Kumandang Azan Surau Sekolah

Seperti tradisi pada lebaran-lebaran lainnya, setelah selesai Salat Idul Fitri, saya selalu kebingungan akan pergi ke mana. Jika pada akhirnya, saya kabur kanginan ke Pleihari sesungguhnya hal itu hanya karena saya mulai takut dianggap sebagai orang yang tidak berhari raya.

Pleihari, kata teman saya adalah kognat dari Play Here. Dulu sekali, kota itu disebut demikian karena orang-orang memang suka bermain di sana. Jangan tanya kepada saya tentang hal ini. Teman saya itu sendiri suka menawari saya setiap tahunnya: “Maen ke Pleihari ya?” Sungguh tak salah memang ibukota kabupaten itu mengambil namanya. Apalagi setelah Play Here, mereka juga mempunyai satu daerah yang tak kalah menggemaskan: Take a Song atau Takisung.

Jalanan ke Pleihari lengang. Hanya sesekali kendaraan berselisihan di jalan jalur cepat yang sempit. Nun di kiri kanan, awan-awan jatuh di hamparan ladang-ladang. Hawa pegunungan serasa lembap karena gerimis baru saja melintas di pinggiran kota kabupaten itu. Di pinggiran itu jua, teman saya tinggal.  Daerahnya masih sangat sunyi dengan permukiman.

Teman saya menyambut saya dengan ramah. Ia seorang guru honorer. Seingat saya sudah sangat lama ia menjadi honorer. Mungkin sudah sekitar lima atau enam tahun yang lalu. Ia belum diangkat karena selisih beberapa bulan dengan peraturan pemerintah tentang pengangkatan. Beberapa kali ia melamar di jalur umum tetapi gagal. Logika dari penerimaan pegawai memang seperti sedang berjudi dengan pemasang taruhan tak terbatas. Sementara hanya ada beberapa orang yang akan diterima menjadi pegawai.

Sejak kematian ayahnya berpuluh tahun lalu, teman saya itu tiba-tiba menjumpai hidup menjadi demikian keras. Di usia muda, waktu itu baru lulus pesantren, ia segera menjadi tulang punggung keluarga. Melamar pekerjaan, mengais setiap peluang, mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk mengepulkan asap dapur dan menyekolahkan dua orang adiknya. Ia bekerja demikian keras, siang dan malam. Mengajar di beberapa sekolah dan menjalankan les privat. Badannya menyusut hingga hampir saya tidak mengenalinya lagi.

ilustrasi dari internet

ilustrasi dari internet

Dia mempunyai seragam PNS yang terlihat selalu bersih digantung di kamarnya. Kepada saya ia mengatakan jika hanya memakai seragam itu pada hari senin. Di luar dari itu, ia memakai Sasirangan saat mengajar. “Supaya sadar dan tidak merasa sudah menjadi pegawai lalu mulai malas-malasan,” katanya.

Ia mengajar dan mendidik  sepenuh hati. Memantau bakat tumbuh kembang setiap muridnya secara personal. Memasuki alam pikiran mereka lalu mengarahkannya. Jika ada siswa yang nakal, ia segera menghukumnya. Esok harinya ia menemui siswa yang bandel itu dan merangkulnya seperti seorang teman. Tak jarang, ia tak cukup hanya memuji, tetapi juga  memberikan  hadiah atas kemajuan prestatif mereka.

Kepada saya ia mengatakan jika ia bertanggung jawab atas setiap anak yang dididiknya. Ia mempunyai teori sederhana tentang itu. “Ada dua jenis guru, guru yang saat mengajar hanya bisa memintarkan dirinya sendiri dan kedua, guru yang memintarkan anak didiknya.”

Sistem pendidikan di sekolah sangat terbuka untuk segala macam jenis persaingan. Anak-anak di sekolah ataupun mahasiswa di universitas hanya diajarkan satu basis metode yang sama: kompetisi. Ketika si A sudah bisa lebih pintar dari si B dan jauh melampaui si C dan di D, maka segala macam jenis penghargaan hanya akan didapatkan oleh sang pemenang. Pemenang mengambil semuanya, dan untuk menang, kalau perlu semua cara digunakan. Adapun mereka yang kalah dan tersisihkan oleh persaingan, akan mencari alternatif “rasa kemenangan” yang lain melalui penjegalan, perampokan, dan sebagai-sebagainya.

Teman saya mengajarkan kebersamaan dan kebijakan-kebijakan. Ia melatih semua muridnya untuk bertenggang rasa dan selalu bisa berbagi kemenangan kepada orang lain. Sebisa mungkin jangan ada anak yang merasa melampaui yang lain. Jika ada anak yang pintar, ia menugasi mereka untuk mengajarkan pengetahuan itu kepada anak-anak lainnya yang belum pintar. Si Pintar tidak merasa besar kepala dan si Belum Pintar akan merasa teman-temannya tidak akan meninggalkannya. Yang menang tidak mengalahkan dan yang kalah tidak ingin mencuri kemenangan.

Kami bercakap-cakap tentang pendidikan hingga maghrib menjelang. Berdua dengannya, kami pergi ke sebuah surau kecil di sekolah. Ia merawat surau itu dan menjadi bilal sekaligus imam di sana. Ketika ia akan azan, saya menyelanya.   Sudah lama saya tidak mengacaukan   kesadaran geografis orang-orang dengan azan.

“Jangan salahkan jika mendengar azan ini akan terasa seperti di Mekkah…” kata  saya sombong.

“Jangan khawatir,” katanya tersenyum,” sekacau-kacaunya  kesadaran orang, hanya ada satu dua orang yang akan datang ke surau ini.” (@justrandu)

 

 

 

Bangkok: Antara Leo Di Caprio, Saya, dan Jangan Ketawa

Saya tidak menyukai Bangkok kecuali apa yang tersisa dari masa kecil saya. Itu adalah sebuah adegan film yang saya tonton sewaktu di pesantren. Selalu saya ingat, opening scene film itu dibuka dengan gambar dan  narasi; Leonardo Di Caprio, seorang turis muda yang bandel dan berbahaya dengan wajah berminyak dan ransel di depan patung  Budha emas. Melintasi kota dalam kemilau, menyusuri pasar, keriuhan malam, darah ular, penginapan murah, mencoba hal-hal baru.

Ini Leo Di Caprio di depan Budha Sleeping di film The Beach.

Ini Leo Di Caprio di depan Budha Sleeping di film The Beach.

Lama setelah film itu hanya tinggal setitik kenangan dari masa sekolah, saya akhirnya benar-benar menjadi Leo Di Caprio beberapa tahun kemudian.  Tentu tanpa darah ular.  Saya sudah phobia ular (Tapi, siapa yang tidak?) semenjak terakhir kali, seseorang menyetrum ular bernama “Mahria” yang saya pelihara di kamar saya di pesantren. Kenangan itu membekas lama. Setiap kali mendengar kata ular, sesuatu melintas di kuduk saya. Kini, Leonardo di Caprio kembali datang ke Bangkok dan mendapatkan kejutan kecil jika sekarang sudah ada yang namanya Sky Train.

Saya bisa merasakan, Sky Train atau BTS (Bangkok Mass Transit System) membuat revolusi besar di bidang transportasi kota ini. Betatapun, saya tidak bisa membayangkan bagaimana gambaran kota ini 15 atau 20 tahun lalu, saat BTS belum ada. Jalanan dipenuhi dengan sopir-sopir pengejar baht dan dollar, pengemudi Tuktuk, dengan celana puntung dan kacamata dibando di atas kepala, mengebut di setiap sudut jalan. Ditambah terik matahari Bangkok yang bisa mencapai 32 derajat celcius, Bangkok bakal menjadi ajang terror mental bagi turis-turis sok tangguh seperti saya yang akrab dengan angin sepoi-sepoi dan rintik romantik hujan.

Tanpa harus terkena setitikpun sinar matahari, saya bisa dengan leluasa menaiki Sky Train lewat lantai dua hotel Asia Hotel Rachathewi yang telah terkoneksi. Jadi, dari lantai delapan, kamar saya, saya tinggal menaiki lift ke lantai 2 lalu keluar ke terminal BTS. Di sini, tiket sudah bisa langsung dibeli dari mesin-mesin pengecer. Bersama dua orang teman lain, saya menjelajah Bangkok tanpa menyentuh bumi. Melihat lanskap kota, gedung-gedung tinggi, lapangan, warna-warna ceria,  gading gajah putih yang menjorok keluar, dan bingkai-bingkai besar dengan kalungan bunga, membingkai gambar Raja Bhumibol Adulyadej.

Kata Syarif, warga negara Malaysia yang tinggal di Bangkok, orang-orang Thailand adalah pemuja individu. Saya melihat seorang tukang ojek (ya, disana juga ada tukang ojek), pagi-pagi buta menyembah speedometer kendaraan yang disana ada gambar raja. Orang-orang berhenti dan berdiri khusyu mendengarkan lagu puja-puji kepada Raja.  Bendera nasional dikibarkan dengan panji-panji dan symbol kerajaan. Di sini, berlaku hukum Law Majeste, alias siapapun tidak bisa menghina raja dan keluarga kerajaan.  Kecuali jika dilakukan dengan bahasa Indonesia? ;-)

Sangat wajar jika memang begitu. Konon, karena para raja lah, Thailand menjadi negara satu-satunya di Asia Tenggara yang luput dari penjajahan. Dengan kecerdikannya, Raja Siam – nama Thailand dahulu – berhasil memperdaya para penjajah.  Turun-temurun, raja bagi masyarakat Thailand adalah perwujudan dewa di bumi.  Raja sekarang, Bhumibol atau Rama IX, telah memerintah selama 68 tahun dan sejak tahun 2010, katanya, sudah dirawat di rumah sakit.

Thailand berada dalam krisis politik sewaktu saya ke sana, yang mana kami tidak bisa mencari waktu yang tepat lagi untuk berangkat. Saya bisa melihat pos-pos tentara dimana-mana, lengkap dengan matras dan jaring nyamuk. Royal Thai Army, beredar di sudut-sudut vital dengan wajah dingin dan menyelidik, memegang M16 dan  Barreta. Patroli berlangsung di halte-halte, wahana wisata, pusat perbelanjaan. Saya berjalan pelan-pelan saat di depan saya, dua orang Royal Thai Armi naik escalator sambil berbisik-bisik.

Meski begitu, turis-turis kayaknya gak pernah surut. Di bandara Svarnabhumi (udah bener tulisannya?) kami harus mengantre panjang untuk imigrasi bersama-sama dengan  orang-orang dari Asia timur, Australia, Kanada, Brasil skandinavia, India, dll. Di jalan-jalan kota di Bangkok, para pelancong berkacamata Rayban berjalan kaki menyusuri trotoar, tawar menawar dengan pedagang kaki lima. Di bar-bar dan restoran daerah-daerah Shumkhuvit, cekakak-cekikik Lady Escort tetap terdengar, gelas-gelas berdenting, lagu dan tepukan tangan hingga pagi. Lampu-lampu dimatikan separuh untuk menyiasati jam malam.

Kayaknya di kota ini badai politik hanya sampai di tepi dan tak bisa membalikan mangkok makan yang didapatkan dari sektor pariwisata. Faisal, seorang teman saya di sana mengatakan, padahal kunjungan turis sudah turun separuh jika dibanding saat kondisi negara sedang stabil. Sekadar ilustrasi yang saya dapatkan dari catatan di Jawa Pos, Sebelum ada rangkaian rusuh demonstrasi Thailand dikunjungi 26,7 juta wisatawan. Tahun ini, hingga Mei, jumlah wisatawan yang datang baru 10,5 juta orang. Dengan tingkat pembatalan yang tinggi dan lambatnya permintaan booking, diperkirakan Thailand hanya akan dikunjungi paling banter 22 juta turis pada 2014. Turun hampir 5 juta orang. Padahal, Thailand menargetkan penerimaan pendapatan dari sektor turisme hingga Thb 1,2 triliun atau Rp 450 triliun.

Mungkin inilah yang akhirnya membuat kerajaan harus turun tangan menyokong secara tertulis kudeta militer yang diinisiasi oleh Jenderal Prayuth.  Kondisi negara yang tidak kondusif, dampak buruk dari krisis yang terjadi selama setahun, perlahan tapi pasti bakal memukul ekonomi Thailand. Rangkaian demonstrasi oleh baju kuning dan baju merah yang balas-balasan tak berkesudahan harus dihentikan,  dan satu-satunya yang bisa dilakukan untuk menahan massa adalah militer yang ganas.

Saya sendiri bersama teman merasakan sendiri digeledah di tengah jalanan Bangkok saat jam malam. Taksi kami diberhentikan, kaki direntang, tangan diangkat di atas kepala. Diraba-raba, seluruh isi ransel ditumpah di atas kap mobil. Wajah di paspor kami disenter dan disesuaikan, apakah lebih ganteng aslinya atau tidak (yang ini ngarang). Saat diperiksa itu, saya memikirkan nasib sebuah negara dalam cengkeraman militer yang demikian represif.

Resistensi? Udah pasti. Saat militer mengambil alih pemerintahan, warna kuning dan merah melebur menjadi satu. Militer mengejar demonstran ke mall-mall, berderap-derap memanjati tangga stasiun,  dan memangkas jam operasi BTS Railway. Saat para demonstran berencana menggelar aksi massa besar-besaran di kawasan Ratchaprasong, kawasan bisnis di Bangkok, militer membuat aksi pencegahan dini dengan sweeping dan blokade.  Media sosial yang menjadi pemersatu para massa antikudeta diblokir.  Jelas, militer Thailand telah belajar banyak dari revolusi twiter yang menjatuhkan tiran di Mesir.

Tapi selalu ada waktu-waktu, dimana  para tentara membuka wajah ramahnya kepada para wisatawan. Tentara –tentara yang berjaga di kawasan sibuk MBK – Siam Paragon, menggendong anak-anak para pelancong dan mereka tak segan-segan tersenyum saat diajak para gadis-gadis muda Hispanik berselfie ria. Kelak, setelah piala dunia diselenggarakan Jenderal Prayuth, yang merupakan seorang pengikut kerajaan yang fanatik, membuka kanal –kanal berbayar untuk publik bisa mengaksesnnya gratis. Jauh setelah itu, jauh setelah saya meninggalkan Bangkok, nyaris tidak ada lagi demonstrasi. Keamanan mulai dipulihkan, jam malam dicabut, toko-toko buka dan orang-orang mulai kembali ke bisnis.

 

***

Berperahu di Chao Praya (Orang Thai menyebut Coa Paya), saya merenungi sejarah yang pernah melintas di sepanjang sungai ini.  Perebutan kekuasaan, pertumpahan darah antar dinasti, penghianatan, mungkin saja cinta terlarang. Harapan yang menyertai setiap kekalahan, dan bayang-bayang keruntuhan dalam setiap kejayaan.

Saya berhenti di beberapa dermaga, dan akhirnya  menemukan bagian dari masa kecil saya.   Patung Budha   yang pernah saya saksikan di pesantren dulu. Saya heran, kenapa matanya terbuka Budha Reclining)? Padahal kan di film tertutup (Budha Sleeping)? Apakah kedatangan saya akhirnya membuka mata sang patung? ;-) Apapun itu, saya berpose bersama Budha Emas, berusaha menirukan Leonardo Di Caprio,  merasakan narasi-narasi besar kehidupan mengalir menggerakan adrenalin, menjadikan keinginan nyaris seringan mimpi. Misteri. Matahari garang Siam bersinar dari balik ujung-ujung stupa emas di Grand Palace, berkilauan, seperti dulu saat kota ini diberkati sebagai kota para dewa. Di ujungnya saya merenungi kehidupan dan kefanaan, kebijaksanaan yang digaung-gaungkan dari abad ke abad oleh sang Budha :

Belajarlah dari air, dari celah dan retakan gunung. menderu deras dari kawah uap. Namun mengalir dengan tenang di sungai. ()

 

Saya di Grand palace.

Saya di Grand palace.

 

 

 

 

 

 

 

 

Reuni Pesantren

Barangkali saya termasuk orang yang beruntung karena pernah  menjadi salah seorang dari mereka yang ditakdirkan Tuhan untuk bersekolah di pesantren.  Saya yakin, tidak banyak  anak-anak di zaman sekarang yang diberi keberuntungan serupa.  Pesantren selalu identik dengan kedisiplinan. Pembatasan dan pengendalian.  Dan hampir segala hal yang serba terbatas itu sangat tidak mengenakan.

Bangun dini hari, sholat Subuh berjamaah, mengaji, wiridan, sekolah dari pagi sampai sore,  kadang-kadang kepala digundul untuk hal yang bahkan tidak diketahui, kelaparan hampir setiap jam, belajar sampai larut malam, terisolasi dari dunia luar, dan diserang penyakit  gatalan! Segala laku yang hampir menyerupai ajang teror mental itu harus dijalani setiap hari, selama bertahun-tahun.

Di beberapa bulan awal, beberapa teman berhenti.  Waktu itu, sekolah di SMA Banjarmasin atau di MAN Gambut dinilai lebih mempunyai harapan dibanding dengan harus berkutat dengan Tahi lambuan di pesantren.  Mereka-meraka yang telah keluar dari pesantren ini kadang-kadang datang dan memamerkan motornya dan menfetakompli teman-temannya yang   masih bertahan dengan rayuan “hari yang cerah di luar sana.”

Ini adalah siklus turun-temurun. Semacam hukum alam. Mereka yang tak tahan ujian, akan pergi.  Sementara  mereka yang bertahan mendapatkan tiba-tiba seiring dengan bertambahnya usia, godaan hampir tak tertahankan lagi. Ini biasa terjadi di tahun-tahun semenjana. Di pesantren, tahun awal selalu lebih sulit, tetapi tahun kedua, lebih sulit lagi, dan tahun ketiga, dan tahun keempat, dst..dst…

Setelah tahun-tahun berlalu, di reuni kemarin, saat bermain volly di senja yang suram,  barulah terasa bahwa setiap kami  selalu merindukan masa-masa itu. Masa-masa dimana kadang kami harus dibangunkan subuh hari,  antre di dapur umum, terkantuk-kantuk mengusir nyamuk saat belajar di surau,  bercanda sebelum tidur malam, mencucibaju bersama. Terasa,hampir tidak ada kenangan yang pahit, semua kenangan di pesantren, belajar dan bertahan di dalamnya menjadi kenangan indah yang tak terlupakan.

Di reuni kemarin, beberapa teman dari jauh datang, beberapa berombongan. Saling menyapa, melepas kerinduan dan berbagi kenangan. “Ingatkah saat kita memanjat pagar pesantren, saat kita bersembunyi dari razia radio, saat   melewati kuburan di samping masjid untuk mengantar surat cinta…

Pesantren punya cerita dalam waktu,  rahasia tertentu yang sulit untuk diungkapkan.

Reuni pesantren

Saya dan beberapa teman, kebanyakan kakak kelas. tebak saya yg mana?

Pesantren kami sendiri sudah sangat berubah. Anak-anak yang sekolah di sana juga tidak lagi kebanyakan anak-anak yang mengalami kesulitan dalam menentukan pilihan masa depannya.  Lulus pesantren mereka sudah bisa memilih ingin kuliah dimanapun yang mereka mau. Saya tidak tahu apakah generasi pesantren sekarang mengalami masa-masa romantik dengan keterbatasan itu ataukah pesantren telah memecahkan masalah klasik mereka  tentang bagaimana pesantren tidak terus menggigil di halte yang ditinggalkan bis zamannya.

Ya, zaman berubah. Beberapa hal tidak lagi seperti sebelumnya.  Selalu seperti itu.

Kini pesantren berada di persimpangan jalan yang rumit antara terus bertahan dengan metode pembelajaran konvensional atau membuka diri dengan  hal-hal baru yang dulu harus ditentang habis-habisan. Internet, televisi, handphone, jejaring sosial, makanan cepat saji, dan pola pikir praktis adalah  trademark kemajuan.   Bagian terburuknya adalah para anak-anak zaman tidak lagi mengalami antusiasme yang relevan dengan semangat pesantren.  Pesantren ingin merubah mereka, tetapi mereka juga, dengan segala psikologi yang dibentuk oleh kultur lingkungan dan informasi zamannya, memberi warna baru bagi pesantren.

328219_507319109282977_1768354626_o

Saya (membelakangi kamera).

Saya tidak tahu, apakah hingga puluhan tahun ke depan, masih akan ada anak-anak yang mau sekolah di pesantren. Yang jelas, itikad baik muncul dari para teman-teman saat reuni. Mereka sepakat untuk kelak tetap menyekolahkan anak-anak mereka di pesantren dan menjadi bagian dari generasi yang serba sulit dan terisolir itu. Mereka  selalu berdoa untuk kehidupan sederhana di pesantren. (@justrandu)

 

(Catatan Pulang Kampung -3) Rumah Tanpa Pintu dan Positivisme kota

Kerlap-kerlip cakrawala modernisasi di desa saya tidaklah menggerus apa yang dinamakan sebagai nurani dan keyakinan desa. Di mana-mana tempat di desa, semua orang masih tetap memelihara harmoni mereka dalam menemani sesama manusia. Berkunjung ke bagian manapun , kita akan dipertemukan dengan dengan wajah –wajah manusia dengan air muka yang seperti ingin tidak akan pernah terbetik untuk menyengsarakan orang lain.
Orang-orang desa menyapa, tersenyum dan mempersilakan orang lain masuk ke rumah mereka dan kemudian mengeluarkan apapun yang mampu mereka suguhkan. Jika mereka kebetulan tidak memiliki apapun, maka jalan keluarnya adalah “lari” ke warung terdekat dan ngebon makanan, gula dan teh agar dapat menjamin kebahagiaan para tamu yang datang.
Saya pernah tinggal berbulan-bulan lamanya di rumah seorang transmigran asal Bali, jauh di pedalaman Sulawesi. Teras rumah bagian depannya terbuka dan tidak berdinding hingga ke pembatas bilik. Tidak ada pintu di rumahnya. Orang-orang bisa bebas masuk dan duduk-duduk di ruang tamunya yang telah disediakan toples dan makanan ala kadarnya. Ia tidak memiliki sebetik prasangka pun apakah akan ada orang yang tergiur mengangkut dua salon speaker besar di rumahnya.
“Tidak ada maling di sini, “ katanya ketika saya mengemukakan kekhawatiran.
Dia benar. Di desa yang sebenarnya tidak pernah ada maling karena orang selalu membantu kesulitan manusia lainnya. Tidak pernah ada kekurangan karena segalanya bisa diselenggarakan dengan saling urun pertolongan.
Bagi orang yang hidup di kota, merelakan ruang pribadinya bisa dimasuki oleh siapapun, adalah suatu keanehan kalau tidak bisa disebut kegilaan. Kota penuh dengan sekat-sekat sosial, dinding-dinding kultural dan pagar-pagar individual yang semakin mempersempit manusia untuk hanya melihat dirinya sendiri. Ironisnya, kita selalu merasa, kita-kita inilah yang paling berhak tentang segala jenis konsep tentang memanusiakan manusia.
Ada paradoks besar antara sikap hidup masyarakat perkotaan dan realitas sehari-hari mereka. Kota selalu penuh dengan orang-orang terpelajar, mereka yang bergiat di usaha-usaha perbaikan masyarakat, melakukan pendekatan ilmiah, melakukan diskusi-diskusi, mengolah data, memberikan analisa-analisa, kemudian terlelap dalam labirin panjang teori mereka sendiri dan merasa telah berbuat sesuatu untuk kemanusiaan.
Begitu sakitnya hingga tak seorang pun yang menyadari bahwa ada sistem bertolak belakang yang sedang bekerja dalam ruang bawah sadarnya. Orang-orang kota membuka diri untuk motivasi, menonton dan membaca buku-buku tentang pengembangan diri, merasa telah menjadi transhuman, lalu mengunci dirinya dalam ruang kedap suara yang tidak bisa dijangkau oleh manusia lain. Orang-orang kota selalu menyukai dan mengaku berpikiran positif tetapi mereka juga membangun pagar rumah dan mengunci pintu rumah bahkan walau hanya ditinggalkan sejenak.
Saya sendiri merasa sebagai orang yang lama di kota, pikiran saya sudah sangat rusak dengan prasangka. Begitu ada wacana kenaikan BBM, kita dilanda kepanikan dan memilih untuk memborong BBM sebisa-bisanya. SPBU penuh dengan wajah-wajah yang khawatir bahwa orang lain akan menghabiskan BBM dan ia tidak akan kebagian. Karenanya, daripada “digorok” orang lain, sebisa-bisa kita memanfaatkan kesempatan untuk “menggorok” orang lain dengan mendahului memborong BBM sebanyak-banyaknya. Kita tidak sekali pun terpikir apakah orang keduapuluh yang antre di belakang kita masih akan mendapatkan jatah pengisian. (@justrandu)

(3/10/2012)

(Catatan Pulang Kampung –2) Sudah, Makan Dulu Sana, Ada Tahi Ayam Spesial Tuh..

Banyaknya sepeda motor yang kini dimiliki oleh orang di desa saya, tak bisa tidak, adalah lompatan penting menuju arus besar kemajuan. Sepeda motor menjadi sebuah metafora tentang perubahan fundamentalis di kalangan masyarakat desa. . Mereka sedang menggagas cita-cita senyap mereka akan sebuah kelayakan, atau setidaknya anggapan tentang hidup yang lebih baik. Sepeda motor itu tak perlu susah-susah, cukup nyalakan mesin dan kita, kalau mau, bisa ongkang-ongkang kaki di atas sadelnya.
Di jalan-jalan desa yang sepi, sepeda motor biasa dibawa dengan amat cepat oleh para penduduk, tua dan muda. Di jalan yang lurus, mereka memacu motor bahkan hingga di ambang batas akselerasinya. Saya tak bisa membayangkan, jika motor-motor itu dipacu di jalanan kota yang padat dan pejal. Akhir-akhir ini, setiap orang di desa sepertinya memang sedang berpotensi untuk menjadi pembalap.
Mereka hafal Palentino Rosi (Valentino Rossi) dan punya beberapa poster di ruangan tamu (Bayangkan itu, di ruangan tamu!). Konon, setiap malam Senin, sirkuit Jersey atau Catalunya, seperti diseret ke rumah milik juragan beras. MotoGp adalah acara favorit semua orang. Riuhnya nonton bersama MotoGp hanya bisa dikalahkan oleh pertandingan sepak bola Timnas Indonesia.
Celetukan dan sesambatan dalam menonton pun terasa tak berubah semenjak televisi masuk desa. Sebelum acara, beberapa orang sudah berdebat tentang apa agama Palentino Rosi. Pasalnya seseorang penduduk yang bermata jeli mengatakan ia pernah melihat Palentino Rosi mengangkat tangan berdoa di samping knalpot, seperti orang yang sedang duduk tahlilan. Ada yang mengatakan Palentino Rosi masuk islam karena mendengar azan di sirkuit, ada juga yang berseloroh bahwa sesungguhnya tak penting agama itu yang penting adalah kadar keimanannya, dan rupa-rupa cerita absurd yang ditanggapi dengan tak kalah absurd.
Globalisasi jelas telah merubah desa saya. Kemilau modernisasi menciptakan pergeseran budaya yang serius. Rumah beton, sepeda motor, televisi dianggap sebagai simbol status. Tiba-tiba, semua orang di desa memiliki gairah dan harapan yang aneh tentang cara memandang hidup. Seiring dengan itu, hampir setiap hari, orang-orang dikejutkan dengan barang-barang elektronik ajaib yang kini bisa diperoleh di pasar-pasar malam dan toko-toko terdekat.
Lelucon dan kisah-kisah tentang orang-orang desa yang tergagap-gagap dengan produk kota menjadi anekdot yang dibincangkan setiap hari di rumah dan di gardu-gardu. Tentang orang dari lembah yang datang ke kecamatan untuk membeli hape sekaligus meminta bungkuskan sinyal untuk dibawa pulang. Orang dari pesisir yang menolak mengirimkan SMS dengan alasan “tulisan tangannya tidak bagus.” Orang dusun yang datang ke konter hape dan meminta menggantikan kulit hape (maksudnya chasing), cerita pertengkaran rumah tangga karena perebutan hape, dan macam-macam cerita yang menggambarkan transformasi realitas yang terjadi di kalangan masyarakat desa.
Modernisasi membawa segalanya, menjadi berkah juga kutukan. Kini anak-anak muda sangat jarang pergi ke langgar, karena mereka lebih suka melihat bagaimana Marshanda dan Ridho Rhoma beradu akting di televisi. Anak-anak muda desa menjadi hapal cara bicara, berjalan, para artis-artis sinetron dan mereka menjadi mimikri yang mengaggumkan. Kalimat-kalimat dalam iklan mereka pelesetkan dengan artikulasi dan interpretasi yang bahkan tak bisa terpikirkan oleh para pembuatnya. Kata-kata seperti “Sudah, makan dulu sana, ada tahi ayam special tuh,” menjadi olok-olok kreatif di kalangan remaja-remaja gaul di desa saya.
Ibu-ibu rumah tangga yang dulu aktif arisan, yasinan, semakin meningkatkan aktifitas mereka dengan lebih canggih berkat siaran infotainment di televisi. Mereka merasa ikut harus memikirkan apakah Rafi Ahmad memang perlu secepatnya menikahi Yuni Sara, serta dimanakah Sahrini pada hari Jumat lalu, dan tidur dimanakah ia pada malam Minggu. Sesekali mereka menggunjingkan mengapa Chelsea Olivia itu bisa berbahasa Jawa dan siapakah istri ketiga Saiful Jamil.
Terakhir, Lapangan volly di depan langgar, simbol persatuan lintas gender, agama dan usia, kini menjadi sunyi, karena orang-orang telah memiliki fasilitas hiburan individual di rumah masing-masing. Beberapa hal telah berubah dan pilihan masyarakat untuk mengompromikan tradisi dengan kemajuan zaman, adalah sesuatu yang lambat laun pasti terjadi. (@justrandu)

(3/10/2012)

 

(Catatan Pulang Kampung -1) BBM Naik? Tenang, Ada Hape Cina

Sekian lamanya merindukan pulang kampung, akhirnya tercapai juga keinginan saya beberapa hari lalu. Tiga hari tiga malam menempuh perjalanan panjang yang melelahkan, berjubel-jubel di bis dan kapal, berkeleweran bersama para ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak, para pekerja, melewati segala kesengsaraan dan sifat tamak para supir-supir dan calo pelabuhan, akhirnya, sampai juga saya di desa tercinta.
Desa saya nun jauh di pulau-pulau Indonesia timur, sedikit telah berubah. Pembangunan terasa sayup-sayup di sana. Listrik masih sering padam, tetapi orang-orang desa sekarang sudah banyak yang punya mesin genset sendiri. Tidak seperti orang-orang kota yang sudah mempunyai “jalur makian resmi” untuk mati lampu, orang-orang desa lebih konkrit dalam menyikapi situasi. Mereka memiliki daya tahan sekaligus bisa menyiasati kehidupan bagaimanapun sulitnya.
Misalnya, saya juga tidak menemukan adanya pembahasan yang serius tentang akan naiknya harga BBM di kalangan orang-orang desa. Perdebatan tentang BBM biarlah menjadi konsumsi dan kegilaan orang-orang di kota.Bagi masyarakat yang hidup di pedesaan, asalkan mereka bisa menyelenggarakan hidupnya sendiri, tanpa diganggu pemerintah, tanpa diambil rumah, tanah dan sawahnya, maka cukuplah itu. Secara struktural, orang-orang desa memang tidak memiliki ketergantungan yang berarti kepada misalnya, anggota dewan, APBN, subsidi, dana pemerataan, bahkan Indonesia sekalipun.
Tetangga-tetangga kini banyak yang sudah punya motor. Bahkan ada yang sampai punya dua buah. Satu dipakai sang ayah, satu dipakai anaknya pergi ke sekolah. Jika sore hari, motor-motor itu diparkir di depan rumah sebagai perlambang kemajuan dan kesejahteraan. Dengar-dengar selepas sekolah menengah atas nanti, sang anak akan segera dikirim untuk sekolah di Jawa seperti kakaknya.
Jika dulu, hanya ada beberapa orang yang bisa pergi ke kota, sekarang anak-anak muda kampung bahkan tidak perlu mandi pagi untuk naik bis ke kota. Mereka adalah anak-anak muda yang lebih beruntung daripada teman-temannya yang berlulurkan Lumpur di sawah.
Yang selalu mengasyikan saya, Jika pulang kampung, anak-anak muda desa itu tak sungkan-sungkan memamerkan “kemajuan-kemajuan” tertentu dari kota. Bahkan anak saudagar beras dekat rumah saya sudah menimang blekberi. “Dulu SMS-an, sekarang BBM-an,” katanya kepada teman-temannya,”Lho, katanya BBM naik, lebih baik pakai hape china saja,” canda saya.
Barangkali seperti saya, mereka adalah anak-anak desa asuhan kota yang memberi warna dan nuansa tertentu bagi harmonisasi dan sistem nilai orang-orang desa yang dekaden. Bagaimana pun sistem nilai, moralitas, pola perhubungan, dan sikap masyarakat desa selalu lebih jernih dan manusiawi dibandingdengan masyarakat modern yang hidup di kota-kota besar. Setidaknya, tidak pernah ada gelandangan di desa.Orang-orang yang hidup di kota, ya kita-kita ini, acapkali memendam situasi kebatinan tertentu untuk setidaknya, sewaktu-sewaktu, bisa tinggal di desa. Pada takaran sederhana, mimpi ideal kita adalah bisa hidup berkecukupan di desa, syukur-syukur bisa menjadi tuan tanah, pemilik penginapan, atau buka warung dan toko pupuk di desa.
Tak usah terlalu besar, cukup untuk bisa membiayai kehidupan kita di desa. Sekadar agar tidak membanting tulang seperti yang dilakukan orang-orang desa kebanyakan. Bonusnya, kita kemudian bisa dipanggil tuan, atau juragan. Atau mewahnya, kalau kita punya modal banyak, kita juga bisa mencalonkan diri menjadi bupati, carik, atau kepala desa, tergantung kreatifitas kita dalam menggauli nasib. (@justrandu)

(3/10/2012)