Kemiskinan, Apa Itu ?

Saya akan mengawali edisi kali ini dengan sebuah cerita tentang seorang anak TK dari keluarga kaya di sebuah kompleks persekolahan elit yang dipanggil gurunya ke depan kelas untuk menceritakan tentang sebuah keluarga yang miskin. Anak itupun kemudian mulai bercerita dengan riang : “ Ada sebuah keluarga yang miskiiin sekali. Ayahnya miskin. Ibunya miskin. Sopirnya miskin, baby sitternya miskin, tukang kebunnya miskin, tukang cucinya miskin, tukang masaknya miskin, satpamnya miskin. Sungguh sebuah keluarga yang miskiiin sekali…”

***

Ini sama sekali bukan sedang menyinggung pemerintah. Saya bukan sedang menceritakan tentang begitu miskinnya pemerintah hingga para sastrawan harus mengeluarkan ongkos pulang-balik sendiri demi menghadiri Temu Sastawan Indonesia II di Pangkalpinang, beberapa waktu lalu.

Ini juga bukan sindiran halus kepada pemerintah yang tak memperhatikan tumbuh-kembang sastrawan di daerah sendiri hingga mereka bagaikan anak-anak yatim yang gamang membaca sejarahnya sendiri.

Juga tidak ada maksud saya –dengan tulisan ini- mempertanyakan kepedulian pemerintah akan nasib sastra di Indonesia, Kalsel khususnya. Apalagi mau menggugat pemerintah daerah untuk mengganti dana kunjungan kerja DPRD dengan memberikannya kepada para satrawan yang sudah kebelet ingin mengharumkan nama daerah di tingkat nasional.

Bukan. Bukan itu yang saya maksudkan dengan cerita tadi.

Kemiskinan. Perhatikan : Kapan terakhir kali anda mendengar atau menyebut kata itu ? Apa masih ada kamus yang melemakan kata itu ?apa ada lagi orang yang mengangkat kemiskinan sebagai judul disertasi ? Apa kemiskinan masih relevan diperbincangkan ? Apa betul masih ada rakyat miskin di Indonesia ?

Barngkali rakyat miskin pun telah bosan disebut miskin. Setelah berabad-abad dimiskinkan secara struktural dan sistemik, orang-orang ingin melihat dunia dengan gaya baru. Siap atau tidak siap, kita sedang bergerak modern. Kemiskinan bukan lagi menjadi tema yang menarik untuk diperbincangkan.

Maka kemudian, orang betul-betul tidak lagi membicarakannya. Bapak-bapak di warung kopi tidak ada lagi yang membanting kupluknya karena harga –harga naik. Sutradara sinetron Indonesia mulai mengalami apa yang dinamakan disorientasi ruang : Tak tahu, mana rumah untuk si kaya, mana untuk si miskin (kedua-duanya ada tivi dan kulkasnya). Para pembicara seminar kemiskinan mulai berkurang jam terbangnya dan banyak caleg yang sukses terpilih tanpa repot-repot mengumbar jimat kemiskinan dalam orasinya.

Hal ini karena Indonesia memang telah kaya. Semua orang sudah punya hape dan sepeda motor. Pakaian ? Jangan tanya. Pemuda-pemuda di kampung pun sekarang banyak yang pakai jaket kulit merk terbaru meski hari sedang gerah. “Gaul dong,” katanya.

Ini yang namanya kemajuan. Rumah-rumah sebisa mungkin pake kaca nako yang tembus pandang. sehingga orang bis melihat isi ruangan berupa lemari besar berisi alat-alat elektronik dengan sedikit piring-piring yang diapit oleh dua buah boks spiker. Di dinding terpampang kalender artis, serta bingkai foto orang memakai baret. Di buffet ada tivi lengkap dengan pemutar CD dan remotnya. Kadang-kadang harus hati-hati memasukan sepeda motor sebab nanti tersenggol sepeda motor lainnya yang juga parkir.

Orang Indonesia itu kaya-kaya koq. Lihat gaya dalam jejaring sosial di Internet. Lihat latar belakang foto mereka. Di depan patung singa yang dari mulutnya keluar air atau di depan menara kembar. Pertanda : Hati-hati lho, saya pernah ke Singapura dan Malaysia ! Terus perhatikan senyum merekah di avatar-avatar mereka. Akan sulit Anda bayangkan wajah –wajah itu pernah berurusan dengan uang kembalian seribu dua ribu rupiah. Perhatikan juga apa yang dipegang, pernahkan anda menemukan avatar seseorang sedang memegang cangkul dan celemotan Lumpur dalam jejaring sosial ?

Walhasil, Seperti si bocah TK yang kehilangan bahasa tentang kemiskinan, demikian adanya kita. Rupa-rupanya kita mulai sadar bahwa cara terbaik untuk lepas dari kemiskinan adalah sebisa mungkin menjadi modern. Karena itu, meski kulit hitam rambut harus dicat pirang. Jangan melongo, jangan ngomong ndeso. Aksen bicara bolehlah sedikit nyerap dari Jakarte. Kalau ada yang Tanya : Dari mane ? Ame siape ? kita jawab : Dari sane, ame meme dan pepe (maksudnya sama mama dan papa).”

Diterbitkan di:  on September 12, 2009 at 2:19 am Komentar (15)

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://randualamsyah.wordpress.com/2009/09/12/kemiskinan-apa-itu/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

& Komentar Leave a comment.

  1. pertamanya…

    ironis!

  2. miskin budaya dan miskin rasa sepertinya memang jauh lebih tak terasa dari pada kemiskinan harta. khusus soal alinea terakhir itu, saya juga kerap merasa gerah.
    untung avatar saia tak gaul + namanya sangat banjar
    :)

  3. Kalau ada yang Tanya : Dari mane ? Ame siape ? kita jawab : Dari sane, ame meme dan pepe (maksudnya sama mama dan papa).”

    hahahaha… hhhahaha…
    *numpang ketawa Om, baca alinea terakhir*

  4. Pemerintah memang miskin bila dihadapkan pada para sastrawan … karena biarpun semiskin-miskinnya sastrawan mereka masih bisa berangkat ke pertemuan Nasional tanpa bantuan pemerintah, juga para sastrawan sanggup menghasilkan suatu karya yang kreatif dan menyentuh hal inti meskipun dalam keterbatasan materi dibandingkan pemerintah yang penuh melimpah anggaran namun seperti “lanjung rabit”.

    Para sastrawan tidak terikat dengan pemerintahan …

  5. setuju tuh dengan mas ben: pemerintah memang miskin!

  6. @ Hajri : nah ini sastrawannya dah datang…

    @ Pakacil : Pakacil, itu gabungan antara pak dan acil ya?

    @ Dewi Fatma : Dilarang ketawa mbak

    @ HE Benyamin : Karena tidak terikat dengan pemerintah, makanya pemerintah juga tidak merasa terikat dengan sastrawan…ha..ha..ha.. (Bener ya logikanya, Mas ?)

  7. sebenarnya siapa yang miskin ….?
    kita nggak mengenal kaya dan miskin kan hehehe
    salut salut selamat berkarya

  8. Aduh, kok semuanya betul sekali ya?

  9. Semua kaya di mata Tuhan ya…:)

  10. Assalaamu’alaikum

    Mudahan apa yang kita lihat, malah mungkin ada yang dialami, harap menjadi iktibar supaya jangan kemiskinan menjadikan kita kufur nikmat kepada Allah swt. Yang penting miskin harta tidak apa, jangan kita miskin kasih sayang kita kepada Allah swt. tulisan Tuan Randu di atas cukup mengesankan rasa keinsafan terhadap apa yang berlaku kepada sesiapa sahaja di keliling kita. salam hangat selalu.

  11. Assalaamu’alaikum..

    KEPADA SAHABATKU TUAN RANDU… SAMBUTLAH UCAPAN DARIKU. SERANGKAI KATA PENGGANTI DIRI. UNTUK MENYAMBUT HARI BAHAGIA. JARI SEPULUH KU SUSUN JUGA. AGAR KESALAHAN DIAMPUN SEMUA. TANDA IKHLAS PERSAHABATAN KITA. SELAMAT HARI RAYA AIDIL FITRI 1 SYAWAL 1430 H. MOHON MAAF ZAHIR DAN BATIN. SALAM KEMESRAAN DARI MALAYSIA.

  12. Tapi..kenapa ya kalo tiap ada agi-bagi (entah itu uang, BLT ato bahkan zakat dan sedekah)bangsa kami berbondong-bondong berteriak “saya lebih miskin dari mereka!!!!!”. Lalu terjadilah adegan saling injak memperjuangkan identitas “miskin”

  13. ironis.
    ini sindiran halus, mas randu.
    saya menikmati membacanya, jadi lupa sama kemiskinan.

    tapi sebenarnya orang nggak lupa-lupa amat kok, mas. buktinya kemiskinan sekarang menjadi komoditi wisata di jakarta. turis aja mbayar buat nonton orang miskin. trus reality show yang nggak real itu pun banyak yang menyoroti kemiskinan. sekarang orang cari duit dari memamerkan orang miskin, mas. nah.

  14. He he he… Lanjutkan!

  15. Tulisan ini menggeliti!
    Sindiran cerdas pak.
    Luv it so much!!


Leave a Comment