UMBU Landu Paranggi adalah sosok yang agak “misterius” dalam pelataran puisi kita. Pamusuk Eneste pernah jauh-jauh menyambanginya ke Bali guna mendapatkan puisi-puisi sang penyair untuk diterbitkan. Menurut cerita, di Bali itu Umbu sudah sepakat akan mengirimkan 100 puisinya kepada Pamusuk Eneste yang lalu pulang duluan ke Jakarta.Tapi tunggu punya tunggu kiriman puisi itu tidak pernah muncul, maka batal jugalah rencana penerbitan buku puisi Umbu.
Tidak jelas mengapa gerangan Umbu seperti bersikap “jual mahal” begitu. Adakah ini sebentuk “perlawanan” dari seorang Umbu terhadap gempuran “pasar”? Sebab lelakon “heroik” seperti ini memang ada. Beberapa tahun yang lalu saya mendengar cerita ada seorang penyair di Surabaya yang lebih suka menyimpan saja puisinya di laci, ketimbang menyiarkannya ke koran-koran, umpamanya. Ia, tak sampai hati kalau puisi-puisinya itu “jatuh” menjadi sekadar “komoditas”.
Kita tak tahu apa alasan sebetulnya Umbu. Yang kita tahu, Umbu telah menempuh cara dan jalannya sendiri untuk menjadi “besar” – jika “kebesaran” menjadi tujuan dan ukuran dalam berkesusastraan. Ia rupanya tak tergiur untuk langsung bertarung di panggung. Adakah ia jerih? Entahlah. Tapi ia memilih bagian belakang panggung itu, dan dari sana memainkan lelakon pilihannya sendiri. Tidak perlu diulang lagi cerita suksesnya di Yogya dulu, cerita mana agaknya ingin diulanginya lagi di Bali.
Umbu agaknya kerasan dengan pilihannya.Dan yang lebih penting, agaknya ia tak keliru memilih tempatnya, di belakang panggung itu.
written by Ook Nugroho
Untuk pertama kalinya saya melihat wajah Umbu Landu Paranggi, yakni berbentuk poster di rumah Raudal Tanjung Banua di Jogjakarta, sekitar 2 tahun lalu. Dia memang misterius, hanya namanya yg masyur…
Sang Guru yang mungkin tak pernah lagi dilahirkan oleh Indonesia.
saya tidak mengerti tapi pengen tau
hhhmmmm… jadi penasaran pengen baca karya Umbu Landu Paranggi…
bapak sastra indonesia….
@soulharmony : Entertainer seperti Mas SoulHarmony pasti tau…
@angga : Karya-karyanya ga ada diterbitkan tapi mungkin ada yang berceceran di internet…googling aja
@denologis : Lam kenal, betul. Tapi Umbu sendiri mengangkangi segala julukan resmi tentang dirinya…Wah…
Ya, dia kekagumi saya. Saya juga enam tahunan berkelana di Jogya; kenal juga dengan beberapa orang-orang hebat di Jogja. Umbu adalah inspirator terbaik.
Salam.
Saya juga sangat setuju kalo ada pendapat Daya Spirit Umbu itu telah menular ke Pak ersis…
Sah…!
hmmm…sajak-sajak sunyi…itu kesan bila membaca
sajak-sajak sang misterius itu.
Begitulah kabar kudengar tentang Umbu…dari Jogja ke Bali, tapi seperti hilang saja…
yang pernah kusaksikan langsung, puisi2 umbu dimusikalisasikan oleh tan lio ie sewaktu di joga. judul albumnya Kuda Putih, sayang kaset yang kubeli sewaktu di purna budaya ugm itu–saat menyksikan TLI menyanyikannya–hilang entah di mana…
hanya itu yang kutahu, selain kisah2 TLI ttg umbu yg begitu misteriusnya itu.