa, orang tersebut pulang balik mengambilkan air sebotol !

“Saya kemudian kasi dia uang, tapi ndak mau diambil,” kata teman saya itu. Orang itu mengatakan ia bersyukur bisa membantu para cowboy dari kota ini.  KO lah teman saya. Ia kagum luar biasa. “Ternyata saya terlalu lama tinggal di kota,” renung  si bocah Jogja, wartawan teman saya itu.

Mungkin kisah-kisah nyata seperti ini tidak lagi banyak mengharukan kebanyakan kita. Reportoar kecil ini tidak mempunyai daya ledak seperti bom Mariiot atau reality show “:Pengepungan di Temanggung”. Meski bukan reportoar fiktif, tetapi bagi komoditi pemberitaan, cerita-cerita seperti ini tidak akan pernah sampai di bangku redaktur bahkan tidak juga nyantol di bloknot-nya wartawan.

Bisa dibilang  si Pak botol –demikian ia kita sebut- sangat sangat tidak realistis. Sok moralis, dan naif. Kalau pelaku adegan ini adalah seorang gubernur yang masa tayangnya akan segera habis, bolehlah kita curigai ia  hanya ingin mencari popularitas untuk dipilih kembali. Tetapi ini hanya pak botol. Mungkin ia tidak tahu, bahwa ia kali itu bertemu dengan para wartawan yang mampu mengantarkan popularitasnya seperti juga seorang Ustaz setempat yang diekspose habis-habisan sehingga menjadi tenar malah kemudia mulai mengambil jarak dari pers.

Tidak, pak botol tidak seperti itu, ia bahkan tidak tergadaikan oleh kilatan blitz para wartawan. Kamus ekonomi modern tidak sanggup menengkurapinya. Mesin akutansi dan kalkulalasi computer akan “hang” jika dimasukan programnya.  Ia mengangkangi peradaban dan menjadi  sisa masa silam yang kini arca di pinggiran sejarah.

Cek dan ricek, rupanya penduduk desa itu sepertinya memang tidak terjamah oleh para motivator ekonomi yang mencari penghidupan di seminar-seminar.  Anggota dewan yang turut serta dalam kepergian memancing itu mengatakan bahwa penduduk di kampung tersebut memperoleh rezeki berton-ton ikan di lokasi tersebut pada suatu waktu. Jumlah itulah yang dipakai untuk memenuhi kehidupan sehar-hari mereka selama setahun sambil menunggu musim banjir datang. “Amun kita ini, uang itu kita jadikan uang tambahan untuk beli mobil dan rupa-rupa kemoderan lain, sambil kita cari nafkah lagi, tetapi mereka tidak, ada uang banyak ya bisa nganngur sampai uang habis” ujar si anggota dewan tersenyum-senyum.

Tapi, tentu saja tidak usah diracuni oleh sikap hidup kampungan semacam ini. Apapun profesimu, dimanapun bidang kerjamu, yang terpenting capailah sukses. Sukses disini tidak boleh tidak harus berupa banyak uang. Anak istri musti dibiknkan rumah sendiri, kalau bisa yang bergaya spanyol. Cukupi kesejahteraan, isi pundi-pundi uangmu, dan anak-cucumu kalau perlu sampai tujuh turunan kelak. Apapun caranya, perlihatkan makmur subur gemah ripahmu. Hidup ini yang penting sosok penampilanmu, sisiran klimis rambutmu, merk hape  dan aroma parfummu.

Ya Ndak  ? (randu@radarbanjarmasin.com)


Diterbitkan di: on September 9, 2009 at 9:08 am Komentar (11)