Repertoar Pak Botol

Di bulan puasa ini mari kita bicara yang ringan-ringan saja. Mari melewati bulan ini dengan penuh introspeksi diri. Bagi yang telah terbiasa mematikan nalar kebijakannya, mari pancang kembali radar untuk mencari gelombang dimana suara Tuhan biasa “siaran.” Mari kembali menjadi makhluk. Mari menjadi manusia.

Seorang teman wartawan beberapa hari lalu datang dengan tergopoh-gopoh dengan mata bersinar-sinar bagaikan musafir yang baru menemukan air.

“Luar biasa, saya hampir tidak percaya,” retetnya.

Ia kemudian mengisahkan perjalanannya. Teman saya ini kebetulan seorang yang tergila-gila dengan dunia memancing. Bersama beberapa teman dengan profesi dan kegilaan yang sama, juga seorang anggota dewan yang mempunyai referensi tempat-tempat dimana ikan biasa ngumpul, mereka melakukan perjalanan jauh ke luar kota.

Di lokasi pemancingan yang dibentuk oleh banjir secara alami. Pasukan pemancing ini rupanya harus berjalan-jalan beberapa kilo di tengah terik matahari yang panas di atas kepulan tanah bekas kebakaran lahan yang masih menyimpan sisa –sisa panasnya. Kaki jadi melepuh. Tenggorokan kerontang. Namun persediaan air tidak banyak dan telah habis dalam perjalanan.

Tak tahunya, seorang penduduk setempat menawarkan kepada teman saya untuk menmgambilkan air minum. Teman saya kaget. Kesadaran kotanya kacau. Tentu saja ia bercuriga. Di pikirannya pastilah orang ini memiliki pamrih sekadar sepuluh duapuluh ribu isi kantongnya.

Tak sempat berpikir panjang, ia betul-betul berlari mengambilkan air bagi teman saya. Saya rasa tak usahlah diterangkan bahwa panas hari itu memang betul-betul seperti di padang mahsyar. Tapi dengan semangat entah apa, orang tersebut pulang balik mengambilkan air sebotol !

“Saya kemudian kasi dia uang, tapi ndak mau diambil,” kata teman saya itu. Orang itu mengatakan ia bersyukur bisa membantu para cowboy dari kota ini.  KO lah teman saya. Ia kagum luar biasa. “Ternyata saya terlalu lama tinggal di kota,” renung  si bocah Jogja, wartawan teman saya itu.

Mungkin kisah-kisah nyata seperti ini tidak lagi banyak mengharukan kebanyakan kita. Reportoar kecil ini tidak mempunyai daya ledak seperti bom Mariiot atau reality show “:Pengepungan di Temanggung”. Meski bukan reportoar fiktif, tetapi bagi komoditi pemberitaan, cerita-cerita seperti ini tidak akan pernah sampai di bangku redaktur bahkan tidak juga nyantol di bloknot-nya wartawan.

Bisa dibilang  si Pak botol –demikian ia kita sebut- sangat sangat tidak realistis. Sok moralis, dan naif. Kalau pelaku adegan ini adalah seorang gubernur yang masa tayangnya akan segera habis, bolehlah kita curigai ia  hanya ingin mencari popularitas untuk dipilih kembali. Tetapi ini hanya pak botol. Mungkin ia tidak tahu, bahwa ia kali itu bertemu dengan para wartawan yang mampu mengantarkan popularitasnya seperti juga seorang Ustaz setempat yang diekspose habis-habisan sehingga menjadi tenar malah kemudia mulai mengambil jarak dari pers.

Tidak, pak botol tidak seperti itu, ia bahkan tidak tergadaikan oleh kilatan blitz para wartawan. Kamus ekonomi modern tidak sanggup menengkurapinya. Mesin akutansi dan kalkulalasi computer akan “hang” jika dimasukan programnya.  Ia mengangkangi peradaban dan menjadi  sisa masa silam yang kini arca di pinggiran sejarah.

Cek dan ricek, rupanya penduduk desa itu sepertinya memang tidak terjamah oleh para motivator ekonomi yang mencari penghidupan di seminar-seminar.  Anggota dewan yang turut serta dalam kepergian memancing itu mengatakan bahwa penduduk di kampung tersebut memperoleh rezeki berton-ton ikan di lokasi tersebut pada suatu waktu. Jumlah itulah yang dipakai untuk memenuhi kehidupan sehar-hari mereka selama setahun sambil menunggu musim banjir datang. “Amun kita ini, uang itu kita jadikan uang tambahan untuk beli mobil dan rupa-rupa kemoderan lain, sambil kita cari nafkah lagi, tetapi mereka tidak, ada uang banyak ya bisa nganngur sampai uang habis” ujar si anggota dewan tersenyum-senyum.

Tapi, tentu saja tidak usah diracuni oleh sikap hidup kampungan semacam ini. Apapun profesimu, dimanapun bidang kerjamu, yang terpenting capailah sukses. Sukses disini tidak boleh tidak harus berupa banyak uang. Anak istri musti dibiknkan rumah sendiri, kalau bisa yang bergaya spanyol. Cukupi kesejahteraan, isi pundi-pundi uangmu, dan anak-cucumu kalau perlu sampai tujuh turunan kelak. Apapun caranya, perlihatkan makmur subur gemah ripahmu. Hidup ini yang penting sosok penampilanmu, sisiran klimis rambutmu, merk hape  dan aroma parfummu.

Ya Ndak  ? (randu@radarbanjarmasin.com)


Diterbitkan di:  on September 9, 2009 at 9:08 am Komentar (11)

URI untuk melacak balik entri ini adalah: http://randualamsyah.wordpress.com/2009/09/09/repertoar-pak-botol/trackback/

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

& Komentar Leave a comment.

  1. paragraf terakhir itu sarkasme, bang.

    banyak sisi kehidupan yang belum “teracuni” hedonisme dan ambisi duniawi yang tidak kita kenal, padahal dulu merupakan bagian dari wajah bangsa ini. mungkin tidak harus mengadaptasi gaya hidup tanpa ambisi seperti itu bulat-bulat, tapi sikap tolong-menolong tanpa pamrihnya itu rasanya perlu deh. sekarang ini orang-orang selalu berhitung bila melakukan sesuatu. akhirnya depresi sendiri bila pendapatan tidak sesuai hitungan.

    ya, ndak? :P

  2. ajari nulis kaya gini ndu. aku kok ndak pernah berhasil.

    kadang-kadang hati bisa jadi sebongkah batu karena kerasnya individulisme yang mengendap dari sifat pamrih. keknya para mancing mania itu jarang mancing ke pelosok. kalau memang harus jujur, orang kampung umumnya lebih terbiasa tolong menolong dibanding orang kota.

  3. @ Marshmallow : Akur Mbak, setuju sekali. Btw, saya kalau sebut tulis nama Marshmallow pasti bawaannya jadi laper. nama itu ada hubungannya dengan makanan ya ?

    @ Suhadinet : Bujur pak ai, makanya bawai jua bubuhan orang kota gaul kayak kami -kami ini nah mancing di sana…

  4. entah apa yang terpikir dari apa yang dipikirkan sehinga engkau menulis ini.Dan bila rezeki itu datang maka sambutlah sehinga rumah akan bisa di bangun. semoga

  5. ASSALAAMU’ALAIKUM

    Alhamdulillah… selamat bertemu kembali Tuan Randu, gembira banget saat menjenguk ke jendela bilik sunyi Randu Alamsyah ini, sudah ada penghuninya untuk menerima kembali tetamu yang tentunya sentiasa merindui coretan-coretan santai yang mengasyikkan.

    Cerita dan pengalaman di atas sungguh mengesankan dan menghadirkan keinsafan untuk sentiasa bersyukur dengan apa yang ada. Selamat menyambut Ramadhan yang penuh barakah dan kemaafan dipohon andai ada ketika menyakiti hati yang dalam tanpa disedari. Salam mesra dan hangat selalu dikirim dari jauh di Malaysia.

  6. Pemikiran pak botol tu ulah OS hanyar ja sudah. Btw, dimana garang maunjunnya?

  7. kota … juga masih ada yang seperti Pak Botol, bahkan Jakarta sekalipun atau mungkin di luar Indonesia lebih jauhnya … ada saja yang tolong menolong tanpa pamrih … dan mungkin saja, kita yang terkadang terhalang untuk mendapatkan kebajikan itu bahkan di desa sekalipun.

  8. mencoba berharap, bahwa pak dewan itu tengah menyindir diri sendiri dengan jeratan materinya :(

  9. randu…sudah klar ya novel kedua….sekalian infi darul ilmi yang terkini…..thaks infox

  10. randu…sudah klar ya novel kedua….sekalian info darul ilmi yang terkini…..thaks infox

  11. Hmmm
    jadi terlihat toh sapa yang sebenernya kampungan, yang hidupnya di kota apa malah di desa sana.


Leave a Comment