Tom Cruise, Ambisi Copra, dan Film Terlaris Sepanjang Masa

“Sudah biasa, di kota-kota besar, sering terjadi hal-hal kecil…”

 

Jika saja Aditya Copra mempertahankan sifat keras kepalanya, barangkali jutaan orang di antero dunia tidak akan menemukan mozaik dan pengalaman  terindah dalam menonton film India. Putra mahkota Yash Copra itu ingin menjadikan Tom Cruise sebagai pemeran utama dalam film debutannya. Cruise meskipun tampil baik Gambardalam The Last Samurai, dan dianggap sebagai investasi aman bagi dunia perfilmen di negara-negara berpenduduk terbanyak,  tetapi wajahnya terlalu “angkuh” dan rasannya juga  ia tidak pandai menari India.

Aditya Copra sebenarnya tidak sebodoh itu. Dalam hitungan industri, ia jelas sangat cerdas. Ia ingin membidik dua kelereng sekaligus dengan satu bidikan yang presisi. Ia ingin menaklukan dunia. Ia punya modalnya: uang, kejeniusan, intuisi, keberuntungan dan dan sentuhan alamiah yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang hidup di industri perfileman.

Untunglah anak muda gila, cerdas dan kelebihan semangat itu segera diinsyafkan ayahnya. Puluhan tahun menjadi produser film yang sukses, visi Yash Copra sudah terlalu tajam untuk bisa dikelabui. Semangat menggebu-gebu selalu menyimpan bahaya dan tanpa perhitungan yang matang, sebuah film hanya akan disimpan di luar sejarah: banyak yang akan menontonnya, tidak banyak ruang untuk mengenangnya.

Maka ide untuk merekrut Tom Cruise segera dilupakan. Sebagai gantinya, perlu seorang anak muda berkarakter paduan antara timur dan barat.   Ia tak hanya seorang yang bisa menjiwai perannya, tetapi juga yang bisa memiliki magis dalam tatapan dan gerak-geriknya. Ini film India moderen. Pemeran utama biasa yang hanya bisa memukul anak-anak muda pasar dan menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah berminyak, sudah banyak ditinggalkan di era awal tahun 90-an.

Disinilah pentingnya imajinasi. Jika ketepatan adalah persilangan garis antara  momentum dan kesempatan, maka Copra barangkali membutuhkan lebih dari sebuah keyakinan untuk bisa menemukan takdirnya. Dan seperti film-film yang akan selalu dikenang orang sepanjang masa, seringkali keajaiban terjadi di detik-detik terakhir. Di saat-saat menentukan itu, Copra menemukan Shahruk Khan…

Jika Anda mengira saya berbicara tentang Kuch-kuch Hota Hai, maka Anda keliru. Bagi saya (dan mungkin sebagian besar pecinta film India di antero dunia), Kuch-Kuch Hota Hai bukanlah yang terbaik. Waktu telah membuktikan. Sejarah berbicara lebih jujur daripada apa yang dikatakan mulut.Aada film yang selalu ditonton orang seperti mereka menonton sisi paling romantik dari hidup mereka. Ada film yang selalu dikenang seperti mengenang keremajaan yang fana dan keindahan hari-hari.   

Benar.

Saya berbicara tentang Dilwale Dulhania Le Jayenge.

***

 

Saya tidak mempunyai masalah dengan Kuch-Kuch Hota Hai (KKHH). Saya menyukai KKHH seperti semua orang menyukainya. Persahabatan, cinta, airmata, pengorbanan, sebut saja. Tetapi KKHH tidak memberi banyak sensasi menonton film India seperti Dilwale Dulhania Le Jayenge (DDLJ).  Banyak film India bagus yang pernah saya tonton di sepanjang dasawarsa tahun 2000- terakhir, tapi sulit menemukan ide, tema, musik, penggarapan seperti Copra dan Aditya membuat DDLJ.

DDLJ seperti sebuah kemurnian. Cerita cinta yang menjembatani tradisi antara timur dan barat. Raj Maholtra  –diperankan dengan amat memikat- oleh Shahruk Khan –adalah seorang anak muda keturunan Hindustan yang lahir dan tumbuh di tengah potret eropa yang asing, kosong dan sunyi. Cekikan individualisme London membuat tidak banyak cinta yang dikenalnya. Sementara Simran – diperankan Kajol – meski juga tumbuh dan besar di London, tetapi terikat oleh nilai-nilai Punjab yang kental. Ayahnya, Chaudhary Baldev Singh (Amrish Puri), seorang lelaki yang telah 20 tahun menetap di London tetapi selalu merindukan tanah tumpah darahnya dan menjaga agar keluarganya memiliki “nurani Punjab” dan tradisi desa yang konservatif.

Untuk menjaga hubungan dengan kampung halamannya,  Baldev Singh telah mejodohkan Simran dengan anak sahabatnya di Punjab. Kuljet Singh, putra kebanggan Ajit Singh, sahabat Baldev, adalah seorang anak muda yang hidup dengan tata-nilai keluarga terhormat di Punjab yang ketat dan selalu mengutamakan harga diri. Kuljet menghabiskan waktu sebagai pemuda tangguh yang setiap hari berburu. Di Punjab, anak-anak muda seperti itulah yang menjadi dambaan setiap mertua.

Mengetahui waktu perjodohannya sudah semakin dekat, Simran pasrah dan membuang kegalauannya dengan berlibur panjang selama sebulan berkeliling Eropa. Di stasiun kereta api, disanalah ia bertemu Raj, cintanya. Meski pada akhirnya, ia diboyong ayahnya ke Punjab, cinta selalu menemukan jalannya pulangnya sendiri.

 

***

 

Kolase terbaik film ini adalah pergulatan norma dan tata nilai antara timur dan barat. Chopra membuat penempatan sudut pandang yang tak biasa kala itu dengan membuat tokoh utamanya, Raj, justru lebih bermoral “Hindustan” daripada Kuljet yang dibesarkan di desa dalam pagar-pagar tata nilai yang tertib dan tanak.  Dalam sejarah film-film India, secara ekstrem, sistem moral selalu dimonopoli oleh tradisi dan kearifan Hindustan.

Di sisi lain, ide cerita tentang para penduduk india yang telah berdiaspora ke Eropa- utamanya London-  menginspirasi film-film lainnya yang hadir sesudah DDLJ. Sebut saja, Salam Namaste, Pardes, Kal Ho Na Ho, hingga Kabhi Kushi Kabhi Gaam, My Name is Khan. Dua judul terakhir ini bahkan, menyandingkan duet Shahrukh Khan dan Kajol yang menjadi hulu ledak utama keberhasilan film ini, tetapi  meski berhasil menjaga stigma sebagai  pasangan romantis dalam film cinta india modern, sangat sulit untuk mengulang keberhasilan DDLJ.

Telah hampir 20 tahun,   film ini secara nonstop  masih diputar di bioskop Maratha Mandir,di Mumbai. Keajaiban tidak berhenti sampai di situ. Ada ratusan orang terus hadir dan peminatnya tidak pernah berkurang.  Yash Copra mengatakan ia belum pernah melihat selama puluhan tahun bioskop selalu memutar film yang sama dan tidak pernah kehilangan penggemar. Mereka selalu memupunyai antusiasme yang sama seperti di awal-awal menonton DDLJ. Mereka bersorak, bertepuk tangan, menghafalkan dialognya dan menyanyikan lagu-lagunya. Semua orang selalu kembali ke bioskop, menontonnya, dan merasakan sensasinya.

 

***

 

 

Saya menikmati film yang bagus. Beberapa film India sangat bagus, tetapi DDLJ, di luar dari semua ekspektasi  saya tentang film. Ia akan selalu dikenang seperti saya merindukan langit biru, arakan awan putih,  havana luas, tempat segala inspirasi melanglang tanpa batas. Saya tidak sering menikmati DDLJ untuk menjaga mood saaya tentang film itu. Musiknya Tujhe Dekha Toye Jaan Sanaam (Baru kutahu magisnya cinta), saya hindari agar saya tidak merasa bosan. Ini adalah bekal bagi seseorang yang ingin mengenang sesuatu dengan abadi.

Published in: on Maret 9, 2012 at 8:20 am  Komentar (4)  

Setelah Tahun -tahun Berlalu…

Saat memutuskan untuk membuat akun Facebook, beberapa tahun lalu, tidak ada secuil imajinasi saya akan berhenti menulis sesuatu di blog ini. Facebook waktu itu bagi saya, adalah budaya urban yang lebih mementingkan keluasan dibanding kedalaman. Dan seperti riak-riak  gelombang yang tak pernah tetap, lautan selalu menyimpan mutiara berharganya di kedalaman dasarnya dan bukan di permukaan air yang berkilau-kilau diterpa cahaya.

Kenyataannya, ketika pada akhirnya, saya menjajal facebook di menit-menit terakhir setelah dilema panjang dan perseteruan hati nurani,  terasalah bahwa facebook memang bukan budaya yang baik. Ia mempunyai kekuatan seperti yang diembuskan oleh mie instant di malam hari: praktis dan langsung ke sasaran. Seseorang bisa memuaskan eksistensinya hanya dengan  “otw bandara, atau, “otw jakarta” .

Dan seperti semua hal-hal yang ditawarkan oleh sesuatu yang instant, hal ini akan berakibat buruk kemudian.

Maka tanpa terasa saya mulai meninggalkan posting akhir pecan seperti yang selama ini saya lakukan. Tulisan-tulisan panjang kini diganti dengan kalimat dan frasa –frasa pendek. Write news post diganti oleh “ wahta are you think?”. Semakin jauh, Bahkan saya juga kini harus tega menulis xoxoxoxo atau xixixix, atau wkwkwkwkw dan variabelnya…

Walhasil, blog dengan warna usang ini semakin kusam, dinding-dindingnya digelantungi sarang laba-laba, berlumut dan penuh kecoak. Orang yang datang jauh-jauh bahkan langsung putar balik begitu mendengar derit pintunya yang kini tidak pernah diminyaki lagi.

Memang adakalanya juga saya berkunjung ke sini, itu saat-saat dimana saya ingin melihat lukisan hitam putih dan bernostalgia dengan masa lalu yang menggelikan. Melihat komentar-komentar yang tersimpan dan membaca tulisan-tulisan lama dan kemudian merasakan keajaiban karena waktu ternyata bisa mengubah pandangan seseorang tentang sesuatu.

Kenyataannya, saya hampir pasti, telah melewatkan banyak hal indah saat menunggu komentar masuk. Langgam hidup yang cepat, seperti dereten kolom yang terus bergerak dalam rangkaian yang dinamis.   Status-status yang bermutasi di dalam jejaring-jekaring social hanya menyisakan satu kesadaran bahwa hidup adalah kecepatan dan persaingan. Tidak ada waktu untuk berhenti. Jika pun harus berhenti, orang-orang cenderung menyukai membuat reaksi cepat atas sesuatu dan selalu abai untuk refleksi mendalam. Kau tahu ironisnya? Kita terhubung tetapi saling  kehilangan. Barangkali itu jawabannya mengapa kamu merasakan ribuan temanmu di facebook justru membuat kamu semakin sendirian.

Saya barangkali belum siap untuk facebook, belum siap untuk hape, belum siap untuk mp3, belum siap atas semua kemajuan zaman yang membuat sisi-sisi terbatas dari kemanusiaan saya dipuaskan dengan cara-cara yang instan. Saya ingin tetap menjadi seorang yang tergagap-gagap saat seseorang mengirimkan saya surat, seorang yang selalu berada di beranda dan menunggu pak pos datang untuk balasan surat saya, seorang yang menempelkan radio di telinga untuk mendengarkan atensi saya dibacakan penyiar dalam rubric”kirim-kirim salam”, seorang yang ingin naik merogoh kocek dalam-dalam dan bertengkar untuk kembalian uang angkot, seorang yang berdebar-debar melihat filem Darah Muda diputar di bioskop.

Jika boleh memilih, saya tidak akan berpikir panjang untuk lebih memilih tipe recorder dibanding pemutar mp3, kaset pita dibanding cd, surat-surat dibanding sms, wartel dibanding hape, dan seterusnya-dan seterusnya.

Ada harga yang harus dibayar dan kemajuan memerlukan pengorbanan. Saat saya menulis catatan ini di siang hari yang mendung, ingatan saya terseret ke sebuah masa, saat harga buah-buahan belum dikapitalisasi dengan jual kiloan. Hidup justru lebih baik saat apple dan black berry, justru masih menjadi buah-buahan. ()

Published in: on November 10, 2011 at 8:09 am  Komentar (15)  

Teknik Melibas Tikungan untuk Pemula

Apa yang membedakan orang yang baru saja bisa mengendarai motor dengan yang sudah mahir? Tentu banyak sekali. Namun demikian, salah satu yang paling sering membedakan pengedara yang satu dengan pengendara yang lain adalah kemampuan menaklukkan tikungan. Hal yang sama terutama bisa dirasakan pada saat turing. Saat peserta yang satu harus ngantri di belakang peserta yang lain. Bahkan di arena balap pun fenomena ini sering ditemukan. Tentu banyak faktor yang bisa menyebabkan seorang pengendara memiliki kecepatan lebih lambat dari pengendara lain. Bisa perbedaan jenis dan teknologi motor, nyali pengendara, kondisi jalur yang dilalui, dst. Kita tidak mungkin membahasnya satu-persatu di sini. Namun demikian, setidaknya dari aspek riding style, teknik menaklukkan tikungan sangat berperan serta. Bagi yang sudah bangkotan dalam dunia balap maupun turing, teknik menikung bukan masalah lagi. Belajar dari pengalaman sehari-hari mereka bisa menikung dengan “sempurna”. Tikungan bisa dilibas dengan rapi. Tidak lebih dan tidak kurang. Lebih berarti nyelonong ke jalur lain yang berisiko tabrakan. Kurang artinya terlalu mepet ke bahu jalan yang artinya bisa nyusruk. Lantas bagaimanakah teknik menikung yang sesungguhnya? Pengertian Menikung Secara sederhana menikung (cornering/turning) dapat didefinisikan sebagai “membelokkan kendaraan ke arah yang dituju”. Bisa kiri atau kanan. Bisa akibat tikungan atau sekedar menghindari kendaraan atau benda tertentu di jalan. Namun demikian, dalam dunia otomotif ada perbedaan antara gaya menikung pada mobil dan motor. Ketika mengendarai mobil dan ingin belok, yang perlu kita lakukan adalah memutar stir mobil ke arah mana kita akan belok. Kalau kita ingin belok kiri, maka stir mobil kita putar ke arah kiri. Sebaliknya, kalau ingin belok kanan, maka stir kita putar ke arah kanan. Memutar stir akan membuat roda depan mobil berubah arah dari semula lurus menjadi ke arah kiri atau kanan, tergantung ke arah mana stir kita putar. Perubahan arah roda depan pada gilirannya akan membuat mobil bergerak ke arah mana roda depan mengarah. Roda depan mengarah ke kiri, maka mobil akan bergerak ke kiri, roda depan mengarah ke kanan, mobil bergerak ke kanan. Dalam setiap tikungan, mau cepat atau lambat, patah atau hairpin (tikungan panjang melingkar), mobil melakukan teknik yang sama. Namun pada motor, teknik demikian tidak sepenuhnya bisa diterapkan. Menikung pada motor setidaknya memiliki tiga gaya atau teknik dengan efek yang biasa dirasakan berbeda. Gaya Konvensional Gaya ini persis sama dengan gaya menikung mobil di atas. Tekniknya dilakukan dengan memutar batang stang secara bergantian kiri atau kanan tergantung mau belok arah mana. Gaya ini efektif pada kecepatan rendah atau sangat rendah. Biasanya pada saat kita ingin menikung lambat pada belokan patah dan dan sempit, gaya ini dipergunakan. Coba perhatikan orang yang baru belajar naik motor. Badannya selalu berusaha tegak sehingga terlihat kaku. Ketika berbelok dengan lambat semakin terlihat tegak dan setir diputar habis ke arah tikungan. Jadi, teknik ini sangat basic, bahkan secara naluri telah kita lakukan pada saat awal belajar naik motor. Bagi yang sudah mahir pun gaya menikung semacam ini masih dilakukan. Namun kecepatan aman yang disarankan di sini hanya sampai 10km/jam. Lebih dari itu harus dengan teknik lain. Body English (BE) Bagaimana halnya dengan kecepatan di atas 10km/jam? Teknik yang digunakan adalah Body English (BE) atau Counter Steering (CS). Mengapa mengubah teknik? Karena prinsip yang terjadi pada saat itu cenderung berbeda. Pada saat menikung pada kecepatan yang lebih tinggi, yang terjadi adalah perubahan kemiringan motor menurut input (tekanan dan tarikan) yang dilakukan terhadap stang. Kemiringan itu berpengaruh pada dan dipengaruhi oleh ban yang digunakan. Berbeda dengan mobil yang memiliki empat roda, motor hanya beroda dua. Demikian pula ban yang digunakan berbeda. Mobil bersifat flat (rata), sementara motor bersifat membulat. Prinsip yang terjadi pada saat miring dalam menikung adalah perubahan Contact Patch (CP). Semntara yang dimaksud dengan CP adalah bagian dari ban motor yang menyentuh permukaan jalan. Ketika motor berjalan lurus, bagian dari ban motor yang menyentuh permukaan ada di sebelah bawah ban di bagian tengah ban. Permukaan ban motor yang membulat pun demikian. Mempengaruhi CP sebelah kiri atau kanan, tergantung kemiringan kendaraan dan teknik yang digunakan. Nah, gaya BE adalah gaya memiringkan tubuh agar bisa belok. Gaya ini menggunakan berat badan untuk memindahkan CP. Bob Sumitro, pakar mengenai hal ini memberi contoh berikut: “Cari jalan yang lurus dan sepi, kemudian jalankan motor dengan kecepatan sedikitnya 30 km/jam. Setelah yakin bahwa lalu lintas sekitar sepi, pindahkan berat badan anda ke sebelah kiri atau kanan. Begitu berat badan anda pindah/bertumpu ke satu sisi, maka motor anda akan bergerak ke arah mana berat badan anda bertumpu atau anda pindahkan. Kalau berat badan anda pindahkan ke kiri motor akan belok ke kiri, sedangkan kalau berat badan anda pindah ke kanan maka motor akan bergerak ke kanan. Karena tahu mekanisme belok sepeda motor, saya yakin anda bisa menebak dengan benar kenapa hal ini bisa terjadi … Jawaban anda tepat. Sepeda motor bergerak ke arah mana anda memindahkan berat badan karena CP dari ban motor anda pindah ke arah tersebut.” Menurut pakar satu ini, Body English ini cukup efektif untuk belok. Namun apabila kecepatan pada saat belok agak tinggi (misalnya di atas 70 atau 80 km/jam) tidaklah demikian. Apalagi jika motor yang kita pakai termasuk jenis cruiser atau touring bike dengan rake/trail yang panjang. Gaya ini kurang efektif sebab radius belok kita tidak bisa setajam tikungan, yakni dengan kata lain, gaya menikung BE bisa menimbulkan efek cenderung melebar. Nah, pada saat itulah kita butuh gaya Counter steering (CS). Counter Steering (CS) Sudah jelas tujuan Counter Steering (CS) di atas, namun bagaimana tekniknya? CS sering dipahami secara harfiah sebagai mengarahkan stir ke arah berlawanan. Dalam hal ini arah yang berlawanan dengan arah ke mana kita akan menuju. Ini terdengar rancu, meskipun pada dasarnya kurang lebih demikian. Karena itu, lebih baik kita memahaminya sebagai “metode memiringkan motor ke arah tikungan yang dimulai dengan menekan stang (handgrip) ke arah tikungan yang dituju (kiri atau kanan).” Apabila ingin berbelok ke kiri, maka tangan kiri menekan stang kebawah dan dengan otomatis tangan kanan akan menstabilkan. Pada saat yang sama motor akan miring, namun badan cenderung tegak sebagai counter-kestabilan motor. Dengan demikian, teknik ini juga memindahkan CP, namun bukan dengan berat badan, tapi lebih banyak dengan permainan tekanan tangan pada stang. Untuk lebih jelasnya mari coba latihan ala Bob Sumitro berikut: “Cari jalan yang sepi dan agak lebar, kalau bisa jalan yang lurus. Sesampai di sana, kendarai sepeda motor anda sampai mencapai kecepatan 40 km/jam dan ambil posisi agak di tengah jalan. Ketika jarum speedo mencapai angka 40, dan setelah anda pastikan bahwa lalu lintas sepi serta tidak ada kendaran lain di sekitar anda, dorong stang kiri motor, sedikit saja dan perlahan-lahan. Jangan heran kalau begitu stang motor kita dorong ke kiri, maka motor akan bergerak ke kiri. Sekarang coba lagi lakukan hal yang sama, tapi kali ini dorong stang kanan, maka motor akan bergerak ke arah kanan.” Bagi kita yang kebanyakan menikung dengan BE, mendengar dan mempelajari CS seperti sesuatu yang baru. Mungkin karena selama ini kita membawa motor sesuai kebiasaan, menikung dan badan ikut membantu sudut tikungan. Bahkan banyak pula dari kita sangat terpengaruh dengan gaya pembalap melibas tikungan dengan memindahkan seluruh tubuh ke sisi dalam kendaraan di mana tikungan mengarah. Sementara tidak demikian halnya dengan CS yang menjadikan tubuh sebagai penyeimbang. Padahal sebenarnya hampir semua orang pernah menggunakan teknik ini. Ingat ketika masih kecil pake BMX atau waktu masih belajar-belajarnya naik motor? Biasanya kita meliuk-liukkan kendaraan dengan menekan-nekan setang kiri dan kanan. Alhasil seperti gaya Erik Esterada dalam film Chips. Namun demikian, mengapa akhirnya jarang kita gunakan? Karena makin lama kita makin senang dengan gaya belok dengan stang (pada saat tikungan lambat dan kecepatan lambat) atau dengan gaya BE sambil miringkan tubuh kiri dan kanan. Apa soal, kita miskonsepsi bahwa itu lebih nyaman, gaya, & safety. Kenyataannya, meski sudah sangat jarang kita gunakan, CS sangat menarik (fun), efektif, dan aman. Soal fun silahkan coba sendiri. Soal efektif karena gaya nikung CS benar menikung sesuai steering input (daya tekan kita) pada stang. Artinya a) badan tidak terlalu capai karena tidak perlu terlalu ikut doyong kiri kanan, b) menikung dengan CS memungkinkan posisi badan tetap lurus sesuai kemiringan motor atau agak lebih tegak dari kemiringan motor sehingga apabila terjadi hal-hal yang tidak diduga, seperti ada lubang atau menghindari kendaraan yang tiba-tiba bergerak memotong, kita tinggal menarik stang mengikuti badan yg tegak atau miring ke arah sebaliknya. Kenapa lebih efektif, soalnya berat badan kita tidak sedang miring ke arah tikungan. Bayangkan betapa susahnya memindahkan berat tubuh dari (katakanlah) sebelah kiri ke kanan secara mendadak untuk bermanuver menghindari lubang atau kendaraan lain. Jeda waktu (duration) dan tenaga (effort) yg digunakan pastlah lebih lama & berat. Pada teknik CS, hal ini tidak terjadi. Alhasil, setiap manuver terasa ringan dan kecepatan tetap bisa dipertahankan. Demikianlah tiga gaya dan teknik basic dalam mengendarai motor ditikungan. Sangat penting dalam berkendara sehari-hari, dan terutama bagi para bikers yang gemar turing. (dilansir dari hanung665.blogspot.com)

Published in: on Desember 21, 2010 at 1:30 pm  Komentar (5)  

Rasulullah itu…

Tubuh Rasulullah SAW tidak tinggi, juga tidak pendek. Warna kulitnya tidak terlalu putih dan tidak terlalu coklat. Juga rambutnya, tidak terlalu keriting dan tidak pula sangat lurus. Ketika wafat, pada kepala beliau hanya ada dua puluh helai uban. Tubuh beliau amat baik, berdada lebar hingga dua belah pundaknya, tampak agak berjauhan. Rambut beliau kadang-kadang dibiarkan panjang hingga menyentuh pundak, kadang dipotong pendek hingga hanya sampai pada bagian bawah telinga. Beliau berjanggut lebat. Dua tapak tangan dan jari-jarinya berkulit tebal. Kepala dan tulang lehernya besar dan kuat. Bentuk wajahnya agak bulat. Beliau bermata lebar dengan bagian tengah berwarna hitam pekat serta bulu mata yang panjang lentik. Penghujung matanya (saluran air mata) nampak berwarna kemerah-merahan. Di bagian tengah dada, dari atas memanjang ke bawah hingga pusar banyak tumbuh rambut halus bagaikan lembaran memanjang. Beliau berjalan kuat-kuat sampai membongkok sedikit seolah-olah sedang berjalan menurun. Wajah beliau bersinar berseri-seri dan cerah bagaikan bulan purnama. Suara beliau nyaring terdengar, dua belah pipinya rata pada permukaan wajahnya, dan bagian rahangnya tampak kokoh. Rata pada bagian dada dan perut. Dari bagian bawah bahu hingga lengan kedua tangannya tumbuh rambut halus, demikian juga pada bagian atas dada. Dua pergelangan tangan beliau tampak kuat dan agak panjang. Dua tapak tangannya besar dan lebar, tidak terlalu padat dengan daging. Pada bagian bawah bahu belakang sebelah kiri terdapat khatam an-nubuwwah (stempel kenabian) tampak seperti bulatan telur merpati. Apabila beliau sedang berjalan agak cepat, tanah yang diinjak seolah-olah bergulung-gulung di depannya. Langkah kakinya sama sekali tidak dipaksa-paksakan. Beliau menutupi kepalamya, dan menanggalkan tutup kepalanya sewaktu-waktu membiarkan rambut terurai dan menyisir janggutnya. Beliau memakai celak yang terbuat dari itsmid setiap malam, dengan mengusapkannya pada tiap kelopak mata tiga kali sebelum tidur. Pakaian yang beliau sukai adalah gamis berwarna putih dan habrah (jenis pakaian terbuat dari bulu berwarna agak kemerah-merahan). Lengan gamis beliau memanjang hingga pergelangan tangan. Pada saat-saat badan letih, beliau memakai pakaian longgar berwarna merah tua (agak coklat), izar (semacam sarung) dan rida (kain penutup punggung). Adakalanya beliau memakai pakaian rangkap berwarna seperti warnah tanah (afar). Kadang-kadang beliau memakai jubah agak sempit dengan lengan panjang, dan kadang-kadang juga memakai gaba (semacam gamis berlengan melebihi panjang tangan hingga ujungnya dapat di masukkan ke dalam gamis). Ada kalanya juga beliau memakai imamah (sorban) berwarna hitam dan menyampirkan kedua ujungnya di atas bahu beliau. Kadang-kadang beliau suka memakai kisa (semacam kain selimut atau kain panas) terbuat dari bulu. Beliau memakai cincin khauf (semacam sepatu terbuat dari kain tebal) dan terompah (na’l). [Diambil dari Ringkasan Sejarah Nabi Muhammad S.A.W., Sayyid Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas Al-Maliki Al-Hasani, hal. 27]

Published in: on Mei 25, 2010 at 4:35 am  Komentar (11)  

KBB II dan Chelsea Olivia

Kongres Budaya Banjar(KBB) sudah pula berlalu. Pesta yang menghabiskan miliaran rupiah itu selesai. Alhamdulillah, kongresnya sukses, budayanya sukses, tim sukses, Semuanya sukses.

Ketika lagi asyik-asyik merebus mie soto banjar untuk persiapan sahur, seorang teman mengirimkan SMS. Saya tidak ingat bunyi SMS-nya, tetapi ia bertanya apakah saya hadir dalam malam penutupan. Saya katakan saja, saya tidak hadir untuk sebuah alasan yang saya malu untuk menuliskannya disini.

Sahabat saya itu sungguh baik hati. Ia tahu betapa saya sangat ingin hadir dan mendengarkan bagaimana urang banua berbicara di banua urang. Ingin merasakan atmosfer  betapa banjar bukan hanya di museum tetapi juga available di hotel-hotel. Sahabat saya tak ingin, saya hanya menjadi korban dari konsep jurnalisme “ujar-ujar.”

Sebab, sahabat saya tahu pasti seperti jutaan penduduk lainnya, saya kerap hanya mempunyai komunikasi satu arah sehingga tidak objektif dalam memandang sesuatu. Gampang gumunan, mudah keruh dan tidak fokus sebagai ciri-ciri orang yang tidak terpelajar.

Meskipun juga -Alhamdulillah-ia paham, bahwa ijazah saya kelima-limanya keluar dari mesin tik di  pesantren tradisional dan bukan institute kesenian elit di jogja. Jisim saya tak cukup kuat untuk berlumus-lumus apalagi bicara ndakik-dakik tentang budaya padahal sejauh yang didapatkan hanyalah pengertian relatif yang dikamuflasekan sendiri sebagai objektivitas bersama.

Teman saya yang cerdas menuliskan oleh-oleh liputan dari penutupan KBB. Sejenis indepth report dan dipostingnya di situs jejaring sosial hanya berselang beberapa jam setelah acaranya berakhir. Dari beberapa paragraph,  kawan saya nampak asing di acara budayanya sendiri.  “Ini kongres budaya banjar ya ?” tulisnya ringan tapi serius di akhir tulisan.

Tak penting untuk saya menjawabnya. Bukan karena saya memiliki kepentingan untuk menjawab, tetapi karena semua  pandangan akan menjadi sangat relatif. Misalnya tentang adanya opera van banjar yang digeremangi oleh beberapa budayawan sebagai karya yang sangat dangkal dan terkesan latah meniru komedi sutuasi di sebuah stasiun tv.

Saya tak ingin berkata “ Oh, justru itulah budaya kita ; Meniru “. Tidak. Pengalaman saya hidup di Indonesia, prasangka seperti itu tidaklah baik. Saya diwajibkan untuk melihat sisi positif saja. Saya percaya panitia mempunyai pertimbangan khusus untuk itu, misalnya menciptakan asimilasi budaya banjar dengan perilaku kemapanan budaya modern. Sejenis “ngejam” untuk melihat harmonisasi efek artistik maupun nonartistik yang timbul. Suatu kreasi, inovasi dan terobosan yang segar sebagai langkah maju supaya budaya tidak tersekap oleh romantisme masa lalu. Perlu adanya sentuhan-sentuhan masa kini supaya anak-anak kita tidak bosan disuguhi menu yang itu-itu saja setiap tahunnya.

Sangka baik, bahwa penyelenggaraan ini memang diadakan untuk niat yang tulus demi mensubyeki kebudayaan sendiri.

Walaupun memang beberapa pihak mengatakan ada anasir kepentingan tertentu yang amat telanjang dan bla-bla politis lainnya yang memang sengaja disisipkan. Bagi saya, wajar saja. Itu namanya pesan sponsor, karena itulah acara itu ada. Anda tidak bisa melihat si Chelsea Olivia nangis-nangisan di tivi, tanpa dipeluangi untuk melihat sponsor. Sebab memang dari situlah statsiun tivi hidup dan memberikan Chelsea Olivia yang nggemesin untuk Anda.

Jadi marilah tak usah berputar-putar lagi  : Apakah KBB menjawab permasalahan budaya yang kian lama kian tidak bisa menemukan lagi bentuknya di tengah konstelasi abadi perpolitikan kita ? Apakah dengan mengadakan KBB, “dosa “ pemerintah terhadap budaya telah terhapus ? Sehingganya boleh saja tidak diperhatikan lagi, sebab untuk memperhatikan budaya pun kita harus menunggu waktu yang tepat, misalnya menjelang pemilukada…?

Mudah-mudahan tidak. Pemerintah harus tahu bahwa permasalahan budaya adalah sebuah permasalahan yang rumit. Saking peliknya, maka tidak boleh kita main pinggirkan dengan memasang angka politik dengan taruhan besar di bagian lain. Terlebih kalau kita akhirnya menyadari krisis politik sendiri dimulai dari krisis kebudayaan.

Tapi betatapun rumitnya, bisalah kita perlahan-lahan mengangsur cicilan politik atas budaya. Bisa dimulai dengan mengajak para budayawan dan para pelaku seni untuk duduk-duduk santai sembari menanyakan permasalahan mereka. Apakah mereka bisa hidup hanya menjadi seniman dan pelaku budaya? Apakah ada gaji untuk mereka belikan susu anaknya ? untuk sekolah anaknya yang dilatihnya bermamanda, berwayang gong, bermadihinan dan sebagainya, untuk meneruskan perjuangan orangtua mempertahankan seni budaya?

Apakah anak-anak mereka bisa mengangkat wajahnya dengan mimik muka yang tegar, tanpa takut diketawakan anak-anak yang semakin telah terbiasa dengan budaya-budaya modern? Apakah uang kas masih cukup untuk  membeli komponen pengganti pada beberapa instrumen budaya yang mulai dimakan rayap ? Apakah iklim mereka telah kondusif untuk mengembangkan ilmu langka mereka ? Ada berapa stel baju sasirangan mereka, bisakah pemerintah memperhatikan daki-daki yang melekat di beberapa bagiannya, sekadar membelikan pembersih, apalah lagi membelikan sasirangan baru untuk mereka ?

Sewaktu meliput di Jawa Pos National Network (JPNN) Jakarta, saya pernah membuat tulisan bersambung yang dimuat di INDOPOS dan diapresiasi oleh masyarakat Jakarta. Tulisan  yang mendeskripisikan suasana di anjungan kalsel TMII. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, rombongan gadis dayak dari anjungan sebelahnya harus memutar ketika melintasi anjungan kita. Bau dari berkilo-kilo kotoran kelewawar adalah aib nyata yang dipajang  di etalase kebudayaan kita.

Tapi kemudian, karena memang dapur saya adalah pesantren, saya tetap berkhusnuzon. Ciri kepempinan modern adalah suatu yang terstruktur. Pembangunan maupun perbaikan ada masa-masanya. Ada anggaran yang harus melewati berbagai mekanismenya. Itu membutuhkan waktu serta kesinambungan kepemimpinan. Jadi sementara menunggu perbaikan,   marilah kita berpuas diri dulu dengan mulusnya jalan-jalan dari Banjarmasin sampai hulu sungai. (randu@radarbanjarmasin.com)

.

Published in: on April 16, 2010 at 7:19 am  Komentar (6)  
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.