Saran untuk 2009
jika kau mencari sopir, jangan ambil sopir yang belum pernah tabrakan, jangan terima pelayan di warungmu jika tangannya belum pernah tergores pecahan kaca, jangan pake joki yang belum pernah disentil kaki belakang kuda, jangan kasi kepemimpinan daerahmu kepada orang yang belum pernah korupsi…
Reuni
( Bukan maksudku berbagi nasib, Nasib adalah kesunyian masing-masing…)
Baiklah. Ini tentang ingatan kemarin. Sudah terlalu lama waktu berlalu, rupanya. Sehingga ketika pesta selesai, dan semua orang telah pulang ke dunianya masing-masing. aku masih pula berdiri sendiri disini.
Teman – teman dari seluruh pelosok datang, meninggalkan segala kesibukan dan keterjebakannya pada hari – hari yang tak pernah lagi menyeruak ke masa silam-untuk sekedar bertegur sapa, sepatah dua patah kata ; hai, masih ingat waktu itu, kita berbagi nasi dijam 3 malam ? masih ingat kau sobat, ketika kita melewati kuburan di bulan purnama untuk mletakkan surat di beranda rumah gadis rebutan kita ? waktu itu kita berlompatan di atas nisan dan meluncuri rerumputan setinggi dada. ingat jugakah kau kawan, waktu kita memperdayai nenek tukang masak untuk mencuri barang satu dua buah tahu ?
Percayakah kau, sobat. Masih kusimpan rindu itu. sebelum akhirnya aku sadar, bahwa hidup ini sebenarnya adalah pertarungan demi pertarungan. Aku, Demi Allah, sobat, mampu melewati segalanya, tapi betapa susahnya mengalahkan waktu.
Tolong Bangunkan aku di 2010
Siapa anda ? Apa yang ada dalam pikiran anda ketika menatap Baliho, pamflet, Spanduk, yang menampilkan gambar – gambar Close up dan inosen yang bukan saja makin mempersempit ruang bebas pandangan anda tapi menambah jumlah kegelisahan anda di 2009.
Jika anda seorang penghayat demokrasi, mungkin anda sedang berdebar – debar menanti orgasme luar biasa yang menyentak hingga ke sumsum anda. Jika anda seorang Polisi, Anda mungkin berusaha makin intim dengan artileri anda : tameng, Pentungan, rompi anti peluru, dll. anda seorang artis dangdut ? maka mulai sekarang sering-seringlah berlatih menyanyi dan bergoyang 22 jam sehari, misalnya.
Sayangnya mungkin anda hanya-seperti saya- seorang rakyat biasa. Rakyat biasa itu tak bisa mementaskan kemanjaan politik dan ekonomi anda di panggung structural. Rakyat biasa tak mampu tawar – menawar jumlah nasi di piring sendiri. Jadi yang bisa kita perbuat hanyalah tidur, sebelumnya saran saya, tulis dulu dipintu anda : “ Tolong bangunkan aku di 2010.
Pada suatu hari Abunawas mencuri sebuah kursi di pasar dengan cara mengambil paksa kursi itu ketika sedang diduduki. Tapi Hold on…Wait a minutes. Hadangi satumat…
Apa pula koq tiba – tiba Abunawas kita tokohkan disini ?
Semakin banyak saja hal – hal yang memusingkan di negeri ini. Jangankan lagi bagi mereka yang nuraninya senantiasa berkhusuk ria dengan mimpi kebenaran dan keadilan, sedangkan bagi mereka yang tergolong maling – maling lokal maupun nasional saja, Tahun 2009 nanti akan dibuat lebih pusing dari kemarin.
Menjadi pejabat, Caleg, Gubernur, Presiden sebenarnya adalah peristiwa politik perekonomian pribadi. Sebagian besar rakyat yang tak mampu mengkapitalisasikan diri dalam sistem menggiurkan itu, hanya mampu mengkapitalisasikan suara untuk memilih.Celakanya, mereka tak lagi menggagasnya sebagai kasus kepemimpinan untuk kemajuan, karena memang ada politikus yang memolitiki mereka, maka dalam proses pemilihan nanti mereka berusaha balik memolitiki segala kemungkinan yang melibatkan mereka sebagai subjeknya.
Jujur, Siapa mau dengar Visi Misi ? Bagi mereka yang setelah didera secara simultan oleh omong besar dari Pemilu ke Pemilu yang memposisikan mereka seperti seksi cuci piring setelah perhelatan akbar selesai, tak lagi mempunyai alasan yang rasional untuk memilih yang baik, yang benar, yang jujur.
Maka bermain Pimponglah sakit hati, kekecewaan, penyesalan, apatisme. Toh walaupun memilih malaikat pun, keadaan ya tetap gini – gini aja. Lapangan kerja masih sulit aja, harga – harga masih melambung aja, Gaji buruh masih gitu – gitu aja…
Wajib diakui, masih betapa banyaknya persoalan bangsa di lapangan yang tidak sanggup diatasi oleh lembaga – lembaga Negara. Bahkan seringkali Lembaga Negara justru menambah jumah kepusingan bangsa. Ditambah lagi oknum – oknum aparat yang makin memperbanyak jumlah kunang – kunang di sekitar kepala rakyat.
Oleh karena itu, dalam situasi pusing nasional dan berdebar – debar menanti tahun 2009 nongol, ada baiknya kita puter kembali “ lagu – lagu lama” yang mungkin sudah sering anda semua mendengarkan. Lagu – lagu penentram yang bisa menghilangkan pusing. Silakan anda menyiapkan kaset – kaset anda, untuk diputar, yang isinya mungkin sengaja menyindir diri kita sendiri. Bisa Kisah – kisah nyata, anekdot, atau dongeng.
Saya sendiri sebagaimana telah anda dengarkan “intronya “ telah menyiapkan salah satu nomer dari Album Abunawas yang maling di pasar.
Dengan amat gampang Abunawas ditangkap oleh para penduduk pasar. Diteriaki dan hampir saja dipukuli layaknya pencuri sandal di Masjid – masjid.
Abunawas diseret beramai – ramai ke Pos keamanan pasar. Langsung Diintrogasi. Tapi tak sepatah kata pun terucap dari mulutnya.
Walaupun dipaksa Abunawas tetap diam. Membisunya Abunawas menjadi isu nasional yang memenuhi Koran – Koran sehingga Raja turun tangan. Tapi hendaknya diketahui kasus pencurian kursi itu berlangsung di luar negeri jadi rajanya bukan Harun Arrasyid.
Namun di hadapan Raja pun Abunawas tetap membisu. Sempat dicambuk punggungnya oleh pengawas kerajaan atas perintah Raja tapi masih juga membisu. Akhirnya Raja memasukannya ke ruangan khusus. Raja Menganugerahkan kesabaran terakhirnya untuk mengintrogasi Abunawas.
Halnya dalam diri Abunawas sendiri banyak kalimat – kalimat introgasi yang tidak disukai Abunawas. Tapi di negeri itu Ia tidak berani menggelengkan kepala. Banyak orang jatuh dan gegar otak hanya karena ia terpeleset menggelengkan kepala. Abunawas hanya memberi isyarat dengan gerakan tangannya, akhirnya raja memberinya kertas dan pena. Abunawas menulis : “Apakah paduka menjamin keamanan saya sesudah saya berbicara ?”
“ Saya jamin !” jawab sang raja langsung. Tentu saja beliau tidak ingin Abunawas kelak nyanyi di Pers internasional bahwa HAM tidak dijamin di negerinya. Apalagi tahun – tahun terakhir Masyarakat sedang sangat menyoroti soal itu.
Maka Abunawas menulis lebih lanjut : “ Hamba tidak percaya kepada Paduka raja.”
“Betapa terperangahnya sang raja “ tidak percaya bagaimana ? “ Beliau membentak.
“ Tidak percaya bahwa raja sungguh – sungguh membolehkan saya berbicara,” Tulis abunawas.
Sang raja semakin jengkel. Namun ditahannya. “ Jangankan berbicara, buktinya menulis pun boleh. Ini negara merdeka, Abunawas ! “
“ Itu karena Paduka kebetulan sedang berkenan dan membutuhkan saya berbicara atau menulis.”
Hampir saja raja membentak : Jangan banyak Mbacot! Tapi beliau sadar itu bertentangan dengan kalimat yang baru saja beliau ucapkan. Maka yang beliau ucapkan adalah : “ Silakan bicara apa saja maumu !”
Abunawas menulis : “ Saya mau bicaratapi tidak hanya didepan paduka dan pengawal. Melainkan juga dihadapan semua menteri, sebab ini menyangkut masalah nasional .”
Terpaksa raja membawanya keluar dari ruang khusus. Kembali ke balairung dimana dimana para menteri dan para petinggi lainnya berkumpul.
Abunawas pun berpidato : “ Saya mencuri di pasar dengan tiga tujuan. Pertama, Ada pepatah mengatakan ‘ Masuk kandang kambing mengembik, masuk kandang sapi melenguh’ jadi saya sekedar menirukan kebiasaan tuan rumah.
Betapa panas hati raja dan para menteri, tapi demi HAM mereka berlagak tenang.
“ Tujuan kedua adalah supaya bisa bertemu dengan raja. Dan hanya dengan melakukan hal yang dipasar itulah saya memiliki kemungkinan untuk punya sentuhan dengan paduka.”
Rasanya ingin sekali raja mencincang-cincang Abunawas.
“Dan ketiga. Yakni tujuan saya yang terakhir ialah ingin menunjukan kepada raja bahwa di pusat pemerintahan paduka ini ada maling.”
Hampir saja Raja mengangkat tangannya untuk menonjok mulut Abunawas. Tapi lagi – lagi ditahannya. Beliau berkata “Tunjukan mana malingnya! Kalau kamu bisa menunjukan oknum berikut bukti konkretnya, kamu akan saya kasih hadiah. Tapi sebaliknya kalau tuduhanmu palsu, kamu layak digantung!”
“Saya akan tunjukan paduka dengan dua syarat “
“ Sebutkan apa syaratmu ! “
“Pertama, sebelum saya menunjukan siapa maling itu, saya minta setiap menteri dengan jujur menunjukan juga maling yang diketahuinya. Kedua, sebagai balas jasa, begitu selesai saya melaporkan siapa maling itu, Paduka memperbolehkan saya untuk pergi dari negeri ini. “
“ Silakan !” Raja menjawab spontan, karena sedemikian emosionalnya.
“ O,ya jangan lupa soal janji hadiah itu, paduka !”
“ Jangan khawatir. Dan sekarang saya perintahkan setiap menteriku untuk menyebutkan satu maling saja setiap menteri !”
Ributlah para menteri, tuding menuding satu sama lain. Raja semakin pusing sehingga membentak : “ Jangan rebut disini ! Kalian semua ke ruangan sebelah sana! Tuliskan maling itu satu persatu sambil tunggu hukuman saya ! “
Para menteri ramai – ramai berpindah ruangan sambil tetap rebut antara mereka.
“ Syarat sudah saya jalankan,” kata raja kepada Abunawas. “ Sekarang sebutkan siapa maling di istanaku yang maksud itu ?”
Abunawas menjawab : Saya sendiri, paduka.”
Sebelum kita bertumbangan
kita selalu terlupa membaca cuaca
yang memakani pohon pohon usia
sampai nanti kita tersadar
ada lagi yang tumbang dalam diam
dan kita berada di deretan itu
menunggu
sementara sebelum saat itu datang
aku ingin membangun sebuah rumah sederhana
di dalamnya ada sebuah meja
dengan dua kursi di dekat jendela
tempat kita menangis dan membusuk
dan malamnya kita sembahyang
menggugurkan dosa dosa
* Hasil adaptasi dan sedikit modifikasi dari puisi Sandi Firly, Sebelum kita bertumbangan.






