Tamu Pertama dalam Puluhan Kesunyian Natal

Meski dilahirkan dan mengalami masa kecil yang menyenangkan di Manado – daerah yang kebanyakan penduduknya adalah umat kristiani –dan sekolah di sekolah Kristen, saya tidak begitu banyak bersinggungan dengan hari Natal. Atau mungkin juga pernah, tapi saya tidak ingat. Bagi saya sebagai orang Islam, Natal hanya seperti hari-hari biasa. Kalau pun ada yang saya senangi dari Hari Natal, hanyalah bahwa pada hari itu sekolah libur. Jadi saya bisa main sepanjang hari.

Jika lelah bermain, kadang-kadang kami dipanggil oleh orangtua teman –teman saya. Diberi gula-gula, coklat, dan buku gambar. Di sore hari, Ibunya Conny, salah seorang teman saya, mendongengkan buku bergambar cerita tentang para nabi. Kadang-kadang saya masih bisa mendengar suara lembutnya saat menirukan sabda dari raja Sulaiman atau Musa yang membelah laut merah. Yang juga saya perhatikan adalah nama-nama Nabi di dalam buku itu, memiliki nama yang mirip-mirip dengan nabi-nabi dalam Islam. Yosep untuk Yusuf. Abraham untuk Ibrahim. Jacob untuk Yakub. Noah untuk Nuh.

Saya mencurigai mereka adalah orang yang sama.

Kelak, saya baru mengetahui bahwa kecurigaan saya benar. Sampai waktu itu, saya masih memahami bahwa baik Islam ataupun Kristen memiliki banyak kesamaan. Kami memiliki nabi –nabi yang sama, percaya kepada dosa dan pembalasan, surga dan neraka. Kami bahkan memiliki Tuhan yang namanya sangat mirip. Saya bertuhan Allah dan teman-teman saya bertuhan Allloh.

Teman-teman saya tidak pernah menyinggung soal agama kecuali itu dalam olok-olok yang aman. Kami pernah menertawai salah seorang teman yang memiliki dua agama di rumahnya, Islam dan Kristen. Dia akan ikut ayahnya ke masjid di Hari Jumat, dan ikut ibunya ke Gereja di Hari Minggu. Kami menyebutnya Krislam. Dan saat mengatakan itu kami tertawa terbahak-bahak. Tapi, hanya sebatas itu. Di luar dari perbedaan keyakinan, kami berteman tanpa takut-takut.

Tentu saja, orangtua teman saya segera menjauhkan daging babi jika saya bermain ke rumah mereka. Saya menandai kode mereka untuk Daging Babi dengan menyebut Ba’. Misalnya, “Taruh Ba’ itu di lemari.” Atau “Hati-hati Ba’ itu, ada teman-teman Richard datang.” Bersama saya yang tidak makan babi juga ada teman-teman lain dari kristiani juga, tapi dari aliran yang lain. Mungkin Advent. Mereka juga tidak makan babi.

Saya menyukai pelajaran agama, mungkin karena itulah saya akhirnya berniat untuk bersekolah pesantren. Selepas sekolah dasar, saya menghabiskan waktu enam tahun di pesantren di Banjarmasin, dan segera setelah itu, kenangan bersama teman-teman kristiani saya segera menyatu dalam bingkai masa kecil. Kadang-kadang saya mengingatnya, lebih sering tidak.

Di pesantren kami diajari bahwa jalan keselamatan adalah Islam. Itu sudah termaktub dalam Alquran. Kitab suci mengatakan “Bagimu Agamamu, dan bagi kami agama kami”. Kami menghapal rukun-rukun dan belajar hadits tentang keutamaan agama Islam. Siapapun yang memeluk suatu agama, pasti meyakini bahwa agama yang diyakininya adalah yang paling benar dan agama yang lain adalah sesat. Saya belajar banyak perbedaan di pesantren. Antara Islam dan Kristen memiliki perbedaan akidah yang sangat jelas.

Saya merampungkan enam tahun pesantren saya dan kemudian belajar sambil mengajar di pesantren di Luwuk Banggai. Setahun di sana, saya kemudian mondok lagi di dua pesantren sekaligus di Kediri, Pesantren Kencong dan Tahfidzul Quran. Jeda sebelum itu, saya kuliah di STAIN Sultan Amai di Gorontalo (tidak lulus). Saya tinggal dan juga ikut belajar di Pesantren Al Huda. Saya bangga memiliki banyak guru, bangga belajar dari mereka, meskipun pelajaran paling saya ingat justru berasal dari pengalaman sehari-hari yang saya temui.

Di Tahun 2006, saya pernah tinggal di Ombolu, sebuah desa Transmigran di Luwuk Banggai. Desa ini dibangun para pendatang yang berasal dari Bali dan Lombok. Mereka membangun Pura dan Masjid. Jika hari suci Umat Hindu tiba, saya yang tinggal di keluarga orang Bali Islam, ikut mendapatkan kue-kue dan kerupuk. Saya hanya makan sedikit. Inya, nenek petani tempat saya tinggal biasanya menerima pemberian itu dan kemudian membuangnya. Saya sempat ketar-ketir saat suatu kali dia membuangnya tepat saat orang itu menutup pintu.

Saya ingin menanyakan, “apakah mereka tidak marah?”. Tapi segera saya terpikir bahwa barangkali tetangga-tetangga kami dari Hindu juga melakukan hal yang sama. Meskipun demikian, Umat Islan dan Hindu tetap hidup rukun. Tetap saling “rewang” ketika membangun rumah, berkebun, dan menimbun jalan. Agama adalah sesuatu yang rumit.

Di Malam Natal tahun 2006, Saya diajak oleh teman saya, Syamsu Nazarul Adam (namanya pernah saya jadikan tokoh dalam novel pertama saya) untuk bertamu ke rumah satu-satunya umat kristiani di desa itu. Kami berjalan menyusuri jalan setapak perkebunan yang gelap. Selagi itu, saya bertanya kepada Syamsu, kenapa mereka tinggal di kebun? Syamsu mengatakan dulunya mereka sebenarnya adalah muslim. Seorang misionaris kemudian datang dan membujuk mereka untuk memeluk agama Kristen dengan diiming-imingi untuk diberi “sesuatu.” Mereka menerimanya dan akhirnya menjadi murtad dari Agama Islam. Mungkin akhirnya pilihan itu membuat mereka unik dan akhirnya harus menyepi tinggal di kebun.

“Apakah tidak apa-apa kalau kita mengunjungi mereka?” ucap saya ragu. “Nanti bapakmu marah?” Bapaknya Syamsu adalah seorang imam masjid desa.

“Tidak,” kata Syamsu. “Bapak tidak akan tahu,”

Kami tiba di gubuk yang hanya berpenerangan petromaks itu. Dua orang pemeluk Kristen itu ternyata adalah sepasang suami istri yang sudah lanjut usia. Mungkin sekitar 50 atau 60-an. Saya pernah tinggal di Manado, jadi tahu dengan perayaan natal yang gemerlap, penuh nyanyian, pohon natal, sinterklas, dan kado. Tapi saya melihat betapa sederhananya perayaan hari raya pasangan tua itu. Satu-satunya tanda bahwa mereka sedang merayakan sesuatu adalah dua buah kaleng kue dan sebotol Cocacola. Mereka terkejut ketika kami datang. Tak menduga bahwa akhirnya ada tamu yang datang di malam natal. Kami saling bertukar kabar tentang harga kakao. Dia juga menanyakan apakah Pak Imam, ayahnya Syamsu, baik-baik saja?

Syamsu mengatakan baik-baik saja.

Kami melewatkan malam hingga larut, makan kue  dan minum cola. Mereka terus menahan kami saat akan pergi. Kepada kami, sang nenek mengatakan bahwa kami adalah tamu pertama mereka dalam puluhan tahun natal yang mereka rayakan di kebun itu.

Saya mau menangis.

foto:internet

foto:internet

Dalam dunia yang semakin bising dengan pertentangan, konflik-konflik antar agama mudah meruncing, kebencian ditembakkan atas dasar kebenaran agama masing-masing. Api perang tersulut. Begitu mudahnya seseorang menuduh seseorang sesat hanya karena dia salah dalam bersikap atau pun berkomentar di media social. Orang-orang tak tahan untuk tidak memproklamirkan kebenaran relatif keyakinan mereka.

Agama adalah sesuatu yang sunyi, menurut saya. Di pesantren kami diajari, islam akan berjarak dengan Kristen, hindu, Budha, dll. Tidak ada sesuatu yang bisa menyatukan itu. Tidak ada. Tidak juga konsep pluralisme, dll. Debat antar agama adalah debat yang tidak produktif karena keyakinan bukanlah sesuatu yang bisa diperdebatkan. Debat membutuhkan pengetahuan, keyakinan adalah masalah perasaan, pengalaman, dan kecenderungan hati.

Dalam hiruk-pikiknya dunia sekarang, saya percaya, orang-orang harus melihat jauh melampaui semua status-status di media social, grup-grup kebencian yang memuntahkan makian kepada orang –orang yang berbeda pandangan dan keyakinan, jauh melampaui artikel-artikel di situs-situs agama, jauh melampaui berita-berita politik yang sumir yang menyeret kita pada debat kusir yang melelahkan.

Di malam natal tahun 2006, Syamsu mengajari saya bahwa tidak ada yang bisa kami lakukan untuk membuat agama kami terlihat benar dan kakek tua itu salah karena telah murtad. Tidak ada yang bisa kami perbuat dengan itu. Kami juga tidak tahu apakah apa yang kami perbuat – merayakan natal bersama pasangan tua itu – adalah salah. Yang bisa kami lakukan  dengan benar hanyalah usaha sederhana untuk menemani kesunyian hidup sesama manusia. Menghibur mereka. Melipur kesusahan. Memasukan kegembiraan di hati mereka. Harapan. Bahwa mungkin saja, Tuhan akan berbuat yang paling adil kepada mereka.

Sekarang, delapan tahun berselang sejak meninggalkan gubuk kecil di tengah ladang itu, saya termenung saat Jalaludin Rumi menujumkan ramalan kepada saya melalui puisi indahnya di abad ke-13 :

“Jauh melampaui benar dan salah, ada sebuah ladang: kutemui kau disana.”

 

 

 

 

Kumandang Azan Surau Sekolah

Seperti tradisi pada lebaran-lebaran lainnya, setelah selesai Salat Idul Fitri, saya selalu kebingungan akan pergi ke mana. Jika pada akhirnya, saya kabur kanginan ke Pleihari sesungguhnya hal itu hanya karena saya mulai takut dianggap sebagai orang yang tidak berhari raya.

Pleihari, kata teman saya adalah kognat dari Play Here. Dulu sekali, kota itu disebut demikian karena orang-orang memang suka bermain di sana. Jangan tanya kepada saya tentang hal ini. Teman saya itu sendiri suka menawari saya setiap tahunnya: “Maen ke Pleihari ya?” Sungguh tak salah memang ibukota kabupaten itu mengambil namanya. Apalagi setelah Play Here, mereka juga mempunyai satu daerah yang tak kalah menggemaskan: Take a Song atau Takisung.

Jalanan ke Pleihari lengang. Hanya sesekali kendaraan berselisihan di jalan jalur cepat yang sempit. Nun di kiri kanan, awan-awan jatuh di hamparan ladang-ladang. Hawa pegunungan serasa lembap karena gerimis baru saja melintas di pinggiran kota kabupaten itu. Di pinggiran itu jua, teman saya tinggal.  Daerahnya masih sangat sunyi dengan permukiman.

Teman saya menyambut saya dengan ramah. Ia seorang guru honorer. Seingat saya sudah sangat lama ia menjadi honorer. Mungkin sudah sekitar lima atau enam tahun yang lalu. Ia belum diangkat karena selisih beberapa bulan dengan peraturan pemerintah tentang pengangkatan. Beberapa kali ia melamar di jalur umum tetapi gagal. Logika dari penerimaan pegawai memang seperti sedang berjudi dengan pemasang taruhan tak terbatas. Sementara hanya ada beberapa orang yang akan diterima menjadi pegawai.

Sejak kematian ayahnya berpuluh tahun lalu, teman saya itu tiba-tiba menjumpai hidup menjadi demikian keras. Di usia muda, waktu itu baru lulus pesantren, ia segera menjadi tulang punggung keluarga. Melamar pekerjaan, mengais setiap peluang, mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk mengepulkan asap dapur dan menyekolahkan dua orang adiknya. Ia bekerja demikian keras, siang dan malam. Mengajar di beberapa sekolah dan menjalankan les privat. Badannya menyusut hingga hampir saya tidak mengenalinya lagi.

ilustrasi dari internet

ilustrasi dari internet

Dia mempunyai seragam PNS yang terlihat selalu bersih digantung di kamarnya. Kepada saya ia mengatakan jika hanya memakai seragam itu pada hari senin. Di luar dari itu, ia memakai Sasirangan saat mengajar. “Supaya sadar dan tidak merasa sudah menjadi pegawai lalu mulai malas-malasan,” katanya.

Ia mengajar dan mendidik  sepenuh hati. Memantau bakat tumbuh kembang setiap muridnya secara personal. Memasuki alam pikiran mereka lalu mengarahkannya. Jika ada siswa yang nakal, ia segera menghukumnya. Esok harinya ia menemui siswa yang bandel itu dan merangkulnya seperti seorang teman. Tak jarang, ia tak cukup hanya memuji, tetapi juga  memberikan  hadiah atas kemajuan prestatif mereka.

Kepada saya ia mengatakan jika ia bertanggung jawab atas setiap anak yang dididiknya. Ia mempunyai teori sederhana tentang itu. “Ada dua jenis guru, guru yang saat mengajar hanya bisa memintarkan dirinya sendiri dan kedua, guru yang memintarkan anak didiknya.”

Sistem pendidikan di sekolah sangat terbuka untuk segala macam jenis persaingan. Anak-anak di sekolah ataupun mahasiswa di universitas hanya diajarkan satu basis metode yang sama: kompetisi. Ketika si A sudah bisa lebih pintar dari si B dan jauh melampaui si C dan di D, maka segala macam jenis penghargaan hanya akan didapatkan oleh sang pemenang. Pemenang mengambil semuanya, dan untuk menang, kalau perlu semua cara digunakan. Adapun mereka yang kalah dan tersisihkan oleh persaingan, akan mencari alternatif “rasa kemenangan” yang lain melalui penjegalan, perampokan, dan sebagai-sebagainya.

Teman saya mengajarkan kebersamaan dan kebijakan-kebijakan. Ia melatih semua muridnya untuk bertenggang rasa dan selalu bisa berbagi kemenangan kepada orang lain. Sebisa mungkin jangan ada anak yang merasa melampaui yang lain. Jika ada anak yang pintar, ia menugasi mereka untuk mengajarkan pengetahuan itu kepada anak-anak lainnya yang belum pintar. Si Pintar tidak merasa besar kepala dan si Belum Pintar akan merasa teman-temannya tidak akan meninggalkannya. Yang menang tidak mengalahkan dan yang kalah tidak ingin mencuri kemenangan.

Kami bercakap-cakap tentang pendidikan hingga maghrib menjelang. Berdua dengannya, kami pergi ke sebuah surau kecil di sekolah. Ia merawat surau itu dan menjadi bilal sekaligus imam di sana. Ketika ia akan azan, saya menyelanya.   Sudah lama saya tidak mengacaukan   kesadaran geografis orang-orang dengan azan.

“Jangan salahkan jika mendengar azan ini akan terasa seperti di Mekkah…” kata  saya sombong.

“Jangan khawatir,” katanya tersenyum,” sekacau-kacaunya  kesadaran orang, hanya ada satu dua orang yang akan datang ke surau ini.” (@justrandu)

 

 

 

Bangkok: Antara Leo Di Caprio, Saya, dan Jangan Ketawa

Saya tidak menyukai Bangkok kecuali apa yang tersisa dari masa kecil saya. Itu adalah sebuah adegan film yang saya tonton sewaktu di pesantren. Selalu saya ingat, opening scene film itu dibuka dengan gambar dan  narasi; Leonardo Di Caprio, seorang turis muda yang bandel dan berbahaya dengan wajah berminyak dan ransel di depan patung  Budha emas. Melintasi kota dalam kemilau, menyusuri pasar, keriuhan malam, darah ular, penginapan murah, mencoba hal-hal baru.

Ini Leo Di Caprio di depan Budha Sleeping di film The Beach.

Ini Leo Di Caprio di depan Budha Sleeping di film The Beach.

Lama setelah film itu hanya tinggal setitik kenangan dari masa sekolah, saya akhirnya benar-benar menjadi Leo Di Caprio beberapa tahun kemudian.  Tentu tanpa darah ular.  Saya sudah phobia ular (Tapi, siapa yang tidak?) semenjak terakhir kali, seseorang menyetrum ular bernama “Mahria” yang saya pelihara di kamar saya di pesantren. Kenangan itu membekas lama. Setiap kali mendengar kata ular, sesuatu melintas di kuduk saya. Kini, Leonardo di Caprio kembali datang ke Bangkok dan mendapatkan kejutan kecil jika sekarang sudah ada yang namanya Sky Train.

Saya bisa merasakan, Sky Train atau BTS (Bangkok Mass Transit System) membuat revolusi besar di bidang transportasi kota ini. Betatapun, saya tidak bisa membayangkan bagaimana gambaran kota ini 15 atau 20 tahun lalu, saat BTS belum ada. Jalanan dipenuhi dengan sopir-sopir pengejar baht dan dollar, pengemudi Tuktuk, dengan celana puntung dan kacamata dibando di atas kepala, mengebut di setiap sudut jalan. Ditambah terik matahari Bangkok yang bisa mencapai 32 derajat celcius, Bangkok bakal menjadi ajang terror mental bagi turis-turis sok tangguh seperti saya yang akrab dengan angin sepoi-sepoi dan rintik romantik hujan.

Tanpa harus terkena setitikpun sinar matahari, saya bisa dengan leluasa menaiki Sky Train lewat lantai dua hotel Asia Hotel Rachathewi yang telah terkoneksi. Jadi, dari lantai delapan, kamar saya, saya tinggal menaiki lift ke lantai 2 lalu keluar ke terminal BTS. Di sini, tiket sudah bisa langsung dibeli dari mesin-mesin pengecer. Bersama dua orang teman lain, saya menjelajah Bangkok tanpa menyentuh bumi. Melihat lanskap kota, gedung-gedung tinggi, lapangan, warna-warna ceria,  gading gajah putih yang menjorok keluar, dan bingkai-bingkai besar dengan kalungan bunga, membingkai gambar Raja Bhumibol Adulyadej.

Kata Syarif, warga negara Malaysia yang tinggal di Bangkok, orang-orang Thailand adalah pemuja individu. Saya melihat seorang tukang ojek (ya, disana juga ada tukang ojek), pagi-pagi buta menyembah speedometer kendaraan yang disana ada gambar raja. Orang-orang berhenti dan berdiri khusyu mendengarkan lagu puja-puji kepada Raja.  Bendera nasional dikibarkan dengan panji-panji dan symbol kerajaan. Di sini, berlaku hukum Law Majeste, alias siapapun tidak bisa menghina raja dan keluarga kerajaan.  Kecuali jika dilakukan dengan bahasa Indonesia? ;-)

Sangat wajar jika memang begitu. Konon, karena para raja lah, Thailand menjadi negara satu-satunya di Asia Tenggara yang luput dari penjajahan. Dengan kecerdikannya, Raja Siam – nama Thailand dahulu – berhasil memperdaya para penjajah.  Turun-temurun, raja bagi masyarakat Thailand adalah perwujudan dewa di bumi.  Raja sekarang, Bhumibol atau Rama IX, telah memerintah selama 68 tahun dan sejak tahun 2010, katanya, sudah dirawat di rumah sakit.

Thailand berada dalam krisis politik sewaktu saya ke sana, yang mana kami tidak bisa mencari waktu yang tepat lagi untuk berangkat. Saya bisa melihat pos-pos tentara dimana-mana, lengkap dengan matras dan jaring nyamuk. Royal Thai Army, beredar di sudut-sudut vital dengan wajah dingin dan menyelidik, memegang M16 dan  Barreta. Patroli berlangsung di halte-halte, wahana wisata, pusat perbelanjaan. Saya berjalan pelan-pelan saat di depan saya, dua orang Royal Thai Armi naik escalator sambil berbisik-bisik.

Meski begitu, turis-turis kayaknya gak pernah surut. Di bandara Svarnabhumi (udah bener tulisannya?) kami harus mengantre panjang untuk imigrasi bersama-sama dengan  orang-orang dari Asia timur, Australia, Kanada, Brasil skandinavia, India, dll. Di jalan-jalan kota di Bangkok, para pelancong berkacamata Rayban berjalan kaki menyusuri trotoar, tawar menawar dengan pedagang kaki lima. Di bar-bar dan restoran daerah-daerah Shumkhuvit, cekakak-cekikik Lady Escort tetap terdengar, gelas-gelas berdenting, lagu dan tepukan tangan hingga pagi. Lampu-lampu dimatikan separuh untuk menyiasati jam malam.

Kayaknya di kota ini badai politik hanya sampai di tepi dan tak bisa membalikan mangkok makan yang didapatkan dari sektor pariwisata. Faisal, seorang teman saya di sana mengatakan, padahal kunjungan turis sudah turun separuh jika dibanding saat kondisi negara sedang stabil. Sekadar ilustrasi yang saya dapatkan dari catatan di Jawa Pos, Sebelum ada rangkaian rusuh demonstrasi Thailand dikunjungi 26,7 juta wisatawan. Tahun ini, hingga Mei, jumlah wisatawan yang datang baru 10,5 juta orang. Dengan tingkat pembatalan yang tinggi dan lambatnya permintaan booking, diperkirakan Thailand hanya akan dikunjungi paling banter 22 juta turis pada 2014. Turun hampir 5 juta orang. Padahal, Thailand menargetkan penerimaan pendapatan dari sektor turisme hingga Thb 1,2 triliun atau Rp 450 triliun.

Mungkin inilah yang akhirnya membuat kerajaan harus turun tangan menyokong secara tertulis kudeta militer yang diinisiasi oleh Jenderal Prayuth.  Kondisi negara yang tidak kondusif, dampak buruk dari krisis yang terjadi selama setahun, perlahan tapi pasti bakal memukul ekonomi Thailand. Rangkaian demonstrasi oleh baju kuning dan baju merah yang balas-balasan tak berkesudahan harus dihentikan,  dan satu-satunya yang bisa dilakukan untuk menahan massa adalah militer yang ganas.

Saya sendiri bersama teman merasakan sendiri digeledah di tengah jalanan Bangkok saat jam malam. Taksi kami diberhentikan, kaki direntang, tangan diangkat di atas kepala. Diraba-raba, seluruh isi ransel ditumpah di atas kap mobil. Wajah di paspor kami disenter dan disesuaikan, apakah lebih ganteng aslinya atau tidak (yang ini ngarang). Saat diperiksa itu, saya memikirkan nasib sebuah negara dalam cengkeraman militer yang demikian represif.

Resistensi? Udah pasti. Saat militer mengambil alih pemerintahan, warna kuning dan merah melebur menjadi satu. Militer mengejar demonstran ke mall-mall, berderap-derap memanjati tangga stasiun,  dan memangkas jam operasi BTS Railway. Saat para demonstran berencana menggelar aksi massa besar-besaran di kawasan Ratchaprasong, kawasan bisnis di Bangkok, militer membuat aksi pencegahan dini dengan sweeping dan blokade.  Media sosial yang menjadi pemersatu para massa antikudeta diblokir.  Jelas, militer Thailand telah belajar banyak dari revolusi twiter yang menjatuhkan tiran di Mesir.

Tapi selalu ada waktu-waktu, dimana  para tentara membuka wajah ramahnya kepada para wisatawan. Tentara –tentara yang berjaga di kawasan sibuk MBK – Siam Paragon, menggendong anak-anak para pelancong dan mereka tak segan-segan tersenyum saat diajak para gadis-gadis muda Hispanik berselfie ria. Kelak, setelah piala dunia diselenggarakan Jenderal Prayuth, yang merupakan seorang pengikut kerajaan yang fanatik, membuka kanal –kanal berbayar untuk publik bisa mengaksesnnya gratis. Jauh setelah itu, jauh setelah saya meninggalkan Bangkok, nyaris tidak ada lagi demonstrasi. Keamanan mulai dipulihkan, jam malam dicabut, toko-toko buka dan orang-orang mulai kembali ke bisnis.

 

***

Berperahu di Chao Praya (Orang Thai menyebut Coa Paya), saya merenungi sejarah yang pernah melintas di sepanjang sungai ini.  Perebutan kekuasaan, pertumpahan darah antar dinasti, penghianatan, mungkin saja cinta terlarang. Harapan yang menyertai setiap kekalahan, dan bayang-bayang keruntuhan dalam setiap kejayaan.

Saya berhenti di beberapa dermaga, dan akhirnya  menemukan bagian dari masa kecil saya.   Patung Budha   yang pernah saya saksikan di pesantren dulu. Saya heran, kenapa matanya terbuka Budha Reclining)? Padahal kan di film tertutup (Budha Sleeping)? Apakah kedatangan saya akhirnya membuka mata sang patung? ;-) Apapun itu, saya berpose bersama Budha Emas, berusaha menirukan Leonardo Di Caprio,  merasakan narasi-narasi besar kehidupan mengalir menggerakan adrenalin, menjadikan keinginan nyaris seringan mimpi. Misteri. Matahari garang Siam bersinar dari balik ujung-ujung stupa emas di Grand Palace, berkilauan, seperti dulu saat kota ini diberkati sebagai kota para dewa. Di ujungnya saya merenungi kehidupan dan kefanaan, kebijaksanaan yang digaung-gaungkan dari abad ke abad oleh sang Budha :

Belajarlah dari air, dari celah dan retakan gunung. menderu deras dari kawah uap. Namun mengalir dengan tenang di sungai. ()

 

Saya di Grand palace.

Saya di Grand palace.

 

 

 

 

 

 

 

 

Reuni Pesantren

Barangkali saya termasuk orang yang beruntung karena pernah  menjadi salah seorang dari mereka yang ditakdirkan Tuhan untuk bersekolah di pesantren.  Saya yakin, tidak banyak  anak-anak di zaman sekarang yang diberi keberuntungan serupa.  Pesantren selalu identik dengan kedisiplinan. Pembatasan dan pengendalian.  Dan hampir segala hal yang serba terbatas itu sangat tidak mengenakan.

Bangun dini hari, sholat Subuh berjamaah, mengaji, wiridan, sekolah dari pagi sampai sore,  kadang-kadang kepala digundul untuk hal yang bahkan tidak diketahui, kelaparan hampir setiap jam, belajar sampai larut malam, terisolasi dari dunia luar, dan diserang penyakit  gatalan! Segala laku yang hampir menyerupai ajang teror mental itu harus dijalani setiap hari, selama bertahun-tahun.

Di beberapa bulan awal, beberapa teman berhenti.  Waktu itu, sekolah di SMA Banjarmasin atau di MAN Gambut dinilai lebih mempunyai harapan dibanding dengan harus berkutat dengan Tahi lambuan di pesantren.  Mereka-meraka yang telah keluar dari pesantren ini kadang-kadang datang dan memamerkan motornya dan menfetakompli teman-temannya yang   masih bertahan dengan rayuan “hari yang cerah di luar sana.”

Ini adalah siklus turun-temurun. Semacam hukum alam. Mereka yang tak tahan ujian, akan pergi.  Sementara  mereka yang bertahan mendapatkan tiba-tiba seiring dengan bertambahnya usia, godaan hampir tak tertahankan lagi. Ini biasa terjadi di tahun-tahun semenjana. Di pesantren, tahun awal selalu lebih sulit, tetapi tahun kedua, lebih sulit lagi, dan tahun ketiga, dan tahun keempat, dst..dst…

Setelah tahun-tahun berlalu, di reuni kemarin, saat bermain volly di senja yang suram,  barulah terasa bahwa setiap kami  selalu merindukan masa-masa itu. Masa-masa dimana kadang kami harus dibangunkan subuh hari,  antre di dapur umum, terkantuk-kantuk mengusir nyamuk saat belajar di surau,  bercanda sebelum tidur malam, mencucibaju bersama. Terasa,hampir tidak ada kenangan yang pahit, semua kenangan di pesantren, belajar dan bertahan di dalamnya menjadi kenangan indah yang tak terlupakan.

Di reuni kemarin, beberapa teman dari jauh datang, beberapa berombongan. Saling menyapa, melepas kerinduan dan berbagi kenangan. “Ingatkah saat kita memanjat pagar pesantren, saat kita bersembunyi dari razia radio, saat   melewati kuburan di samping masjid untuk mengantar surat cinta…

Pesantren punya cerita dalam waktu,  rahasia tertentu yang sulit untuk diungkapkan.

Reuni pesantren

Saya dan beberapa teman, kebanyakan kakak kelas. tebak saya yg mana?

Pesantren kami sendiri sudah sangat berubah. Anak-anak yang sekolah di sana juga tidak lagi kebanyakan anak-anak yang mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan masa depannya.  Lulus pesantren mereka sudah bisa memilih ingin kuliah dimanapun yang mereka mau. Saya tidak tahu apakah generasi pesantren sekarang mengalami masa-masa romantik dengan keterbatasan itu ataukah pesantren telah memecahkan masalah klasik mereka  tentang bagaimana pesantren tidak terus menggigil di halte yang ditinggalkan bis zamannya.

Ya, zaman berubah. Beberapa hal tidak lagi seperti sebelumnya.  Selalu seperti itu.

Kini pesantren berada di persimpangan jalan yang rumit antara terus bertahan dengan metode pembelajaran konvensional atau membuka diri dengan  hal-hal baru yang dulu harus ditentang habis-habisan. Internet, televisi, handphone, jejaring sosial, makanan cepat saji, dan pola pikir praktis adalah  trademark kemajuan.   Bagian terburuknya adalah para anak-anak zaman tidak lagi mengalami antusiasme yang relevan dengan semangat pesantren.  Pesantren ingin merubah mereka, tetapi mereka juga, dengan segala psikologi yang dibentuk oleh kultur lingkungan dan informasi zamannya, memberi warna baru bagi pesantren.

328219_507319109282977_1768354626_o

Saya (membelakangi kamera).

Saya tidak tahu, apakah hingga puluhan tahun ke depan, masih akan ada anak-anak yang mau sekolah di pesantren. Yang jelas, itikad baik muncul dari para teman-teman saat reuni. Mereka sepakat untuk kelak tetap menyekolahkan anak-anak mereka di pesantren dan menjadi bagian dari generasi yang serba sulit dan terisolir itu. Mereka  selalu berdoa untuk kehidupan sederhana di pesantren. (@justrandu)